Profitabilitas merupakan salah satu rasio keuangan yang dapat memberikan gambaran tentang kesehatan keuangan dan operasional suatu perusahaan. Nilai profitabilitas menjadi aspek penting karena mencerminkan kinerja keuangan serta kemampuan perusahaan dalam bertahan dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecukupan modal, likuiditas, risiko kredit, efisiensi operasional, dan ukuran perusahaan terhadap profitabilitas. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan subsektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2023. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik metode purposive sampling, sehingga diperoleh 30 perusahaan sebagai sampel. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan alat bantu program IBM SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) kecukupan modal berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas, 2) likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, 3) risiko kredit tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, 4) efisiensi operasional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas, 5) ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas.
Akses layanan kesehatan pada kelompok marginal, khususnya anak Wanita Pekerja Seks (WPS), masih menjadi tantangan di wilayah kerja Puskesmas Kretek, Bantul, Yogyakarta. Studi ini bertujuan mengidentifikasi strategi promosi kesehatan dalam meningkatkan akses layanan kesehatan bagi anak WPS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam pada lima informan dan observasi partisipasi. Analisis data menggunakan open code dan dilakukan secara tematik. Strategi promosi kesehatan telah berjalan sesuai teori WHO, mencakup advokasi, dukungan sosial, dan pemberdayaan, namun belum ada program khusus untuk anak WPS. Inovasi “Getek Puspita” dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Strategi promosi kesehatan berjalan baik, namun masih terdapat hambatan seperti kurangnya kesadaran dan partisipasi pendatang. Perlu penguatan program promosi kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan
Background: Mental health is an important public health problem in Indonesia due to its high prevalence and the economic and social impacts it causes. The magnitude of suffering and burden in the form of disability and costs that must be borne by families and communities is truly astonishing. In recent years, the world has become increasingly aware of this enormous burden and potential for mental health, so that special attention is needed to address mental health problems. Purpose: To analyze factors related to mental health problems in health workers in hospitals. Method: This analytical descriptive study used a cross-sectional design to analyze factors related to mental health problems in health workers at the class IV IM 06.01 Lhokseumawe Regional General Hospital for the period 24-30 June 2024. The study sample was collected using a simple random sampling technique of 170 respondents, excluding officers who were pregnant and on a diet. The independent variables in this study include: Body Mass Index (BMI), age, gender, education, marital status, social support, and hypertension, while the dependent variable is mental health problems (depression, anxiety, and stress). Data collection was carried out directly through observation and interviews with respondents using a questionnaire instrument. Results: The variables of age, social support, BMI, hypertension, physical activity, diet, length of service, and job satisfaction have a correlation with the occurrence of mental health problems with a p value <0.05, while the variables of gender, marital status, and profession do not predominantly influence mental health problems (p value > 0.05). The majority of respondents have normal mental health as much as 70.6%, do not experience depression as much as 68.8%, do not experience anxiety as much as 68.82%, and are not stressed as much as 67.1%. Conclusion: The variables of age, social support, BMI, hypertension, physical activity, diet, length of service, and job satisfaction have a correlation with the occurrence of mental health problems. In contrast, the variables of gender, marital status, and profession do not predominantly influence mental health problems. Suggestion: Health services can organize training and education programs on the importance of a healthy lifestyle, including balanced nutrition and the benefits of physical activity. Keywords: Health Workers; Hospitals; Mental Health. Pendahuluan: Kesehatan mental merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia karena prevalensinya yang tinggi serta dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan. Besarnya penderitaan dan beban dalam hal kecacatan dan biaya yang harus ditanggung, baik keluarga maupun masyarakat sangat mengejutkan. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menjadi semakin sadar akan beban dan potensi yang sangat besar ini untuk kesehatan mental, sehingga perlu adanya perhatian khusus terhadap permasalahan kesehatan mental. Tujuan: Untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan masalah kesehatan mental pada petugas kesehatan di rumah sakit. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan desain cross sectional untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan masalah kesehatan mental pada petugas kesehatan di Rumah Sakit TK IV IM 06.01 Lhokseumawe pada tanggal 24-30 Juni 2024. Sampel penelitian dikumpulkan menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 170 responden, dikecualikan untuk petugas yang sedang hamil dan menjalani diet. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi: Indeks Massa Tubuh (IMT), usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, dukungan sosial, dan hipertensi, sedangkan variabel dependen yaitu masalah kesehatan mental (depresi, kecemasan, dan stress). Pengumpulan data dilakukan secara langsung melalui observasi dan wawancara kepada responden menggunakan instrumen kuesioner. Hasil: Variabel usia, dukungan sosial, IMT, hipertensi, aktivitas fisik, pola makan, lamanya bekerja, dan kepuasan kerja memiliki korelasi terhadap terjadinya masalah kesehatan mental dengan p-value <0.05, sedangkan variabel jenis kelamin, status pernikahan, dan profesi kerja tidak secara dominan memengaruhi masalah kesehatan mental (p-value >0.05). Mayoritas responden memiliki kesehatan mental yang normal sebanyak 70.6%, tidak mengalami depresi sebanyak 68.8%, tidak mengalami kecemasan sebanyak 68.82%, dan tidak stres sebesar 67.1%. Simpulan: Variabel usia, dukungan sosial, IMT, hipertensi, aktivitas fisik, pola makan, lamanya bekerja, dan kepuasan kerja memiliki korelasi terhadap terjadinya masalah kesehatan mental. Disisi lain, variabel jenis kelamin, status pernikahan, dan profesi kerja tidak secara dominan memengaruhi masalah kesehatan mental. Saran: Layanan kesehatan dapat menyelenggarakan program pelatihan dan edukasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat, termasuk nutrisi seimbang dan manfaat aktivitas fisik. Kata Kunci: Kesehatan Mental; Petugas Kesehatan; Rumah Sakit.
Putra Hendra, Isramilda Isramilda, Nurdillah Perwito Sari
ABSTRACT Background: Diarrhea is one of the leading causes of morbidity and mortality in children worldwide, especially in Indonesia, which has the highest prevalence in Southeast Asia at 18.21%. Given the adverse effects of diarrhea on children, preventive efforts through health promotion are essential, one of which is using poster media. This study aims to determine the effect of health promotion through poster media on students' knowledge and attitudes in preventing diarrhea at SDN 006 Batam Kota. Methods: This quantitative study employed a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The study population consisted of all students at SDN 006 Batam Kota, with a sample of 94 students selected using the Slovin formula and quota sampling technique. Data were collected through knowledge and attitude questionnaires and analyzed using parametric paired t-test or non-parametric Wilcoxon test, depending on data distribution. Results: The study results showed a significant increase in students' knowledge and attitudes after receiving health promotion through poster media. Data analysis using the Wilcoxon test revealed a p-value of 0.001 for the knowledge variable and p-value of 0.001 for the attitude variable, indicating a significant difference before and after the intervention (p < 0.05). Conclusion: Health promotion through poster media has been proven to significantly improve students' knowledge and attitudes in preventing diarrhea at SDN 006 Batam Kota. Therefore, this medium can be utilized as an effective health education method in school settings. Keywords: the influence of poster media, knowledge, attitude, children.
Achmad Irvan Dwi Putra, Veronika Simanjuntak, Trivena Sinaga
et al.
Dilakukannya penlitian berikut dengan tujuan agar dapat membuktikan serta meguji hubungan antara Regulasi Emosi dengan Stress Akademik. Ditetapkan sampel penelitian yaitu 127 mahasiswa Fakultas Psikologi universitas Prima Indonesia tingkat satu dengan teknik disproportonate stratified random sampling. Data dianalisa menggunakan uji korelasi pearson product moment, sehingga diperoleh r=0.020 dan sig sebesar 0.00 (P0.05) hal ini menunjukkan adanya korelasi negatif dan signifikan, dengan kekuatan korelasi yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara Regulasi Emosi dengan Stress Akademik pada mahasiswa tingkat satu Fakultas Psikologi Universitas Prima Indonesia.
Teti Sutriati Tuloli, Nur Ain Thomas, Andi Makkulawu
et al.
Acute Respiratory Infection (ARI) is an acute infection involving the upper and lower respiratory tract organs. It causes various diseases, from mild to severe infections. ARI can attack all age groups, especially toddlers and the elderly; it is due to low immune systems. The purpose of this study was to determine the level of patient knowledge on acute respiratory infection therapy at the Regional Technical Implementation Unit of the Bilalang Community Health Center, Kotamobagu Utara. The study employed a descriptive method with a cross-sectional design. The primary data were obtained from the results of questionnaires samples; as many as 34 people were chosen by purposive sampling. The results showed that the level of low knowledge was 15%, the level of moderate knowledge was 59%, and the level of high knowledge was 26%.
Pharmacy and materia medica, Therapeutics. Pharmacology
Pneumonia menjadi salah satu penyumbang terbesar morbiditas dan mortalitas pada bayi dibawah 5 tahun, sehingga ini menjadi topik penelitian yang menarik dalam konteks kesehatan utamanya menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan referensi sebagai tinjauan Pustaka tentang pneumonia sebagai suatu masalah kesehatan yang perlu perhatian khusus. Metode : penelitian yang dilakukan adalah Narrative Literature Review (NRL). Hasil : Didapatkan 11 artikel ilmiah terpilih rentang tahun 2018-2023. Meskipun pneumonia merupakan masalah kesehatan yang serius namun hal ini bisa dicegah dengan vaksinasi influenza, vaksin PVC (pneumococcal Conjugate Vaccine) dan menjaga kesehatan serta sistem kekebalan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, menjaga kebersihan, rutin. Olahraga, berhenti merokok, menggunakan masker. Kesimpulan : berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pneumonia dapat dicegah dan pasien yang menderita pneumonia harus diberikan penanganan yang tepat.
Non-communicable diseases (NCD) are still a health problem in Indonesia in recent years. Non-communicable diseases often go undetected because no symptoms are found, so they are difficult to cure or will end in disability or death. There has been an epidemiological transition by shifting morbidity and mortality rates from infectious diseases to non-communicable diseases at a young age. The Indonesian government has created a program to overcome the problem of NCDs with the existence of NCDs Posbindu aimed at people over 15 years old who are still healthy and people with NCDs. There is a need to provide information using poster media regarding NCDs and NCDs Posbindu problems in adolescent understanding to prevent and control NCDs now and in the future. This study aims to determine the effect of giving poster media on teenagers' interest in participating in Posbindu at Ambarawa 1 High School. The results of the analysis showed that there was an influence of poster media on teenagers' involve in participating in NCDs Posbindu (p:0,001). The results showed a decrease in the average interest of adolescents in participating in the NCDs Posbindu by 3.15. This happened because adolescents objected to the implementation of the NCDs Posbindu, which was held one a month. Adolescents need to know that participating in Posbindu is an effort to prevent and control NCDs in the future. The data can be provided through cooperation between schools and community health centers that can involve existing extracurriculars and provide a better understanding of the importance of NCDs prevention and control efforts to adolescents, teachers and parents.
Sekstorsi adalah istilah yang belakangan ini muncul dan berasal dari kata "sex” dan "extortion”. Sekstorsi dapat berupa penyebaran gambar seksual para korban sebagai ancaman untuk mendapatkan uang maupun barang berharga lainnya. Para korban sekstorsi mengalami pengalaman yang buruk sehingga mendatangkan trauma yang memerlukan proses penerimaan diri yang cukup panjang mengenai keadaan yang mereka alami. Tinjauan literatur ini diperoleh dari artikel yang berkaitan dengan permasalahan tersebut dan bertujuan untuk menganalisis proses penerimaan diri para korban sekstorsi pasca kejadian serta menganalisis faktor-faktor yang terlibat dalam proses penerimaan diri para korban. Hasil review dari beberapa literatur menunjukkan bahwa proses penerimaan diri para korban sekstorsi pasca kejadian memiliki beberapa tahapan dimulai dari fase penyangkalan, evaluasi diri, mawas diri dan penerimaan diri. Faktor-faktor yang memengaruhi proses penerimaan diri dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal berupa pemahaman diri, kesadaran diri dan kemauan diri untuk mengubah keadaan; serta faktor eksternal, yaitu lingkungan sekitar korban.
The number of maternal deaths in Semarang City in 2021 was 21 cases out of 22,030 live births, or around 95.32 deaths per 100,000 live births, with the causes of death dominated by bleeding (14.29%) and hypertension (9.52%). Postpartum hemorrhage is caused by four main factors known as the 4T: tone, trauma, tissue, and thrombin. This study was conducted to determine the relationship between preeclampsia, maternal age, and type of delivery with the incidence of postpartum hemorrhage at Central General Hospital Dr. Kariadi Semarang in 2020–2022. The study was an analytic observational quantitative research with a retrospective case control study. The study was conducted in February 2023 with a total sample of 100 samples divided into case (total sampling) and control (simple random sampling) groups with a ratio of 1: 1 for each group. Statistical tests used Chi-square and odds ratio (OR) tests. The results showed that there was no relationship between preeclampsia and the incidence of postpartum hemorrhage (p-value = 0.063; OR = 0.347), there was a relationship between maternal age and the incidence of postpartum hemorrhage (p-value = 0.011; OR = 3.455), and there was a relationship between the type of delivery and postpartum hemorrhage (p-value = 0.012; OR = 2.923). The community can be expected to play an active role in integrated service post cadre activities and ante natal care assistance. Health workers and educational institutions also need to improve their knowledge and skills to form qualified health workers through certified training.
Melisa Yenti, Shabrina Erika, Afifah Syabrina Safli
et al.
Terjadi peningkatan jumlah remaja usia 15-24 di dunia yang terinfeksi HIV. Pengetahuan komprehensif tentang HIV-AIDS menjadi aspek yang sangat penting dalam meningkatkan akses pelayanan HIV dan perubahan perilaku berisiko. Penting untuk mengadakan pencegahan dini berupa edukasi kesehatan agar kasus HIV/AIDS dapat ditekan. Edukasi berupa pelatihan konselor sebaya HIV/ AIDS belum pernah dibina di SMPN 35 Padang, sehingga perlu diadakannya pelatihan konselor sebaya HIV/ AIDS. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan konselor sebaya terkait HIV/ AIDS, sehingga mampu menjadi konselor sebaya bagi teman-temannya. Kegiatan diadakan di SMP Negeri 35 Padang yakni di Seberang Padang Kecamatan Padang Selatan Kota Padang. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah bimbingan dan penyuluhan, brainstorming, permainan, latihan menggunakan media promosi kesehatan, dan diskusi kelompok. Pelatihan diikuti oleh 23 orang peserta konselor sebaya. Perolehan hasil kegiatan yaitu adanya peningkatan pengetahuan peserta pelatihan konselor sebaya pencegahan HIV/ AIDS SMPN 35 Padang sebelum (pre-test) rata-rata tingkat pengetahuan 6,57 dan setelah pelatihan (post-test) rata-rata tingkat pengetahuan 9,13 dengan nilai p-value adalah 0,000. Hal ini menunjukan bahwa edukasi melalui pelatihan konselor sebaya memang tepat untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan pengetahuan konselor sebaya terakit HIV/AIDS. Diharapkan konselor sebaya dapat menjalankan perannya sebagai konselor sebaya memberikan informasi pencegahan penularan HIV/AIDS kepada teman-temannya di sekolah.
ABSTRACTThis study aimed to determine the relationship between environmental citizenship and behaviour with spiritual norms serving as mediator among students at Syiah Kuala University (USK), Indonesia. A quantitative method employing a cross-sectional approach was used, with a sample of 200 students randomly selected from diverse majors. The results showed the existence of gender differences, with women displaying more consistent environmental behaviour. The inferential statistics indicated an influence of environmental citizenship on behaviour without and with spiritual norms as mediator variables at (β = 0.606, p = 0.00) and (β = 0.199, p = 0.00), respectively. Therefore, this study underscored the importance of spiritual norms as mediator variable for the relationship between environmental citizenship and students’ behaviour.
Special aspects of education, The family. Marriage. Woman
The Health Information System (HIS) as one of the main components in the existing health system in a country is now starting to be implemented in health care facilities in Indonesia. Implementation of HIS in health care facilities has had mixed results. Many previous literature studies related to the implementation of HIS have been carried out. This study aims to determine how the implementation of HIS in health care facilities in Indonesia and the factors that can affect the results of HIS implementation. Based on the results of the study, it was found that the factors that often affect the implementation of HIS in health care facilities are the lack of quantity and quality of human resources (HR) owned by each health service facility. In addition, the lack of facilities and infrastructure that supports the implementation of HIS can also interfere with the operation of the information system as a whole. Health care facilities that wish to or have implemented HIS should conduct training and socialization related to how to operate the system so that the benefits of implementing ICT in the health sector can be maximized.
Abstrak: Latar belakang: Budaya organisasi menjadi salah satu elemen kunci dalam manajemen SDM BPJS Kesehatan. Pengelolaan budaya organisasi yang optimal diharapkan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian target organisasi, dimulai dari perencanaan yang matang, eksekusi program yang efektif dan efisien serta pengukuran tingkat efektivitas program budaya sebagai mekanisme evaluasi yang objektif. Dalam rangka melakukan perbaikan pengelolaan budaya organisasi yang lebih optimal di masa yang akan datang, maka adanya evaluasi yang objektif menjadi sangat penting untuk dilakukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat kesehatan budaya organisasi di BPJS Kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian survei Organization Culture Health Index (OCHI) oleh seluruh pegawai BPJS Kesehatan sebagai responden (tingkat partisipasi pengisian survei sebesar 96,79% dari populasi) dan focus group discussion (FGD) untuk mendapatkan informasi kualitatif yang dibutuhkan. Hasil dan Pembahasan: Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, tingkat kesehatan budaya organisasi BPJS Kesehatan secara umum berada pada kategori “Cukup Sehat” dengan nilai indeks total sebesar 72,6%. Indeks implementasi 4 tata nilai utama adalah sebagai berikut: pelayanan prima (71,3%), integritas (69,0%), inovatif (67,6%), dan kolaborasi (63,7%) dan telah terintegrasi pada 5 area kesadaran organisasi, yaitu: sustainability, relationship, growth, common goals, dan area meaning purpose. Tingkat energi positif yang dirasakan oleh pegawai pada saat bekerja berada pada kategori “Tinggi” dengan nilai indeks sebesar 95,2%. Hal ini karena budaya organisasi sebagai salah satu elemen penting manajemen SDM berhasil membentuk suasana kerja yang fun and meaningful sehingga mampu menciptakan energi positif yang dirasakan oleh pegawai. Kesimpulan dan Saran: BPJS Kesehatan dinilai cukup berhasil dalam menginternalisasikan budaya organisasi. INISIATIF sebagai tata nilai utama mampu dipahami dan menjadi keyakinan bersama bagi pegawai. Namun demikian, dalam rangka optimalisasi pengelolaan budaya organisasi, maka BPJS Kesehatan diharapkan dapat memperkaya berbagai tinjauan literatur terbaru, melakukan benchmarking terutama kepada organisasi lain yang telah berhasil membentuk budaya organisasi yang sehat, serta melakukan berbagai terobosan dan inovasi dalam pengelolaan budaya organisasi. Dengan demikian diharapkan budaya organisasi di BPJS Kesehatan dapat mencapai kategori “Sehat” dan mampu menjadi pembentuk citra organisasi yang diakui oleh seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem JKN.
 Kata kunci: Indeks kesehatan budaya organisasi, tata nilai, BPJS Kesehatan
Abstract – The development of the fetus can be impacted by the mother's nutritional state both before and during pregnancy. fetus in the process of conception. if the mother's dietary intake is consistent before and during pregnancy, it is expected that she will have a healthy kid in a few months who will be of average weight. In other words, the mother's nutritional status affects the quality of the baby that is born. During and before pregnancy. In Indonesia, there are still many pregnant women who are undernourished. This is what prompts a research for the government to solve this as it continues to rise year after year. problem. The government is still working to lower neonatal and under-five death rates by keeping an eye on and keeping track of the decline in the nutrition's widespread use. Numerous initiatives are taken to enhance community nutrition, such as stepping up the exclusive breastfeeding program (ASI), combating micronutrient deficiencies, and providing pregnant women with iron supplements, vitamin A, taburia, salt that has been iodized, and management of malnutrition and malnourished patients. becomes essential for government initiatives.
Herri Yusfi, Wahyu Indra Bayu, Giartama Giartama
et al.
Perilaku tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik, perilaku menetap, dan merokok menyebabkan peningkatan risiko kematian. Penelitian ini berusaha untuk mengidentifikasi korelasi aktivitas fisik dan perilaku menetap di antara calon guru Pendidikan jasmani di Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, FKIP, Universitas Sriwijaya, serta menyelidiki perbedaan pola aktivitas fisik mereka dengan status merokok. Peserta (n= 380) diukur tingkat aktivitas fisik dan perilaku menetap diukur dengan menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionaire–Short Form (IPAQ-SF) yang memiliki spesifikasi digunakan untuk responden 15 tahun ke atas dan dianalisis berdasarkan pedoman IPAQ-SF. Sedangkan untuk data kebiasaan merokok, instrumen yang digunakan adalah Glover-Nilsson Smoking Behavioral Questionnaire (GN-SBQ). Analisis chi-square dilakukan untuk menguji perbedaan dalam aktivitas fisik dengan status merokok, dan analisis regresi untuk menghasilkan korelasi sosiodemografi dari memenuhi pedoman aktivitas fisik (seperti yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia) dan perilaku menetap. Mengingat tingginya prevalensi aktivitas fisik yang tidak memadai dan perilaku menetap yang berlebihan saat ini, sebelumnya, dan non-perokok, program yang ditujukan untuk meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan tingkat perilaku menetap harus diintegrasikan ke dalam rencana perkuliahan yang ditargetkan untuk meningkatkan aktivitas fisik calon guru Pendidikan Jasmani.
Farhan Nugraha Pratama , Muhammad Malik Hakim , Guruh Aryotejo
Klinik dan laboratorium Medicall adalah sebuah klinik dan laboratorium yang berlokasi di Kota Tegal yang melayani di bidang kesehatan. Klinik Medicall menyediakan berbagai fasilitas seperti dokter umum, dokter gigi, apotek dan juga laboratorium, serta dilengkapi dengan fasilitas laboratorium untuk pengecekan kesehatan bagi para pasien yang membutuhkan. Akan tetapi, berbagai proses bisnis yang dioperasikan pada klinik Medicall secara umum masih berjalan dengan cara manual dan konvensional sehingga perlu adanya suatu sistem berbasis web yang dapat mempermudah pengelolaan klinik sehingga lebih efisien. Sistem ini dapat digunakan oleh pihak klinik dalam menyediakan fasilitas kesehatan kepada para pasien pelanggannya seperti proses pencarian data dan riwayat pasien, serta menampilkan informasi data yang dimiliki oleh pihak klinik kepada masyarakat. Pembuatan website ini menggunakan bahasa pemrograman PHP dan JavaScript dibantu dengan framework CodeIgniter. Basis data yang digunakan pada sistem adalah MySQL. Dengan adanya sistem ini, diharapkan dapat memudahkan pihak klinik dan juga pihak pasien yang ingin menggunakan layanan di Klinik Medicall.
Kusrini Semarwati Kadar, Fitrah Ardillah, Arnis Puspitha
et al.
Home care services by health professionals, such as doctors, nurses, and other health care professionals, target to provide health care services, including health education, physical examination, or other treatments such as physical therapy or medication. This study aimed to evaluate the implementation of home care (nursing care and home care services) in Makassar City in accordance with government guidelines. A qualitative descriptive study was conducted by interviewing nurses (15 participants) from several community health centers (Puskesmas) in Makassar City, Indonesia who have implemented a home care program for at least a year. Four main themes had emerged, namely, management of home care services, nurses’ roles in home care services, perceived barriers, and community benefits. Despite some barriers, the home care programs delivered by health care professionals including nurses in Puskesmas in Makassar City have been well implemented in accordance with the guidelines. On the basis of the obstacles faced by the nurses, one recommendation is for the government to provide specific guidelines on the types of patients to be included in these services. The government also needs to ensure that the community knows the types of patients’ condition who can avail these services.
Abstrak
Dokumentasi Asuhan Keperawatan pada Rumah Sakit Terakreditasi. Dokumentasi asuhan keperawatan dinilai dalam akreditasi rumah sakit karena berisi seluruh tindakan keperawatan dan mencerminkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan. Akreditasi rumah sakit terdiri atas tiga fase yaitu fase persiapan, implementasi, dan pasca akreditasi. Pada tahap pasca akreditasi, biasanya terjadi penurunan kualitas pelayanan. Penelitian ini menelusuri kualitas dokumentasi asuhan keperawatan di Rumah Sakit X yang terakreditasi paripurna dengan menggunakan desain deskriptif kuantitatif melalui pendekatan retrospektif. Sebanyak 292 sampel dokumen diperoleh dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan Instrumen Evaluasi Asuhan Keperawatan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan kualitas dokumentasi keperawatan tidak baik, dengan pencapaian rata-rata 80,81%. Komponen implementasi merupakan yang paling banyak terisi, sedangkan intervensi dan catatan asuhan keperawatan paling sedikit terisi. Sebagian besar indikator faktual memiliki kualitas yang baik, tetapi catatan lain memiliki kelengkapan yang buruk. Indikator observasi kualitas dokumentasi perlu dikaji ulang untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi penurunan kualitas dokumentasi keperawatan. Rumah sakit perlu meninjau dan meningkatkan dokumentasi keperawatan untuk mencegah penurunan kualitas dalam survei pasca akreditasi. Penggunaan teknologi informasi untuk dokumentasi dapat membantu perawat karena adanya standarisasi bahasa dan sistem yang saling terkait memfasilitasi dokumentasi seluruh proses perawatan, dan dengan demikian meningkatkan kelengkapannya.
Kata Kunci: akreditasi, asuhan keperawatan, dokumentasi keperawatan, rumah sakit
Breast milk is the best nutrient to reduce the pain in nursing mothers and death in infants. However, for nursing mothers, too little milk volume is the cause of problems occurring during the breastfeeding process. Thus, mothers who breastfeed should consume foods that can increase the breast milk volume. One food frequently consumed by mothers to increase breast milk is honey. In fact, natural honey is challenging to discover, and the price is also high which makes it as an obstacle. A more economical alternative is required, one of which is black cumin. It is easy to obtain and the price is also affordable. Black cumin also contains galactagogue to increase prolactin that influences breast milk production. The objective of this study is to identify the effect of black cumin on the volume of breast milk. The study was a randomized controlled trial involving 60 breastfeeding mothers divided into intervention groups and control groups. The intervention group was provided 15 grams of black cumin brewed with 1000C boiling water as much as 200 ml, and the control group was assigned 15 grams of pure honey brewed boiling 1000C as much as 200 ml. Intervention and control were administered on the second day to the day of completion after giving birth. They were measuring instruments which accustomed to measure breast milk pumps. Bivariate analysis employing the Wilcoxon and Mann Whitney tests presented a significant difference between the volume of breast milk (p = 0.001) of the control and intervention groups. This study recommends the application of black cumin as a strategy to increase the volume of breast milk in nursing mothers.
Kuat Sitepu, Anita Srigandaria Purba, Arfah May Sara
et al.
Background : The incidence of ebitis is one indicator of the quality of hospital services with the standard set by The Infusion Nursing of Practice, which is 5%. The incidence of phlebitis is an indicator of minimum hospital service quality with a standard incidence of ≤1.5%. Purpose : Knowing the effect of using betadine ointment on the incidence of phlebitis at the intravenous infusion site at the Army Hospital TK IV. 01.07.01 Pematangsiantar. Methods : This type of research the researcher used was a quasi experiment with the equivalent control group design. The research instrument used was an observation sheet with a sample of 30 patients who had an intravenous infusion attached. Results: There was a significant effect of using betadine ointment on the incidence of phlebitis on intravenous infusion therapy. Statistical analysis using normality test, homogeneity and hypothesis testing. Conclusions and suggestions : The use of betadine ointment against the incidence of phlebitis at the intravenous infusion site has a significant relationship. Therefore the hospital management must continue to make efforts to improve services to patients. As a suggestion, room nurses should increase their knowledge through training on infection control and prevention, nosocomial infection prevention training in hospitals.