Giffary Zahida Aqilah, Eka Nofita, Novita Ariani
et al.
Latar Belakang: Blastocystis sp. adalah parasit protozoa usus ditemukan di saluran usus manusia dan hewan. Gambaran terkait Blastocystis sp. seperti mual, anoreksia, diare, dan dikaitkan dengan kejadian Inflammatory Bowel Disease dan Irritable Bowel Syndrome. Patogenitas Blastocystis sp. masih kontravesi. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat reaksi inflamasi di usus (sekum dan kolon) yang ditimbulkan Blastoystis sp. melalui perubahan histopatologi berdasarkan modifikasi kriteria Barthel Manja.
Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk melihat reaksi inflamasi di usus (sekum dan kolon) yang ditimbulkan Blastocystis sp. melalui perubahan histopatologi berdasarkan modifikasi kriteria Barthel Manja.
Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian true eksperimental dengan rancangan posttest-only control design. Sampel penelitian adalah 21 tikus galur Wistar jantan, yang dibagi menjadi 3 kelompok (PI, PII, dan K). Kelompok PI diinokulasikan oral dosis 105. Kelompok PII diinokulasikan oral Blastocystis sp. dosis 104. Kelompok K diberikan normal saline tanpa pemberian Blastocystis sp.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pemberian Blastocystis sp. terhadap edema submukosa, infiltrasi sel PMN, dan kerusakan epitel di kolon. Tidak berpengaruh terhadap hiperplasia sel goblet di kolon dan sekum. Skor akhir menunjukkan Blastocystis sp. tidak berpengaruh terhadap inflamasi usus berdasarkan modifikasi kriteria Barthel Manja.
Kesimpulan: Pemberian Blastocystis sp. hanya berpengaruh terhadap edema submukosa, infiltrasi sel PMN, dan kerusakan epitel di kolon.
Irham Annafi Kishandoko, Crismon Alfajri Agus Pratama, Jasmine Akhiru Ramadhanti
Kabupaten Brebes menjadi salah satu wilayah di Jawa Tengah dengan capaian IPM terendah selama 10 tahun terakhir. Kemudian di tahun 2024, IPM Kabupaten Brebes mengalami kenaikan. Kenaikan nilai IPM tidak merata pada ketiga dimensi IPM, hanya dimensi kesehatan yang mengalami kenaikan cukup signifikan, sementara itu kenaikan di dimensi pendidikan dan ekonomi relatif lebih rendah. Diketahui, Kabupaten Brebes masih mengalami berbagai permasalahan dalam melangsungkan pembangunan sektor pendidikan dan ekonominya. Permasalahan tersebut secara umum memperlihatkan ketimpangan pembangunan di Kabupaten Brebes, sehingga akses masyarakat terhambat dan cenderung mengalami ketertinggalan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana faktor-faktor dari dimensi pendidikan dan ekonomi saling berkaitan terhadap nilai IPM Kabupaten Brebes dalam konteks spasial. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial berupa analisis jangkauan pelayanan, analisis tutupan lahan, serta analisis persebaran dan perkembangan aktivitas perekonomian; serta analisis statistik berupa korelasi pearson. Dari penelitian ini didapatkan bahwa tingkat aksesibilitas sarana pendidikan SLTA Kabupaten Brebes tahun 2024 tergolong cukup baik karena didominasi oleh tingkat aksesibilitas dengan luas kategori sedang sebesar 51,6%. Tingkat aksesibilitas sarana pendidikan SLTA juga memiliki korelasi terhadap nilai IPM karena hasil signifikansi lebih kecil dari 0.05.
This narrative review aims to explore the transformation of occupational health and safety (OHS) in the era of healthcare digitalization. The background highlights the increasing complexity of hospital services and the urgent need to integrate digital innovation into OHS programs. The method used was a narrative review based on 32 articles published between 2020 and 2025, selected through systematic search in PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar. The findings indicate that digital health technologies, including wearable devices, electronic incident reporting systems, and mobile applications for infection control, significantly enhance the effectiveness of OHS by improving compliance, strengthening safety culture, and reducing hospital-acquired infections and adverse events. Nevertheless, challenges remain regarding infrastructure readiness, digital literacy, and data security. The implications of this study suggest that hospitals and policymakers should consider digital-based OHS strategies as an integral part of patient safety improvement and quality health services.
Background: Children have a higher risk in experiencing intraoperative hypothermia (a body temperature below 36 ºC) compared to adults. This is due to an ineffective thermoregulation system, higher surface area compared to volume, and limited subcutaneous fat reserves.
Objective: To determine effective management to prevent intraoperative hypothermia in pediatric patients.
Case report: Pediatric patient A, 7 year old female with a diagnosis of acute appendicitis underwent appendix laparoscopy procedure. The patient's preoperative temperature was 36,9 ºC, the procedure took around 55 minutes, and the operating room temperature was between 18 - 20 ºC. Nurse gave active and passive mechanisms to prevent intraoperative hypothermia. The active mechanism was done by using a warming blanket with a temperature of 39 ºC. Passive management involved the use of 4 sterile draping, the draping process was carried out quickly to minimize the time patient's body was exposed to the cold air of the operating room, and in addition, blanket was applied over patient’s body while mobilized from the reception room to the pick-up room.
Outcome: After intervention using active and passive mechanisms, it was found that the child did not shiver, the temperature was 36 ºC post-operatively, and no acral cyanosis was found.
Conclusion: The application of active mechanisms in the form of using warming blankets and passive mechanisms using blankets and draping is effective in preventing intraoperative hypothermia in children.
INTISARILatar belakang: Anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotermia intraoperatif (keadaan temperatur tubuh di bawah 36ºC) dibandingkan dewasa. Hal tersebut karena anak memiliki sistem termoregulasi yang belum efektif, luas permukaan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan volume, dan cadangan lemak subkutan yang terbatas.
Tujuan: Mengetahui manajemen yang efektif untuk mencegah hipotermia intraoperatif pada pasien anak.
Laporan kasus: Pasien An. A, anak perempuan berusia 7 tahun dengan diagnosis apendisitis akut dilakukan laparoskopi apendiks. Suhu pre-operatif pasien yaitu 36,9ºC, tindakan berlangsung sekitar 55 menit, dengan suhu kamar operasi antara 18 - 20 ºC. Perawat melakukan mekanisme aktif dan pasif untuk mencegah hipotermia intraoperatif. Mekanisme aktif dilakukan melalui penggunaan warming blanket dengan suhu 39 ºC. Manajemen pasif melalui penggunaan draping dengan 4 duk steril, proses draping dilakukan dengan cepat untuk meminimalkan waktu tubuh pasien terpapar udara dingin kamar operasi dan ditambah dengan penggunaan selimut pada tubuh pasien, saat dipindahkan mulai dari ruang penerimaan sampai dengan ruang penjemputan.
Hasil: Setelah dilakukan intervensi aplikasi mekanisme aktif dan pasif pencegahan hipotermia intraoperatif, didapatkan hasil pasien anak tidak menggigil, suhu post-operatif 36 ºC, dan tidak ditemukan sianosis pada akral.
Simpulan: Penerapan mekanisme aktif berupa penggunaan warming blanket dan mekanisme pasif dengan penggunaan selimut serta draping, terbukti efektif untuk mencegah terjadinya hipotermia intraoperatif pada anak.
Kesehatan merupakan hak setiap manusia di dunia. Hal ini tertuang jelas dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 25 ayat (1) “setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya termasuk hak atas pangan pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkan kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya.Dengan landasan inilah setiap negara berusaha memenuhi hak kesehatan bagi warga negaranya. Sistem pembiayaan kesehatan yang dipakai setiap negara pun berbeda-beda. Secara umum sistem pembiayaan di dunia terbagi menjadi 4 tipe yaitu Konsep Asuransi swasta dengan subsidi pemerintah (Traditional Sickness Insurance), Konsep pemerintah membiayai asuransi kesehatan nasional (National Health Insurance), Konsep penyediaan layanan kesehatan oleh pemerintah (National Health Service), Campuran antara pembiayaan tradisional dan pembiayaan kesehatan nasional (Health Insurance dan Health Service).
ABSTRAK
Pendahuluan: Salah satu prioritas pengembangan kesehatan di negara berkembang khususnya Indonesia adalah peningkatan kesehatan ibu dan anak. Pengembangan tersebut diarahkan pada kesehatan fisik dan mental ibu dimulai dari periode kehamilan,persalinan dan pasca persalinan. Kehamilan dan persalinan merupakan peristiwa yang normal terjadi dalam hidup, tetapi banyak ibu yang mengalami stress dikarenakan adanya tuntutan penyesuaian akibat perubahan pada kehidupan. Tujuan: mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kejadian Postpsrtum blues. Metode : Desain penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas yang berkunjung pada saat dilakukan penelitian dan Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling. Hasil : Penelitian didapatkan nilai p value = 0,003 < 0,05 maka HO ditolak berarti, ada hubungan antara usia terhadap kejadian postpartum blues. Nilai p value = 0,017 < 0,05 maka HO ditolak berarti, ada hubungan antara paritas terhadap kejadian postpartum blues dan didapatkan nilai p value = 0,613 > 0,05 maka HO diterima berarti, tidak ada hubungan antara pendidikan terhadap kejadian postpartum blues. Kesimpulan : Diharapkan Kepada petugas kesehatan ditingkatkannya komunikasi informasi dan edukasi (KIE) tentang postpartum blues dalam berbagai media sehingga dapat menambah pengetahuan ibu atau masyarakat
Kata Kunci :Ibu Nifas, Postpartum blues, Umur, Paritas dan Pendidikan
Latar Belakang: Timbal adalah logam berat beracun yang mudah ditemui di lingkungan. Timbal menyebabkan stres oksidatif pada berbagai jaringan dan organ tubuh, termasuk kelenjar tiroid. Kerusakan akibat stres oksidatif akan dikompensasi oleh tubuh dengan antioksidan, salah satunya adalah yodium.
Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian larutan yodium terhadap gambaran histopatologi kelenjar tiroid tikus yang diinduksi dengan timbal asetat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan 18 ekor tikus rattus norvegicus yang dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif yang hanya diberi pakan standar, kontrol positif yang diberi pakan standar dan timbal asetat 100mg/L, serta kelompok perlakuan yang diberi pakar standar, timbal asetat 100mg/L, dan larutan yodium 12,5mg selama 19 hari. Pada hari ke 20 tikus dimatikan dan dilakukan pengambilan organ tiroid untuk dibuatkan preparat dengan pulasan hematoxylin eosin. Preparat dibaca menggunakan mikroskop, dilihat kerusakannya, dan dianalisis lebih lanjut.
Hasil: Penelitian menunjukkan pada kelompok kontrol negatif sel-sel terlihat normal, pada kontrol positif sel mengalami kerusakan disertai infiltrasi sel radang, sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi penurunan jumlah kerusakan dan sel radang secara signifikan. Pada hasil analisis data didapatkan perbedaan yang bermakna tiap kelompok penelitian dengan nilai p<0,05.
Kesimpulan: Penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian larutan yodium dalam mencegah kerusakan tiroid tikus yang diinduksi timbal asetat.
Agus Dwi Sugiharto, Syamsu Hidayat, Rosyidah Rosyidah
Kesehatan merupakan kebutuhan setiap manusia. Oleh karena itu, asuransi kesehatan JKN sangat penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang diantaranya berada di salah satu apotik yang berada di Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terharap loyalitas pasien di Dokter Praktek Perorangan (DPP) sebagai salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner semua pasien rawat jalan yang berkunjung ke dokter praktik perorangan (DPP) Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Apotik Sita. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil analisis Partial Least Square (PLS) menunjukkan Kepuasan Pasien tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pasien pengguna Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2). Kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien pengguna Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 3). Kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pasien pengguna Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Perilaku seksual pada remaja dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual remaja pada siswa kelas 3 di SMP Negeri 2 Banjaran. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 60 orang dengan pengambilan sampel secara total sampling. Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu kuesioner. Analisis yang digunakan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian univariat menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas 3 mempunyai pengetahuan baik sebanyak 33 responden (55%) dan berdasarkan perilaku seksual remaja didapatkan remaja mempunyai prilaku seksual tidak baik sebanyak 38 siswa ( 63%). Berdasarkan hasil bivariat didapatkan terdapat hubungan yang signifikan anatara pengetahuan dengan perilaku seksual remaja dengan p value sebesar 0,003 artinya p value < 0,005. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pihak sekolah bisa berkerjasama dengan puskesmas untuk memberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja dan pendidikan seksual. Sehingga remaja menjadi peduli terhadap kesehatan reproduksinya.Kata Kunci: Pengetahuan; Kesehatan Reproduksi; Perilaku Seksual RemajaAbstractSexual behavior in adolescents is influenced by several factors including knowledge. This study aims to determine the relationship of reproductive health knowledge to adolescent sexual behavior in grade 3 students at SMP Negeri 2 Banjaran. The research design used is observational analytic. The approach used in this research is cross sectional. The sample in this study was 60 people with total sampling. The data collection method used is a questionnaire. The analysis used uses univariate and bivariate analysis. The results of the univariate study showed that most of the 3rd grade students had good knowledge of 33 respondents (55%) and based on adolescent sexual behavior it was found that 38 students (63%) had bad sexual behavior. Based on the bivariate results, it was found that there was a significant relationship between knowledge and adolescent sexual behavior with a p value of 0.003 meaning that the p value <0.005. Based on the research results, it is hoped that schools can work together with health centers to provide knowledge about adolescent reproductive health and sexual education. So that teenagers become concerned about their reproductive health.Keywords: Knowledge; Reproductive Health’ Adolescent Sexual Behavior
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang berkontribusi pada disparitas kesehatan, dengan fokus pada akses terhadap layanan kesehatan dan implikasinya terhadap luaran kesehatan. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor penyebab disparitas kesehatan, diharapkan upaya dapat diarahkan untuk mengurangi kesenjangan dalam akses terhadap layanan kesehatan dan meningkatkan kualitas kesehatan populasi secara keseluruhan.
<p align="center"><em>Nausea and vomiting in pregnancy are common symptoms in 60-80% of primigravida. The purpose of this study was to analyze the relationship between the level of anxiety of pregnant women in the first trimester with the appearance of nausea and vomiting during pregnancy. The design of this study was cross-sectional. Respondents were 33 first trimester pregnant women at the Tanjung Pratama Clinic and Rina BPM Medan during the period March to June 2017, selected by purposive sampling. Data were collected through filling out questionnaires and medical records, then analyzed using the Chi-square test. The results showed that the majority of pregnant women experienced moderate levels of anxiety (54.5%) and experienced nausea and vomiting during pregnancy (72.7%). The results of hypothesis testing showed p-value = 0.000, so it was concluded that there was a significant relationship between the anxiety level of first trimester pregnant women and nausea and vomiting during pregnancy.</em></p><pre> </pre><pre><em>Keywords: first trimester of pregnancy; nausea and vomittng; anxiety</em><em></em></pre><p align="center"><strong> </strong></p><p align="center"><strong>ABSTRAK</strong></p><p> </p><p>Mual dan muntah dalam kehamilan adalah gejala yang sering terjadi pada 60-80% primigravida. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan ibu hamil Trimester I dengan munculnya mual dan muntah selama kehamilan. Rancangan penelitian ini adalah <em>cross-sectional</em>. Responden adalah 33 ibu hamil trimester I di Klinik Pratama Tanjung dan BPM Rina Medan selama periode Maret sampai Juni 2017, yang dipilih dengan teknik <em>purposive sampling</em> Data dikumpulkanmelalui pengisian kuesioner dan rekam medik, lalu dianalisis menggunakan uji C<em>hi-square</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil mengalami tingkat kecemasan sedang (54,5%) dan mengalami mual dan muntah selama kehamilan (72,7%). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan <em>p-value </em>= 0,000, sehingga disimpulkan bahwa bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan ibu hamil trimester I dengan mual dan muntah selama kehamilan.</p><p><strong>Kata kunci</strong>: kehamilan trimester I; mual dan muntah; kecemasan</p>
Background: Intradialytic hypertension is one of the problems experienced by patient with chronic kidney failure who undergoing hemodialysis with a prevalence of 13,2% to 33,9%. This kind of hypertension is one of the biggest causes of death in patient who undergoing dialysis, with a rate of 59%. Several factor can affect intradialytic hypertension, such as interdialytic weight gain, age, gender, and the duration of hemodialysis.
Objective: To determine the characteristic of patients who underwent hemodialysis and to determine the correlation between interdialytic weight gain (IDWG) and confounding factors (age, gender, and the duration of hemodialysis) with intradialytic hypertension.
Methods: This research used quantitative methods with observational analytic design. The sampling used simple random sampling with a sample size of 126 patients, who met inclusion and exclusion criteria. Data were collected using secondary data and then analyzed using Fischer Test.
Results: The result showed there was no correlation between Interdialytic weight gain (IDWG) and intradialytic hypertension (p value = 0,484). For confounding variable, there was also no correlation between age with intradialytic hypertension (p value= 0,584), gender with intradialytic hypertension (p value= 1,000), and the duration of hemodialysis with intradialytic hypertension (p value= 0,333).
Conclusion: There was no statistically significant correlation between interdialytic weight gain (IDWG) and intradialytic hypertension. Age, gender, and duration of hemodialysis did not contribute to intradialytic hypertension.
ABSTRAK
Latar belakang: Hipertensi intradialisis merupakan salah satu permasalahan yang dialami pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, dengan prevalensi sekitar 13,2% sampai 33,9%. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab kematian terbesar pada pasien yang menjalani dialisis, yaitu sebesar 59%. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi hipertensi intradialisis, seperti Interdialytic Weight Gain, usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis.
Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien yang menjalani hemodialisis serta mengetahui hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dan faktor confounding (usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis) dengan hipertensi intradialisis.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 126 pasien, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data menggunakan lembar dokumentasi subjek penelitian dan analisis data menggunakan Fischer test.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan hipertensi intradialisis (p-value = 0,484). Pada faktor confounding juga tidak ada hubungan antara hipertensi intradialisis dengan usia (p-value= 0,584), dengan jenis kelamin (p-value = 1,000), dan dengan lama hemodialisis (p-value= 0,333).
Simpulan: Tidak ada hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan hipertensi intradialisis. Usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis, juga tidak berhubungan dengan hipertensi intradialisis.
<p><em>Pleroma urvilleanum (Clidemia hirta) is a plant that is widely found in Maluku, which contains chemical compounds, including tannins (catechols and pyrogalotanins), dioxyanthraquinones, steroids, saponins, glycosides and phenols which of these contents can function as antibacterial. This study aimed to determine the antibacterial activity of the ethanol extract of Pleroma urvilleanum(Clidemia hirta) leaf from Maluku with various concentrations of 5%, 25%, 50% and 75% against the growth of Staphylococcus aureus bacteria. The research design used is an experimental laboratory using the agar diffusion method by means of wells. The results of the study showed that at a concentration of 5%, it has an inhibitory power of 20 mm with a strong category. While at a concentration of 25% it has an inhibitory power of 29 mm, at a concentration of 50% it has an inhibitory power of 34 mm and at a concentration of 75% has an inhibitory power of 35 mm with a very strong category. Conclusion: ethanol extract Pleroma urvilleanum (Clidemia hirta) leaf from Maluku has antibacterial activity against the growth of Staphylococcus aureus bacteria and the higher the concentration, the greater the antibacterial activity.</em></p><p><em>Keywords: Antibacterial activity</em>, <em>Harendong bulu (Clidemia hirta)</em>, <em>Staphylococcus aureus, Moluccas</em></p>
Huriati Huriati, Serlin Serang, Ramlawati Ramlawati
et al.
HIV/AIDS spread is a serious threat to human life. Prevention efforts must be carried out in an integrated, effective, and efficient manner in the management of the health service system, beginning with the puskesmas. However, the literature and research findings on the operational management of HIV/AIDS services, which are primarily in the puskesmas, are still scant. This study utilized a descriptive narrative approach with a literature review. According to the findings of a literature review, the Operational Management System for HIV/AIDS services at the puskesmas is regulated in government policies in the process of controlling HIV/AIDS transmission and is carried out with several processes and stages that are regulated in a system with the goal of improving the quality of services for HIV/AIDS patients. Although there are still some obstacles to the service system's implementation at the puskesmas as a first-rate (Primary) service facility and reduce the rate of HIV/AIDS transmission
Background: The Claim Digital Verification System (VEDIKA) is a system developed by BPJS Healthcare to reduce claim of pending, accelerate the process of verifying claims, and reduce the operational burden of BPJS healthcare. This is as a follow-up to the emergence of hospital complaints regarding the implementation of INA CBG'S claim payment, The complaint has an impact on hospital satisfaction rate against BPJS healthcare decline. Purpose: This study aimed to described the VEDIKA BPJS Healthcare at the Regional Public Hospital of Sidoarjoin 2019. Methods: This descriptive research was condented by researcher at the regional public hospital of Sidoarjo during August – February 2020. The unit analysis in this research is the installation of the regional public hospital of Sidoarjo and the ample are installation head, inpatient Coordinator, outpatient Coordinator, 2 entry V-claim officer, 8 claim file Sender officers, control officers And antifraud officers. All colected data presented in descriptive or narative form. Analytical techniques using univariate analysis. Result: The results showed that the submission of claims at the Regional Public Hospital of Sidoarjowas adjusted to the VEDIKA system, the number of hospital staff supported the implementation of the VEDIKA system so that the implementation of the VEDIKA system at the Regional Public Hospital of Sidoarjo could be carried out properly. Conclusion: submiting claims at the Regional Public Hospital of Sidoarjo has adjusted to the VEDIKA BPJS Healthcare system but in the implementation of the VEDIKA system it is still not optimal in minimizing file returns, the use of the Vclaim application which often experience server downtime and maintenance class rights that do not appear in the system output and often occur differences perceptions between hospitals and BPJS healthcare are due to the regulation of service episodes and the accuracy of claim documents. Suggestion: the need for BPJS Healthcare to develop the Vclaim output, the need for hospitals to conduct coding for the accuracy of claim documents and conduct marking.
ABSTRAK
Latarbelakang : Sistem Verifikasi Digital Klaim (VEDIKA) merupakan sistem yang dikembangkan oleh BPJS kesehatan untuk mengurangi klaim yang tertunda, mempercepat proses verifikasi klaim, dan mengurangi beban operasional BPJS kesehatan. Adanya sistem VEDIKA berawal dari munculnya keluhan rumah sakit terkait penerapan pembayaran klaim INA CBG’s sehingga menurunkan kepuasan rumah sakit terhadap kinerja BPJS kesehatan. Tujuan : tujuan penelitian adalah menggambarkan sistem VEDIKA BPJS Kesehatan di RSUD Kabupaten Sidoarjo tahun 2019. Metode : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif dilakukan di instalasi Pejaminan RSUD Kabupaten Sidoarjo pada bulan Agustus – February 2020. Penelitian ini menggunakan unit analisis dengan mewawancarai semua petugas di instalasi penjaminan diantaranya kepala Instalasi, koordinator monev rawat inap, koordinator rawat jalan, 2 petugas entry Vclaim, 8 petugas pengirim berkas, tim kendali JKN dan tim antifraud. Teknik penyajian data dalam penelitian ini adalah bentuk uraian narasi. Teknik analisis menggunakan analisis univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajuan klaim di RSUD Kabupaten Sidoarjo sudah menyesuaikan dengan sistem VEDIKA, jumlah petugas rumah sakit menunjang dalam pelaksanaan sistem VEDIKA sehingga implementasi sistem VEDIKA di RSUD kabupaten Sidoarjo dapat dilaksanakan dengan baik. Kesimpulan : Pengajuan klaim di RSUD Kabupaten Sidoarjo sudah menyesuaikan dengan sistem VEDIKA BPJS Kesehatan namun pada pelaksanaan sistem VEDIKA masih belum optimal dalam meminimalisir pengembalian berkas, penggunaan aplikasi Vclaim yang sering mengalami server down dan hak kelas perawatan yang tidak muncul pada output sistem serta sering terjadi perbedaan persepsi antara rumah sakit dan BPJS kesehatan diakibatkan tentang regulasi episode pelayanan dan keakuratan dokumen klaim. Saran : perlunya BPJS kesehatan untuk mengembangkan output Vclaim, perlunya rumah sakit untuk melakukan pelatihan pengkodingan untuk keakuratan dokumen klaim dan mengadakan bencmarking.
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana semua warga negara memiliki hak yang sama dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik secara langsung maupun perwakilan. Begitu halnya dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pengguna BPJS kesehatan mereka juga mempunyai hak dan kebebasan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang baik. Pelayanan kesehatan merupakan sebuah pelaksanaan pemeliharaan kesehatan dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang baik untuk individu maupun masyarakat dengan secara optimal. Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) adalah badan hukum public yang bertanggung jawab kepada presiden dan berfungsi menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia.
Pasien COVID-19 di Indonesia terus semakin bertambah, sehingga hampir semua Rumah Sakit di Indonesia penuh. Dampak dari pandemi COVID-19 membuat masyarakat menghindari memeriksakan kesehatan mereka ke Rumah Sakit karena takut tertular tenaga medis. Ditengah-tengah masa karantina, masyarakat dengan kondisi akut dan kronis tetap membutuhhkan layanan kesehatan Tele-Health merupakan alternatif layanan kesehatan berbasis teknologi yang dibutuhkan masyarakat guna menekan penyebaran virus Corona. Tujuan penelitian ini adalah menguji efek kualitas layanan kesehatan berbasis teknologi pada hubungan kepercayaan pasien dan kepuasan pasien. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 82 orang yang menggunakan aplikasi Tele-Health berusia 18 tahun- 45 tahun. Pengambilan data menggunakan kuesioner, kuesioner kepercayaan pasien, kepuasan pasien, dan kualitas layanan kesehatan menggunakan Tele-Health Usability Questionnaire (TUQ). Seluruh kuesioner dinilai oleh pasien (self-rating). Model statisitik deksriptif, analisis korelasi, analisis regresi hirarki, dan analisis mediasi model 4 dikembangkan Hayes untuk menguji efek mediasi pada analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan kesehatan memediasi penuh hubungan kepercayaan pasien pada kepuasan pasien. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa konsep ini mempengaruhi keyakinan dan perilaku pasien berdasarkan layanan kesehatan yang diterima pasien.
Salah satu masalah gizi yang terjadi pada remaja adalah kekurangan energi kronis (KEK). Riskesdas (2018) menunjukkan prevalensi risiko kurang energi kronis (KEK) pada wanita usia subur tertinggi dialami oleh remaja usia 15 – 19 tahun yang mencapai 36,3%. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya KEK pada remaja putri yaitu perhatian terhadap penampilan fisik (body image) dan pola makan. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara body image dan pola makan dengan kekurangan energi kronis (KEK) pada remaja putri di SMAN 6 Bogor tahun 2019. Metode: penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional, sampel berjumlah 189 siswi. Pengumpulan data dengan kuesioner dan pengukuran lingkar lengan atas. Analisa data menggunakan uji chi square. Hasil: menunjukkan terdapat hubungan antara body image (appereance evaluation p = 0,000, appereance orientation p = 0,006, body area satisfaction p = 0,015, overweigt preoccupation p = 0,003, self-classified weight p = 0,000) dan pola makan (frekuensi makan p = 0,000 dan jenis ragam makan p = 0,000) dengan kekurangan energi kronis (KEK). Kesimpulan: ada hubungan antara body image dan pola makan dengan kekurangan energi kronis (KEK). Saran: bagi remaja dianjurkan untuk mengatur pola makan sesuai dengan pedoman gizi seimbang dan membangun body image yang positif sehingga mencegah terjadi KEK.