Ricky Yoseptry, Teten Nurtaufiqin, Puri Nuryani
et al.
Progressivisme adalah filosofi pendidikan yang menekankan bahwa edukasi harus berpusat pada pengalaman siswa untuk menghasilkan lulusan yang pragmatis dan terampil, alih-alih berfokus pada fakta teoretis. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan mengukur relevansi pembelajaran di SMPN 3 Darangdan berdasarkan kerangka tersebut. Kesimpulannya, sekolah berupaya menerapkan Progressivisme dengan guru mengaitkan materi pada konteks lokal dan menggunakan metode berpusat pada siswa seperti PjBL dan PBL untuk pengalaman autentik. Siswa menilai materi relevan jika dapat digunakan langsung (Prakarya, Matematika praktis). Namun, implementasi terhambat oleh faktor struktural (kurikulum padat, budaya fokus nilai ujian) dan teknis (kurangnya kompetensi guru dalam proyek autentik, fasilitas terbatas). Untuk keberlanjutan, diperlukan dukungan struktural kuat, peningkatan kompetensi guru, dan kepemimpinan inovatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan Metode Deskriptif, yang bertujuan untuk mengamati, menganalisis, dan mendapatkan gambaran komprehensif mengenai relevansi pembelajaran di SMPN 3 Darangdan, Kabupaten Purwakarta. SMPN 3 Darangdan telah menunjukkan komitmen nyata dalam menerapkan pembelajaran yang relevan dan berorientasi pada pengalaman, sesuai dengan prinsip Progressivisme. Guru memiliki pemahaman filosofis yang baik mengenai relevansi kurikulum dan berusaha mengaitkan materi dengan konteks nyata siswa. Pembelajaran yang berpusat pada pengalaman siswa, melalui metode seperti Project-Based Learning dan Problem-Based Learning, memberikan manfaat dalam pengembangan kompetensi akademik, sosial, dan keterampilan hidup. Meskipun demikian, implementasi belum sepenuhnya stabil karena adanya hambatan struktural, keterbatasan fasilitas, serta fokus budaya pendidikan pada nilai ujian. Dukungan berkelanjutan dari sekolah, peningkatan kompetensi guru, dan fasilitas yang memadai diperlukan agar pembelajaran progresif dapat diterapkan secara lebih mendalam dan konsisten.
Pendidikan merupakan hak konstitusional warga negara yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Negara memiliki kewajiban untuk menjamin pemenuhan hak tersebut, khususnya pada jenjang pendidikan dasar sebagai fondasi pembentukan sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan dasar sebagai hak konstitusional melalui telaah yuridis terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif melalui penafsiran hukum dan analisis sistematis terhadap regulasi pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif kebijakan pendidikan dasar telah sejalan dengan prinsip konstitusi, namun dalam implementasinya masih ditemukan berbagai kendala, seperti ketimpangan akses, disparitas mutu pendidikan, serta tantangan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Oleh karena itu, penguatan kebijakan pendidikan dasar berbasis keadilan dan perlindungan hak konstitusional menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan nasional.
Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya kepala sekolah dalam mengambil keputusan, hal ini mengakibatkan banyak dampak negatif dari kesalahan dalam menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami tentang strategi pengambilan keputusan, dan menggali aspek-aspek yang menjadi dasar pertimbangan bagi seorang kepala satuan pendidikan (kepala sekolah) untuk mengambil keputusan baik keputusan operasional maupun keputusan strategis yang berdampak pada masa depan satuan pendidikan terutama peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan. Metode dan jenis pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan studi pustaka (library reseach) dengan mengumpulkan buku-buku, jurnal dan hasil penelitian terdahulu yang mendukung tema penelitian. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Tahapan dimulai dengan melakukan reduksi data dari sumber kepustakaan, kemudian mengorganisasi dan memaparkan data, melakukan verifikasi kemudian diakhiri dengan menyimpulkan data untuk menjawab rumusan masalah. Hasil penelitian menunjukan bahwa seorang kepala sekolah harus memiliki kemampuan dan strategi dalam mengambil keputusan yang akan berdampak pada kemajuan sekolah secara keseluruhan. kepala sekolah dapat mengambil keputusan dengan langkah sebagai berikut; 1. Mengidentifikasikan suatu masalah. 2. Memperjelas dan menyusun prioritas sasaran-sasaran. 3. Menciptakan pilihan-pilihan. 4. Memilih pilihan dengan konsekuensi-konsekuensi dengan sasaran-sasaran.
Pendidikan Islam lebih mengutamakan cara mengembangkan kognitif, afektif, dan juga emosi manusia dengan tetap berlandaskan pada ajaran Islam. Hal itu semua tiada tujuan lain kecuali untuk mengeksplorasikan Islam dalam kehidupan individu maupun berkelompok. Adanya koneksi antara pendidikan Islam dan multikultural akan menjadi solusi atas realitas budaya yang bermacam-macam sebagai bentuk proses pengembangan segala potensi yang menghargai adanya pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan agama. Adanya pluralitas budaya di Indonesia menjadikan pendidikan multikultural sangat urgen keberadaannya. Fokus pada penelitian ini bertitik pada bagaimana hakikat pendidikan multikultural dan relevansinya dengan tujuan pendidikan Islam. Hal ini berdasar pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang Pendidikan Multikultural dan Hakikat Tujuan Pendidikan Islam, penulis berinisiatif untuk melakukan penelitian dengan cara menganalisi dua penelitian tersebut untuk menemukan titik temu antara pendidikan multikultural dan tujuan pendidikan Islam sehingga bisa diketahui bagaimana relevansi antara keduanya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pendidikan multikultural relevan dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu secara esensial keduanya memiliki tujuan untuk membentuk kehidupan yang damai dan harmonis di tengah-tengah masyarakat yang terdapat perbedaan Agama, etnis, suku, bahasa, dan budaya.
Perkembangan pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari pembaharuan kurikulum, dalam tiap priode tertentu kurikum selalu mengalami proses evaluasi. Bahkan tak sedikit yang beranggapan bahwa kurikulum itu berganti seiring pergantian pemangku kebijakan. Saat ini, hadir kurikulum baru yakni Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dimaknai sebagai desain pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai, menyenangkan, bebas stres, dan bebas tekanan sehingga siswa mampu menunjukkan bakat alaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menalaah tentang “Implementasi Merdeka Belajar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar (Studi di SDN 4 Cisarua Samarang Garut)”. Untuk itu penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif jenisnya studi kasus sehingga peneliti harus mampu mendeskripsikan, mengungkapkan, menjelaskan dan menganalisis fenomena, peristiwa dan aktifitas yang dilakukan berkaitan dengan implementasi merdeka belajar dalam pembelajaran PAI di SDN 4 Cisarua Samarang Garut untuk meningkatkan kualitas belajar dan hasil belajar siswa di tingkat sekolah dasar. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Iplementasi Merdeka Belajar dalam pembelajaran PAI pada pendidikan dasar telah berhasil mencapai target hasil yang diinginkan. Meski ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal penggunaan teknologi, namun sudah terlihat bahwa pendekatan ini telah memberikan dampak positif pada kualitas pembelajaran, penciptaan situasi belajar yang kondusif, dan peningkatan fokus pada siswa sebagai subjek belajar. Kata Kunci: Implementasi Merdeka Belajar, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Dasar
Fenomena bullying atau Perundungan membawa dampak buruk terutama bagi kesehatan mental korban yang merupakan suatu tindak kekerasan terhadap anak yang mana hal tersebut wajib dilakukan pencegahannya. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara memberikan edukasi anti perundungan yang pada pelaksanaanya dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian yang dilakukan berfokus pada tujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media digital berbentuk PowerPoint interaktif sebagai media edukasi anti perundungan di lingkungan sekolah. Pendekatan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas IV. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah pedoman wawancara, kuisioner, test, serta dokumentasi. Setelah melakukan beberapa tahapan penelitian, diperoleh hasil bahwa media digital berbentuk PowerPoint interaktif terbukti dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai media edukasi anti perundungan, pernyataan tersebut didukung dengan data yang menunjukkan sebagian besar siswa sudah dapat memahami materi pembelajaran dengan baik, dan siswa merasa puas terhadap media digital berbentuk PowerPoint interaktif.
ABSTRAK
Keterampilan proses sains (KPS) sangat penting bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran Fisika yang dituangkan dalam kurikulum terbaru. Hasil survei PISA tahun 2022 menunjukkan bahwa siswa Indonesia rata-rata memperoleh nilai 383 poin pada bidang sains, turun 13 poin dari PISA 2018. Hal ini memerlukan penggunaan model pembelajaran efektif yang dapat meningkatkan KPS siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan model pembelajaran Predict-Observe-Explain berbantuan simulasi PhET terhadap KPS siswa pada materi getaran harmonik sederhana. Penelitian ini melibatkan 37 siswa SMA di Kabupaten Bandung dan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian one-group pretest-posttest. Pengumpulan data menggunakan tes keterampilan proses sains yang dianalisis menggunakan uji normalitas gain serta angket respon siswa yang akan dianlisis menggunakan dengan menggambarkan secara deskriptif berupa persentasi pada setiap respon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran POE memberikan pengaruh yang signifikan. Uji-t sampel berpasangan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,001, lebih kecil dari taraf signifikansi alfa 0,05. Selain itu, nilai N-Gain ditetapkan sebesar 0,55 termasuk dalam kategori sedang. Pembelajaran mendapatkan respon positif dari siswa bahwa Model POE berbantuan simulasi PhET dapat melatihkan KPS dan membantu memahami materi getaran harmonik sederhana. Kesimpulannya, penggunaan model pembelajaran POE bersamaan dengan simulasi PhET untuk pembelajaran getaran harmonik sederhana memberikan pengaruh dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
Kata kunci—Predict-Observe-Explain, Simulasi PhET, Keterampilan Proses Sains
ABSTRACT
Science process skills are essential for students to achieve the Physics learning objectives outlined in the latest curriculum. The 2022 PISA survey results revealed that Indonesian students scored an average of 383 points in the science sector, indicating a 13-point decrease from PISA 2018. This requires the use of effective learning models that can enhance students' science process skills. This research aims to assess the impact of utilizing the predict-observe-explain learning model assisted by PhET simulation on students' science process skills in the context of simple harmonic vibration lessons. The study involved 37 students from a high school in Bandung Regency and employed a quantitative method with a one-group pretest-posttest research design. Data collection used science process skills tests and student response questionnaires. The research results indicate that using the POE learning model has a significant impact. The paired sample t-test yielded a significance value of 0.001, which is less than the significance level 0.05. Additionally, the N-Gain value was determined to be 0.55, falling into the medium category. The lesson received a positive response or agreement from students that the POE model assisted by PhET simulation can train KPS and help understand simple harmonic vibration lessons. In conclusion, utilizing the POE learning model in conjunction with PhET simulations for teaching simple harmonic vibrations is an influence in enhancing students' science process skills.
Keywords— Predict-Observe-Explain, PhET simulation, Science process skills
Handy Prabowo, Danar Susilo Wijayanto, Taufik Wisnu Saputra
et al.
Wind turbines are typically classified as Horizontal Axis Wind Turbines (HAWT) or Vertical Axis Wind Turbines (VAWT). VAWT has a superior ability to accelerate from rest to rotation than HAWT, allowing it to rotate the rotor even when the wind speed is low; additionally, the produced torque is relatively high. Using the Savonius helix VAWT is one of the numerous methods for enhancing VAWT performance. The effect of the number of blades and the blade twist of the rotor or the angle of rotation of the blades on the rotor from the bottom end to the top end on the speed cut generated by the VAWT Savonius helix was investigated experimentally. Variations in the number of blades used in the study included 2 and 3 blades, as well as 90°, 180°, 270°, and 360° for the rotor twist blades. In a wind tunnel, data was collected at wind speeds ranging from 0 to 5 m/s. The best performance research results were obtained With three blades, a twist angle of 180 degrees, and a cutting speed of 1.51 m/s. By modifying the Savonius Helix VAWT design in this study, it is possible to increase the efficiency and performance of turbines, mainly when used at low wind speeds, and the potential for using wind energy as a more efficient and sustainable alternative energy source.
Adi Darma Surya, Sumarno Sumarno, Muhtarom Muhtarom
The instruments used to measure student learning outcomes, especially in science learning at the elementary school level, are required to be of good quality and have been tested. This study aims to determine the quality of the science achievement test instrument for class IV SD, especially in the matter of matter and its changes based on content validity, reliability, discriminating power and level of difficulty of the test. The subjects of this study were lecturers, class teachers and fourth grade elementary school students. The approach used in this research is descriptive quantitative. Quantitative data analysis techniques were used to determine the quality level of the instrument based on empirical data while qualitative data were used to determine the category level of validity, reliability, discriminatory power and level of test difficulty. The results showed that the quality of the 30-item 100% validity of the test instrument for elementary science class IV material form of matter and its changes with a reliability of 0.901 (very good category). Based on the differentiating power test, there are 1 item in the Very Good category, 16 items in the moderate category, 13 items in the good category. Meanwhile, based on the difficulty index of the test, there are 2 items in the easy category, 27 items in the moderate category, and only 1 item in the difficult category. Thus, overall the test instrument has good quality and is feasible and can be used to measure students' learning outcomes in science learning on material form of matter and its changes
Gunamantha I. Made, Oviantari Made Vivi, Yuningrat Ni Wayan
The existence of waste in the environment, which is not managed well, could contribute to global warming and cause climate change on the earth. This research aimed to determine the suitable management preference for organic waste treatment produced in small cities. The methods used are based on pair comparison in hierarchy decisions developed through the analytical hierarchy process. The hierarchy consisted of goals, criteria, sub-criteria and alternatives applied to waste treatment engineering. The expert suggestion was used in a pair comparison matrix to determine the level of technology. The comparison was used to get the significance level of decision criteria and the relative performance of the options. The city’s waste managed by the Buleleng government was used to demonstrate the application of the analytical hierarchy process in that region. The result showed that the important factor in deciding on waste treatment for the small city is environment and engineering, with each eigenvector priority (0.28), sociocultural (0.24) and economy (0.20). According to the recruitment preference for Singaraja waste treatment, the analytical hierarchy process showed that controlled landfill and composting are the most suitable treatment, followed by incineration, anaerobic digestion, and mechanical and biological treatment.
Penanaman nilai-nilai karakter di sekolah umumnya dikenal dengan istilah pendidikan karakter, pendidikan moral, atau pendidikan nilai.. Kedudukan Pendidikan karakter di Indonesia sejajar dengan subyek-subyek mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, yang membedakan dengan mata pelajaran lainya adalah bentuk pengajaranya. Pendidikan karakter di Indonesia pada umumnya diintegrasikan dengan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Salah satu model pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kontekstual yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal. Selanjutnya, model pembelajaran kontekstual akan memberikan kemandirian bagi siswa untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang bersumber pada nilai-nilai hidup di keluarga atau di lingkungan masyarakat. Selain itu model pembelajaran ini menanamkan nilai-nilai karakter secara langsung melalui pembiasaan dengan ikut serta dalam kegiatan masyarakat, antara lain kegiatan gotong royong ataupun rapat warga yang mampu menumbuhkan karakter toleransi dan kerjasama. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang model pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah studi literatur, penulis mencoba mengembangkan model pembelajaran kontekstual yang dikaji dari berbagai referensi yang relevan. Melalui model ini siswa diharapkan mampu membuat sebuah produk pembelajaran berupa jurnal harian yang berisi nilai-nilai karakter yang terdapat di lingkungan keluarga atau masyarakat.
Jurnal Kajian, Islam Pendidikan, Fachmi Farhan
et al.
Dalam pendidikan Islam, disyaratkan adanya suatu lingkungan pendidikan agar tercapainya tujuan pendidikan. Terdapat tiga lingkungan pendidikan utama, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Masjid merupakan salah satu sarana pendidikan nonformal bagi masyarakat Islam. Kehadirian berbagai bentuk pendidikan non formal berbasis masjid pada konteks kekinian terus saja bermunculan, dari pendidikan usia dini (pra MDTA/ Pra TPQ), hingga pendidikan untuk manula (majelis taklim). Kondisi ini tentu saja menjadi suatu gairah baru dalam pendidikan Islam dalam lembaga-lembaga non formal, sebagai salah upaya untuk merealisasikan hadis nabi tentang kewajiban menuntut ilmu dari mulai ayunan sampai liang lahat. Jika ditela’ah betul hadis ini memberikan kewajiban untuk umat melaksanakan. Jika dalam pendidikan formal ada batas-batas umur yang ditetapkan sesuai dengan jenjangnya, serta juga membutuhkan biaya yang banyak, maka dengan adanya pendidikan non formal berbasis masjid menjadi suatu alternatif baru bagi umat ini melaksanakan hadis rasul tersebut. Maka dengan gairah munculnya berbagai lembaga pendidikan non formal berbasis masjid hendaknya dapat menjadi alternatif dalam pengembangan pendidikan Islam kedepannya.
Tujuan pendidikan Islam menurut Alquran dan hadist adalah mendorong manusia menjadi khalifah Allah SWT dimuka bumi untuk memanfaatkan perbendaharaan alam demi kebaikan hidup didunia dan keselamatan kehidupan di akhirat. Mutu pendidikan Islam diukur dari kesatuan input, proses dan output dari proses pendidikan. Konspesi Alquran dan hadist mengenai pendidikan Islam menekankan perbaikan terus menerus pada sisi input dan proses yang pada gilirannya meningkatkan mutu pendidikan Islam sebagai outcome dari proses pendidikan. Penelitian ini meneliti faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Mutu Pendidikan Islam, yaitu berfikir kesisteman, konsep Alquran tentang mutu pendidikan serta konsep Hadist tentang mutu pendidikan. Penelitian pustaka ini memperlihatkan bahwa faktor berfikir kesisteman, konsep Alquran tentang mutu pendidikan serta konsep Hadist tentang mutu pendidikan memiliki pengaruh terhadap pendidikan Islam. Tujuan penulisan artikel ini guna membangun hipotesis pengaruh antar variabel untuk digunakan pada riset selanjutnya. Hasil artikel literature review ini adalah: 1) Berfikir Kesisteman berpengaruh terhadap mutu Pendidikan Islam; 2) Konsep Alquran berpengaruh terhadap mutu Pendidikan Islam; dan 3) Konsep Hadist berpengaruh terhadap mutu Pendidikan Islam.
Megaria Refwalu, Wilmintjie Mataheru, Christina Martha Laamena
Komunikasi matematis merupakan kecakapan peserta didik dalam menyampaikan ide-ide matematisnya, baik secara tulisan maupun lisan. Komunikasi matematis diperlukan dalam pembelajaran matematika, terutama saat memecahkan masalah matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi matematis peserta didik kelas VIII di salah satu SMP Negeri Kota Ambon dalam menyelesaikan masalah sistem persamaan linier dua variabel, dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data, yaitu pendidik matematika dan peserta didiknya. Subjek yang dipilih berdasarkan hasil tes berjumlah 3 orang yaitu 1 subjek dengan nilai matematika tinggi, 1 subjek dengan nilai matematika sedang, dan 1 subjek dengan nilai matematika rendah. Data dikumpulkan menggunakan tes tertulis yang memuat 3 butir soal uraian dan hasil wawancara. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek T (subjek berkemampuan tinggi) memenuhi semua indikator komunikasi matematis tulisan dan lisan, subjek S (subjek berkemampuan sedang) memenuhi 2 indikator komunikasi matematis tulisan dan lisan, dan subjek R (subjek berkemampuan rendah) hanya memenuhi indikator kemampuan memahami ide-ide matematis secara lisan. Rekomendasi kepada pendidik matematika di sekolah agar dapat menumbuhkembangkan komunikasi matematis peserta didik dan membiasakan peserta didik menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah Polya dalam menyelesaikan persoalan matematika.
Dalam proses tumbuh kembangnya, anak memiliki kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi salah satunya yaitu kebutuhan stimulasi atau pendidikan. Pendidikan bagi anak sangat penting dalam mendukung pelaksanaan perannya di masa yang akan datang. Pemenuhan kebutuhan pendidikan anak merupakan tanggung jawab utama keluarga karena keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Akan tetapi, tidak semua keluarga dapat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak. Kondisi sosial dan ekonomi yang masih dibawah rata-rata dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dirasa berdampak pada sulitnya dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak. Kondisi tersebut dapat menjadi dilema bagi keluarga, terutama orang tua karena ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Metode yang digunakan dalam kajian penulisan ini adalah metode studi pustaka. Dengan menggunakan metode studi pustaka, penulis dapat mendeskripsikan status sosial ekonomi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak melalui teori yang ditemukan dari berbagai literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak tidak selalu dipengaruhi oleh status sosial ekonomi keluarga.
Mahmud Ahmadi, Sekar Dwi Ardianti, Ika Ari Pratiwi
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam cerita rakyat Sendang Widodari Kabupaten Kudus dan untuk mengetahui bentuk penerapan nilai-nilai pendidikan karakter dalam cerita rakyat Sendang Widodari untuk pendidikan anak sekolah dasar. Cerita rakyat merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki nilai-nilai yang dapat diambil dan diterapkan di masa kini dan masa depan, serta penyebaran cerita rakyat dari mulut ke mulut. Salah satunya adalah nilai karakter. Karakter adalah suatu pola, baik itu pikiran, sikap, moral, perilaku, watak, dan tindakan yang ada dan melekat pada seseorang yang sulit dihilangkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang mendeskripsikan atau mendeskripsikan fenomena atau keadaan yang diamati secara objektif. Subjek penelitian ini adalah cerita rakyat Sendang Widodari. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dokumentasi dan pencatatan. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif.
Kepala sekolah dituntut untuk memahami peran apa yang harus dijalankannya, apakah sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, atau motivator. Dengan mengetahui dan menjalankan dengan benar peran kepemimpinan tersebut, maka kepala sekolah akan mampu memimpin lembaga yang dipimpinnya dengan baik. Dalam penelitian ini menggunakan jenis metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu mendeskripsikan kebijakan yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, kemudian menganalisisnya dengan bukti kebenaran data yang ada, Dalam lembaga pendidikan, Kepala sekolah sebagai seseorang yang telah diberi wewenang untuk memimpin suatu lembaga pendidikan dan harus bertanggung jawab secara penuh terhadap penyelenggaraan pendidikan sekolah yang berada di bawah pemimpinnya. Maju mundurnya suatu lembaga pendidikan itu banyak di pengaruhi oleh kepala sekolah, termasuk juga masalah peningkatan mutu pendidikan. Upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adanya program-program pendidikan di sekolah guru dengan menigkatkan kedisiplinan guru, meningkatkan pengetahuan, dan Pembinaan pelatihan kinerja guru di samping itu juga upaya meningkatkan mutu adanya siswa dengan memberikan bimbingan, serta tersedianya sarana prasarana guna mendukung proses pembelajaran dan dan adanya kerja sama dengan wali murid.
Abdul Mun'im Amaly, Giantomi Muhammad, M. Erihadiana
et al.
Banyaknya guru Pendidikan Agama Islam yang masih kurang dalam pengembangan teknologi menjadi kekhawatiran tersendiri dalam proses pendidikan. Oleh karenya dibutuhkan upaya peningkatan kecakapan guru Pendidikan Agama Islam dalam mengoptimalkan pembelajaran berbasis teknologi. Menggunakan pendekatan studi kasus dan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan guru pendidikan agama Islam, dan dianalisis dengan teknik display data, reduksi, dan interpretasi. Penelitian ini menemukan bahwa teknologi pendidikan diterapkan dalam proses pembelajaran yang diintegrasikan dengan berbagai teknologi lainnya baik dengan hardware seperti komputer/laptop atau smartphone, baik dengan software seperti aplikasi buatan sendiri ataupun aplikasi open source. Pengoptimalan dilakukan dengan; memahami konten materi pembelajaran; menyesuaikan ruang lingkup strategi pembelajaran; dan mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan teori “kompetensi guru dalam pembelajaran berbasis teknologi” dalam pembelajaran