ABSTRACT Aim This study explored the postoperative self‐care experiences of patients who underwent colostomy in Indonesia. Design A qualitative study with a cross‐sectional and descriptive design. Methods Through purposive sampling, we enrolled 20 patients (men, n=14) who had undergone colostomy in Indonesia. In 2020, in‐person interviews were conducted to collect data for content analysis. Results Content analysis revealed six themes: primary stressors, secondary stressors, coping style, family support, outcome expectations, and professional resources. Patients who have undergone colostomy often experience challenges (primary and secondary stressors) in fulfilling their self‐care needs. They can overcome these challenges through personal coping strategies and family support. The patients also require that professional resources meet their expectations. Patient or Public Contribution This study highlights the real‐life experiences of patients living with a colostomy in Indonesia. Their insights provide valuable information on the challenges they face and the coping strategies they use. By understanding their experiences, health‐care professionals, policymakers, and the public can develop better support systems, educational programmes, and related resources to improve the quality of life for colostomy patients.
Hariyanto IH, Icha Maidiana Putri, Delima Fajar Liana
Introduction: Colonization on ventilator surface is causing a risk of pathogenic bacteria transmission, leading to Healthcare-Associated Infections (HAIs). Therefore, this study aimed to determine bacterial colonization on ventilator surface in the Intensive Care Unit (ICU) of Government Hospital in Pontianak. Methods: Two ventilators, designated A and B, were sampled by sterile cotton swabs moistened with NaCl at 7 sampling points, namely power, interface, and control button, as well as screen, handrail, inspiratory port, and expiratory port. Samples were plated in triplication using the spread plate method on tryptone soya agar (TSA) medium and then incubated for 24 hours. The growth colonies were counted, and the morphology was observed macroscopically and microscopically. Results and Discussion: The results showed colonization at all sampling points on both ventilator surfaces. Ventilator A had total average number of colonies of 97, which was significantly higher compared to B with a total average of 7. Gram-negative bacteria (GNB) were observed more than Gram-positive bacteria (GPB) in both ventilators, accounting for 58.75% and 41.25%, respectively. The handrail part showed the highest number of colonies, accounting for 546 and 35 in ventilator A and B, respectively, represent both GNB and GPB but dominated by Gram-Positive coccus. The morphological forms of bacterial cells found were Gram-negative bacillus (GNB), Gram-positive coccus (GPC), Gram-negative coccus (GNC), and Gram-positive bacillus (GPB), with percentages of 37.50%, 27.50%, 21.25%, and 13.75%, respectively. Conclusion: This study showed colonization on the surfaces of two ventilators used in the ICU.
Kebijakan jaminan kesehatan bagi purnatugas menteri sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 121 Tahun 2024 menimbulkan polemik terkait keadilan dan implikasinya terhadap akuntabilitas keuangan negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kebijakan tersebut dengan prinsip keadilan sosial dan akuntabilitas keuangan negara dalam pengelolaan anggaran publik. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif melalui pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, serta kasus berdasarkan pada asas-asas umum pemerintahan yang baik (AUPB), terutama asas keadilan, kepatutan, dan efisiensi anggaran publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ini berpotensi menciptakan ketidakadilan sosial karena memberikan fasilitas istimewa kepada elite politik tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi mereka secara objektif. Selain itu, kebijakan ini berisiko membebani APBN secara tidak proporsional dan mengganggu alokasi anggaran sektor publik esensial. Disimpulkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi diuji melalui judicial review karena bertentangan dengan prinsip tata kelola keuangan negara yang baik.
Dian Kristin N Manullang, Fitri Veronica, Elsa Anastasia
et al.
Penelitian ini membahas bagaimana Twitter memengaruhi kesehatan mental Generasi Z. Dengan metode Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini menganalisis 15 artikel dari jurnal nasional dan internasional. Hasilnya, Twitter memberikan dampak yang beragam, baik positif maupun negatif. Dampak negatif meliputi meningkatnya stres, kecemasan, dan depresi akibat paparan konten seperti berita buruk, ujaran kebencian, dan cyberbullying. Selain itu, perbandingan sosial yang sering terjadi di platform ini dapat menurunkan rasa percaya diri pengguna. Namun, Twitter juga memiliki sisi positif, seperti membantu membangun komunitas daring yang mendukung melalui hashtag, meningkatkan kesadaran publik tentang kesehatan mental melalui kampanye seperti #MentalHealthAwareness, serta mempermudah akses ke layanan kesehatan mental. Oleh karena itu, edukasi tentang penggunaan media sosial yang bijak sangat penting untuk mengurangi risiko dan memanfaatkan manfaatnya secara maksimal. Penelitian ini memberikan wawasan yang bermanfaat bagi individu, keluarga, dan pengambil kebijakan untuk menciptakan strategi mendukung kesejahteraan mental Generasi Z secara menyeluruh
Ahmad Abdul Ghofar Abdulloh, Ah. Yusuf, Nuzul Qur'aniati
et al.
Ketidakpatuhan penderita hipertensi dalam pengobatan penyakitnya berdampak pada tidak terkontrolnya tekanan darah yang dapat memperburuk status kesehatan dan bahkan kematian. Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan kepatuhan hipertensi adalah pengetahuan penderita tentang penyakitnya dan penatalaksanaan yang diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dalam mendukung praktik kepatuhan penderita hipertensi dalam mengkonsumsi obat anti-hipertensi. Desain penelitian yang digunakan adalah analisis deskritif cross sectional. Besar sampel penelitian ini sebanyak 220 responden, direkrut melalui teknik purposive sampling. Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi square. Sebanyak 51,8% penderita hipertensi memiliki pengetahuan cukup dan 65,9% penderita hipertensi mengaku tidak patuh dalam meminum obat yang dianjurkan. Nilai hasil uji < α 0,05 (p= 0,000), artinya pengetahuan berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat. Pengetahuan adalah komponen terpenting yang harus dimiliki penderita agar mereka dapat terlibat aktif dalam praktik kepatuhan. Diharapkan temuan ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan intervensi pengobatan bagi penderita hipertensi kaitannya dengan upaya meningkatkan kepatuhan penderita dalam hal meminum obat anti-hipertensi.
Background: The use of social media can have a good as well as a bad influence. Its bad influence, there is empirical evidence to suggest that compulsive use of social media can have an effect on a person's self-concept, especially among adolescent smartphone users.
Purpose: The purpose of this study is to analyze the influence of social media addiction on the self-concept of adolescents in Kepanjen Kidul village. This study used a correlation analysis design with a cross sectional approach. The population of this study was adolescents in kepanjen kidul village who were indicated to have social media addiction of 34 people. Methods: The sampling technique in this study used simple random sampling, while the instruments used were questionnaire sheets, and statistical tests using spearmans rank.
Results: The results of each variable were obtained by respondents who experienced a moderate level of social addiction as many as 16 respondents (47.1%) respondents who had a negative self-concept as many as 21 respondents (61.8%) The results of the spearmans rank statistical test obtained a cophysific value of 0.486 and p-value by 0.004 < 0.05, it can be concluded that there is an influence of social media addiction on the self-concept of adolescents in the village of kepajen kidul.
Conclusion: It can be concluded that a strong relationship with a positive direction the higher the Addiction to Social Media has an impact on the higher the Negative Self-Concept experienced.
Seiring dengan majunya teknologi, turut muncul kejahatan seksual yang difasilitasi teknologi, salah satunya Image-Based Sexual Abuse (IBSA) yang marak terjadi secara internasional maupun di Indonesia. Berbagai studi empiris telah dilakukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab perilaku IBSA dan hasil yang ditemukan sangat beragam. Oleh karena itu, penulis membuat studi integrative review untuk memetakan faktor determinan perilaku IBSA. Literatur-literatur yang ditelaah oleh penulis diambil dari dua database yaitu Scopus dan Clarivate Web of Science. Dari 996 literatur yang teridentifikasi, didapatkan 13 literatur yang relevan untuk ditelaah lebih lanjut. Faktor determinan yang berhasil dipetakan dalam studi ini adalah karakteristik demografis, attitudinal, dan experiential, dark personality traits, toxic online disinhibition, konsumsi pornografi daring, serta norma gender dan interaksi homososial. Meski temuan studi-studi sebelumnya sangat beragam, tetapi terdapat beberapa temuan faktor determinan yang tidak konsisten. Maka itu, penelitian selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut terkait inkonsistensi tersebut.
Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan, mendapatkan pelindungan dari risiko kesehatan dan berkewajiban menghormati hak orang lain untuk hidup sehat. Patut disayangkan, energi dan fokus perdebatan UU Kesehatan digiring pada isu-isu curative orang sakit, melupakan 75% orang sehat. Perdebatan strategi menjaga orang sehat tetap sehat seharusnya lebih produktif. Jangan sampai masyarakat yang sehat jatuh sakit. Kelompok masyarakat yang sehat masih kurang mendapatkan liputan dan diskusi-diskusi.
The National Health Insurance is part of the National Social Security System organized by the Health Social Security Administration (BPJS) through a mandatory social health insurance mechanism. The Social Security Administering Body. is a legal entity established to administer social security programs. Participants of the Health Social Security Administering Body are divided into 2 groups based on the origin of the funding. The first group is Contribution Recipients, participants in the category of those with economic difficulties. The second group of BPJS Health participants are those who belong to the Non-PBI (Contribution Recipients) group. The Health Service is an office that facilitates health and provides technical implementers of public health services that provide non-specialist individual health services for observation, diagnosis, treatment, treatment and or other health services. The formulation of the problem in this study is why the management of the National Health Insurance budget by the Health Social Security Administration at Balai Jaya Health Center, Rokan Hilir Regency has not been maximized. planning for the National Health Insurance in the working area of ​​the Rokan Hilir Health Service. This research method uses a qualitative approach with a descriptive type of research. The results of this study indicate that the planning of the National Health Insurance at the Health Office of Rokan Hilir Regency has not been implemented properly. This is based on the fact that there are still many people who have not been integrated into the National Health Insurance . Based on the Minister of Social Affairs Regulation Number 170 of 2015 the quota for JKN PBI Rokan Hilir participants is 184,419 people, but for JKN PBI Rokan Hilir participants it is only 1,762 people.  Keywords        : Planning, National Health Insurance
Resistensi antibiotik saat ini menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat global, sehingga WHO mengkoordinasi kampanye global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap antibiotik. Resistensi merupakan kemampuan bakteri untuk menghilangkan ataupun melemahkan daya kerja antibiotik. Munculnya kemampuan bakteri, khususnya Escherichia coli untuk bersifat resisten terhadap penggunaan senyawa antibiotik tentunya menimbulkan masalah yang besar bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Kecamatan Narmada yang ada di Lombok Barat merupakan salah satu Kecamatan yang memiliki populasi ternak ayam yang cukup banyak, salah satu penyakit infeksi yang sering meyerang unggas dan diobati menggunakan antibiotik adalah Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengatahui data resistensi antibiotik pada Escherichia coli, data resistensi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu upaya pencegahan resitensi antibiotik terhadap bakteri Escherichia coli di peternakan ayam layer di desa Sesaot Kabupaten Lombok barat. Jenis penelitian deskriptif. Dengan menggunakan delapan isolat Escherichia coli, diujikan dengan antibiotic Tetracyline, Penicllin G dan Oxytetracyline. Uji resistensi bakteri dilakukan setelah diperoleh hasil dari identifikasi bakteri, bakteri Escherichia coli distreak menggunakan cotton bud dan dioleskan ke media Mueller Hilton Agar (MHA) kemudian disc cakram antibiotik ditempelkan pada media tersebut dan diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37oC pada inkubator. Hasil yang didapatkan dari enam isolat Escherichia coli yang diuji resistensi antibiotik, antibiotik dikategorikan supceptible Tetracycline (0.0%), Penicillin G (0.0%), dan Oxytetracycline (0.0%). Antibiotik dikategorikan intermediet terdiri dari Tetracycline (33.3%), Penicillin G (0.0%), dan Oxytetracycline (0.0%). Kemudian antibiotik dikategorikan resisten terdiri dari Tetracycline (66.6%), Penicillin G (100%), dan Oxytetracycline (100%).
Hypertension is an increase in systolic and diastolic blood pressure, where systolic is more than 140 mmHg and diastolic is more than 90 mmHg. The prevalence of hypertension in the world's population is found to be 22% and has resulted in 23.7% of deaths from a total of 1.7 million deaths in Indonesia. Waist circumference is a measurement of the distribution of abdominal fat which has a close relationship with hypertension, the larger the waist circumference, the more fat deposits in the abdominal area, the more fat deposits, the more bad cholesterol which will make blood vessels narrow and can cause hypertension. This study aims to determine the relationship between waist circumference and hypertension at the age of 18-45 years in Hutabarat Partali Toruan Village in 2021. This type of research is analytic observational with a cross sectional design. The population as many as 2775 people with a total sample of 96 people who were taken by purposive sampling technique. Collecting data by means of interviews, and observations using metline (cm) for waist circumference and sphygmomanometer for blood pressure. Based on the results of the study, it was found that waist circumference was abnormal at 77.1%, and hypertension was 56.3%. The results of the chi square test obtained p-value = 0.017 (p <0.05), meaning that there is a relationship between waist circumference and the incidence of hypertension. It is hoped that the Public Health Center will provide health promotion about a healthy lifestyle such as improving diet, activity and exercise, getting enough rest, not smoking, not consuming alcohol.
Pembangunan kesehatan adalah Bagian-bagian dari pembangunan nasional yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran,kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Pembangunan kesehatan merupakan upaya bagi seluruh potensi bangsa Indonesia,baik pemerintah maupun swasta.
Kursiah Warti Ningsih, Dwi Sapta Aryantisningsih, Roza Asnel
et al.
Sejalan dengan strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan bangsa yang sehat tahun 2025 ini meningkatkan derajat kesehatan menjadi salah satu fokus pembangunan dibidang kesehatan mewujudkan masyarakat yang sehat, pembangunan bidang kesehatan diarahkan kepada semua lapisan masyarakat mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2025. Peran sebagai tenaga kesehatan berkewajiban untuk memfasilitasi dalam pencapaian tujuan tersebut. Oleh karena itu, dilaksanakan penilaian masalah kesehatan yang berlangsung dari tanggal 25 Januari 2021 sampai dengan 9 Februari 2021 yang dilaksanakan di Desa Kemang Indah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menganalisis atau melihat gambaran kesehatan masyarakat di Desa Kemang Indah tahun 2021. Berdasarkan 272 KK yang di dapatkan beberapa permasalah yaitu 1% keluarga belum tersedia jamban, 47% masyarakat tidak melakukan aktifitas fisik minimal 30 menit perhari, 17% masyarakat tidak mengkonsumsi sayur dan buah, 64% masyarakat tidak memeriksaan kesehatan dalam 6 bulan, 35% masyarakat masih merokok dalam rumah, dan 72% masyarakat yang tidak melakukan pengelolaan stress.
Kurangnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi masih menjadi permasalahan saat ini. Kelompok remaja seharusnya bisa disiapkan agar mampu menghadapi tantangan saat ini dan masa mendatang. Pendidikan kesehatan reproduksi yang terintegrasi dengan sistem pembelajaran di sekolah akan mampu menjangkau remaja yang diharapkan mampu untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan menghindari perilaku berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rancangan dan efektivitas penerapan kurikulum kesehatan reproduksi berbasis program pada siswa SMP. Penelitian ini merupakan penelitian mixed methods dengan sequential explolatory designs untuk kualitatif dan Quasi experiment dengan one group pretest-posttest design untuk kuantitatif. Rancangan kurikulum disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan melalui Focus Group Discussion (FGD). Hasil FGD menunjukkan bahwa sekolah tidak memiliki rancangan pembelajaran khusus untuk pendidikan kesehatan reproduksi sebelumnya. Adapun yang sudah dilaksanakan merupakan program kesiswaan yang dikhususkan untuk siswi saja. Pendidik yang terlibat dalam program tersebut merupakan guru matematika dan biologi serta belum pernah mendapatkan pelatihan khusus terkait pembelajaran kesehatan reproduksi. Selama ini pembelajaran dilakukan dengan diskusi tanpa media gambar, sedangkan referensi yang dipakai adalah modul kesehatan reproduksi. Hasil analisa kuantitatif menunjukkan penerapan kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi efektif dan memiliki pengaruh yang positif untuk meningkatkan pengetahuan siswa (Pv=0,000).
Tuti Afriani, Rr. Tutik Sri Hariyati, Dyah Fitri Wulandari
Nursing career paths in public health centers have not been well established compared with nurses in hospitals. It is because the nursing career path has a different organizing system, which then becomes an obstacle in implementing the career path for nurses in primary health care. Therefore, this study aimed to identify the relationship between institutional and nurses’ readiness in implementing nursing career paths within public health centers. A cross-sectional study design with questionnaire as instrument was used in this research. A consecutive sampling technique was used to select 93 nurses from 13 public health centers. Furthermore, to identify the objective of this research, the Spearman’s correlation coefficient was used to determine the relationship between paired data. The results found that institutional readiness was 64 or 71.9% of maximum values, yet nurses’ readiness was 112 or 74.5% of maximum values. Thus, it can be concluded that there was a meaningful relationship between institutional and nurses’ readiness with career path implementation (p< 0.001), indicating a strong positive relationship (r= 0.521). The results of this study are expected to become a baseline data for public health centers and public health offices to establish a professional nursing career path in public health centers.
Abstrak
Kesiapan Individu Berhubungan dengan Kesiapan Institusi dalam Penerapan Jenjang Karir Perawat di Puskesmas. Implementasi jenjang karir perawat di puskesmas belum terbentuk seperti pelaksanaan jenjang karir perawat di rumah sakit. Pengorganisasi jenjang karir yang berbeda pada pelayanan primer menjadi kendala dalam implementasi jenjang karir perawat di puskesmas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan kesiapan institusi dan kesiapan perawat dalam penerapan jenjang karir perawat di puskesmas. Desain penelitian menggunakan cross sectional menggunakan kuesioner kepada 93 perawat pada 13 puskesmas. Teknik pengambilan sampel adalah convenience sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman yang melihat hubungan kesiapan perawat dengan kesiapan intitusi dalam pengembangan jenjang karir perawat di puskesmas. Hasil didapatkan rerata kesiapan insitusi 64 (71,9% dari nilai maksimal), sedangkan kesiapan perawat didapatkan hasil lebih tinggi yaitu 112 (74,5%). Terdapat hubungan secara bermakna kesiapan institusi dengan kesiapan perawat dalam penerapan jenjang karir di puskesmas dengan p< 0,001, arah hubungan positif, dan kekuatan hubungan cukup kuat yaitu r= 0,521. Penelitian ini menjadi data dasar agar puskesmas dan dinas kesehatan dapat menerapkan jenjang karir perawat profesional di puskesmas.
Kata Kunci:implementasi, jenjang karir, kesiapan, perawat, puskesmas
Gunadi, Mohamad Saifudin Hakim, Hendra Wibawa
et al.
Abstract The outcome of SARS-CoV-2 infection is determined by multiple factors, including the viral, host genetics, age, and comorbidities. This study investigated the association between prognostic factors and disease outcomes of patients infected by SARS-CoV-2 with multiple S protein mutations. Fifty-one COVID-19 patients were recruited in this study. Whole-genome sequencing of 170 full-genomes of SARS-CoV-2 was conducted with the Illumina MiSeq sequencer. Most patients (47%) had mild symptoms of COVID-19 followed by moderate (19.6%), no symptoms (13.7%), severe (4%), and critical (2%). Mortality was found in 13.7% of the COVID-19 patients. There was a significant difference between the age of hospitalized patients (53.4 ± 18 years) and the age of non-hospitalized patients (34.6 ± 19) (p = 0.001). The patients’ hospitalization was strongly associated with hypertension, diabetes, and anticoagulant and were strongly significant with the OR of 17 (95% CI 2–144; p = 0.001), 4.47 (95% CI 1.07–18.58; p = 0.039), and 27.97 (95% CI 1.54–507.13; p = 0.02), respectively; while the patients’ mortality was significantly correlated with patients’ age, anticoagulant, steroid, and diabetes, with OR of 8.44 (95% CI 1.5–47.49; p = 0.016), 46.8 (95% CI 4.63–472.77; p = 0.001), 15.75 (95% CI 2–123.86; p = 0.009), and 8.5 (95% CI 1.43–50.66; p = 0.019), respectively. This study found the clade: L (2%), GH (84.3%), GR (11.7%), and O (2%). Besides the D614G mutation, we found L5F (18.8%), V213A (18.8%), and S689R (8.3%). No significant association between multiple S protein mutations and the patients’ hospitalization or mortality. Multivariate analysis revealed that hypertension and anticoagulant were the significant factors influencing the hospitalization and mortality of patients with COVID-19 with an OR of 17.06 (95% CI 2.02–144.36; p = 0.009) and 46.8 (95% CI 4.63–472.77; p = 0.001), respectively. Moreover, the multiple S protein mutations almost reached a strong association with patients’ hospitalization (p = 0.07). We concluded that hypertension and anticoagulant therapy have a significant impact on COVID-19 outcomes. This study also suggests that multiple S protein mutations may impact the COVID-19 outcomes. This further emphasized the significance of monitoring SARS-CoV-2 variants through genomic surveillance, particularly those that may impact the COVID-19 outcomes.
Tenaga kesehatan merupakan prioritas utama dalam kesuksesan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Indonesia memiliki tantangan dalam meningkatkan jumlah tenaga kesehatan yang terlatih untuk memenuhi tuntutan yang berkembang. Departemen Kesehatan telah menggunakan beberapa pendekatan dalam menentukan kebutuhan staf, menggunakan proyeksi berdasarkan status kesehatan masyarakat, perubahan demografi dan program kesehatan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati penyebaran tenaga kesehatan puskesmas terhadap ketimpangan ekonomi rumah tangga di wilayah Indonesia Timur, sehingga pemerintah dapat menangani secara serius dan tegas terhadap permasalahan distribusi tenaga kesehatan, khususnya daerah yang sulit dijangkau. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif dengan desain rancangan penelitian cross sectional. Menggunakan data sekunder skala besar dari Indonesia Family Life survey (IFLS) East. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan distribusi tenaga kesehatan antara puskesmas yang berada di wilayah dengan tingkat ekonomi rumah tangga tinggi dan rendah lokasi geografis berdasarkan perkotaan/pedesaan dan keterpencilan bahkan provinsi. Puskesmas di wilayah Indonesia Timur lebih banyak mengalami kekosongan tenaga khususnya dokter dan bidan, juga rendahnya jumlah tenaga kesehatan masyarakat membuktikan bahwa pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada promotif dan preventif terabaikan. Optimalisasi peran pemerintah sebagai regulator dan fasilitator yang lebih memfokuskan dan membantu daerah yang kekurangan tenaga kesehatan khususnya provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua Barat yang lebih banyak mengalami kekurangan tenaga kesehatan masyarakat bahkan kekosongan tenaga dokter dan bidan.
Diah Prihatiningsih, Ni Luh Putu Devhy, Ika Setya Purwanti
et al.
Rokok merupakan salah satu faktor resiko utama dari beberapa penyakit kronis yang dapat mengakibatkan kematian. Hal ini menunjukkan bahwa rokok merupakan masalah besar bagi kesehatan masyarakat. Selain dari segi kesehatan, rokok juga mempengaruhi kepribadian perokok itu sendiri. Biasanya remaja usia SMP sudah mengenalrokok. Menurut mereka, kalau tidak merokok maka mereka dianggap tidak gaul. Semua hal tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh remaja yang aktifitas merokok bahkan menjadi salah satu budaya dalam sosial mereka. Kegiatan pengadian masyarakat di SMP Tawakkal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai dampak buruk rokok bagi kesehatan. Peserta pengabdian masyarakat merupakan siswa sekolah menengah pertama kelas 8 yang berjumlah 64 anak. Berdasarkan jenis kelamin, peserta pengabdian terdiri atas 34 siswa laki-laki (53,13%) dan 30 siswa perempuan (46,87%). Kegiatan ini diawali dengan pengisian kuisioner pre-test pengetahuan tentang bahaya rokok yang kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan oleh narasumber dan dilakukan kembali pengisian kuisioner post-test. Hasil dari pengisian kuisioner setelah dilakukan penyuluhan mengalami peningkatan yaitu sebesar 92,89% siswa memahami tentang dampak buruk akibat rokok. Selama melakukan penyuluhan siswa sangat antusias dalam mendengarkan pemateri, untuk itu diharapkan kegiatan ini digalakkan khususnya di dunia Pendidikan. Kata kunci : Rokok, Remaja, Kesehatan
Muhamad Farhan Syah, Riza Astuti Juli Winarno, Dienel Ghirahel Ahya
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi informasi mengenai keterbutuhan literasi kesehatan sebagai preventif, kuratif dan rehabilitatif pada masyarakat secara sederhana dan mudah melalui media digital. Selain itu penelitian ini untuk mengkaji motif, pengalaman, kesehatan fisik dan mental yang dilakukan oleh masyarakat yang sadar akan pentingnya literasi kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode penelitian fenomenologi, karena ingin menggali fenomena yang terjadi pada kelompok masyarakat yang memiliki kesadaran pentingnya literasi Kesehatan dalam penanggulangan pandemik COVID-19. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dokumentasi kajian data sekunder dan ditambah dengan wawancara via telepon. Terdapat 3 informan yang dipilih menggunakan teknik purposive yaitu kelompok mahasiswa fakultas olahraga Universitas Negeri Jakarta, Tenaga Medis yang sedang melaksanakan tugas penanganan COVID-19 dan Ahli Gizi Kesehatan Masyarakat dan juga ditambah dengan data skunder yang ambil dari hasil penelitian di beberapa tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media digital sebagai pusat informasi literasi Kesehatan saat ini. Pengalaman yang dirasakan oleh masyarakat sebagai bentuk pembelajaran merupakan pengalaman yang harus terus diasah sehingga kesadaran akan pentingnya literasi kesehatan akan meningkat. Literasi kesehatan sangat dibutuhkan saat ini karena dapat membangun kesadaran masyarakat dalam meningkatkan Kesehatan mereka dan menjalankan pola hidup bersih sehat dan juga dapat mengembangkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi pandemic COVID-19. Penggunaan media didukung dengan kemampuan literasi dapat mendorong perubahan dalam sikap, perilaku dan kognisi masyarakat dalam memerangi wabah.
Latar belakang. Perawakan pendek pada anak dan remaja masih sering ditemukan di negara berkembang dan berdampak pada perkembangan fisik, mental dan fungsi kognitif remaja.
Tujuan. Menganalisis perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara remaja pendek dengan IMT rendah dan normal.
Metode. Penelitian observasional dengan desain studi potong lintang yang dilakukan di SMP Negeri 8 dan 20 Kota Surakarta pada bulan Agustus – Oktober 2019 terhadap remaja pendek berusia 11-15 tahun dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran antropometri berdasarkan WHO 2006 yang dikategorikan sebagai remaja pendek kurus dan pendek normal. Keduanya mengisi kuesioner PSC-17 dan CFIT. Perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara kedua kelompok dianalisis menggunakan chi square. Hasil penelitian dikatakan bermakna jika nilai p<0,05.
Hasil. Prevalensi remaja pendek adalah 18,5% terdiri dari remaja pendek kurus (37,5%) dan pendek normal (62,5%). Terdapat perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara remaja pendek kurus dan pendek normal yang bermakna (p=0,007 dan p=0,000). Remaja pendek kurus berisiko mengalami gangguan psikososial 2,35 kali dan gangguan fungsi kognitif 8,83 kali. Mayoritas gangguan psikososial adalah masalah internalisasi. Remaja pendek kurus berisiko 2,79 kali (p=0,002).
Kesimpulan. Terdapat perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara remaja pendek dengan IMT rendah dan normal yang secara statistik bermakna.