Reproductive healthy is a state of health related to problems with the organs of reproduction, which begins in adolescence, marked by the onset of menstruation in girls or wet dreams in boys. Sex education for adolescents provides knowledge about sexual aspects and develops constructive attitudes for adolescents in dealing with sexual problems that occur early. Taboo views surrounding information about reproductive healthy within families result in the ineffective dissemination of such information. Therefore, comprehensive and targeted reproductive health education interventions are needed for adolescents to help them understand bodily changes, reproductive roles, as well as risks and prevention methods. The educational session was conducted on Friday, October 4, 2024. Participants in the educational activity were all students in grades 5 and 6 at SDK Untung Suropati 2 Sidoarjo. The material was presented in the form of a PowerPoint presentation designed to be as engaging as possible, making it easier for participants to understand the content. The evaluation results showed that 97% of participants were able to understand physical changes during puberty, the risks of sexually transmitted diseases (STDs), how to maintain reproductive organ hygiene and the risks of infection, some incorrect information about sexuality, hormonal changes and emotional development during puberty, and the importance of reproductive organ hygiene.
Terjadi penurunan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh peserta BPJS ditunjukan dengan data persentase kunjungan tahun 2020 sebesar (12,54%), tahun 2021 sebesar 16,83% dan pada tahun 2022 sampai dengan bulan Oktober sebesar 11,46%. Determinan pemanfataan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh keterpaparan informasi, pengetahuan, pendapatan, dukungan keluarga dan keluhan penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Jenis penelitian yang digunakan adalan survei analitik dengan pendekatan cross sectionall. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta BPJS di Wilayah Puskesmas Ligung periode tahun 2022 sebanyak 29.303 orang, sampel sebanyak 100 orang. Teknik sampel yang digunakan yaitu Probability Proportional to Size Sampling (PPS Sampling), instrumen yang digunakan adalah kuesioner, metode pengumpulan data menggunakan angket dan analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian diperoleh ada hubungan antara keterpaparan informasi p value 0,000 (<0,05), pengetahuan p value 0,000 (<0,05), dukungan keluarga p value 0,000 (<0,05) dan keluhan penyakit p value 0,000 (<0,05) dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh peserta BPJS di Puskesmas Ligung. Tidak ada hubungan antara pendapatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh peserta BPJS di Puskesmas Ligung dengan nilai p-value 0,601 (>0,05).
AbstrakÂ
Â
HIV atau Human Immunodeficiency Virus yang menginfeksi sel darah putih dapat menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Akibat menurunnya kekebalan tubuh maka orang tersebut sangat mudah terkena berbagai penyakit opurtunistik. Kepatuhan meminum obat ARV menjadi faktor utama dalam mewujudkan keberhasilan terapi ARV. Pemeriksaan Viral Load merupakan standar pemeriksaan utama untuk memantau ODHIV yang sedang menjalani terapi ARV. Pemeriksaan leukosit menjadi salah satu pemeriksaan dasar yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya infeksi oputunistik pada ODHIV. Tujuan Penelitian untuk mengetahui gambaran jumlah leukosit, viral load dan kepatuhan minum obat ARV. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan jenis penelitian deskriftif analisis. Sampel penelitian berjumlah 30 ODHIV. Hasil pemeriksaan leukosit yang mengalami penurunan sebanyak 3 sampel yaitu 10%. Jumlah leukosit yang berada di nilai normal sebanyak 27 sampel yaitu 90%.Hasil data nilai viral load yang terdeteksi 18 sampel 60%, nilai viral load yang tidak terdeteksi 12 sampel 40%. Sampel yang tersupresi 29 orang 96,7% dan yang tidak tersupresi 1 3,3% orang. Jumlah ODHIV yang memiliki kepatuhan tinggi minum obat ARV sebanyak 24 orang yaitu 80%, yang memiliki kepatuhan sedang 5 orang 16,7% dan tingkat kepatuhan rendah 1 orang 3,3%. Keberhasilan virologis didapatkan pada 23 ODHIV dimana jumlah leukosit berada pada nilai normal, jumlah viral load tersupresi dan memiliki tingkat kepatuhan tinggi, 1 ODHIV mengalami penurunan jumlah leukosit, viral load tidak tersupresi dan memiliki tingkat kepatuhan rendah, 1 ODHIV berada pada keadaan kegagalan virologis dimana nilai viral load >400 copies/ML darah dan 5 ODHIV memiliki tingkat kepatuhan sedang sehingga nilai viral load masih terdeteksi.
Â
Kata kunci : ODHIV, Kepatuhan Minum Obat, Viral Load
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Abstract
Â
Â
HIV or Human Immunodeficiency Virus, which infects white blood cells, can cause a decline in the human body's immunity. Due to the weakened immune system, individuals are highly susceptible to various opportunistic diseases. Adherence to ARV medication is a key factor in achieving successful ARV therapy. Viral Load testing is the primary standard examination for monitoring individuals with HIV undergoing ARV therapy. Leukocyte examination is one of the fundamental tests conducted to determine the presence of opportunistic infections in HIV patients. The research aim is to understand the leukocyte count, viral load, and adherence to ARV medication. The research method employed is quantitative, utilizing descriptive analytical research. The study sample consists of 30 individuals with HIV. The results show a decrease in leukocyte count in 3 samples, accounting for 10%. 27 samples, constituting 90%, exhibited leukocyte counts within the normal range. Regarding viral load data, 18 samples detected the virus, comprising 60%, while 12 samples, totaling 40%, did not detect the virus. 29 individuals, or 96.7% of the sample, achieved viral load suppression, while 1 person, or 3.3%, did not achieve suppression. Among the individuals with HIV, 24 individuals, or 80%, exhibited high adherence to ARV medication, 5 individuals, or 16.7%, showed moderate adherence, and 1 person, or 3.3%, displayed low adherence. Virological success was observed in 23 individuals with HIV, where leukocyte counts were within the normal range, viral load was suppressed, and they exhibited high adherence. One individual showed decreased leukocyte count, unsuppressed viral load, and low adherence, while another individual experienced virological failure, with a viral load >400 copies/ML of blood, and 5 individuals exhibited moderate adherence, leading to detectable viral loads."
Â
Keywords: ODHIV, medication adherence, Viral Load
Feny Widiyastuty, Chriswardani Suryawati, S. P. Arso
Daerah perbatasan di Indonesia termasuk ke dalam wilayah terpencil dan terisolir dengan kondisi geografis yang ekstrim dan infrastruktur yang minim. Keberadaan puskesmas juga belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat di daerah perbatasan. Puskesmas Entikong merupakan puskesmas yang terletak di daerah perbatasan memiliki capaian pelayanan rawat jalan rata-rata pertahun hanya sebesar 46,1% dan rawat inap 11%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Entikong Kabupaten Sanggau. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah responden sebanyak 250 KK dipilih menggunakan tekhnik proporsional random sampling. Hasil penelitian diperoleh nilai signifikansi dari masing-masing variabel yaitu kebutuhan (preceived need) (p=0,000), asuransi kesehatan (p=0,033), jarak tempuh (p=0,423), waktu tempuh (p=0,221), budaya (p=0,000), persepsi sakit (p=0,018), dan persepsi pelayanan kesehatan (p=0,309). Faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah kebutuhan (preceived need), asuransi kesehatan, budaya dan persepsi sakit. Faktor yang tidak berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah jarak tempuh, waktu tempuh dan persepsi pelayanan kesehatan. Pemberian informasi tentang kesehatan kepada masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan, memenuhi sarana prasarana Pustu/Polindes, mendekatkan askes pelayanan serta meningkatkan cakupan kepemilikan asuransi kesehatan di harapkan dapat meningkatkan minat masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan di Puskesmas Entikong.
K. Komalasari, Esti Supriati, Riona Sanjaya
et al.
The genesis of stunting is one of the nutritional problems experienced by more than half the stunting children in the world originating from Asia (55 percent) while more than one-third (39 percent) live in Africa. The prevalence of stunting in Indonesia is still high at 29.6 percent. The preliminary studies at Kampung Tulungkakan in 2019 recorded 17.17 percent stunting toddlers. The research objective was to determine the factors that affect the genesis of stunting on a toddler at Kampung Tulungkakan in Bumiratu Nuban Sub-District of Central Lampung Regency 2019. The research type of qualitative is the analytical design and a case-control approach. The population in this research were all toddlers, with a case sample of 28 stunting toddlers and a control sample of 56 toddlers. The analysis used univariate with frequency distribution and bivariate using the chi-square test. The research results showed that the distribution of LBW frequency was 3 toddlers (3.57 percent), non-exclusive breastfeeding status was 49 toddlers (58.33 percent), malnutrition status during pregnancy was 18 mothers (21.43 percent) and 31 primary education mothers (36.90 percent). There is no correlation of LBW with stunting (p-value: 0.743; OR: 1,000. There is an exclusive breastfeeding correlation with stunting (p-value: 0,000; OR: 11,111. There is a correlation between the nutritional status of the mother with stunting (p-value: 0.048; OR: 3.333) the correlation between maternal education and stunting (p-value: 0.046; OR: 2.885) The conclusion of the research is the correlation between the status of exclusive breastfeeding, maternal nutritional status and maternal education with the genesis of stunting while LBW is not related, so it is suggested to health care workers to increase health promotion regarding prevention the genesis of stunting. Abstrak: Kejadian balita pendek (stunting) merupakan salah satu masalah gizi yang dialami lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55 persen) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi yakni 29,6 persen. Studi pendahuluan di Kampung Tulungkakan tahun 2019 tercatat 17,17 persen balita stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Kejadian Stunting pada balita di Kampung Tulungkakan Kecamatan Bumiratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah tahun 2019. Jenis penelitian kualitatif dengan desain analitik dan pendekatan case control. Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan balita, dengan sampel kasus sebanyak 28 balita stunting dan sampel kontrol sebanyak 56 balita. Analisis yang digunakan adalah univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian diketahui distribusi frekuensi BBLR sebanyak 3 balita (3,57 persen), status ASI tidak eksklusif sebanyak 49 balita (58,33 persen), status gizi kurang pada saat hamil sebanyak 18 ibu (21,43 persen) dan pendidikan dasar sebanyak 31 ibu (36,90 persen). Tidak ada hubungan BBLR dengan stunting (p value: 0,743; OR: 1,000. Ada hubungan ASI Eksklusif dengan stunting (p value: 0,000; OR: 11,111. Ada hubungan status gizi ibu dengan stunting (p value: 0,048; OR: 3,333) ADA hubungan pendidikan ibu dengan stunting (p value: 0,046; OR: 2,885). Kesimpulan penelitian ada hubungan status pemberian ASI Eksklusif, status gizi ibu dan pendidikan ibu dengan kejadian stunting sedangkan BBLR tidak berhubungan, sehingga disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan promosi kesehatan mengenai pencegahan kejadian stunting
Efforts to provide good health services to speed up the healing process of illnesses suffered are everyone's hope and human right. The aim of the research is to determine the description of the quality of health services for Askes participants in terms of Responsiveness, Assurance, and Empathy Based on Education, Years of Service, and Incentives for health workers at Hospital Kalimantan. This type of research is observational with a descriptive approach to obtain an overview of quality Health services are reviewed in terms of excellent service at Hospital Kalimantan City. The results showed that 89.2% of the 37 health workers who said they received incentives provided good quality service to health insurance patients, while 41.4% of the 29 health workers who said they did not receive incentives provided good quality service. The conclusion is that there are 83.0% of health workers who have a D3 education level and provide excellent quality service to health insurance patients and 89.2% of health workers who receive incentives and provide good quality service to health insurance patients are 89.2%.
Background: The structure of society that changes from agrarian patterns to industrial societies contributes a lot to lifestyle changes that can trigger an increase in Non-Communicable Diseases, one of which is Diabetes Mellitus (DM). A changed lifestyle is diet and physical activity. Unhealthy diet and lack of physical activity are one of the triggers for the onset of DM type 2.
Objective: To analyze the correlation between lifestyle (diet and physical activity) and the incidence of DM type 2.
Methods: The design of this study is analytical observational with a retrospective study. The population of this study was all dm sufferers diagnosed with diabetes mellitus type 2 at the Waru Siodarjo Health Center. Sampling was carried out by purposive sampling, 60 samples in this study, and research instruments using questionnaire sheets. The Statistical Test used is Chi-Square.
Results: Based on research that has been carried out, it was found that there was a relationship between diet (p=0.000 < α=0.05) and physical activity (p=0.001 < α=0.05) and the incidence of DM type 2.
Conclusion: lifestyle relationship with the incidence of DM type 2. Nurses and nutritionists to pay more attention to diet and conduct diabetic gymnastics and for people with DM to control their diet and physical activity regularly.
Latar Belakang: Penyakit kronis merupakan isu terkait kesehatan yang lazim ditemukan pada lansia yang dapat meningkatkan tingkat morbiditas dan mortalitas pasien lansia. Kualitas tidur pasien lansia dengan penyakit kronis dapat terganggu dan dapat menimbulkan efek buruk terhadap status kesehatan. Tujuan: Menganalisis kualitas tidur beserta determinannya pada pasien lanjut usia dengan penyakit kronis di RS Unhas Makassar. Metode: Penelitian ini dilakukan secara deskriptif analitik dengan metode survey cross-sectional pada pasien lanjut usia yang terdiagnosis penyakit kronis dan sedang dalam Perawatan di RS Unhas Makassarsebanyak 40 orang. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan uji Mann-whitney. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada pengaruh antara jumlah komorbit yang dimiliki, lama penyakit yang diderita, penggunaan obat-obatan serta status psikologis terhadap kualitas tidur pada usia lanjut. Satu-satunya risiko yang berpengaruh terhadap kualitas tidur pada penelitian ini adalah jenis kelamin dengan p value 0,049. Kualitas tidur yang buruk lebih sering terjadi ada lansia berjenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Kesimpulan: Jenis kelamin merupakan prediktor terhadap kualitas tidur lansia, sedangkan faktor lainnya tidak menunjukkan signifikansinya. Untuk penelitian selanjutnya, maka penelitian dengan penetapan kriteria sampel yang lebih selektif serta melibatkan jumlah responden yang lebih besar sangat dibutuhkan.
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini semakin berkembang. Demikian juga halnya dalam jaminan kesehatan dibutuhkan Penerapan Teknologi Komunikasi dan Informasi. Aplikasi mobile JKN merupakan suatu bentuk transformasi digital model bisnis BPJS Kesehatan yang semula berupa kegiatan administratif dilakukan di Kantor Cabang atau Fasilitas Kesehatan, ditransformasi ke dalam bentuk aplikasi yang dapat digunakan oleh peserta dimana saja dan kapan saja serta diharapkan dapat mengurangi antrian di setiap Kantor Cabang BPJS Kesehatan. Melihat dengan sudah berjalannya aplikasi ini dapat diketahui apakah penggunaan aplikasi mobile JKN sudah efektif atau belum. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan aplikasi mobile JKN dan bagaimana efektivitas penggunaan aplikasi tersebut di Kantor Cabang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya penggunaan aplikasi mobile JKN yaitu disebabkan oleh peserta yang enggan menggunakan aplikasi tersebut, peserta lebih memilih datang langsung ke Kantor Layanan, peserta berasal dari daerah sulit, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang perkembangan teknologi yang dapat di gunakan dengan satu genggaman yakni gawai
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh belanja fungsi ekonomi, fungsi kesehatan, dan fungsi pendidikan sebagai variabel utama serta pdrb perkapita dan tingkat pengangguran terbuka sebagai variabel kontrol terhadap Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif (IPEI) sebagai proxy dari pertumbuhan ekonomi inklusif. Metode yang digunakan adalah Panel Vector Error Correction Model (PVECM) pada 38 kabupaten/kota di Jawa Timur selama kurun waktu 2014-2018. Dari hasil penelitian terlihat bahwa belanja fungsi ekonomi, fungsi kesehatan, fungsi pendidikan, dan pdrb perkapita berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif dalam jangka panjang. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka berpengaruh negatif. Dalam jangka pendek, belanja fungsi kesehatan dan belanja fungsi pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhaan ekonomi inklusif, sedangkan belanja fungsi ekonomi, pdrb perkapita, dan tingkat pengangguran terbuka tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif. Kontribusi belanja fungsi ekonomi, fungsi kesehatan, fungsi pendidikan, pdrb perkapita dan tingkat pengangguran terbuka terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif yaitu sebesar 47 persen. Hal ini berarti juga terdapat peran faktor lain termasuk peran swasta dalam menggerakkan perkembangan pembangunan ekonomi inklusif di Jawa Timur.
Siwi Kurnia Saraswati, Faikha Dhista Rahmaningrum, M. N. Z. Pahsya
et al.
ABSTRAKLatar belakang: Obesitas merupakan suatu masalah gizi yang belakangan tumbuh dengan pesat baik di kalangan ekonomi menengah ke atas maupun menengah ke bawah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat faktor penyebab obesitas berdasar teori H.L. Blum.Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Literature review. Teknik ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan berbagai teori-teori yang relevan dengan permasalahan yang sedang dihadapi atau diteliti sebagai bahan rujukan dalam pembahasan hasil penelitian. Dalam penelitian ini penulis memilih artikel penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional atau case control.Hasil: Hasil penelitian dari tinjauan artikel diketahui faktor penyebab obesitas berdasarkan teori H.L. Blum. Faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas terdiri dari faktor lingkungan yaitu aktivitas fisik hanya sebagai trend dan pilihan makanan yang beragam, faktor pelayanan kesehatan yaitu pengaruh penyuluhan, faktor genetik yaitu usia, jenis kelamin, parental fatness, mutase gen, dan faktor perilaku yaitu pola makan dan kurangnya aktivitas fisik.Simpulan: Kejadian obesitas dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya faktor lingkungan, pelayanan kesehatan, genetik, dan perilaku.Kata kunci: Obesitas, lingkungan, pelayanan kesehatan, genetik, perilaku ABSTRACT Title: Literature Review: Risk Factors for Causes of ObesityBackground: Obesity is a nutritional problem that has recently grown rapidly both in the middle to upper and lower middle class economies. The purpose of the research is to looked at the causes of obesity based on H.L. Blum Theory.Method: The research design used in this study is to use the Literature review method. This technique is carried out with the aim of expressing various theories that are relevant to the problem being faced or being researched as reference material in the discussion of research results. In this study, the authors chose a quantitative research article with a cross sectional design or case control design.Result: The result of the research from the article review found that the causes of obesity based on the theory of H.L. Blum. Factors that cause the incidence of obesity consist of environmental factors, namely physical activity only as a trend and various food choices, health service factors, namely the influence of counseling, genetic factors namely age, gender, parental fatness, gene mutation, and behavioral factors, namely diet and lack of health. physical activity.Conclusion: Obesity is caused by many factors including environmental factors, health services, genetics, and behavior.Keywords: Obesity, environment, health care, genetics, behavior
Pendahuluan: kepuasan pasien merupakan “outcome” layanan kesehatan. Tentang peningkatan mutu layanan kesehatan. Tujuan: mengetahui bagaimana kepuasan pasien tengah wabah Covid19 yang dirawat. Metode: penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, dengan pendekatan cross sectional study yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kedua variabel yaitu variabel independen kualitas pelayanan dan variabel dependen kepuasan pasien yang dilakukan secara bersamaan. Hasil: menunjukan bahwa kehandalan, jaminan, bukti fisik, empati dan tanggap menghasilan nilai p=0,000 hal ini berarti ada hubungan antara semua variabel dengan kepuasan pasien. Kesimpulan: bahwa ada hubungan antara kehandalan, jaminan, bukti fisik, empati dan tanggap dengan kepuasan pasien. Peningkatan mutu/kualitas pelayanan sangat diperlukan untuk keahlian sesuai bidang keilmuan masing-masing pada seluruh tenaga pemberi pelayanan kesehatan.
Kesehatan lansia yang semakin menurun seiring bertambahnya usia akan mempengaruhi kualitas hidup lansia. Bertambahnya usia akan disertai dengan penurunan fungsi tubuh, timbulnya berbagai penyakit, keseimbangan tubuh dan risiko jatuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia di Surabaya Jawa Timur dengan menerapkan kuesioner HRQoL. Penelitian ini merupakan penelitian survei, yang dilakukan pada 86 lansia berusia di atas 60 tahun. Analisis regresi berganda dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia, antara lain faktor predisposisi, dukungan, kebutuhan kesehatan dan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kebutuhan yaitu status kesehatan paling signifikan mempengaruhi kualitas hidup lansia. Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan kebijakan intervensi untuk meningkatkan kualitas hidup lansia
Latar belakang: Kondisi sanitasi yang buruk serta perilaku higiene yang kurang dapat menjadi penyebab terjadinya penyakit.berbasis lingkungan. Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) merupakan pendekatan untuk menggambarkan status fasilitas sanitasi dan perilaku higiene yang berisiko terhadap kesehatan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk menilai risiko kesehatan lingkungan di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif menggunakan pendekatan Studi EHRA. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 responden di Kelurahan Wirolegi dan 40 responden di Kelurahan Sumbersari. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi menggunakan kuesioner Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan 2014. Analisis data mengunakan analisis univariat kemudian menghitung Indeks Risiko Kesehatan Lingkungan (IRKL).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan variabel karakteristik responden sebagian besar merupakan ibu berusia >45 tahun, tingkat pendidikan terakhir SD-SMA, dan status rumah milik sendiri. Hasil penilaian risiko kesehatan lingkungan menunjukkan Nilai IRKL Kelurahan Wirolegi sebesar 116 dengan kategori sangat tinggi dan Kelurahan Sumbersari sebesar 57 dengan kategori kurang berisiko. Dari rata-rata kedua IRKL tersebut maka Kecamatan Sumbersari memiliki nilai IRKL 87 dengan kategori risiko tinggi.Simpulan: Indeks risiko kesehatan lingkungan berada pada kategori tinngi. Aspek dengan nilai risiko kesehatan lingkungan tertinggi yang menjadi permasalahan utama yaitu aspek perilaku pemilahan sampah, sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan sampah. ABSTRACTTitle: Environmental Health Risk Assessment in Sumbersari District, Jember Regency (Environmental Health Risk Assessment Study)Background: Poor sanitation conditions and poor hygiene behavior can be the cause of disease. Environmental Health Risk Assessment (EHRA) study is an approach to describe the status of sanitation facilities and behaviors that pose a risk to environmental health. The purpose of this study was to assess environmental health risks in Sumbersari District, Jember Regency.Method: This research used descriptive observational study with EHRA Study approach. The number of samples were 40 respondents in Wirolegi Village and 40 respondents in Sumbersari Village. Data was collected by interview and observation used an Environmental Health Risk Assessment questionnaire 2014. The data were analyzed using univariate analysis and then calculated the value of the Environmental Health Risk Index. Result: The results showed that the variable of respondents characteristics were mostly as mothers aged >45 years, the last education level was elementary-high school, and the owning of a house status. The IRKL value of Wirolegi Village is 116 with very high category and Sumbersari Village is 57 with low risk category. From the average of the two IRKLs, Sumbersari District has an IRKL value of 87 with a high risk category.Conclusion: The aspect with the highest environmental health risk value were the main problem, namely aspects of waste sorting behavior, waste water disposal facilities and waste disposal facilities.
Annisa Rahmawati, Mulyanita Mulyanita, Rezza Dewintha
et al.
Latar belakang: Kulit buah naga merah belum dimanfaatkan menjadi bahan dasar dalam pembuatan produk pangan, kulit buah naga merah itu hanya dianggap sebagai limbah yang tidak dapat diolah. Kurangnya pengetahuan dan pemanfaatan buah naga merah ini juga berdampak pada nilai jual buah naga merah yang murah dipasaran. Oleh karena itu, kulit buah naga merah dapat dimanfaatkan dengan diolah menjadi produk pangan yaitu selai lembaran. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima selai lembaran kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan substitusi lidah buaya (Aloe chinensis Baker) pada konsentrasi (25gr:17gr), (30gr:12gr), dan (35gr:7gr). Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen yaitu penelitian berupa uji coba untuk mengetahui daya terima selai lembaran kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan substitusi lidah buaya (Aloe chinensis Baker). Hasil: Hasil daya terima panelis terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur selai lembaran kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan substitusi lidah buaya (Aloe chinensis Baker) pada perlakuan 2 (30gr : 12gr). Kesimpulan: Disarankan kepada konsumen agar dapat memanfaatkan kulit buah naga merah dan lidah buaya menjadi selai lembaran sebagai alternatif makanan tambahan sebagai isian roti. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan zat gizi mikro lainnya yang terdapat pada selai lembaran kulit buah naga merah dengan substitusi lidah buaya.
Jajanan banyak diminati dan rutin dikonsumsi oleh anak sekolah. Makanan jajanan akan berdampak fatal jikamengonsumsi makanan jajanan tidak terdapat kandungan dan nilai gizi cukup serta kebersihan dan keamanantersebut tidak terjamin dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektiftas media promosi Kesehatan tentang pengetahuan jajanan sehat pada siswa sekolah dasar Jakarta Pusat tahun 2022. Penelitianini merupakan jenis penelitian kuantitatif, menggunakan metode pendekatan quasi eksperimen dengan desaincontrol group pretest dan posttest, dimana kelompok eksperimen di lihat pretest sebelumperlakuandanposttest setelah adanya perlakuan untuk mengetahui efektivitas media video dan permainan ular tanggaterhadap peningkatan pengetahuan jajanan sehat pada siswa sekolah Jakarta Pusat tahun 2022. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa promosi Kesehatan menggunakan media video dan pernaianan ular tanggaterbukti efektif untuk meningkatkan pengetahuan tentang jajanan sehat pada siswa sekolah dasar. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa media video lebih efektif dari pada media permainan ular tangga untukmeningkatkan pengetahuan siswa tentang jajanan sehat. Saran yang diberikan adalah mengembangkan mediavideo sebagai sumber informasi kesehatan. Kata kunci: Jajanan sehat, Promosi Kesehatan, Media Video dan MediaPermaianan Ular Tangga.
Alfiyah Pujiyati, Risya Cilmiaty, Widia Susanti
et al.
Background: The high prevalence of dental caries in preschool children is caused by various factors, including: knowledge, attitudes and behavior of parents. Preschoolers (93%) were included in severe early caries (dmf-t 8.43). Objective: To determine the effect of dental health education on parents' attitudes and behavior in maintaining the dental health of Joyosuran Kindergarten children. Method: Quasi-experimental research with one group pre-post test method. The sample is 38 people with total sampling method. The variables observed were changes in knowledge, attitudes and actions of parents before and after counseling. The data were tested with the Wilcoxon and Sommer d'gamma tests. Results: The results of the Wilcoxon test showed that there was a significant difference (p=0.000) between knowledge, attitudes and pre- and posttest actions with better post-test scores, while the Sommer d'gamma test results stated that there was no significant relationship between knowledge and attitudes (p sommer= p gamma=0.491), as well as knowledge and action (p sommer=p gamma = 0.686) (pre-test) of parents in maintaining children's oral and dental health. Conclusion: There are significant differences between the knowledge, attitudes and actions of pre- and post-intervention parents of Aisyiyah Joyosuran Kindergarten students.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan media sosial dan kualitas komunikasi orang tua dan anak berusia dewasa awal. Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasi dengan melakukan survei yang melibatkan 73 subjek, dengan rentang usia dewasa awal yaitu 18–25 tahun. Analisis data dilakukan menggunakan metode korelasi Pearson dengan bantuan program statistik IBM SPSS Statistic 25 for Windows. Hasil analisis data menunjukan bahwa ada korelasi signifikan antara penggunaan media sosial dan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak berusia dewasa awal (r=0,006; p=-0,292) dimana semakin tinggi nilai individu dalam variabel penggunaan media sosial maka semakin rendah nilai individu dalam variabel kualitas komunikasi antara orang tua dan anak berusia dewasa awal.
Evi Ekayanti Ginting, Cindy Fatika Sari, Leny Leny
et al.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antikolesterol serbuk semut jepang pada tikus putih jantan galur wistar. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan metode pre-test and post-test with control group design. Kontrol negatif diberikan Na-CMC 1%, kontrol positif simvastatin 10 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan serbuk semut jepang dengan dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB. Perlakuan terhadap tikus diberikan secara peroral. Kadar kolesterol total diukur dalam serum darah tikus dengan metode enzymatic CHOD-PAP. Pengukuran kadar kolesterol total dilakukan pada hari ke-15 dan hari ke-22 menggunakan fotometer microlab 300. Hasil penelitian menunjukkan serbuk semut jepang mempunyai aktivitas antikolesterol. Persentase penurunan kolesterol kontrol positif sebesar 59.75%, serbuk semut jepang dosis 100 mg/kgBB sebesar 41.79%, dosis serbuk semut jepang 200 mg/kgBB sebesar 48.72% dan dosis 300 mg/kgBB sebesar 53.83%. Hasil uji ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai p<0,05. Kesimpulan penelitian ini bahwa serbuk semut jepang memiliki aktivitas dalam penurunan kadar kolesterol pada tikus putih jantan dan dosis efektif adalah 300 mg/kgBB.