Kesehatan mental remaja, baik di Indonesia maupun global, semakin memprihatinkan, dengan prevalensi gangguan mental yang tinggi, seperti depresi. Pendekatan konseling sebaya terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan mental, membangun konsep diri, dan mengurangi perilaku berisiko. Namun, keberhasilan metode ini sangat bergantung pada pelatihan yang mampu meningkatkan self-efficacy dan regulasi emosi konselor sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas pelatihan dalam meningkatkan self-efficacy dan regulasi emosi pelatih konselor sebaya. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental. Partisipan penelitian ini terdiri dari 10 orang mahasiswa fakultas psikologi yang mendaftar untuk program menjadi pelatih konselor sebaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan ini mampu meningkatkan self-efficacy dari partisipan secara signifikan dan tidak berdampak signifikan pada regulasi emosi partisipan. Temuan dari penelitian ini dapat menekankan rangkaian pelatihan yang efektif untuk meningkatkan kemampuan pelatih konselor sebaya yang efektif, khususnya untuk kalangan remaja. Dengan meningkatkan pelatih yang memiliki kemampuan tersebut, program konseling sebaya diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental remaja.
Rani Safitri, Mohammed Saifulaman Mohammed Said, Tut Rayani Aksohini Wijayanti
Background: The increasing need for nutrients during adolescence due to growth and menstruation experienced by young women causes young women to be susceptible to anaemia. Anaemia is a condition where the haemoglobin level in the blood is less than the normal value. One of the factors causing anaemia is the lack of knowledge among teenagers about anaemia. Many types of media, both visual and audiovisual, can be used to convey education about anaemia.
Purpose: To determine the effectiveness of nutrition education media in increasing teenagers' knowledge of preventing anaemia.
Methods: This research uses a literature review design. A literature review study is a method used to collect data or sources related to a particular topic, which can be obtained from various sources such as research articles.
Results: From the reviewed articles, five showed an increase in teenagers' average knowledge score after being educated using visual media. There is 1 article that shows an increase in teenagers' average knowledge score after being educated using audiovisual media. Three articles showed an increase in teenagers' average knowledge score after being educated using visual and audiovisual media.
Conclusion: Visual and audiovisual media are effective when used together to help increase teenagers' nutrition knowledge and provide nutritional education about anaemia. When delivering nutritional education about anaemia to teenagers, using visual and audiovisual media simultaneously is recommended to get effective results.
Perawatan diri pada penyandang diabetes 95% tergantung dari individu sendiri, namun juga memerlukan dukungan dari keluarga dan program pemerintah. Deteksi kegawatan pada diabetes dan neuropati diabetes merupakan bagian dari kegiatan tersebut. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan kelompok prolanis tentang kegawatan diabetes melitus dan neuropati diabetes, serta keterampilan melakukan deteksi kegawatan diabetes melitus dan neuropati diabetes. Metode yang dilakukan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah edukasi yang difokuskan pada deteksi kegawatan diabetes dan keterampilan mengidentifikasi risiko neuropati diabetes. Hasil keterampilan wawancara secara berpasangan didapatkan hasil bahwa seluruh penyandang diabetes (60 orang), menyatakan kulit kering dan pecah-pecah, sebagian besar merasa mudah lelah, merasa kaki mati rasa, kaki kurang peka dan kram. Hasil pemeriksaan lanjutan menggunakan monofilament test untuk mengidentifikasi risiko neuropati, dengan hasil risiko rendah sebanyak 41 orang dan risiko tinggi sebanyak 19 orang. Tindaklanjut dari tenaga kesehatan adalah melaksanakan edukasi kepada kelompok prolanis secara berkelanjutan, sedangkan bagi penyandang diabetes tetap melakukan pemantauan secara mandiri, mengindentifikasi tanda dan gejala yang muncul sehingga tidak terjadi keterlambatan penanganan.
Pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah pelayanan kesehatan yang peduli dan terpusat pada kebutuhan, harapan, serta niai-nilai pelanggan sebagai titik tolak penyediaan pelayanan kesehatan dan menjadi persyaratan yang harus dapat dipenuhi agar dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan, harus mampu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu kepada setiap pengguna jasa pelayanan kesehatan. Ketika kondisi ini terjadi, maka secara tidak langsung persepsi mutu pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh pengguna jasa pelayanan kesehatan juga akan mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karakteristik pengguna jasa pelayanan kesehatan terhadap persepsi mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang Sidoarjo. Desain penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data penelitian dilakukan menggunakan survei analitik. Variabel dalam penelitian ini adalah karakteristik pengguna jasa pelayanan kesehatan dan mutu pelayanan kesehatan rumah sakit. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik berganda. Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwasanya usia pengguna jasa pelayanan kesehatan (p value; 0,023), jenis kelamin pengguna jasa pelayanan kesehatan (p value; 0,039), kepesertaan jaminan kesehatan pengguna jasa pelayanan kesehatan (p value; 0,019), dan aktivitas pekerjaan pengguna jasa pelayanan kesehatan (p value; 0,021) memiliki pengaruh terhadap persepsi mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang Sidoarjo. Mutu pelayanan kesehatan yang ditampilkan oleh petugas kesehatan dan petugas non kesehatan di rumah sakit, pada dasarnya mencerminkan kualitas pelayanan yang dimiliki oleh rumah sakit. Semakin tinggi kualitas pelayanan yang dimiliki oleh rumah sakit, maka secara tidak langsung persepsi positif akan terbangun pada setiap pengguna jasa pelayanan kesehatan rumah sakit itu sendiri
<p><em>Health Law is a Lex Specialist law used to protect providers and receivers of health services. The new Health Law, namely the "Omnibus Law" Law Number 17 of 2023 concerning Health, makes changes in the regulation of handling medical and health professional errors. From the results of the discussion, it is concluded that the provisions for handling medical and health professional errors in Law Number 17 of 2023 have better protected medical and health personnel, but some provisions are not following the Health Law paradigm so that they can cause disadvantages on the side of providers and receivers of health services.</em></p>
Dewi Permatasari Akyuwen, Veince Benjamin Silahooy
Penatalaksanaan penyakit diabetes bertujuan untuk mengendalikan kadar glukosa. Pengendalian dapat dilakukan bersama dengan adaptasi gaya hidup dan pola makan. Penerapan diet yang salah dapat memperburuk kondisi penderita diabetes. Terdapat beberapa temuan di wilayah kerja puskesmas taniwel dimana pasien beranggapan bahwa beras subsidi dan beberapa jenis makanan lokal memiliki kadar glukosa yang rendah, sehingga dapat dikonsumsi dalam jumlah banyak. Untuk membuktikan itu perlu diuji secara ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji beberapa makanan lokal yang dianggap memiliki kadar glukosa rendah terhadap penderita diabetes. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Data kemudian dianalisa dengan ANOVA one-way dan uji lanjut LSD. Hasil menunjukkan perbedaan penurunan kadar glukosa pada K+, P1, P2, dan P3. K- tidak mengalami penurunan GDS dari menit 30 sampai 120. Uji anova menunjukan nilai signifikansi 0,001. Hasil uji lanjut LSD menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05) pada kelompok K+, P1, P2, dan P3. Hasil analisa ini menyimpulkan bahwa kadar glukosa mencit yang mengkonsumsi beras subsidi, beras komersil, keladi dan pisang tidak memiliki perbedaan bermakna dalam penurunan kadar glukosa. Konsumsi berlebih tidak dianjurkan, sehingga diet dengan makanan lokal ini tetap perlu mendapatkan anjuran dan pengawasan dari tenaga kesehatan.
The Covid-19 pandemic that has affected several countries, including Indonesia, and is experienced by some people can also be experienced by tuberculosis patients. Tuberculosis patients themselves are double affected because Covid-19 and tuberculosis both attack the lungs, and these conditions can cause anxiety impacts for tuberculosis patients because they are more susceptible to contracting. This study aimed to examine the relationship between psychological well-being, self-efficacy, and social support with anxiety in tuberculosis patients during the Covid-19 pandemic. The method used is quantitative with linearity regression hypothesis analysis and respondents with the criteria of tuberculosis patients who were and still undergoing treatment during the Covid-19 pandemic, as many as 217 patients with a total of 121 male and 98 women respondents with an age range of 14 to 83 years. The study was conducted on some tuberculosis patients in Bandar Lampung. The results showed a relationship between psychological well-being, self-efficacy, and social support with anxiety in tuberculosis patients amid the Covid-19 pandemic with an r-value=0.510 and sig=0.000. Other results on categorization showed that the pressure of tuberculosis patients tends to be low, and psychological well-being, self-efficacy, and social support in tuberculosis patients tend to be medium level. The research is expected to improve psychological well-being and self-efficacy for tuberculosis patients, make others around tuberculosis patients pay more attention to patients, and provide social support to avoid anxiety during the Covid-19 pandemic.
Leaders are very important in every organization, especially in the healthcare sector, to achieve patient safety and a healthy work environment. This research aims to develop a comprehensive understanding of research on the influence of leadership style in the healthcare sector, so that it can support the development of further research. The leadership styles reviewed are transformational, charismatic, ethical, servant, and authentic. This systematic literature review uses the PRISMA method with Rayyan.ai analysis tool. Articles are collected from Scopus within the scope in 2019-2023. A total of 60 articles were analyzed for the contexts, interventions, mechanisms, and outcomes. The results show that the largest research sector is public hospitals. This research also found that transformational leadership style is still the most dominant leadership style researched, therefore the dominant measurement scale is the Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ). Job satisfaction is the most researched factor in relation to leadership style. The existence of limitations in this research encourages further research to conduct a systematic review that includes various research methods, leadership styles, and search site sources. The implications of the findings of this review support the importance of transformational, charismatic, ethical, servant, and authentic leadership theories in the field of health services so that further research is needed.
Anyelin Sriwulan, Dina Arwina Dalimunthe, Deryne Anggia Paramita
et al.
Latar Belakang. Ketombe merupakan gangguan kulit kepala yang ditandai dengan pengelupasan abnormal pada kulit kepala. Ada tiga penyebab utama yang menimbulkan ketombe yaitu jamur Malassezia, sekresi kelenjar sebasea, dan sensitivitas individu. Berbagai macam pengobatan telah banyak dilakukan untuk mengatasi masalah ketombe. Tujuan. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemilihan pengobatan ketombe pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan. Metode. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan metode pendekatan studi potong-lintang. Sampel penelitian merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disebarkan secara online melalui Google form dan QR Code. Hasil. Didapatkan mahasiswa memiliki pengetahuan yang baik tentang ketombe (92,1%). Berdasarkan pemilihan pengobatan ketombe, sumber informasi didapatkan melalui media elektronik (84,2%), tempat membeli obat di swalayan/mal (72,6%), cara memilih pengobatan ketombe hanya menggunakan sampo saja (63,7%), faktor pemilihan pengobatan ketombe karena mudah didapatkan (71,1%), alasan pemilihan pengobatan ketombe karena kandungan yang terdapat di dalam sampo sangat bagus (58,4%), bahan yang dipilih dalam pemilihan pengobatan ketombe menggunakan bahan alami dan bahan kimia (51,1%). Kesimpulan. Tingkat Pengetahuan mahasiswa baik tentang ketombe. Berdasarkan pemilihan pengobatan ketombe, sumber informasi yang paling banyak didapatkan responden melalui media elektronik, tempat responden membeli obat paling banyak di swalayan/mal, cara responden dalam memilih pengobatan ketombe paling banyak hanya menggunakan sampo, faktor pemilihan pengobatan ketombe responden paling banyak karena mudah didapatkan, alasan pemilihan pengobatan ketombe responden paling banyak karena kandungan yang terdapat dalam sampo sangat bagus, bahan yang dipilih responden dalam pemilihan pengobatan ketombe paling banyak menggunakan bahan alami dan bahan kimia.
Latar belakang: Kondisi sanitasi yang buruk serta perilaku higiene yang kurang dapat menjadi penyebab terjadinya penyakit.berbasis lingkungan. Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) merupakan pendekatan untuk menggambarkan status fasilitas sanitasi dan perilaku higiene yang berisiko terhadap kesehatan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk menilai risiko kesehatan lingkungan di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif menggunakan pendekatan Studi EHRA. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 responden di Kelurahan Wirolegi dan 40 responden di Kelurahan Sumbersari. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi menggunakan kuesioner Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan 2014. Analisis data mengunakan analisis univariat kemudian menghitung Indeks Risiko Kesehatan Lingkungan (IRKL).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan variabel karakteristik responden sebagian besar merupakan ibu berusia >45 tahun, tingkat pendidikan terakhir SD-SMA, dan status rumah milik sendiri. Hasil penilaian risiko kesehatan lingkungan menunjukkan Nilai IRKL Kelurahan Wirolegi sebesar 116 dengan kategori sangat tinggi dan Kelurahan Sumbersari sebesar 57 dengan kategori kurang berisiko. Dari rata-rata kedua IRKL tersebut maka Kecamatan Sumbersari memiliki nilai IRKL 87 dengan kategori risiko tinggi.Simpulan: Indeks risiko kesehatan lingkungan berada pada kategori tinngi. Aspek dengan nilai risiko kesehatan lingkungan tertinggi yang menjadi permasalahan utama yaitu aspek perilaku pemilahan sampah, sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan sampah. ABSTRACTTitle: Environmental Health Risk Assessment in Sumbersari District, Jember Regency (Environmental Health Risk Assessment Study)Background: Poor sanitation conditions and poor hygiene behavior can be the cause of disease. Environmental Health Risk Assessment (EHRA) study is an approach to describe the status of sanitation facilities and behaviors that pose a risk to environmental health. The purpose of this study was to assess environmental health risks in Sumbersari District, Jember Regency.Method: This research used descriptive observational study with EHRA Study approach. The number of samples were 40 respondents in Wirolegi Village and 40 respondents in Sumbersari Village. Data was collected by interview and observation used an Environmental Health Risk Assessment questionnaire 2014. The data were analyzed using univariate analysis and then calculated the value of the Environmental Health Risk Index. Result: The results showed that the variable of respondents characteristics were mostly as mothers aged >45 years, the last education level was elementary-high school, and the owning of a house status. The IRKL value of Wirolegi Village is 116 with very high category and Sumbersari Village is 57 with low risk category. From the average of the two IRKLs, Sumbersari District has an IRKL value of 87 with a high risk category.Conclusion: The aspect with the highest environmental health risk value were the main problem, namely aspects of waste sorting behavior, waste water disposal facilities and waste disposal facilities.
Lingga Kusuma Wardani, Febriana Ina Lemba, Joel Rey Ugsang Acob
Background: People in general have a habit of consuming coffee every day, from various social status circles they like coffee drinks with different consumption goals. Caffeine is widely found in beverages, drugs, supplements and sweets, is the most widely used stimulant in the world, caffeine is a central nervous system stimulant, diuretic, stimulates the heart muscle, and relaxes bronchial smooth muscles. At standard doses, 50-200 mg of caffeine primarily affects the outer layer of the brain. This effect can reduce fatigue, however the caffeine consumed also turns out to have side effects.
Purpose: The purpose of this study is to analyze the risk factors in the community with the habit of consuming caffeinated drinks.
Methods: The design used is a literature review by using several journals from several sources such as: Google Scholar, The keyword used to conduct the search is "factors that influence people's behavior in consuming caffeine drinks", the year of publication are 2015-2020.
Results: The results of the journal discussion showed that the risk factors in the community with the habit of consuming caffeinated beverages had an effect on the health of the individual itself because the dangers of coffee could arise if excessive coffee consumption, which caused the heart to beat fast, became irregular, and caused seizures.
Conclusion: In addition, unfiltered coffee can also trigger several things that can increase the risk of heart disease, because it increases homocysteine (a type of protein-forming amino acid) which is thought to be closely related to heart attacks, increased blood fat, and cholesterol.
Rumah pemotongan hewan adalah unit atau sarana pelayanan masyarakat untuk menyediakan daging sehat dengan syarat tertentu yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan pemotongan hewan ada kandungan bahan organik ditandai tingginya BOD yang dapat mempengaruhi kualitas badan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan PAC dalam menurunkan kadar organik terlarut pada Rumah Pemotongan Hewan. Penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan rancangan pretest and posttest with control group design. Populasi penelitian ini yaitu limbah cair RPH dan total sampel untuk 4 perlakuan dosis PAC (2,5, 5, 7,5, dan 10 g) dengan 6 kali pengulangan yaitu 36 sampel. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dengan α=5%. Hasil penelitian menunjukkan kadar BOD sebelum perlakuan sebesar 524,833 mg/l dan kelompok kontrol sebesar 490,333 mg/l. Kadar BOD sesudah perlakuan terjadi penurunan berturut – turut pada dosis PAC 2,5 g – 10 g sebesar 19,62%, 28,17%, 43,66%, dan 52,71%. Hasil analisis statistik tidak ada perbedaan yang signifikan antara penurunan kadar organik terlarut sesudah penambahan PAC dengan variasi dosis. Dapat disimpulkan bahwa dosis PAC 10 g/l efektif untuk menurunkan kadar BOD limbah RPH yang rendah, karena hasil masih melebihi baku mutu menurut Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No 5 Tahun 2012. Oleh karena itu, perlu penelitian lebih lanjut menggunakan jenis koagulan atau pengolahan lainnya sebagai pertimbangan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan self compassion pada remaja dengan orang tua bercerai. Kriteria partisipan pada sampel yaitu berusia 13-18 tahun yang memiliki orang tua bercerai. Alat ukur yang digunakan untuk skala dukungan sosial yaitu Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan alat ukur untuk mengukur self compassion menggunakan Skala Welas Diri (SWD). Penelitian ini menggunakan analisis data uji korelasi Spearman's Rho. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.000 dan memiliki arah positif yang artinya terdapat hubungan signifikan yang searah antara dukungan sosial dengan self compassion pada remaja dengan orang tua bercerai sehingga jika dukungan sosial meningkat maka self compassion juga meningkat.
Stunting merupakan kondisi kronis yang menggambarkan terhambatnya pertumbuhan karena malnutrisi jangka panjang dengan ambang batas (z-score) antara -3 SD sampai dengan < -2 SD. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 UPTD Puskesmas Kampar adalah Puskesmas yang memiliki dua desa yang ditetapkan sebagai lokus stunting tahap II, dengan prevalensi kejadian stunting 29,4%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting diwilayah kerja UPTD Puskesmas Kampar, kabupaten kampar tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah observasional melalui pendekatan kuantitatif analitik dengan desain case control dengan jumlah sampel kasus 59 responden ibu balita stunting dan jumlah sampel kontrol 59 responden ibu balita tidak stunting. Analisis data dilakukan dengan analisis Univariat dan Bivariat dengan Uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan (P value=0,000), Pola Asuh (P value=0,039) riwayat ANC (P value=0,034) Berat Badan Lahir (P value=0,034), ASI Eksklusif (P value=0,027), riwayat imunisasi (P value=0,025), Pendapatan (P value=0,002) dan dukungan keluarga (P value=0,020) terhadap kejadian stunting. Disarankan bagi puskesmas agar dapat mempersiapkan sarana dan prasarana sebagai media dalam memberikan penyuluhan dan konseling tentang stunting kepada masyarakat melalui posyandu sebagai wadah kegiatan terintegritas dari berbagai sektor
Abstrak
Problem Solving for Better Health (PSBH) diterapkan di Rumah Sakit X (RS X) untuk mengatasi masalah plebitis di ruang IGD, ruang Interne, dan ruang Paru-Syaraf sebagai ruang pilot project. Penerapan PSBH belum optimal, karena masih ada tenaga kesehatan yang tidak mampu menghasilkan Plan of Action (PoA) untuk mengatasi masalah phlebitis. Ada juga yang sudah menghasilkan PoA, namun belum maksimal dalam implementasinya. Kondisi seperti ini mengakibatkan belum ada penurunan angka plebitis secara signifikan. Tujuan: Menentukan hubungan pengetahuan plebitis dengan keterampilan tenaga kesehatan dalam menerapkan PSBH pada plebitis. Metode: Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 31 orang dengan teknik purposive sampling. Uji statistik menggunakan Chi-square test. Hasil: Karakteristik tenaga kesehatan di RS X hampir keseluruhan berusia dewasa 83,3%, sebagian besar perempuan 74,2%, berpendidikan profesional 61,3%, dan lama kerja ≥5 tahun 74,2%, ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan phlebitis dengan keterampilan PSBH pada plebitis dengan nilai p< 0,05. Simpulan: ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan plebitis dengan keterampilan tenaga kesehatan dalam menerapkan PSBH pada plebitis.
Background: With the growing popularity of video games and concerns about their potential impact on youth behavior, study about the correlation between antisocial tendencies and video game addiction is crucial to be performed.
Objective: This study examines the relationship between the risk of antisocial behavior and the risk of video game addiction among adolescents attending State Senior High School 4 in Yogyakarta.
Method: This study employed an analytic correlational with a cross-sectional study design. Proportional random sampling was utilized, resulting in a sample size of 172 respondents. The Internet Gaming Disorder Scale-Short-Form (IGDS9-SF) and the Antisocial Process Screening Device were used to measure the two variables in this study. Due to the chi-square test not meeting the requirements, Fisher’s test was used as an alternative for data analysis.
Result: Of the respondents, 19,8% exhibited tendencies towards antisocial behavior, while 1,2% indicated signs of video game addiction. Fisher’s test yielded a p value of 0,038 (p < 0,05).
Conclusion: The findings reveal a significant correlation between the risk of antisocial behavior and the likelihood of video game addiction among the adolescents in this study.
ABSTRAK
Latar belakang: Dengan semakin populernya video game dan kekhawatiran tentang potensi dampaknya terhadap perilaku remaja, penelitian tentang hubungan antara kecenderungan antisosial dan kecanduan video game menjadi penting untuk dilakukan.
Tujuan: Mengetahui hubungan risiko antisosial dan risiko kecanduan video game pada remaja di SMAN 4 Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini, merupakan penelitian analitik korelasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Random sampling proporsional digunakan dengan hasil 172 orang responden. Internet Gaming Disorder Scale-Short-Form (IGDS9-SF) dan Antisocial Process Screening Device digunakan untuk mengukur kedua variabel dalam penelitian ini. Karena uji chi square tidak memenuhi syarat, uji Fisher digunakan sebagai analisis data alternatif.
Hasil: Sebanyak 19,8% responden menunjukkan kecenderungan antisosial, dan 1,2% menunjukkan risiko kecanduan video game. Uji Fisher memiliki nilai p value 0,038 (p < 0,05).
Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara risiko perilaku antisosial dan risiko kecanduan video game di kalangan remaja.
Kanker kepala dan leher berada diurutan ke tujuh dari seluruh kanker yang paling sering ditemukan di dunia. Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) berasal dari berbagai subsite di daerah kepala dan leher serta merupakan kanker terbanyak yang ditemukan pada daerah kepala dan leher. Tujuan: Mengetahui profil klinikopatologi KSS kepala dan leher berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, lokasi tumor, stadium, derajat diferensiasi dan Invasi Perineural (IPN).
Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif terhadap 133 kasus KSS kepala dan leher di RSUP Dr M Djamil Padang periode 2016 sampai 2018. Sampel diperoleh dari blok parafin yang berasal dari jaringan hasil biopsi kemudian dilakukan reevaluasi terhadap derajat histopatologi dan IPN berdasarkan klasifikasi The World Health Organization (WHO). Hasil: Kasus KSS kepala dan leher pada penelitian ditemukan pada usia 51-60 tahun (30%), dengan lokasi hipofaring dan laring (50,4%), laki-laki (71,4%), stadium IV (64%), sebagian besar dengan KSS berdiferensiasi baik (42,8%) dan IPN hanya ditemukan sebanyak 10,5% kasus. Simpulan: Profil klinikopatologi KSS kepala dan leher di RSUP Dr. M. Djamil Padang sebagian besar didapatkan pada usia dekade ke-5, lokasi di hipofaring dan laring, laki-laki, sebagian besar pada stadium lanjut, derajat histopatologi baik dan sebagian kecil mengandung IPN. Invasi perineural ditemukan terbanyak pada stadium lanjut, derajat diferensiasi sedang dan lokasi terbanyak pada lokasi hipofaring dan laring.
Kata kunci: karsinoma sel skuamosa, kepala dan leher, klinikopatologi
Budaya organisasi adalah filosofi dasar yang membuat keyakinan, norma-norma,dan nilai-nilai bersama yang menjadi karakteristik inti tentang bagaimana cara melakukan sesuatu dalam organisasi. Budaya organisasi sangat diperlukan dan berpera penting untuk mencapai kinerja puncak organisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui budaya organisasi yang terdapat pada Dinas Kesehatan Kota Bogor. (2) untuk mengetahui kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor. (3) untuk mengetahui hubungan budaya organisasi dengan kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan di instansi pemerintahan Dinas Kesehatan Kota Bogor. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 56 orang. Jenis penelitian yang di gunakan adalah Deskriptif Eksploratif menggunakan data primer dan sekunder, dengan metode observasi dan kuesioner dibagikan kepada 56 responden. Metode analisis data yang digunakan analisis koefisien korelasi rank spearman,anlisis koefisien determinasi, dan uji hipotesis korelasi diolah dengan menggunakan SPSS 23. Hasil analisis koefisien korelasi rank spearman diperoleh r = 0,544, artinya hubungan budaya organisasi dengan kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor memiliki tingkat hubungan yang sedang. Hasil analisis koefisien determinasi diperoleh KD = 29,6%. Hasil analisis tersebut menunjukan bahwa kontribusi hubungan budaya organisasi dengan kinerja pegawai besar 29,6%. Sedangkan sisanya sebesar 70,4% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di kinerja pegawai. Hasil uji hipotesis korelasi diperoleh nilai t hitung > t tabel ( 4,764 > 1,674 ) maka Ha diterima Ho ditolak, maka, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan nyata antara budaya organisasi (X) dengan kinerja pegawai (Y) pada Dinas Kesehatan Kota Bogor.
Bety Mayasari, Titiek Idayanti, Dian Fitra Arismawati
et al.
ABSTRACT
Background: Persalinan prematur merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian karena menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal. Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi ketika usia kehamilan belum mencapai 37 minggu. Persalinan prematur menjadi penyebab tingginya angka kematian bayi (AKB) karena kondisi bayi yang masih lemah karena imaturitas organ, salah satunya adalah paru-paru.
Purpose: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adakah hubungan persalinan prematur dengan kejadian asfiksia neonatorum.
Method: Desain penelitian yang digunakan adalah Cross-Sectional, yaitu suatu jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran/observasi data variabel independen dan variabel dependen hanya satu kali dalam satu saat. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan teknik consecutive sampling, variabel dalam penelitian ini ada 2 yaitu variabel independent (variabel bebas) adalah persalinan prematur dan variabel dependent (variabel tergantung) adalah kejadian asfiksia neonatorum. Cara pengambilan data dengan menggunakan lembar observasi secara langsung kepada responden. Pengolahan data menggunakan uji korelasi Spearman.
Results: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan persalinan prematur dengan kejadian asfiksia neonatorum yaitu asfiksia ringan terjadi pada 4 bayi (100%) yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami persalinan dengan usia kehamilan 32-36 minggu. Dengan menggunakan uji Korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan/signifikasi 0,00 (α<0.05), yang berarti bahwa Ho ditolak dan Hi diterima. Serta didapatkan hasil koofisien korelasi (ρ) = 0,875, yang menyatakan bahwa terdapat hubungan sangat kuat antara dua variabel yaitu persalinan prematur dengan kejadian asfiksia neonatorum.
Conclusion: Berdasarkan hasil penelitian, ibu hamil dan keluarga diharapkan untuk teratur melakukan kunjungan ANC, serta bagi tenaga kesehatan untuk mempertahankan pro aktif dalam memberikan ANC Terpadu, sehingga resiko dapat terdeteksi lebih awal dan komplikasi akan mendapat penanganan secepatnya.
Key words: Persalinan premature, asfiksia neonatorum.