Abuddin Nata
Hasil untuk "pendidikan"
Menampilkan 20 dari ~518076 hasil · dari DOAJ, Semantic Scholar
Nopan Omeri
ahmad lutfi, Alfizah Ayu Indria Sari
This study investigates the comparative effectiveness of three instructional models—Problem-Based Learning (PBL), Project-Based Learning (PjBL), and Discovery Learning—on students’ academic achievement while controlling for Intelligence Quotient (IQ) using ANCOVA. Conducted at Pondok Pesantren Modern Nurul Ikhlas, the study employed a quasi-experimental design involving 120 Grade X students randomly assigned to three treatment groups. IQ was measured using Raven’s Progressive Matrices and treated as a covariate. The post-test achievement scores were analyzed using ANCOVA to examine the adjusted effects of each instructional model. Results indicate that the instructional model had a statistically significant effect on student achievement (p < 0.001), with PjBL outperforming both PBL and Discovery Learning. No significant difference was found between PBL and Discovery Learning. The findings suggest that instructional strategies significantly influence learning outcomes independent of students’ cognitive abilities. Furthermore, controlling for IQ increased the internal validity of the study and provided a clearer understanding of pedagogical impact. The study contributes to the development of evidence-based instructional strategies and supports the integration of constructivist models in diverse educational settings, including faith-based institutions. These findings underscore the importance of professional development and instructional innovation in enhancing academic achievement.
Ana Ratnasari, Asep Herry Hernawan, Laksmi Dewi
This study aims to analyze the relationship between parental educational background, self-efficacy, and children's reading habits in the digital era. Using a correlational quantitative research method, the study involved 408 parents in West Jawa with children aged 4–8 years. The sampling technique used was multistage random sampling. Data were collected through an online Likert-scale questionnaire and analyzed using ordinal logistic regression. The findings indicate that parental self-efficacy significantly influences children's reading habits (B = 0.247; p < 0.001), while parental educational background does not have a direct significant effect (p > 0.05). The model's Nagelkerke R² value of 0.494 suggests that 49.4% of the variance in children's reading habits can be explained by parental self-efficacy and educational background. These results highlight the importance of parental confidence in supporting children's literacy, which can be enhanced through family literacy intervention programs. Thus, this study contributes new insights into the psychological and environmental factors affecting children's reading habits.
Eufrasia Victa Swastika Anggriasti, Purnawan Junadi
Salah satu penyebab utama ketidakpuasan pasien dalam penjadwalan layanan rawat jalan adalah waktu tunggu yang terlalu lama, sehingga diperlukan penjadwalan yang adil berdasarkan kompetensi klinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jurnal-jurnal terkait dengan optimalisasi penjadwalan janji temu dalam konteks rawat jalan. Dengan melakukan tinjauan komprehensif terhadap artikel-artikel yang diterbitkan antara 20s hingga 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan melakukan pencarian sistematis dan terarah menggunakan basis data akademik yang relevan, seperti Science Direct. Sebanyak 100 artikel diidentifikasi awalnya, namun hanya 14 yang paling relevan yang dipilih untuk analisis mendalam. Jurnal-jurnal tersebut dievaluasi untuk menilai berbagai metode optimalisasi yang digunakan, termasuk algoritma pembelajaran mesin, simulasi, dan teknologi IoT. Hasil analisis menunjukkan bahwa berbagai metode tersebut telah berhasil meningkatkan efisiensi penjadwalan dan kepuasan pasien. Penelitian literatur yang di temukan menekankan pentingnya penggunaan berbagai pendekatan optimalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kepuasan pasien dalam layanan kesehatan. Temuan ini menunjukkan potensi besar teknologi seperti pembelajaran mesin, simulasi, dan IoT dalam memperbaiki kualitas layanan kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa temuan ini menegaskan pentingnya terus mengembangkan dan menerapkan strategi optimalisasi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik dari masing-masing konteks layanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas, aksesibilitas, dan kepuasan pasien.
Rossi Dwita Pertianti, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhamadi
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca permulaan siswa kelas I MI Al-Futuhat, di mana 62,5% siswa belum mencapai KKTP yang ditetapkan (≥70). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: kemampuan membaca permulaan siswa sebelum dan sesudah penerapan metode ACM, serta proses pembelajaran dengan metode ACM di setiap siklus. Metode ACM mengintegrasikan permainan, imajinasi, dan kreativitas melalui alat peraga, bercerita, dan musik. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), serta teknik pengumpulan data berupa pengamatan, tes unjuk kerja, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum penerapan metode ACM, ketuntasan klasikal kemampuan membaca siswa hanya 37,50% (kategori "Kurang"). Setelah penerapan metode ACM, terjadi peningkatan signifikan: rata-rata nilai siswa meningkat dari 51,56 menjadi 67,97 pada siklus I, dan 79,30 pada siklus II. Persentase ketuntasan klasikal meningkat dari 37,50% menjadi 56,25% pada siklus I, dan 81,25% pada siklus II. Aktivitas siswa dan guru juga meningkat di setiap siklus. Dengan capaian ini, pembelajaran dihentikan pada siklus II karena indikator keberhasilan telah tercapai (≥75%), mencerminkan dampak positif dari penerapan metode Aku Cepat Membaca (ACM). Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode ACM efektif meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa dan direkomendasikan untuk diterapkan dalam pembelajaran.
Khairil Azhar, Mohammad Ali, Eero Ropo et al.
This study examines the complexities of teacher autonomy in curriculum management at a private Islamic school in Indonesia, positioned within an educational environment shaped, to a certain extent, by Indonesia's shifting educational policies—oscillating between centralization and decentralization—and various religious frameworks. Through qualitative analysis of data obtained from focused group discussions involving teachers and school management, this research reveals how teacher autonomy is both supported and constrained by institutional policies, religious values, and resource availability. The main finding of this study is the emergence of a conditional autonomy model, where teachers exercise a negotiated form of autonomy within certain boundaries. On one hand, teachers’ autonomy is influenced by national educational policies, institutional frameworks, and cultural-religious norms, indicating that this autonomy is conditional rather than absolute. On the other hand, due to practical field needs, teachers make adjustments in designing curriculum content, applying various teaching methods and strategies, and adapting teaching and assessment methods based on student conditions and time availability. These dynamics are influenced by factors such as school and foundation policies, educational supervision, resource availability, and teacher creativity. This study highlights unique challenges within the Indonesian context, where teacher autonomy in curriculum management requires a deeper, context-specific approach. A balance is needed between the demands for innovation and flexibility and the support and control mechanisms that do not restrict the space for the growth of teacher agency. Abstrak Studi ini mengkaji kompleksitas otonomi guru dalam pengelolaan kurikulum di sebuah sekolah Islam swasta di Indonesia, yang diposisikan sebagai satu lingkungan pendidikan yang sampai taraf tertentu terbentuk oleh ragam kebijakan pendidikan di Indonesia yang bergerak seperti pendulum—sentralistik-desentralistik—serta faktor berbagai kerangka keagamaan. Melalui analisis kualitatif atas data yang diperoleh dari diskusi kelompok terpumpun (focused group discussion), yang melibatkan guru-guru dan manajemen sekolah, penelitian ini mengungkapkan bagaimana otonomi guru didukung sekaligus dibatasi oleh kebijakan institusi, nilai-nilai agama, dan ketersediaan sumber daya. Temuan utama dari studi ini adalah munculnya suatu model conditional autonomy (otonomi kondisional), di mana para guru menerapkan otonomi yang dinegosiasikan dalam batas-batas tertentu. Di satu sisi, otonomi para guru tidak terlepas dari pengaruh kebijakan pendidikan nasional, kerangka institusi, dan norma budaya-religius, yang menunjukkan bahwa otonomi tersebut bukanlah mutlak melainkan bersyarat. Namun, di sisi lain, karena kebutuhan praktikal di lapangan, para guru melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam merancang isi kurikulum, menerapkan berbagai metode dan strategi pengajaran, serta menyesuaikan metode pengajaran dan penilaian berdasarkan kondisi siswa dan ketersediaan waktu. Dinamika ini sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebijakan sekolah dan yayasan, supervisi pendidikan, ketersediaan sumber daya, dan kreativitas guru. Studi ini menunjukkan tantangan unik dalam konteks Indonesia, di mana otonomi guru dalam pengelolaan kurikulum memerlukan pendekatan yang lebih mendalam dan konteks-spesifik, di mana perlu keseimbangan antara kebutuhan akan inovasi dan fleksibilitas dengan mekanisme dukungan dan kontrol yang tidak menyempitkan ruang bagi pertumbuhan agency guru. Kata Kunci: agensi guru, kerangka keagamaan, manajemen kurikulum, otonomi guru, otonomi kondisional, otonomi kurikulum, sekolah Islam swasta
Saputri Ramadhani, Novayagori Tarmizi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum bagi pelapor tindak pidana korupsi dengan menggunakan pendekatan yuridis-normatif, yang berfokus pada kajian literatur hukum dan regulasi terkait. Perlindungan hukum dibagi menjadi dua bentuk utama: preventif dan represif. Perlindungan preventif dirancang untuk memastikan pelapor merasa aman secara fisik dan psikologis melalui anonimitas dan akses terhadap mekanisme pelaporan yang aman, sedangkan perlindungan represif melibatkan pemberian pengamanan terhadap ancaman atau intimidasi melalui penegakan sanksi hukum kepada pihak yang mencoba merugikan pelapor. Kajian ini menemukan bahwa regulasi perlindungan hukum di Indonesia, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, cenderung dirumuskan secara umum, membuka ruang untuk interpretasi yang bervariasi dan potensi ketidakefisienan implementasi. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk memperjelas ketentuan perlindungan, meningkatkan koordinasi antara KPK dan LPSK, serta melibatkan masyarakat sipil dan akademisi dalam reformasi regulasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan efektivitas perlindungan hukum bagi pelapor dan mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia.
Sulhikma Jaya, Abdul Halik
This study examines the pedagogic competence of Islamic education teachers, the principal’s strategy, constraints and solutions. The aim is to find problems, solutions, and strategies implemented by principals of public elementary schools to improve teachers’ pedagogic competence. This research method is qualitative with a phenomenological approach. This research's informants are school principals and Islamic education teachers. The results of the study are: first, the teacher masters the curriculum, learning theory and principles, is able to organize learning, is communicative, empathetic, polite, evaluates, and follows up; second, increasing teacher competence through workshops, supervision, mentoring, further study, and participating in training; third, the obstacle is the lack of teacher training, facilities and infrastructure, and teacher commitment. The solutions are to activate MGMP meetings, continue studies, workshops, monitoring, and school meetings. The research implication is that school principals must carry out their main duties properly, and teachers, as partners, carry out educational tasks in schools.
Rahayu Apridayanti, Muhammad Ghozali, Eka Ariskawanti
Family education is a solution to condition the crisis of character values in the now progressive generation. The implementation of an educational civilization development organization is now a hope for the future of every individual's life. The Muslim Brotherhood Organization (Salimah) is an organization that is engaged in transferring knowledge and skills as a form of community service. The study used descriptive qualitative methods with the method of collecting observational data on an object of research and supported by information from sources (research subjects). The purpose of the study was to find out the role of Salimah in providing educational values to the community. The results found that the role of the program that was echoed by Salimah in encouraging education for the community was "Salimah's Education House". The activities carried out include the Salimah Multi-Business Cooperative (Kossuma), Communities (Sabil@, KEP, KPSPL, KOB), Forum Silatururahim Majlis Taklim (Forsil MT), Association of Muballighoh Salimah Indonesia (IMSI), Salimah Education House, (Sister, Serasi, PAUD, TKIT, BSQ Senior School), Disaster and Disaster Management Post (P2MB), Salimah Management Leadership Training (PKPS),BQS Program (Baitul Al-Qur'an Salimah), Moral Education (special parenting for women), the Elderly School Program, and the Orphans and Duafha Development Program (P2AYD). Constraints in implementing the program include human resources and budgetary resources that help develop the realization of the Salimah program.
Ni Putu Wina Wulandini, I Wayan Eka Wiweka, Gede Wira Bayu
Rendahnya hasil belajar siswa dalam masa pandemi mengakibatkan menurunnya hasil belajar. Hal ini disebabkan karena metode pembelajaran yang tidak tepat sehingga menyebabkan proses pembelajaran menjadi membosankan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas metode diskusi pada pembelajaran daring terhadap hasil belajar IPS Siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus.setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pengamatan, refleksi dan observasi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes. Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SD, yang berjumlah 12 orang siswa, yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data hasil belajar siswa dikumpulkan dengan lembar observasi, metode analisis data dengan analisis deskriptif. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I hasil belajar siswa secara klasikal mencapai 66,66% dengan nilai rata-rata 70,83. Pada siklus II hasil belajar siswa meningkat menjadi 83,88% dengan nilai rata-rata 80,83. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode diskusi pada pembelajaran daring efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPS siswa.
Hesti Herminingsih
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap pembelajran daring dengan menggunakan Aplikasi Microsoft Teams Meeting pada masa Pendemi Covid-19 di Universitas Terbuka. Subjek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Agribisnis Kelompok Belajar di Kabupaten Probolinggo yang berjumlah 48 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa dapat mengikuti pembelajaran daring dengan baik. Sebagian besar mahasiswa menyatakan sangat menyukai pembelajran daring karena dapat mengikuti perkuliahan di rumah dengan suasana santai.  Beberapa hal yang tidak disukai adalah boros pemakaian kuota internet dan akses sinyal yang sulit. Â
Viving Laila, Syamsul Hadi, Subanji Subanji
Abstract: This study discusses how to implement financial literacy education in elementary school students. Financial literacy education is a person's activity in applying, understanding and managing information to make financial decisions. Financial literacy education can be taught early to provide knowledge and skills in improving financial well-being. This study uses a descriptive qualitative approach to describe the activities of teachers and students in the implementation of financial literacy education in elementary schools. This study shows that the implementation of financial literacy education can provide positive attitudes for students to participate in production activities and motivate students to save. Teachers can teach financial literacy education in accordance with the basic competencies that already exist in subjects such as mathematics and social studies. Teachers can teach the material the role of the economy in an effort to improve the lives of the people by introducing the type of business and doing activities to make a work and sell it.Abstrak: Penelitian ini membahas tentang bagaimana melaksanakan pendidikan literasi finansial pada siswa sekolah dasar. Pendidikan literasi finansial merupakan aktivitas seseorang dalam mengaplikasikan, memahami, dan mengelola informasi untuk membuat suatu keputusan finansialnya. Pendidikan literasi finansial dapat diajarkan sejak dini untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam meningkatkan kesejahteraan finansialnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif, untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa dalam pelaksanaan pendidikan literasi finansial di sekolah dasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan literasi finansial dapat memberikan sikap positif siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan produksi dan memotivasi siswa untuk menabung. Guru dapat mengajarkan pendidikan literasi finansial sesuai dengan kompetensi dasar yang sudah ada pada mata pelajaran, seperti Matematika dan IPS. Guru dapat mengajarkan materi peran ekonomi dalam upaya menyejahterakan kehidupan masyarakat dengan mengenalkan jenis usaha serta melakukan kegiatan membuat sebuah karya dan menjualnya.
Hifza Hifza, Muhamad Suhardi, Aslan Aslan et al.
Technological progress will have an impact on social changes in society. Along with these advances, the challenges of leadership has also changed in the face of these technological changes. This study tried to examine various literatures related to leadership, politics and technological challenges in an effort to find the problems of the study to be discussed. Then the findings were as follows; First, leadership from a sociological perspective is leadership that faces challenges in accordance with technological developments. To deal with it, then as a leader it is necessary to implement the AGIL system by holding principles in Islam. Second, leadership from a political perspective is a leader who has challenges with individuals, institutions, organizations, parties and other institutions so that in facing these challenges, all leaders need to prepare themselves to face the challenges of these requirements and compete in a healthy manner without expecting outside help or political money.
Nurfauziah
This research is motivated by the still weak learning outcomes of science students in grade V of SD Negeri 021 Tarai Bangun. The purpose of this study is to improve student science learning outcomes by implementing peer lessons learning strategies. This type of research uses classroom action research consisting of two cycles. Each cycle consists of four stages, namely: (1) planning; (2) implementation; (3) observation; and (4) reflection. The results of this study showed that the average percentage of student learning outcomes before the action only reached 54.3%. In the first cycle, student learning outcomes increased to 66.6% with a moderate classification, and in the second cycle increased again to 80.5% with a good classification. Based on these results, it can be concluded that implementing peer lessons learning strategies can improve the science learning outcomes of fifth grade students at SD Negeri 021 Tarai Bangun.
L Virginayoga Hignasari, Mardiki Supriadi
This study is aimed to develop e-learning media with self-assessment methods to improve mathematics learning outcomes of college students. The model used in the development of e-learning was the ADDIE model. The sample of this study was 39 college students of the Industrial Engineering Program, Faculty of Engineering, Mahendradatta University. The data analyzed in this study were student’s mathematics learning outcomes obtained from the posttest scores after using e-learning with self assessment method. To determine the effectiveness of the implementation of e-learning, experimenation with one group pretest and posttest design was conducted. Data of learning outcomes obtained were analyzed by using the Paired T-Test. Based on the results of expert validation and product trials, e-learning was feasible to be implemented. Based on the results of the Paired T-Test, a significant value of less than 0.05 was obtained, so based on the hypothesis that there was a difference between the learning outcomes before and after e-learning was implemented. This was also supported by an increase in the average value of student mathematics learning outcomes, from the initial pretest score of 75,92 to 82,10. Student response value was 69,0 which indicated that the response to e-learning was positive. The increase in learning outcomes was due to e-learning learning with self-assessment methods which provided opportunities for students to increase their confidence in their mathematical skills.
Chotmaniyah Chotmaniyah, Yazid Basthomi, Mirjam Anugerahwati
Abstract: The aim of this study is to describe students’ willingness to communicate in English through virtual classroom during Covids-19 Pandemic. This study used descriptive qualitative research design, conducted at SMK Negeri 8 Malang. Data collection methods were obtained from students’ responses on questionnaires and compiled with transcripts of the virtual interview result. The finding showed the students preferred to communicate in English written rather than English spoken. Keywords: student's willingness, English communication, virtual classroom Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesiapan para siswa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif yang telah dilakukan di satuan pendidikan SMK Negeri 8 Malang. Adapun pengambilan data dilakukan berdasarkan hasil tanggapan para siswa dalam mengisi kuisioner dan dikonfirmasikan dengan hasil wawancara antara peneliti dengan siswa yang terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya para siswa lebih memilih berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara tertulis. Kata kunci: keinginan siswa, komunikasi Bahasa Inggris, kelas virtual
Naily Rohmah
Kehidupan di era globalisasi memungkinkan sikap religius siswa tergerus. Oleh sebab itu, penting untuk dilakukan internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam sejak pendidikan sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi kurikulum berikut proses internalisasi nilai pendidikan Islam dalam membentuk sikap religius siswa. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ghilmani Surabaya dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kurikulum SDIT Ghilmani Surabaya menggunakan kombinasi dari kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional, kurikulum Kementerian Agama, dan kurikulum lokal. Proses internalisasi nilai pendidikan Islam terhadap sikap religius siswa dilakukan dengan cara membujuk, membiasakan, menumbuhkan kesadaran siswa, meningkatkan disiplin serta menjunjung tinggi peraturan sekolah. Sedangkan metode pembelajaran melalui ceramah, bercerita, tanya jawab, demontrasi, menumbuhkan kebiasaan baik, dan keteladanan. Dengan demikian, integrasi kurikulum dan internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam di SDIT Ghilmani dapat membentuk siswa yang memiliki sikap religius terpuji, taat pada Allah, peduli kepada sesama, berkepribadian baik, jujur, disiplin dan bertanggungjawab.
M. Irvan, Muhammad Nurrohman Jauhari
The aim of implementing Inclusive education is providing opportunities for all students to fulfill the right of children with disabilities that is to learn together with other students in a school environment. The implementation of inclusive schools should initiate an inclusive culture, and a friendly environment for children with disabilities. The writing of this article aims to examine the implementation of inclusive education in Indonesia. The data are processed, obtained through literature study, interview, and field observation. Data collected are analyzed using qualitative approach. The data obtained shows that the implementation of inclusive school has not been evenly distributed in every region, not have adequate accessibility yet, and not fulfillment of competent educator in special education field yet. Based on the analysis it can be concluded that the implementation of inclusive education requires the function of supervision, assistance, and evaluation to support the positive progress of inclusive education in terms of both quantity and quality.
Sigit Vebrianto Susilo
Bangsa Indonesia melalui generasi penerus bangsa perlu mewarisi dan merefleksikan kembali buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Dalam pandangannya, tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa secara menyeluruh tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial serta didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan sejati. Dasar-dasar pendidikan Barat dirasakan Ki Hadjar tidak tepat dan tidak cocok untuk mendidik generasi muda Indonesia karena pendidikan barat bersifat regering, tucht, orde (perintah, hukuman dan ketertiban). Karakter pendidikan semacam ini dalam prakteknya merupakan suatu perkosaan atas kehidupan batin anak-anak. Akibatnya, anak-anak rusak budi pekertinya karena selalu hidup di bawah paksaan/tekanan. Menurut Ki Hadjar, cara mendidik semacam itu tidak akan bisa membentuk seseorang hingga memiliki “kepribadian”. Sejalan dengan pandangan ini, pendidikan di Indonesia seyogianya memberikan rasa aman, menyenangkan, tenang, dan memberikan rasa bahagia sehingga siswa tanpa paksaan dan secara alamiah menyantap ilmu pengetahuan dengan maksimal. Di sisi lain, tuntutan hidup abad ke-21 secara makro dan pemberlakuan kurikulum baru di Indonesia secara mikro menuntut pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi hidup di abad ke-21. Memasuki abad 21 kemajuan teknologi telah memasuki berbagai sendi kehidupan, termasuk pendidikan. Oleh sebab itu, perlu kiranya sebagai generasi penerus bangsa kembali membedah intisari dari konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dalam pandangan pendidikan multiliterasi. Pendidikan multiliterasi yang memberikan kebebasan siswa dalam berpikir, berkreasi, dan berpendapat sejalan dengan konsep pancadarma yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya pendidikan multiliterasi memiliki ciri yakni multi konsep, multi budaya, multi gaya belajar, dan multi multi modal memberikan sebuah konsep pendidikan yang memberikan kesan dan mengarahkan kepada nilai-nilai pancasila. Abad ke 21 memberikan sebuah gambaran bahwa pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills). Sejalan dengan pemaparan di atas, dengan merefleksikan kembali nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam perspektif pendidikan multiliterasi merupakan suatu wujud nyata dalam menyongsong pendidikan Indonesia agar kelak Indonesia mampu mewujudkan cita-citanya yakni menciptakan generasi emas 2045. Kata Kunci : Pendidikan Ki Hajar Dewantara, Pendidikan Abad Ke-21
Halaman 30 dari 25904