Pemahaman dan keyakinan seseorang mengenai gangguan kesehatan jiwa yang memungkinkan mereka mengenali, menangani, serta mencegah gangguan tersebut dikenal sebagai literasi kesehatan mental. Berdasarkan pengamatan awal terhadap mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado yang sedang dalam proses penyusunan proposal penelitian, ditemukan bahwa banyak di antara mereka mengalami tekanan psikologis, seperti stres dan depresi, yang berkaitan dengan beban akademik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2024. Populasi dalam studi ini mencakup mahasiswa angkatan 2022 dan 2023 yang berjumlah 496 orang, dengan 62 mahasiswa dijadikan sampel melalui teknik random sampling. Data kemudian dianalisis secara univariat. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar responden (62,9%) memiliki literasi kesehatan mental yang masih rendah. Dari sisi pengetahuan, 69,4% mahasiswa menunjukkan pemahaman yang rendah terhadap isu kesehatan mental, sedangkan hanya 30,6% yang memiliki pengetahuan tinggi. Dalam hal sikap, 56,5% menunjukkan pandangan positif terhadap isu kesehatan mental, sementara sisanya, 43,5%, masih memiliki sikap negatif. Dari aspek pengalaman dan perilaku, 64,5% sudah menunjukkan perilaku yang baik dalam menjaga kesehatan mental, namun 35,5% masih belum optimal. Selain itu, sebanyak 75,8% responden mengaku jarang mengakses atau memanfaatkan layanan kesehatan mental. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagian besar mahasiswa FKM UNSRAT Manado masih memiliki tingkat literasi kesehatan mental yang tergolong rendah.
Elderly independence is essential for maintaining quality of life and functional ability. Family involvement has been shown to support this independence, but evidence from quasi-experimental studies in Indonesia remains limited. This study aimed to evaluate the effect of the Family Support Model on elderly independence in selected Public Health Center areas of Yogyakarta and Central Java. A quasi-experimental design with pre-post-test control group was conducted from March to October 2022. A total of 96 elderly participants without chronic illness were purposively assigned to experimental (n=48) and control groups (n=48). The intervention applied the Family Support Model, which included family education, structured assistance with daily activities, weekly follow-ups, and joint problem-solving involving families and health personnel. Independence was assessed using a validated questionnaire based on the Katz Index, covering both Basic (BADL) and Instrumental Activities of Daily Living (IADL). Measurements were conducted at baseline, and at one, two, and three months post-intervention. Results showed a significant increase in self-care independence in the experimental group from 0% to 97.8%, and a decrease in self-care deficit from 63% to 2.2%. In contrast, the control group showed modest improvements, with independence increasing from 0% to 32.6%, and deficit decreasing from 78.3% to 67.4%. Repeated measures ANOVA revealed significant differences between groups over time (p < 0.001). The conclusion is the Family Support Model is effective in enhancing elderly independence. It can be adopted as a practical, community-based intervention to sustain daily functioning and improve the quality of life among older adults.
Nur Halimah Seftiyani, Kartika Setia Purdani, M. Bachtiar Safrudin
Kepatuhan membaya Latar Belakang: Remaja yang menghabiskan banyak waktu bermain video game daring dapat mengubah cara mereka dalam menjaga kebersihan pribadi mereka sendiri. Tujuan: Tujuan Penulisan ini untuk mengetahui hubungan antara kecanduan game pada siswa sekolah menengah kejuruan di Istiqomah Muhammadiyah 4 Samarinda dengan kebersihan diri. Metode: Desain cross-sectional digunakan sebagai pendekatan dalam penulisan ini. Sampel terdiri dari 131 siswa dari kelas dua, yang masuk kriteria inklusi dan eklusi, selanjutnya uji chi-square dilakukan untuk membuktikan keterhubungan vaeiable tersebut. Hasil: Dari 131 siswa di SMK Istiqomah Muhammadiyah 4 Samarinda yang mengikuti penelitian tentang kecanduan game online, dapat memyimpulkan bahwa ada dua tingkat keparahan: ringan (61 dari 131, atau 44,6% dari 131) dan sedang (71 dari 131 atau 53,4% dari 131). Dalam hal kebersihan pribadi analisis menunjukkan bahwa 73 dari 131 siswa memiliki tingkat kebersihan yang baik, sedangkan 58 dari 131 siswa memiliki tingkat kebersihan buruk. Terdapat korelasi antara kebersihan pribadi yang buruk pada siswa dengan kecanduan video game, yang mana siswa yang berkorelasi berasal dari kategori sosial ekonomi rendah. Kesimpulan : hasil penelitian dari hasil uji statistic (chi-square) diperoleh nilai P<0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara adiksi game online dengan personal hygiene siswa pelajar SMK Istiqomah Muhammadiyah 4 disamarinda..
Riska Nur Wakidah, Siti Zaenab Nurul Haq, Yeremia Agus Andrianto
et al.
The success of a broiler chicken business is determined by the harvest results obtained. A good cage and chicken care system can maximize the harvest that will be obtained. The ideal chicken coop is one that has air quality, temperature and humidity that comply with the provisions. Detecting levels of ammonia gas and other gases that are harmful to chickens can be done using an air quality detector. However, what is becoming an obstacle for breeders is that the price of the detector equipment is quite expensive. So a more economical and efficient ammonia gas detection system is needed. In this research, a system for detecting temperature, humidity and ammonia gas levels was created which can be monitored remotely. This research starts from analysis, design, implementation and continues with evaluation. From the research results it was found that the control system can work well, if the ammonia gas level is high then the blower will be ON, and if the ammonia gas has reached the ideal value then the blower will be Off. And when the cage temperature is lower than specified, the incandescent lamp will be on, and vice versa. Apart from that, measured parameters can be displayed on the IoT (Internet of Things) system so that it can increase the efficiency of farmer performance.
Menghadapi kehidupan pada usia dewasa muda, mereka dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya agar dalam kehidupan sehari-hari tidak menemui permasalahan yang berarti dan tidak menghambat kemajuan tahap perkembangan selanjutnya. Pada saat ini makronutrien (karbohidrat, protein dan lemak) merupakan komponen utama dibutuhkan tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui asupan kalori mahasiswa semester 5 Agroindustri Pangan. Metode yang digunakan ialah dengan food record, yaitu mencatat apa saja yang dikonsumsi selama 1 minggu. Pada hari ke-1, hari ke-2, hari ke-5, hari ke-6 dan hari ke-7 grafik tidak ada perubahan secara signifikan pada konsumsi protein, lemak dan karbohidrat. Pada hari ke-3 mahasiswa Agroindustri Pangan banyak mengonsumsi karbohidrat sehingga berdampak buruk pada asupan kalori. Pada hari ke-4 rata-rata mahasiswa Agroindustri Pangan mengalami kekurangan konsumsi karbohidrat dan lemak. Acuan penghitungan asupan kalori menggunakan AKG dan TKPI. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) ini memang perlu disempurnakan dan diformalkan oleh pihak yang berwenang karena diharapkan satu TKPI saja bisa menjadi rujukan bagi seluruh departemen di tanah air. Angka Kecukupan Gizi (AKG) merupakan satu nilai yang mencakup kebutuhan zat gizi yang harus dipenuhi setiap hari bagi semua orang (aktivitas fisik, jenis kelamin, kondisi fisiologis dan umur) agar hidup menjadi lebih sehat.
Pemberian Reward, Keselamatan dan Kesehatan Kerja berhubungan erat dengan tingkat kinerja karyawan . Pemberian reward dapat memicu motivasi bekerja serta dengan penerapan K3 yang sehat dan aman meningkatkan kualitas dan tingkat kinerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pemberian reward, serta K3 terhadap peningkatan kinerja pada PT. Socfindo Perkebunan Tanah Gambus Kabupaten Batu Bara. Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh pekerja pabrik yang ada di PT.Socfindo berjumlah 100 pekerja. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 50 pekerja. Data yang diperoleh di uji menggunakan univariat dengan distribusi frekuensi dan sentral sedangkan analisis bivariat memakai pengujian simultan menggunakan uji annova. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan yang siginifikan dengan nilai F hitung (9,184) F tabel (3,19) dan niali p (0,000) α (0,05) dengan demikian Ha diterima. Kesimpulan penelitian ini adalah keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya akan tergantung pada seberapa baik sumber daya manusianya dikembangkan. Disarankan perusahaan untuk lebih fokus pada kesehatan dan keselamatan pekerja baik internal (pengetahuan) maupun eksternal (pengawasan) tempat kerja, serta bagaimana mengembangkan budaya keselamatan kerja. Perusahaan juga perlu memperhatikan reward yang diberikan kepada karyawan, baik berwujud maupun tidak berwujud, dengan harapan mampu meningkatkan motivasi kerja karyawan dan membantu perusahaan untuk meraih tujuan akhirnya
Abstract. When assisting unconscious victims, the ability to perform High Quality Cardiopulmonary Resuscitation (HQ-CPR) is critical for optimizing rescue efforts. However, many factors contribute to achieving HQ-CPR, including the helper's BMI (body mass index). The aim of this study was to investigate the relationship between BMI and HQ-CPR proficiency. This study uses a correlational methodology. 101 nursing students from the Institut Teknologi, Sains, Dan Kesehatan (ITSK) RS Dr. Soepraoen who took part in Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) training in 2021 made up the population of this study. Purposive sampling was the sampling technique utilized, and 91 people were included in the sample. The BMI score of each CPR assistant serves as the independent variable in this study. The capacity for HQ-CPR is the dependent variable. On September 25 and 26, 2021, this study was conducted at ITSK RS Dr. Soepraoen. Given that the Kolmogorov-Smirnov correlation test analysis yielded a p-value of 0.000, it is possible to draw the conclusion that a person's BMI and their capacity to conduct HQ-CPR are related. The study's findings support the notion that a person's BMI has an impact on their capacity to execute HQ-CPR. A respondent who has a BMI in the mild to severe obesity range or a respondent with a BMI of extreme thinness is less likely to be able to conduct HQ-CPR than a respondent with a normal or mildly obese BMI. HQ-CPR is often maintained for the first two minutes of CPR by CPR providers with normal BMI. The fitness and weariness of a person are influenced by their BMI. A person with a healthy BMI usually has superior endurance because their heart and breathing processes, among other organ functions, are stronger.
Minanton M, Serly Rosa, Leli Rezky Dwi Oktavia
et al.
Kanker serviks dapat dicegah melalui deteksi dini, namun penyakit kanker masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Sejumlah faktor mungkin berkontribusi terhadap perilaku deteksi dini kanker serviks pada wanita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker serviks pada Wanita dengan pengguna kontrasepsi. Metode: Penelitian ini merupakan cross-sectional study dengan jumlah partisipan sebanyak 43 orang dengan concecutive sampling. Wanita yang datang ke klinik ginekologi berusia antara 15 dan >45 tahun di RSPAL dr Ramelan Surabaya. Uji chi-square untuk menguji hubungan variable independent dan dependen. Hasil: Mayoritas umur responden diantara 25-34 tahun sebanyak 69,7%, Dengan tingkat skrining hanya 32,6%. Factor yang berhubungan Wanita melakukan deteksi dini kanker serviks yaitu pengetahuan (0,009), sikap (0,017) dan peran tenaga Kesehatan (0,002). Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan terhadap perilaku deteksi dini kanker serviks yang meliputi pengetahuan, sikap dan peran tenaga Kesehatan. Tenaga Kesehatan memiliki peran penting sebagai sumber informasi utama tentang skrining/deteksi dini kanker serviks. Dengan demikian, mereka dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap positif perempuan mengenai deteksi dini kanker serviks di Indonesia.
Septiara Putri, Ery Setiawan, Siti Rizny F. Saldi
et al.
Abstract Background Rituximab plus cyclophosphamide, doxorubicin, vincristine, and prednisone (R-CHOP) has been used to treat patients with diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL) under National Health Insurance (NHI) scheme in Indonesia. This study aims to estimate its cost-effectiveness and budget impact. Methods We conducted a cost utility analysis using Markov model over a lifetime horizon, from a societal perspective. Clinical evidence was derived from published clinical trials. Direct medical costs were gathered from hospital data. Direct non-medical costs, indirect costs, and utility data were primarily gathered by interviewing the patients. We applied 3% discount rate for both costs and effect. All monetary data are converted into USD (1 USD = IDR 14,000, 2019). Probabilistic sensitivity analysis was performed. In addition, from a payer perspective, budget impact analysis was estimated using price reduction scenarios. Results The incremental cost-effectiveness ratio (ICER) of R-CHOP was USD 4674/LYG and 9280/QALY. If we refer to the threshold three times the GDP per capita (USD 11,538), R-CHOP could thus be determined as a cost-effective therapy. Its significant health benefit has contributed to the considerable ICER result. Although the R-CHOP has been considered a cost-effective intervention, the financial consequence of R-CHOP if remain in benefit package under National Health Insurance (NHI) system in Indonesia is considerably substantial, approximately USD 35.00 million with 75% price reduction scenario. Conclusions As a favorable treatment for DLBCL, R-CHOP ensures value for money in Indonesia. Budget impact analysis provides results which can be used as further consideration for decision-makers in matters related to benefit packages.
Sri Astutik Andayani, Nisa'ul Karimah, Rina Ika Rahayu
et al.
Permasalahan remaja berkaitan dengan Kesehatan reproduksi dari pemahaman mengenai perlunya pemeliharaan kebersihan alat reproduksi, proses reproduksi, serta dampak perilaku yang tidak bertanggungjawab. Pada beberapa daerah khususnya di Pesantren banyak remaja yang tidak mendapatkan informasi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi secara cukup dan benar. Sehingga, diperlukan terobosan baru sebagai langkah untuk memudahkan remaja mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dengan menggunakan buku saku. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh promosi kesehatan dengan media buku saku terhadap pengetahuan dan sikap remaja di pondok pesantren. Metode: Rancangan penelitian pre-experimental dengan pendekatan one-group pre-post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja awal dengan jumlah sampel 20 partisipan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Didapatkan pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dengan p-value 0,000 <0,05. Simpulan: Ada pengaruh promosi kesehatan dengan media buku saku terhadap pengetahuan dan sikap remaja
Abstract – Nutrition is the main factor in determining the health value of pregnant women. Nutrition in pregnant women is influenced by knowledge, the higher the knowledge of prospective pregnant women, the lower the risk of pregnant women being affected by disorders during pregnancy. Maternal nutritional health before and during pregnancy affects the health status of herself and the developing fetus. Pregnancy is an important condition for increasing nutritional knowledge. This study aims to determine the importance of nutrition education for prospective pregnant women. The method used in this research is library research. The results obtained indicate that prospective pregnant women who receive education such as classes for pregnant women, posyandu activities, activities that contain education on nutrition and prevention of stunting mostly have good knowledge and a positive attitude. There is a significant relationship between providing nutrition education and increasing knowledge and attitudes about the importance of nutrition during pregnancy later.
Ketika terjadi bencana alam, korban baik yang meninggal, maupun yang selamat membutuhkan bantuan seperti makanan, air bersih, farmasi, tenda peralatan medis, dan tenaga medis. Saat terjadi bencana alam, bantuan untuk layanan kesehatan (healthcare) dapat dikategorikan menjadi relief goods, seperti barang medis dan service goods, seperti tim medis. Healthcare dalam kondisi normal berbeda dengan healthcare dalam kondisi bencana. Healthcare dalam kondisi bencana atau yang dikenal dengan healthcare dalam operasi kemanusiaan (humanitarian operation) memiliki sifat yang mendadak dan mendesak sehingga sulit untuk diprediksi. Operasi kemanusiaan pada umumnya membutuhkan jaringan supply chain (SC) yang terkait dengan healthcare, termasuk farmasi dan tenaga medis. Namun, tidak seperti healthcare pada umumnya, healthcare dalam operasi kemanusiaan memiliki sifat yang tiba-tiba dan mendesak, sehingga lebih sulit untuk diprediksi. Penelitian ini merupakan studi literatur terkait penelitian healthcare SC dalam operasi kemanusiaan. Penelitian-penelitian tersebut dikategorikan ke dalam tiga tema: healthcare, disaster, dan healthcare in natural disaster. Topik penelitian berisi Operation Management, Coordination Mechanism, Logistic Operation, Funding, Scheduling, Location Optimization, Performance, Procurement, Information Technology, Inventory Management & Control, Service Management, dan Strategy Management. Tipe dari metode penelitian berisi Optimization, Simulation, Case Study, Literature Review, Empirical Study, and Theory/Conceptual.
Abstract
[Title: Healthcare SC in Disaster Operation in Indonesia: State of the Art] When a natural disaster occurs, there are always casualties. Both the dead and the survivors need assistance such as food, clean water, pharmacy, tent, medical equipment, and medical personnel. When a natural disaster occurs, assistance for healthcare can be categorized into relief goods, such as medical goods and service goods, such as medical teams. Healthcare under normal conditions is different from healthcare in disaster conditions. Healthcare in a disaster condition or known as healthcare in humanitarian operation, has a sudden and urgent nature, making it difficult to predict. The humanitarian operation generally requires a supply chain (SC) network related to healthcare, including pharmaceuticals and medical personnel. However, unlike healthcare in general, healthcare in humanitarian operations has a sudden and urgent nature, making it more difficult to predict. This paper is a literature study related to research in healthcare SC in humanitarian operations and can be categorized into three themes: healthcare, disaster, and healthcare in a natural disaster. The topic research contains Operation Management, Coordination Mechanism, Logistic Operation, Distribution, Funding, Scheduling, Location Optimization, Performance, Procurement, Information Technology, Inventory Management & Control, Service Management, and Strategy Management The type of research methods contains Optimization, Simulation, Case Study, Literature Review, Empirical Study, and Theory/Conceptual.
Keywords: disasters; emergency; healthcare; resource
Latar Belakang: Meskipun capaian Modern Contraceptive Prevelance Rate di Indonesia termasuk tinggi, akan tetapi unmet need masih menjadi sasaran yang belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Hal ini masih menunjukkan rendahnya penggunaan alat kontrasepsi oleh wanita usia subur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi. Metode: Penelitian cross sectional dilakukan dari Januari hingga Februari 2022 di Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner pada 116 wanita usia subur yang telah memiliki anak dan mempunyai media WhatsApp. Besar sampel dihitung dengan Software Raosoft Sample Size Calculator dengan derajat kepercayaan 95% dari 165 wanita usia subur. Hasil: Dengan menggunakan analisis jalur, dapat diketahui bahwa persepsi ancaman yang dirasakan berpengaruh secara langsung terhadap perilaku penggunaan kontrasepsi (b=1,26, CI 95%= 0,48 hingga 2,05, p=0,001). Persepsi keseriusan berpengaruh tidak langsung terhadap penggunaan kontrasepsi melalui persepsi ancaman yang dirasakan (b=2,14, CI 95%=1,12 hingga 3,15, p<0,001). Persepsi keparahan berpengaruh tidak langsung terhadap penggunaan kontrasepsi melalui persepsi ancaman yang dirasakan (b=1,98, 95% CI=,93 hingga 3,04, p<0,001). Simpulan: Diperlukan inisiatif untuk meningkatkan perilaku penggunaan kontrasepsi. Selanjutnya hasil temuan ini dapat dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah yang menjadi hambatan penggunaan kontrasepsi oleh wanita usia subur.
Penyebaran Virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia telah menyebabkan krisis kesehatan masyarakat dan menjadi masalah bagi kelangsungan hidup setiap orang sehingga mengakibatkan gangguan psikologis yang akan berdampak pada kesehatan mental petugas kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi kesehatan mental sebagai komponen integral dari penanggulangan COVID-19. Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Pandemi COVID-19 dengan transmisi penularan yang masif dan tingkat kematian yang tinggi menyebabkan masalah yang mengarah pada gangguan psikologis. Fokus perhatian yang kurang terhadap kesehatan psikologis tenaga kesehatan berpotensi mengganggu kesehatan mental dan kecemasan bahkan mematikan pelayanan kesehatan dan akan berpengaruh pada penanganan pandemi Covid-19. Masalah yang sama juga terjadi pada Kecemasan yang merupakan gejala gangguan psikologis awal dan masih sangat mungkin diatasi dengan penanganan kecemasan yang dideteksi sejak dini. Tenaga kesehatan bekerja sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien di tengah Pandemi Covid-19 dengan tekanan yang tinggi, sehingga berdampak pada peningkatan masalah psikologis. Tujuan: untuk mengetahui Psikologis Pada Petugas Kesehatan yaitu kesehatan mental dan kecemasan petugas kesehatan di masa pandemic Covid-19 dan cara untuk menanganinya Metode: Metode penulisan ini adalah Literature Review, dengan menganalisis jurnal yang relevan dan berfokus pada tema yaitu Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Psikologis Pada Petugas Kesehatan dan dengan menggunakan analisis pada menggunakan sumber dari buku teks dan jurnal tahun 2019-2021. Hasil: Hasil dari pengkajian ini dengan menggunakan metode literatur review adalah dengan membaca pengkajian ini pembaca dapat mengetahui bahwa pandemic Covid-19 sangat berpengaruh terhadap Psikologis Pada Petugas Kesehatan.
Tanti Azizah Sujono, Ika Trisharyanti Dian Kusumowati, Rima Munawaroh
Buah talok (Muntingia calabura L) secara empiris telah diketahui mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan, diantaranya adalah sebagai imunomodulator. Namun mekanisme aksinya sebagai imunomodulator belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek imunomodulator ekstrak metanolik dan fraksi buah talok pada sel makrofag RAW 264.7. Sel RAW 264.7 diberi perlakuan dengan ekstrak metanolik buah talok (EMBT), fraksi heksan buah talok (FHBT), fraksi diklorometana buah talok (FDBT), fraksi etil asetat buah talok (FEABT) serta kelompok kontrol sel (KS), kontrol lipopolisakarida (LPS) dan deksametason. Viabilitas sel diukur dengan metode MTT assay dilanjutkan isolasi RNA, pembuatan cDNA dan PCR. Level ekspresi mRNA dari gen-gen seperti toll like receptor 4 (TLR4), interferon (IFN)-ɣ, interleukin (IL)-6, inducible nitric oxide synthase (iNOS), tumor necrosis factor (TNF)-α pada sel RAW 264.7 yang diinduksi lipopolisakarida (LPS) dianalisis dengan metode reverse transcription-PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deksametason menghambat ekspresi iNOS, IL-6, TNF-α, TLR4, IFN- ɣ dan NF-kB dibandingkan dengan kontrol sel dan LPS. Hal ini mengindikasikan bahwa deksametason mempunyai aktivitas antiinflamasi. Ekstrak metanolik (EMBT) dan fraksi buah talok (FHBT, FDBT dan FEABT) menurunkan ekspresi gen iNOS, TNF-α, IL-6, IFN- ɣ dan NF-kB jika dibandingkan dengan kontrol sel dan LPS, hal ini menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi. Ekstrak metanolik dan fraksi buah talok mempunyai aktivitas imunomodulator melalui penghambatan inflamasi dengan menurunkan ekspresi gen iNOS, TNF-α, IL-6, IFN- ɣ dan NF-kB pada sel RAW 264.7 yang diinduksi LPS.
Sebagai fungsi klinikal utama dalam membangun hubungan, komunikasi dokter-pasien penting dilalui dengan tahapan proses yang memungkinkan tercapainya tujuan pelayanan kesehatan yang baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui proses komunikasi dokter kepada pasien di klinik kecantikan dengan merujuk pada empat tahap komunikasi terapeutik yang dikembangkan oleh Stuart dan Sundeen. Keempat tahap komunikasi terapeutik tersebut meliputi tahap persiapan, perkenalan, kerja, dan terminasi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi partisipasi terhadap dua orang dokter dan dua orang pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap persiapan dan perkenalan, dokter menggunakan tahapan komunikasi terapeutik sesuai yang dikembangkan oleh Stuart dan Sundeen. Pada tahap kerja, panduan komunikasi terapeutik kurang dijalankan dengan baik. Pada tahap terminasi, dokter membuat pasien memiliki ketergantungan pada dokter melalui pelayanan konsultasi yang lebih intens menggunakan aplikasi WhatsApp. Pasien secara intens dapat memperoleh saran-saran terkait masalah kulit dan dokter dapat memantau kondisi pasien atau menyarankan untuk kembali berkonsultasi.
As the main clinical function in building relationships, the communication between doctors and patients is significant to be done through various stages to achieve respectable health services. This study aims to find out the communication process between doctors and patients in beauty clinics by referring to the four stages of therapeutic communication developed by Stuart and Sundeen. The four phases of therapeutic communication include preparation, introduction, working, and termination. This research used a qualitative approach by employing interviews with and participatory observation of two doctors and two patients. The results showed that at the preparatory and introductory stages, doctors applied therapeutic communication stages as suggested by Stuart and Sundeen. In the working stage, therapeutic communication guidelines did not implement properly. At the termination stage, the doctor made the patient dependent on the doctor through a more intense consultation service using WhatsApp. The patients could intensely obtain suggestions related to skin problems, while the doctors were more likely to encourage the patients to make an appointment with them again.
Sectio Caesarea Is A Surgery To Give Birth To The Fetus Via The Incision On The Abdomen And Uterus. Based On Early Observation Conducted Researchers Obtained The Normal Maternity Was 106 (20,7%) And 406 (79,3%) With Sectio Caesarea At January- March 2019. This Purpose Of This Study To Know The Determinant Of Sectio Caesarea At Maternity In X Hospital Pekanbaru. The Research Used A Method Of Analytic Survey With The Design Of Cross Sectional Study. The Total Of Population 512 And Sample Of This Research 81 Maternities Who Were Birthing In The Hospital. Sampling Techniques Used Consecutive Sampling. The Measuring Instrument Used A Questionnaire And Computerized Data Processed. Analysis Used Of Univariate And Bivariate With Chi-Square Test. Results Of The Studied In X Hospital Pekanbaru There Was 51 (63%) Sectio Caesarea And 30 (37%) Normal Childbirth, After Analysis There Was Relationship Between Knowledge (P= 0,041, Or= 2,909 (1,142- 7,409)), Premature Of Membranes (P=0,041 Or=3,159 (1,152-8,662)), And Hypertension ((P=0,025, Or=3,348 (1,257-8,914)) With Sectio Caesarea. Expected For The Health Promotion And Health Of Both Mother And Child In X Hospital Pekanbaru To More Actively Educated About Maintaining Health During Pregnancy, Normal Childbirth And Sectio Caesarea Childbirth.
Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia cenderung stagnan tinggi, sama halnya dengan yang terjadi di DKI
Jakarta. Wilayah Jakarta Timur, menjadi lokasi dengan prevalensi tertinggi di DKI Jakarta yaitu 18,6% dari 14,5% (2017).
Secara spesifik, Kecamatan Cakung memiliki prevalensi tertinggi di Jakarta Timur dan Kecamatan Pulogadung berisiko
tinggi terkena gizi kurang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemenuhan gizi yang tidak sesuai menjadi
salah satu penyebab terjadinya kondisi tersebut. Periode 0-24 bulan adalah waktu standar emas dalam perkembangan otak
dan fisik, sehingga diperlukan asupan gizi yang berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah ingin mengetahui determinan
perilaku pemenuhan gizi usia bawah dua tahun (baduta). Metode penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cross
sectional. Responden penelitian adalah 132   ibu yang memiliki anak usia 24-36 bulan, dipilih dengan teknik purposive
sampling. Pengambilan data dilakukan dengan cara survey menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata
perilaku ibu dalam memenuhi gizi usia baduta sudah baik. Berdasarkan uji multivariat diketahui pengetahuan, sikap dan
dukungan instrumental dari suami berhubungan dengan perilaku pemenuhan gizi usia baduta. Dari hasil penelitian
diharapkan ada intervensi promosi kesehatan melalui model social and behavioral change communication yang
menekankan adanya upaya peningkatan pengetahuan, pembentukan sikap yang positif dan adanya upaya tindakan langsung
dari suami dalam mendukung perilaku. Â
Â
Kata kunci: Perilaku Pemenuhan Gizi, Baduta, Pengetahuan, Sikap, Dukungan Suami
The East Java Province has successfully overcome the incidences of malnutrition. In 2015, the number of malnutrition cases was 6,745 (1.8 percent), which was lower than the targets of MDGs (15.0 percent) and the Strategic Plans of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (15.0 percent). However, according to National data (Dinkes, 2015), East Java was the second largest province with the highest cases of child malnutrition after the East Nusa Tenggara Province. The study aims to explain the direct and indirect causes of malnutrition among children under five years of age in the East Java Province in 2015. Using secondary data from the 2015 National Economic Social Survey in the East Java Province, the subjects of this research consisted of 38 districts and municipalities in the East Java Province. The results showed that the p values for each variable are: the length of breastfeeding in infants aged 0–23 months (X1) was 0.007, the percentage of completed immunization children under five years (X2) was 0.011, the percentage of the population consumption below 1400 kcal (X3) was 0.960, the proportion of households with adequate sanitation (X4) was 0.198, and the ratio of Enrolment Rates in Senior High Schools between female and male (X5) was 0.439. The conclusion of this study is that the independent variables were the time length of mothers in breastfeeding their infants aged 0–23 months and the percentage of children under five years of age who were fully immunized which had a negative correlation with malnutrition experinced by children under five years of age in the East Java Province in 2015.