Latar Belakang: Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 189 dan masih jauh dari target rencana pembangunan jangka menengah nasional rpjmn serta sustainable development goals 2030. Kunjungan antenatal minimal empat kali dan kunjungan nifas minimal tiga kali sebagai bagian continuum of care terbukti efektif mencegah komplikasi maternal, namun pemanfaatan Jaminan Kesehatan Nasional dalam memperluas akses dan kesinambungan layanan masih belum optimal.Metode: Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023 dengan desain cross-sectional. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multivariat dengan kerangka Andersen, mencakup faktor predisposing, enabling, dan need.Hasil: Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional, terutama pada peserta penerima bantuan iuran, meningkatkan pemanfaatan layanan maternal. Pendidikan dan kelas ibu hamil berperan penting, sementara komplikasi kehamilan dan disparitas geografis menurunkan kesinambungan layanan, khususnya di Sulawesi dan Maluku–Papua.Kesimpulan: Jaminan kesehatan nasional terutama skema penerima bantuan iuran, berperan penting dalam kesinambungan layanan maternal, namun efektivitasnya dipengaruhi faktor sosial-ekonomi, literasi kesehatan, dan kesenjangan geografis.
Sintha Fransiske Simanungkalit, Chandrayani Simanjorang, Dora Samaria
et al.
Latar Belakang: Prestasi puncak seorang atlet tidak hanya ditentukan oleh intensitas latihan rutin, tetapi juga dipengaruhi secara signifikan oleh integrasi faktor pendukung yang kompleks seperti asupan gizi, tingkat pengetahuan, dan kondisi fisik secara menyeluruh.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebugaran fisik, konsumsi protein, pengetahuan gizi, dan status gizi dengan tingkat prestasi atlet.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian mencakup atlet sepak bola, catur tuna netra, dan taekwondo yang dipilih melalui teknik total sampling dengan total 143 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, pengukuran antropometri, dan bleep test. Uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi normal (p-value<0,05), sehingga analisis hubungan antar variabel dilakukan menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Mayoritas responden adalah laki-laki (85,3%) dan atlet tingkat regional (67,8%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,0% atlet memiliki kebugaran fisik yang baik, meskipun 60,8% di antaranya memiliki konsumsi protein di bawah rata-rata kebutuhan harian. Sebanyak 53,1% responden memiliki pengetahuan gizi yang baik dan 77,2% memiliki status gizi normal. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara prestasi dengan kebugaran fisik (p-value=0,013), konsumsi protein (p-value<0,001), dan pengetahuan gizi (p-value=0,008). Namun, status gizi ditemukan tidak memiliki hubungan signifikan dengan prestasi (p-value=0,055).
Kesimpulan: Kebugaran fisik, konsumsi protein, dan pengetahuan gizi merupakan faktor krusial yang berhubungan langsung dengan prestasi atlet. Keberhasilan atlet sangat bergantung pada dukungan asupan dan pengetahuan gizi serta kondisi fisik yang prima.
Ida Yuliana, Triawanti, Muhammad Darwin Prenggono
et al.
Introduction: Mercury as the source of free radicals can trigger the activation of oxidative stress pathways. With its high toxicity, it can cause hepato-renal injuries. There have been many studies on mercury toxicity in various organs, but there are still few scientific studies that examine the hepato-renal injuries caused by mercury through the oxidative stress pathway. This study was conducted to investigate the triggering of the oxidative stress pathway due to mercury exposure in hepato-renal injuries. Methods: Research using randomized true laboratory experiment method with post-test control group design. The number of samples used was 28 Wistar rats. The research group consisted of 2 groups, control group was given aquadest ad libitum, and intervention group was given water contaminated with mercury per oral once a day (15 kg/WB). The treatment period was 14 consecutive days and on the 15th day, blood samples were taken. Oxidative stress marker was assessed by examining MDA and GPx levels and hepato-renal injuries were assessed by examining liver function (ALT and AST) and kidney function (ureum and creatinine). The collected data were analyzed by independent t-test with 95% confidence level; significant if p>0.05. Results and Discussion: The study found that mercury can trigger the activation of oxidative stress pathways and have an impact on hepato-renal function. Conclusion: Research still needs to be continued to prove that impaired hepato-renal injuries also occur at the cellular histomorphologic and discover other biomolecular mechanisms such as activation of inflammatory pathways that can also cause organ damage.
Pendidikan kesehatan gigi mulut penting dalam menjaga kesehatan umum, terutama pada anak-anak dan remaja yang rentan terhadap masalah tersebut. Kurangnya kesadaran dan perilaku dalam merawat kesehatan gigi mulut menjadi faktor resiko utama. Metode seperti penyuluhan kesehatan gigi dan mulut melalui media aplikasi WhatsApp sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan perilaku dalam merawat kesehatan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat motivasi siswa SMAN 1 Barru sebelum dan setelah diberikan penyuluhan mengenai pendidikan kesehatan gigi mulut menggunakan media poster melalui aplikasi WhatsApp. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang memiliki jumlah sampel 70 orang dengan teknik pengambilan sampel yaitu Stratified Random Sampling. Analisis data yang digunakan berupa analisis univariate dan bivariate dengan uji statistik yaitu Uji T-Berpasang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian penyuluhan menggunakan media poster melalui aplikasi WhatsApp tergolong efektif dalam meningkatkan motivasi siswa SMA Negeri 1 Barru dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya.
Fenomena bullying atau Perundungan membawa dampak buruk terutama bagi kesehatan mental korban yang merupakan suatu tindak kekerasan terhadap anak yang mana hal tersebut wajib dilakukan pencegahannya. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara memberikan edukasi anti perundungan yang pada pelaksanaanya dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian yang dilakukan berfokus pada tujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media digital berbentuk PowerPoint interaktif sebagai media edukasi anti perundungan di lingkungan sekolah. Pendekatan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas IV. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah pedoman wawancara, kuisioner, test, serta dokumentasi. Setelah melakukan beberapa tahapan penelitian, diperoleh hasil bahwa media digital berbentuk PowerPoint interaktif terbukti dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai media edukasi anti perundungan, pernyataan tersebut didukung dengan data yang menunjukkan sebagian besar siswa sudah dapat memahami materi pembelajaran dengan baik, dan siswa merasa puas terhadap media digital berbentuk PowerPoint interaktif.
Dumilah Ayuningtyas, M. Misnaniarti, Marisa Rayhani
Latar Belakang: Kesehatan mental merupakan sektor penting dalam mewujudkan kesehatan secaramenyeluruh. Terdapat sekitar 450 juta orang menderita gangguan mental dan perilaku di seluruh dunia,terbanyak di India (4,5%). Satu dari empat orang menderita satu atau lebih gangguan mental selama masahidup mereka. Gangguan mental jika tidak ditangani dengan tepat, akan bertambah parah, dan akhirnya dapatmembebani keluarga, masyarakat, serta pemerintah. Studi ini bertujuan mengetahui situasi kesehatan mentalpada masyarakat Indonesia dan strategi penanggulangannya.Metode: Tulisan ini menggunakan analisis deskriptif eksploratif, melalui tinjauan literatur dan kajian datasekunder. Unit analisis yaitu situasi kesehatan mental di Indonesia.Hasil Penelitian: Berdasarkan kajian data Riskesdas 2013 diketahui prevalensi gangguan mental berat padapenduduk Indonesia 1,7%, terbanyak di Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan. Adapun gangguan mentalemosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sekitar 6%. Hingga saat ini, masih terdapat stigmadan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan mental di Indonesia, sehingga mengalami penangananserta perlakuan salah seperti pemasungan. Oleh karena itu strategi yang optimal perlu dilakukan bagi setiapindividu, keluarga dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secaramenyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Kesehatan mental dapat ditingkatkan dengan intervensikesehatan masyarakat yang efektif. Paradigma dalam gerakan kesehatan mental yang lebih mengedepankanpada aspek pencegahan serta peran komunitas untuk membantu optimalisasi fungsi mental individu.Kesimpulan: Masih banyaknya kasus gangguan kesehatan mental pada masyarakat, dan penanganannyayang salah di Indonesia. Pemerintah perlu melakukan upaya penanggulangan yang menyeluruh, dimulaiadanya peraturan kebijakan yang menjadi dasar dukungan pendanaan dan akses ke pelayanan kesehatanmental serta didukung pendekatan berbasis komunitas.Kata kunci: adanya peraturan kebijakan yang menjadi dasar dukungan pendanaan dan akses ke pelayanan kesehatanmental serta didukung pendekatan berbasis komunitas.Kata kunci: Depresi, gangguan mental, psikososial, psikososial, skizofrenia., gangguan mental, psikososial, pemasungan, skizofrenia.
Cinta Komala, Akhmad Faozi, Delli Yuliana Rahmat
et al.
Background: Mental health is mentally and psychologically healthy without any disturbances, knowledge about mental health must be increased to minimize the occurrence of mental health disorders, especially among adolescents who are in the transitional phase towards adulthood, one way to increase knowledge is by carrying out health literacy mental health so that they can add insight and be able to manage mental health properly so as to avoid the tendency to self-diagnose.Purpose: To determine the relationship between mental health literacy and self-diagnose in late adolescents.Method: The research design used is quantitative with a correlation approach. Respondents in this study were 117 people. Data collection used a mental health literacy questionnaire with a validity and reliability test value of Cronbach's Alpha α = 0.764 and a self-diagnosis questionnaire with a validity and reliability test value of Cronbach's Alpha α = 0.852. Then a correlation analysis was performed using the Chi-Square test.Results: Most of the 74.4 percent of mental health literacy was in the good category, and in carrying out self-diagnose, most of the 58.1 percent were in the strong category. The results of the Chi-Square test on mental health literacy and self-diagnose are <0.000, which means there is a significant relationship.Conclusion: There is a relationship between mental health literacy and self-diagnose, meaning that good mental health literacy does not guarantee that adolescents do not carry out self-diagnosis.Keywords: Mental Health; Mental Health Literacy; Self-Diagnose; Late AdolescentsPendahuluan: Kesehatan mental merupakan sehat secara jiwa dan psikis tanpa adanya gangguan, pengetahuan mengenai kesehatan mental harus ditingkatkan untuk meminimalisir terjadinya gangguan kesehatan mental, terlebih pada kalangan remaja yang merupakan fase peralihan menuju dewasa, salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan yaitu dengan melakukan literasi kesehatan mental sehingga dapat menambah wawasan dan mampu mengelola kesehatan mental dengan baik agar menghindari kecenderungan mendiagnosa diri sendiri.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan mental dengan self-diagnosis pada remaja akhir.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasi. Responden dalam penelitian ini sebanyak 117 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner literasi kesehatan mental dengan nilai uji validitas dan reliabilitas Alpha Cronbach’s α =0,764 dan kuesioner self-diagnosis dengan nilai uji validitas dan reliabilitas Alpha Cronbach’s α = 0,852. Kemudian dilakukan analisis korelasi menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Sebagian besar 74,4 persen literasi kesehatan mental dalam kategori baik, dan dalam melakukan self-diagnosis sebagian besar 58,1 persen berkategori kuat. Hasil uji Chi-Square literasi kesehatan mental dan self-diagnosis yaitu < 0,000 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan.Simpulan: Terdapat hubungan literasi kesehatan mental dengan self-diagnosis, artinya literasi kesehatan mental yang baik tidak menjamin remaja untuk tidak melakukan self-diagnosis.
Hubungan Antara, Literasi Kesehatan, Dengan Kualitas
et al.
Berdasarkan arus informasi yang terus berkembang, literasi penting untuk memahami informasi. Budaya membaca buku yang rendah di Indonesia menjadi permasalahan yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara, menempatkannya sebagai salah satu dari 10 negara dengan tingkat literasi yang rendah. UNESCO juga mengungkapkan minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen. Indonesia ditempatkan di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Indonesia menempati urutan ke 40 dari 80 negara yang disurvei dalam hal kualitas hidup. Berdasarkan perbandingan internasional, Indonesia memiliki nilai rendah yaitu 1,8 dari skala 10. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara literasi kesehatan dengan kualitas hidup siswa SMKN 9 Kota Tangerang. Metode pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik Simple Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner Health Literacy Survey (HLS-EU-SQ-10 IDN) dan World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL-BREF) yang telah diadaptasi dan dibagikan ke 212 siswa, dengan metode statistik Chi Square. Hasil analisis hubungan antara literasi kesehatan dengan kualitas hidup diperoleh bahwa ada sebanyak 4 siswa (2,7%) yang bermasalah dengan literasi kesehatan tetapi kualitas hidupnya baik. Sedangkan siswa yang memiliki literasi kesehatan baik, sebanyak 143 siswa (97,2%), kualitas hidupnya juga baik. Berdasarkan uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,014.
Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan di tempat kerja. Secara garis besar kejadian kecelakaan kerja disebabkan oleh dua faktor, yaitu tindakan manusia yang tidak memenuhi keselamatan kerja (unsafe act) dan keadaan-keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe condition) hal ini disebabkan karena dalam proses pekerjaan pemprosesan bahan makan siap saji dan pelayanan toko banyak ditemukan perilaku tidak aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition). Pada kegiatan pemprosesan bahan makan siap saji dan pelayanan toko yang memiliki potensi risiko tinggi adalah kegiatan pemprosesan bahan makan siap saji dengan menggunakan mesin memasak (Fryng Machine) dimana seluruh prosesnya menggunakan energy listrik. Hal ini memiliki risiko yang tinggi terjadinya kebakaran, serta kegiatan pelayanan toko kepada pengunjung dengan risiko sedang yaitu antara lain terpeleset, terjatuh, terjepit juga risiko kelelahan kerja. Untuk meminimalisir potensi bahaya serta risiko yang bisa menimbulkan kecelakaan kerja khususnya pada pekerjaan pemprosesan bahan makan siap saji dan pelayanan toko diperlukannya suatu manajemen risiko dengan tahapan antara lain yakni identifikasi bahaya, evaluasi risiko, pengendalian risiko , serta pemantauan dan evaluasi dengan menggunakan Form Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) Dinas Kesehatan. Sesuai persyaratan Undang-undang no.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja organisasi wajib menetapkan prosedur mengenai Identifikasi Bahaya (Hazards Identification), Penilaian Risiko (Risk Assessment) serta menentukan pengendaliannya (Risk Control) dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/Vll/2003 tentang persyaratan pemenuhan standar baku mutu dan Higiene Sanitasi rumah makan dan restoran.
Yunina Elasari, Belli Brinka, Feri Agustriyani
et al.
Kecemasan merupakan salah satu indikator utama mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit, kecemasan seringkali terjadi pada pasien yang di rawat inap. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2016 bahwa ada sekitar 3,6% dari seluruh penduduk di dunia mengalami gangguan mental kecemasan. Salah satu upaya mengurangi tingkat kecemasan pasien yaitu psychosocial care oleh perawat yang merupakan perawatan psikologis dan sosial melalui komunikasi terapeutik dan pendekatan holistik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara psychosocial care perawat dengan kecemasan pasien di ruang rawat inap dewasa RSUD Dr.H Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Desain yang digunakan dalam peneleitian ini adalah deskriptif korelasi dengan menggunakan metode pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 112 pasien di ruang rawat inap dewasa RSUD Dr.H Abdul Moeloek Provinsi Lampung, sampel yang di ambil sebanyak 100 orang. Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian diperoleh p-value 0,000 (<0.05) yang artinya ada hubungan antara psychosocial care perawat dengan kecemasan pasien di ruang rawat inap dewasa. Psychosocial care perawat meliputi domain empati, dukungan, dan pemenuhan informasi. Pentingnya perawat dalam memberikan informasi yang lengkap dan tepat mengenai kondisi kesehatan pasien di ruang rawat inap dalam upaya mengurangi kecemasan pasien.
Gunadi, Mohamad Saifudin Hakim, Hendra Wibawa
et al.
Abstract Background The SARS-CoV-2 Omicron variant has replaced the previously dominant Delta variant because of high transmissibility. However, studies on the impact of the Omicron variant on the severity of COVID-19 are still limited in developing countries. Our study aimed to determine the prognostic factors for the outcomes of patients infected with SARS-CoV-2 Omicron and Delta variants, including age, sex, comorbidities, and smoking. Methods In this retrospective cross-sectional study, we involved 352 patients with COVID-19 from Yogyakarta and Central Java provinces, Indonesia, from May 2021 to February 2022, consisting of 164 males and 188 females. We included all patients with the PCR’s Ct value of less than 30 for further whole-genome sequencing. Results Ct value and mean age of COVID-19 patients were not significantly different between both groups (p = 0.146 and 0.273, respectively). Patients infected with Omicron (n = 139) and Delta (n = 213) variants showed similar hospitalization (p = 0.396) and mortality rates (p = 0.565). Multivariate analysis of both groups showed that older age (≥ 65 years) had a higher risk for hospitalization (OR = 3.86 [95% CI = 1.29–11.5]; p = 0.015) and fatalities (OR = 3.91 [95% CI = 1.35–11.42]; p = 0.012). In both groups, patients with cardiovascular disease had a higher risk for hospitalization (OR = 5.36 [95% CI = 1.08–26.52]; p = 0.039), whereas patients with diabetes revealed a higher risk for fatalities (OR = 9.47 [95% CI = 3.23–27.01]; p = < 0.001). Conclusions Our study shows that patients infected with Omicron and Delta variants reveal similar clinical outcomes, including hospitalization and mortality. Our findings further confirm that older age, cardiovascular disease, and diabetes are substantial prognostic factors for the outcomes of COVID-19 patients. Our findings imply that COVID-19 patients with older age, cardiovascular disease, or diabetes should be treated comprehensively and cautiously to prevent further morbidity and mortality. Furthermore, incomplete data on vaccination status hampered us from analyzing further its impact on hospitalization and mortality in our patients.
Negara Indonesia menghadapi triple burden diseas, yang mana penyakit tidak menular mengalami peningkatan insiden setiap tahunnya, salahsatunya penyakit Diabetes Mellitus. Salahsatu program untuk tindakan pencegahan dan komplikasi yang lebih lanjut adalah PROLANIS sebagai bentuk perbaikan kualitas hidup penderita DM tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran kualitas hidup peserta PROLANIS khususnya penyakit DM Tipe 2. Penelusuran artikel dengan menggunakan database GARUDA dan Google Scholar. Alur metode systematic review menggunakan PRISMA yang akhirnya didapatkan 10 artikel relevan dengan penelitian. Hasil menunjukkan sebagian besar peserta PROLANIS DM Tipe 2 memiliki kualitas hidup sedang, yang dipengaruhi dengan beberapa faktor seperti keaktifan klub PROLANIS, dukungan lingkungan, dan kepatuhan minum obat.
One of the causes of stunting is poor nutritional intake in infancy and recurrent illnesses due to an unhealthy environment. Mothers of under-five children are the potential strategic target to be empowered to manage stunting. They have to be empowered to meet nutritional needs during infancy. Complementary breast milk food containing calcium, zinc, selenium, iodine, Fe, protein, and phosphorus can be developed using local foodstuffs. This study aimed to investigate the impact of community empowerment training on the knowledge improvement of mothers regarding the development of locally sourced complementary feeding products (MP-ASI) as an intervention to address stunting issues and to formulate a nutrient-rich complementary food product for infants aged 6-12 months. The research design employed was a quasi-experimental study with a pre-and post-test with a control group design. The study subjects were mothers with infants aged 6-12 months residing in Triharjo Village, Kapanewon Pandak, who met the inclusion criteria and were willing to participate. Mothers who were unable to read and write were excluded from the study. The study was conducted in Triharjo Village, Kapanewon Pandak, Bantul, from April to July 2022. A total of 54 respondents, selected through simple random sampling, were included as the study sample out of 100 families population. Knowledge data were collected using a questionnaire as the data collection instrument and analyzed using the Dependent T-Test and Independent T-Test at a 95% confidence level. The results indicated a significant difference in knowledge improvement (delta) between the treatment and control groups. A locally sourced complementary food product for infants aged 6-12 months, named "SITOLE" porridge, was developed as an outcome. The development data of the MP-ASI product (Sitole porridge) were compiled using a group discussion method.
Stres dan kecemasan adalah reaksi terhadap situasi yang mengancam dan tak terduga seperti dalam wabah pandemi koronavirus. Petugas kesehatan adalah yang paling rentan terhadap hal tersebut. Reaksi terkait stres meliputi perubahan konsentrasi, lekas marah, cemas, susah tidur, berkurangnya produktivitas, dan konflik antarpribadi, dalam kasus selanjutnya, mereka akan mengalami kondisi kejiwaan yang lebih parah, pemisahan dari keluarga, situasi abnormal, peningkatan paparan, ketakutan akan penularan COVID-19, perasaan gagal dalam menangani prognosis yang buruk, fasilitas teknis yang tidak memadai, APD, alat dan peralatan, untuk membantu merawat pasien. Petugas kesehatan mengalami kesulitan mempertahankan kondisi kesehatan fisik dan mental yang berisiko mengalami gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, stres berat, dan kelelahan. Faktor risiko lain yang diidentifikasi adalah perasaan tidak didukung, kekhawatiran tentang kesehatan pribadi, takut membawa infeksi dan menularkannya kepada anggota keluarga atau orang lain, diisolasi, perasaan tidak pasti, stigmatisasi sosial, beban kerja yang berlebihan, dan merasa tidak aman ketika memberikan layanan perawatan dan kesehatan pada pasien COVID-19. Catatan PenerbitPolekkes Kemenkes Kendari menyatakan tetap netral sehubungan dengan klaim dari perspektif atau buah pikiran yang diterbitkan dan dari afiliasi institusional manapun. PendanaanPenulis tidak menerima pendanaan yang sifatnya spesifik untuk kajian ini.
Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Namun di sebagian besar negara berkembang, masalah kesehatan mental belum diprioritaskan. Pandemi Coronavirus-19 (COVID-19) menjadikan kesehatan mental menjadi isu penting bagi dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi kesehatan mental sebagai komponen integral dari penanggulangan COVID-19. Pandemi COVID-19 dengan transmisi penularan yang masif dan tingkat kematian yang tinggi menyebabkan masalah yang mengarah pada gangguan mental. Kebijakan kesehatan mental di Indonesia harus mengoptimalkan integrasi layanan kesehatan mental. Pendekatan berbasis masyarakat dapat memperluas cakupan pelayanan kesehatan mental pada masa Pandemi COVID-19. Pemerintah harus mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam layanan berbasis masyarakat sebagai cara untuk memastikan cakupan universal pelayanan kesehatan mental. Model pemberdayaan partisipatif dan bottom-up menjadi pilihan yang rasional, untuk mengatasi masalah sumber daya dan stigma sebagai penghalang keberhasilan program kesehatan mental di Indonesia.
Rhaina Al Yasin, Raden Roro Kirani Annisa Anjani, Salwa Salsabil
et al.
Handphone sudah menjadi alat yang wajib dimiliki semua orang karena semua aktivitas sudah dapat dialihkan dengan online. Sebuah penelitian pada tahun 2015 mengatakan bahwa lebih dari 2.000 remaja menggunakan handphone untuk mengakses sosial media selama 92% setiap harinya. Salah satu pengaruh yang signifikan terjadi dari sosial media tersebut adalah gangguan pada mental dan fisik remaja seperti meningkatnya stress, pola hidup yang tidak baik (alcohol dan narkotika), berubahnya pola tidur, dan obesitas. Oleh karena itu penting sekali dalam memanajemen waktu dalam penggunaan sosial media setiap harinya. Tujuan kajian ini untuk mengetahui korelasi antara penggunaan media sosial dengan kesehatan mental dan fisik remaja. Dalam kajian ini peneliti menggunakan metode systematic review, yang dimana artikel dipilih menggunakan metode PRISMA. Artikel yang digunakan didapatkan dari fasilitas database online melalui halaman Google Scholar dan ScienceDirect. Artikel yang diperoleh dipilih berdasarkan publikasi yang diterbitkan dari tahun 2017 sampai 2022 (5 tahun). Dari kedelapan artikel yang terpilih, didapatkan hasil bahwa seluruh artikel menyatakan bahwa adanya korelasi antara penggunaan sosial media dengan kesehatan mental dan fisik remaja. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin baik remaja memanajemen waktu untuk menggunakan sosial media pada setiap harinya, maka semakin rendah pula kejadian yang berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik remaja.
Latar Belakang : Pendidikan kesehatan untuk meningkatkan kemampuan baik pengetahuan dan sikap untuk mencapai hidup sehatsecara optimal. Salah satu cara untuk menyalurkan pesan adalah dengan menggunakan media audiovisual. Penyebaran informasi tentang kesehatan reproduksi sangat diperlukan bagi remaja. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh video edukasi terhadap pengetahuan dan sikap remaja awal tentang kesehatan reproduksi di SMP Islam Kabupaten Tangerang Tahun 2022. Metode Penelitian : Penelitian Quasi Experimental dengan rancangan penelitian Pre and post test without control. Sampel pada penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII sebanyak 86 siswa-siswi. Penelitian ini akan dilakukan di salah satu SMP Islam di wilayah kabupaten tangerang. Intervensi menggunakan video edukasi. Analisa data secara univariat dan bivariat. Hasil Penelitian : Skor pengetahuan sebelum intervensi video edukasi adalah 16,47 dan sesudah intervensi video edukasi adalah 22,26. Skor sikap sebelum intervensi video edukasi adalah 33,09 dan sesudah intervensi video edukasi adalah 43,56. Ada berpengaruh intervensi video edukasi terhadap pengetahuan dan sikap remaja awal tentang kesehatan reproduksi di SMP Islam Kabupaten Tangerang dengan nilai P value (0.000) < (0,05). Kesimpulan dan Saran: Ada berpengaruh intervensi video edukasi terhadap pengetahuan dan sikap remaja awal tentang kesehatan reproduksi. Bidan berpartisipasi aktif dalam program kemasyarakatan dengan memberikan penyuluhan kesehatan pada remaja tentang kesehatan reproduksi.
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Salah satu strategi untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat adalah dengan memberikan pemahaman, pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat luas. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat untuk memiliki kesadaran dan potensi diri untuk menjaga kesehatan melalui pengenalan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Metode pelaksanaan adalah dengan; penyuluhan tentang praktek PHBS di tingkat rumah tangga,penyuluhan tentang PHBS di tingkat institusi pendidikan, praktek cuci tangan yang benar pada murid sekolah, pemberdayaan masyarakat dengan kegiatan menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan ini melibatkan seluruh masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan ada peningkatan pengetahuan dan pemahaman rumah tangga dan murid SD tentang PHBS dan seluruh murid telah mampu untuk mencuci tangan dengan benar
Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah tropis dan subtropis yang saat ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Taiwan, Vietnam, Malaysia dan Filipina. Kajian pustaka ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zat gizi dan fitokimia serta manfaat buah naga untuk kesehatan. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa buah naga sangat kaya dengan zat gizi, antioksidan dan senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Kandungan zat gizi per 100 g buah naga merah adalah : air (85,7 g), energi (71 kal), protein (1,7 g), lemak (3,1 g), karbohidrat (9,1 g), serat (3,2g), abu (0,4 g), kalsium (13 mg), natrium (10 mg), kalium (128 mg), fosfor (14 mg), zat besi (0,4 mg), seng (0,4 mg), magnesium (0,10 mg), vitamin B1 (0,5 mg), vitamin B2 (0,3 mg), vitamin B3 (0,5 mg), vitamin C (1 mg ) dan vitamin E (0,4 mg). Senyawa antioksidan yang potensial pada buah naga adalah: vitamin C, vitamin E, betalain, hydroxycinnamates, karotenoid (beta-karoten dan likopen), flavonoid, betacyanin, betaxanthin. Terkait dengan kesehatan, buah naga sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan pencernaan, mengurangi risiko kanker, menurunkan kadar kolesterol jahat dan meningkatkan kesehatan jantung, mengontrol gula darah dan mengurangi risiko diabetes, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meredakan batuk dan flu, mencegah migrain, menurunkan berat badan, membantu mengatasi demam berdarah, menjaga kesehatan tulang, melawan radang sendi (arthritis), mencegah anemia, meningkatkan kesehatan mata, menjaga kesehatan kulit, meredakan nyeri pada kulit yang terbakar sinar matahari, mengurangi jerawat, melindungi rambut dari kerusakan, membantu meningkatkan fungsi otak, dan menjaga kesehatan ibu hamil.
Abstrak Latar belakang: Makanan cepat saji merupakan makanan yang bisa disajikan dengan waktu yang sesingkat mungkin. Makanan cepat saji memiliki banyak sekali ragam jenis, dari makanan ringan hingga berat. Sejalan dengan perkembangan pada jumlah dan jenis makanan, kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi makanan semakin beraneka ragam termasuk kegemaran mengonsumsi makanan cepat saji. Padahal jika dikonsumsi berlebihan, makanan cepat saji dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan. Studi ini ditujukan untuk mengetahui dampak konsumsi makanan cepat saji pada mahasiswa. Metode: Penelitian cross sectional ini dilakukan terhadap kesehatan mahasiswa Program Studi “X” Perguruan Tinggi “Y”. Metode pengumpulan data menggunakan teknik penyebaran angket secara daring yang dimulai sejak 17 Oktober 2021 terhadap 28 mahasiswa. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53,6% mahasiswa setuju dengan konsumsi makanan cepat saji, 64,3% mengaku mengalami gangguan tenggorokan 53,6% mahasiswa merasa mengantuk setelah konsumsi makanan cepat saji, dan 64,3% mahasiswa mengaku mengalami peningkatan berat badan karena tingginya frekuensi konsumsi makanan cepat saji Kesimpulan: Studi ini menemukan bahwa mahasiswa mengeluhkan mengalami dampak negatif dari makanan cepat saji seperti kenaikan berat badan, gangguan tenggorokan, dan merasa mengantuk. Kata kunci: Dampak, Kesehatan, Makanan cepat saji Abstract Background: Fast food is food that can be served in the shortest possible time. Fast food has a wide variety of types, from light to heavy meals. In line with developments in the amount and type of food, people's habits in consuming food are increasingly diverse, including their fondness for eating fast food. In fact, if consumed in excess, fast food can cause various health problems. This study aimed to determine the impact of fast food consumption on students. Methods: This cross-sectional study was conducted in “X” department University of “Y”. Online questionnaire was used to collected the data on October 17, 2021 in 28 students. The data were analyzed descriptively. Results: The results showed that 53.6% of students agreed with the consumption of fast food, 64.3% admitted to having throat problems, 53.6% of students felt sleepy after consuming fast food, and 64.3% of students admitted that they experienced weight gain because of the high frequency of consumption of fast food Conclusion: This study found that college students complained of experiencing negative effects from fast food snacks such as weight gain, throat disorders, and feeling sleepy. Keywords: Fast food, Health, Impact