Eka Afdi Septiyono, Nissa Luthfiana Zaki, Iis Rahmawati
et al.
Background: Premature rupture of membranes (PRM) occurs when membranes rupture spontaneously before delivery. PRM is categorized into preterm PRMor preterm premature rupture of membranes (PPROM), occurring before and at 37 weeks of gestation, and term PRM or premature rupture of membranes (PROM), occurring after 37 weeks.
Objective: This study aimed to determine differences in leukocyte profiles between term and preterm PRM cases at RSD dr. Soebandi Jember.
Methods: This research used an observational analytic design. This research involved two groups of pregnant women with term and preterm PRM. A total of 55 participants were included, with 28 in the preterm PRM group and 27 in the term PRM group. Data were collected from medical records between January 2023 and July 2024 using a purposive sampling technique. Normality tests were conducted using the Shapiro-Wilk Test. For normally distributed data (p > 0.05), the Independent T-Test was applied, while the Mann-Whitney Test was used for non-normally distributed data (p < 0.05).
Results: The results showed no significant differences in lymphocyte (p-value=0,725) and neutrophil (p-value=0,893) levels. Similarly, no significant differences were found in leukocyte, monocyte, eosinophil, and basophil levels (p-values=0,987, 0,666, 0,949, and 0,979, respectively).
Conclusion: The study showed no significant differences in the leukocyte profiles between term and preterm PRM. However, increased neutrophil counts in preterm cases may suggest an ongoing infection, highlighting the importance of monitoring leukocyte levels in PRM for potential infection risk management. Further studies are needed to assess how factors such as occupation and daily fatigue affect the incidence of PRM, especially in the preterm group.
Tingginya angka KTD dan kehamilan usia remaja memiliki dampak peningkatan kejadian stunting, abortus, kehamilan, pre-eklamsia, anemia, bayi prematur, BBLR, kematian bayi, kanker alat reproduksi, rentan terjadi perubahan sel dalam mulut rahim serta dampak sosial ekonomi. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh peran orang tua, tenaga kesehatan, guru, teman sebaya dan motivasi terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja dan untuk mengatahui faktor yang paling dominan mempengaruhi pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja di Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka Tahun 2023. Penelitian ini pendekatan mix-method yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif meliputi; univariat, analisis bivariate dan analisis kualitatif meliputi; Reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh peran orang tua (nilai sig 0.002<0,05), peran teman sebaya (nilai sig 0.020 <0,05) dan motivasi (nilai sig 0.021 <0,05) dengan pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja di Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, sedangkan peran tenaga kesehatan (nilai sig 0.196 >0,05) dan peran guru (nilai sig 0.796 >0,05) dinyatakan tidak memiliki pengaruh. Pada penelitian ini faktor paling dominan adalah peran orang tua. Saran pada Pemerintah Kabupaten Bangka dapat membuat kebijakan tentang kesehatan produksi remaja yang melibatkan lintas sektor, seperti Dinas Kesehatan, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sekolah Sekolah, Kecamatan, Kelurahan, KUA, BKKBN, Polres, Kodim dan Orang Tua dan Tokoh Pemuda serta Tokoh Masyarakat tentang pengetahuan kesehatan reproduksi.
Dina Yusrotul Imamah, Syarifil Hidayatul Akbar, Siti Nurhalisa
et al.
Permasalahan kesehatan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola hidup yang tidak baik. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah program pemerintah di bidang kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Desa Mandiro memiliki angka stunting mencapai 18,18% dengan kasus diare balita sebesar 121,45% dan semua umur sebesar 99%. Pelatihan dan pendampingan praktik PHBS kepada ibu balita dan kader posyandu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terutama dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan dengan metode ekspositori dengan menggunakan poster, demonstrasi dengan musik, dan praktik. Peserta merupakan Kader Posyandu dan ibu balita dengan jumlah peserta hari pertama adalah 18 orang dan pada hari kedua 22 orang. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi setelah kegiatan dilakukan dengan menggunakan kuesioner berupa pre-test dan post-test. Dari hasil pre-test dan post-test dapat diketahui jika terdapat peningkatan pengetahuan responden terkait PHBS berupa implementasi cuci tangan dan hygiene sanitasi makanan sehingga dapat menurunkan risiko kejadian diare dan stunting di Desa Mandiro.
Yenni Zuhairini, Ahmad Asyraf Fauzan, Meita Dhamayanti
Perubahan iklim memengaruhi berbagai kebutuhan dasar kehidupan manusia. Anak-anak lebih rentan dibandingkan orang dewasa terhadap perubahan lingkungan, baik langsung maupun tidak langsung. Hak anak untuk bertumbuh kembang, mendapat pelayanan kesehatan yang baik, kesejahteraan, pendidikan, dan gizi sebagaimana tercantum dalam Konvensi Hak Anak akan dipengaruhi oleh perubahan iklim, krisis pola cuaca, dan dampak jangka pendek dan jangka panjangnya. Kelangsungan hidup anak sebagai generasi penerus menjadi terancam oleh perubahan iklim, terutama, mereka yang rentan akan menanggung beban penyakit yang sangat besar akibat perubahan iklim ini, Kesenjangan sosial dan edukasi di antara negara miskin dan maju sangat menentukan dampak perubahan iklim terhadap anak-anak. Negara paling berisiko terdampak merupakan negara berkembang minim sumber daya dan infrakstruktur untuk menanggulangi perubahan iklim. Anak-anak yang kurang beruntung akan menanggung beban kesehatan yang sangat tinggi dan tidak adil akibat perubahan iklim ini.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber alam dan memiliki lebih dari 400 etnis dan sub etnis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Daerah Jawa, Sunda, Manado, Kalimantan, dan berbagai daerah lainnya masih memanfaatkan tanaman sebagai obat tradisional yang merupakan warisan turun temurun. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan obat tradisional dibagi menjadi 3 kategori, dan digunakan oleh masyarakat secara turun temurun, dengan cara pengolahan yang sederhana. Secara global, rata–rata penggunaan obat tradisional di seluruh dunia adalah 20-28% dari seluruh penduduk dunia. Menurut hasil dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, ditemukan bahwa prevalensi penduduk Indonesia di atas 15 tahun yang pernah mengonsumsi obat tradisional sebanyak 59.12%, tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Obat tradisional banyak digunakan untuk mencegah penyakit dan mengatasi berbagai keluhan penyakit sebagai obat pendamping maupun obat pengganti. Beberapa faktor memengaruhi pemilihan seseorang untuk menggunakan obat tradisional antara lain tingkat pengetahuan. Namun, tingkat pengetahuan seseorang seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor lainnya juga seperti pendidikan, informasi/media massa, sosial, budaya, ekonomi, lingkungan, pengalaman, serta usia. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan masyarakat mengenai obat tradisional dengan penggunaannya. Namun, masih ada masyarakat yang enggan memilih jamu sebagai obat dikarenakan beberapa faktor lainnya. Oleh karena itu, tinjauan pustaka ini akan membahas mengenai jenis tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan tradisional dan faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatannya. Sehingga pemanfaatan obat tradisional sebagai obat penggunaannya dapat meningkat di masyarakat.
Abstrak: Kader sangat berperan penting dalam pelaksanaan posyandu sebagai salah satu kegiatan pemantauan status gizi balita. Pengetahuan yang baik tentang gizi dan upaya pencegahan stunting akan membantu kader dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Oleh karena itu, sebanyak 5 kader perlu dibekali dengan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan yang baik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat sebagai salah satu upaya. Sasaran utama pada kegiatan ini adalah kader posyandu di wilayah lingkungan Kadolang, Mamuju. Peningkatan kapasitas dilakukan melalui tiga metode yaitu, edukasi, simulasi, dan pendampingan agak kader dapat mempraktikkan secara langsung pengetahuan yang telah diberikan. Kegiatan pengabdian masyarakat dengan menggunakan edukasi, simulasi dan pendampingan. Metode tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam memantau tumbuh kembang balita dan melakukan penyuluhan kesehatan di masyarakat. Sebagai saran, perlu adanya pelatihan khusus pada kader tentang cara memberikan informasi kesehatan melalui media edukasi dan promosi kesehatan.Abstract: Cadres play an important role in the implementation of Posyandu as one of the activities to monitor the nutritional status of under-five children. Good knowledge about nutrition and stunting prevention efforts will assist cadres in providing counseling to the community. Therefore, cadres need to be equipped with adequate knowledge about nutrition and health. This community service activity aimed to increase the knowledge and skills of Posyandu cadres in monitoring growth and providing health promotion to the community. The main target for this activity was Posyandu cadres in the Kadolang village, Mamuju. Capacity building was carried out through three methods, namely, education, simulation, and assisting. Therefore, cadres can practice directly the knowledge that has been given. Community service activities using the combination of these methods can increase the knowledge and skills of Posyandu cadres in monitoring the growth and development of toddlers and conducting health education in the community. As a suggestion, it is necessary to have special training for cadres on how to provide health information through health education and promotion media.
Rekam medis elektronik mempunyai peran yang cukup penting didalam penyelenggarakan pelayanan kesehatan di rumah sakit dimana rekam medis elektronik merupakan sumber data dan informasi kesehatan yang dapat digunakan dalam menilai baik buruknya pelayanan kesehatan. Rumah sakit X telah mengimplementasikan penggunaan rekam medis elektronik sejak tahun 2020 akan tetapi belum pernah dilakukan evaluasi terhadap penerapan rekam medis elektronik sehingga diperlukan upaya evaluasi yang formatif untuk melihat kualitas rekam medis elektronik dengan menggunakan Technology Acceptance Model yaitu menilai sebuah sistem berdasarkan dimensi kemudahan (ease of use) dan persepsi manfaat (usefulness) yang dapat mempengaruhi penggunaan sistem (attitude toward using) dan mengaplikasian sistem secara berkelanjutan (actual usage). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis uji korelasi bivariat untuk dapat menilai hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan (p-value 0.001, r = 0,717) antara keyakinan bahwa EMR dapat digunakan dengan mudah (perceived ease of use) dan manfaat dalam performa kinerja dan produktivitas kinerja (perceived usefulness), Hubungan positif signifikan (p-value 0.001, r = 0,747) antara variabel EMR dapat memberikan manfaat dalam performa kinerja dan produktivitas kinerja (perceived usefulness) dan sikap penggunaan EMR (Attitude toward using). Keyakinan bahwa EMR dapat digunakan dengan mudah (perceived ease of use) berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap penggunaan EMR (Attitude toward using) dengan nilai p-value 0.001, r = 0,7, serta hubungan yang signifikan nilai p-value 0.001, r = 0,717 antara keyakinan bahwa sikap penggunaan EMR (Attitude toward using) dan signifikan terhadap penggunakan EMR secara aktual (actual usage)
Aldila Pratama, H. Fauzi, Zahrasita Nur Indira
et al.
Klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah pengajuan biaya perawatan pasien peserta BPJS Kesehatan oleh pihak rumah sakit kepada pihak BPJS Kesehatan yang dilakukan secara kolektif dan ditagihkan kepada BPJS Kesehatan setiap bulannya. Setelah itu BPJS Kesehatan akan melakukan persetujuan klaim dan melakukan pembayaran untuk berkas yang layak, namun untuk berkas yang belum layak klaim atau pending (unclaimed) harus dikembalikan ke rumah sakit untuk diperiksa kembali. RSUD Dr. Soedirman Kebumen adalah rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS untuk memberikan pelayanan kepada pasien melalui sistem pembiayaan, dimana pada pelaksanaannya masih ditemukan masalah-masalah terutama terkait pending klaim. Kejadian pemding klaim di RSUD Dr. Soedirman Kebumen disebabkan oleh beberapa hal diantaranya administrasi, medis, koding, berkas tidak layak dan lainnya. Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan berkas pending klaim pada bulan September 2022 sebanyak 163 dari 1041 berkas pasien rawat inap yang menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional. Dari permasalahan tersebut maka dilakukan analisis faktor penyebab pending klaim akibat koding melalui penelitian kuantitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil analisis menunjukan pengembalian berkas klaim pasien rawat inap BPJS Kesehatan di RSUD Dr. Soedirman Kebumen terjadi karena faktor perbedaan presepsi kode diagnosis dalam berkas klaim antara pihak koder rumah sakit dengan pihak verifikator BPJS Kesehatan. Selain itu kekurangan data pendukung sebagai penegakan diagnosis juga mempengaruhi keakuratan kode diagnosis yang mengakibatkan pending klaim. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu adanya upaya yang harus dilakukan rumah sakit seperti kegiatan evaluasi terkait kinerja petugas sesuai job description yang ada dan peningkatan kualitas SDM khususnya petugas koding dengan mengadakan pelatihan serta sosialisasi mengenai pembaharuan kebijakan mengenai klaim. Pengoptimalan kegiatan dengan dibuatnya SPO terkait klaim agar dapat meminimalisir kejadian pending klaim.
WHO telah menyatakan bahwa COVID-19 sebagai pandemi global, untuk mencegah penyebarannya maka kegiatan akademis di Indonesia dialihkan menjadi metode pembelajaran jarak jauh. Perubahan ini mengakibatkan mahasiswa harus beradaptasi dengan metode baru dan salah satu dampak dari hal tersebut adalah munculnya masalah kesehatan mental seperti stres dan kecemasan pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan adanya peningkatan stres dan kecemasan pada mahasiswa sebagai dampak pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dari jurnal nasional dan internasional yang meneliti tentang pengaruh pandemi COVID-19 terhadap stres dan kecemasan yang dialami mahasiswa. Penelusuran jurnal ini menggunakan database Google Scholar, ResearchGate, dan Pubmed. Hasil penelitian dari 10 jurnal menunjukkan peningkatan stres dan kecemasan yang dialami mahasiswa selama pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh berbagai faktor. Angka stres pada mahasiswa di Indonesia selama perkuliahan jarak jauh rata-rata sebesar 55,1%, sedangkan pada mahasiswa di luar Indonesia sebesar 66,3%. Angka kecemasan mahasiswa di Indonesia selama perkuliahan jarak jauh rata-rata sebesar 40%, sedangkan pada mahasiswa di luar Indonesia sebesar 57,2%. Sebagai saran, beberapa upaya dapat dilakukan seperti olahraga atau aktivitas fisik, istirahat yang cukup, melakukan hobi, sosialisasi secara virtual serta menerapkan lingkungan yang sehat baik secara fisik maupun psikologis untuk mengurangi stres dan kecemasan.
Dian Meiliani Yulis, Lia Fitriyani, Ady Purwoto
et al.
Latar belakang: Pembangunan kesehatan merupakan cara untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam pelaksanaan kegiatan kesehatan masyarakat. Tujuan: Pengabdian ini meningkatkan kompetensi kader posyandu lansia dalam merawat luka. Metode: Yang digunakan pada pengabdian ini penyuluhan kesehatan. Sebagai alat ukur untuk menilai keefektifan penyuluhan tersebut diberikan soal pre test dan post test. Hasil: Pengabdian menunjukkan ada peningkatan pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikannya pendidikan kesehatan. Kesimpulan: Bahwa pengetahuan tentang luka diabetic responden setalah diberikan pendidikan kesehatan mengalami peningkatan. Jadi dengan adanya pendidikan kesehatan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan para lanjut usia. Diharapkan setelah diberikan penyuluhan kesehatan masyarakat dapat menerapkan edukasi yang telah diberikan untuk meminimalkan resiko terjadinya komplikasi luka diabetic.
Shanti Ariandini, Alifia Rahmatunnisa, D. Putri
et al.
Telah sepantasnya keadaan sehat sebagai point utama kehidupan untuk mewujudkan pola hidup bersih dan sehat. Adanya banyak penyakit yang menyerang anak usia sekolah seringkali dikaitkan dengan PHBS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat pada siswi MTS AS-saidah jenis Jenis penelitian. kualitatif yang sifatnya mengeksplorasi hubungan dengan perilaku dalam bentuk pengetahuan, perilaku serta tindakan PHBS. Hasil penelitian mengambarkan pengetahuan siswi Mts AS-saidah terhadap PHBS positif serta menunjukan tindakan positif dalam penelitian ini disarankan kepada pihak sekolah agar meningkatkan sikap dan perilaku siswa yang positif serta perlunya peningkatan kepedulian petugas kesehatan menyampaikan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah.
Latar belakang: Hipertensi merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan yang paling serius yang dapat memicu berbagai penyakit mematikan seperti jantung dan stroke. Hipertensi dapat terjadi akibat beberapa faktor risiko seperti kebiasan hidup yang kurang baik, pola diet yang kurang baik atau kualitas tidur yang kurang baik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik, merokok, lingkar perut dan BMI (Body Mass Indeks) dengan kejadian hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif dengan desain Case Control, populasi adalah 200 pegawai dengan pengambilan sampel menggunakan non random sampling yang berupa purposive sampling yaitu dari data survei milik peneliti sebanyak 90 pegawai diantaranya 30 kasus dan 60 kontrol. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil univariat aktivitas fisik sedang (46,67%), lingkar perut normal (100%), tidak merokok (86,67%), memiliki BMI normal (100%). Hasil bivariat hubungan antara aktivitas fisik (p value 0,001 dan OR 0,01-0,04), lingkar perut (p value 0,001 dan OR 0,07-0,30), merokok (p value 0,001 dan OR 8,5), BMI (p value 0.001 dan OR 1) dengan kejadian hipertensi. Kesimpulan: Sebaiknya Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh untuk melakukan promosi kesehatan pada pegawai di kantor seperti penyuluhan, selain itu kepala bidang isra dapat mencanangkan program baru seperti senam sehat dan memberikan edukasi terkait pola makan.
Fredy Akbar, Darmiati Darmiati, Farmin Arfan
et al.
Lanjut usia (lansia) adalah orang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas yang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara. Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah warga lansia sebesar 41,4% yang merupakan sebuah peningkatan tertinggi di dunia. Salah satu upaya pemerintah dan penyelanggaraan upaya kesehatan antara lain adalah dengan mengadakan posyandu lansia. Tim pengabdian menawarkan beberapa solusi terkait kesehatan lansia di Kecematan Wonomulyo mengenai kualitas hidup pada lansia dan cara-cara yang dapat dilakukan agar masyarakat dapat hidup di usia senja dan berkualitas. Lansia melalui aktivitas mulai dari penyuluhan sampai dengan dilaksanakanya aktivitas bagi lansia di kecamatan wonomulyo,peningkatan pengetahuan kader dilakukan melalui Metode pemberian pengetahuan (ceramah dan diskusi) penyegaran tentang pemberdayaan kader, evaluasi kegiatan dilakukan dengan melalui pretest dan posttes. Pada tahap pretest awal didapati nilai rata-rata 7,5 dan setelah dilakukan penyuluhan didapati rata-rata nilai posttest 9 dari hasil yang didapatkan mengalami peningkatan sebesar 1,5. Dari hasil kegiatan pengabdian masyarakat dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat meningkatkan pengetahuan kader kesehatan posyandu lansia.
COVID-19 pandemic has brought a lot of negative impacts for Healthcare Workers, one of the most essential roles in dealing with COVID-19 patients. One of the impacts is Healthcare Workers get negative stigmatization from the society. The stigma has impacts on Healthcare Workers’ mental health during the COVID-19 patient care. The purpose of this systematic literature review is to illustrate the impacts of stigma on COVID-19 Healthcare Workers’ mental health. Three scientific articles were found from three international journal databases, namely Google Scholar, Proquest and Sage, and also used in this systematic literature review, based on the suitability of the topic. Rigorous eligibility review was done using PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analyses) protocol. It can be inferred that there are several forms of impacts of stigma on Healthcare Workers’ mental health such as fatigue; stigma fear; anxiety; depression; trauma; burnout; the decrease of job satisfaction, psychological wellbeing, quality of life and coping function; feelings of being isolated and alienation; hesitating to ask for someone’s help; and the increase of alcohol use. This article can be used as a reference for future research related to the impact of stigma on COVID-19 Healthcare Workers’ mental health.
Di desa Kolongan kecamatan Talawaan kabupaten Minahasa Utara masyarakatnya pernah terkonfirmasi Covid – 19 varian Delta berjumlah 30 orang. Terpaparnya masyarakat oleh Covid disebabkan karena beraktivitas di luar rumah dengan tidak disiplin dalam memperhatikan protokol kesehatan. Dalam rangka penanganan Covid – 19 masyarakat dapat menggunakan tanaman herbal untuk meningkatkan imunitas tubuh. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 s/d 27 Oktober tahun 2021.Tujuan pengabdian pada masyarakat adalah untuk mensosialisasikan langsung penggunaan tanaman herbal dalam bentuk ramuan atau ekstrak, tanaman yang terdapat di pekarangan rumah dan tanaman yang terdapat di perkebunan. Metode pelaksanaan, penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan sumber data diperoleh secara langsung sebagai data primer dan data informasi dari masyarakat dalam pertemuan, meliputi; 1) interaksi dengan mitra dalam hal ini pemerintah dan masyarakat desa Kolongan, menyampaikan maksud dan tujuan pengabdian pada masyarakat (PKM), 2) melakukan observasi mengidentifikasi tanaman yang berpotensi positif tanaman herbal sebagai imunitas tubuh, 3) mengimplementasikan proses pembuatan ramuan tanaman herbal yang ada di desa Kolongan, 4) memberikan angket kepuasan mitra terhadap kegiatan pkm dan tanggapan pengetahuan mitra terhadap tanaman herbal. Jumlah peserta responden 41 orang. Hasil untuk a) kepuasan mitra dengan indikator pkm memberi dampak positif bagi mitra, sangat setuju sebanyak 21 orang (51.22%) dan setuju sebanyak 20 orang (48.78%). Menambah wawasan dalam membuat ramuan tanaman herbal, sangat setuju sebanyak 12 orang (29.26%) dan setuju sebanyak 29 orang (70.74%). Masyarakat tahu jenis tanaman yang meningkatkan imunitas tubuh, sangat setuju sebanyak 14 orang (34.15%) dan setuju sebanyak 27 orang (65.85%), b) tanggapan mitra terhadap pengetahuan tanaman herbal, pernah mengenal sebanyak 12 orang (29.26%) dan tidak mengenal sebanyak 29 orang (70.74%). Pernah menggunakan tanaman herbal di masa pandemi Covid – 19 sebanyak 10 orang (24.39%) dan tidak pernah menggunakan sebanyak 31 orang (75.61%). Lama penggunaan tanaman herbal di masa pandemi Covid – 19 sebanyak 8 orang digunakan selama 1 minggu. Bagian tanaman herbal yang digunakan, bagian tanaman biji sebanyak 4 orang (9,75%) dan daun sebanyak 3 orang (7.31%), c) tanaman herbal yang teridentifikasi sebanyak 23 jenis.
Anemia merupakan masalah kesehatan utama yang terjadi di masyarakat dan sering dijumpai di seluruh dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.Anemia sering terjadi pada remaja perempuan dibandingkan dengan remaja laki-laki.Beberapa hasil penelitian di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan masih tingginya prevalensi anemia pada remaja putri. Kemenkes RI (2013) menunjukkan angka prevalensi anemia secara nasional pada semua kelompok umur adalah 21,70%. Prevalensi anemia pada perempuan relatif lebih tinggi (23,90%) dibanding laki-laki (18,40%). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya anemia di Surabaya dengan pendekatan kualitatif fenomenologi. Data dikumpulkan dengan metode interview semi terstruktur dan dianalisis menggunakan tehnik analisa data Colaizzi. Hasil penelitian menunjukkan penyebab kejadian anemia seperti pengetahuan, asupan zat gizi, pola makan dan minum, menstruasi, tablet Fe, status gizi, dan sosial ekonomi. Edukasi tentang gizi ditekankan agar mahasiswa tahu dan dapat mengaplikasikannya di dalam kehidupan nyata. Selain itu pemanfaatan Unit Kegiatan Mahasiswa di bidang kesehatan seperti dalam menjalankan program pemberian tablet Fe pada mahasiswa putri setiap bulan untuk mengurangi kejadian anemia. Kata Kunci : Anemia, Remaja, Putri
Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengindentifikasi penyebab dan dampak dari fenomena perkawinan dini di Indonesia. Tulisan ini didasarkan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini berhasil mengindentifikasi penyebab dan dampak perkawinan dini di Indonesia. Pernikahan dini sering disebabkan oleh faktor individu itu sendiri, keluarga dan masyarakat serta lingkungan tempat individu tersebut tinggal. Secara umum, faktor yang mempengaruhi pernikahan dini antara lain faktor individu itu sendiri seperti seks bebas pada remaja, faktor keluarga seperti kebutuhan ekonomi dan 2 pernikahan yang telah diatur, serta faktor lingkungan tempat individu tersebut tinggal misalnya kultur nikah muda. Beberapa permasalahan dalam pernikahan anak meliputi faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak, pengaruhnya terhadap pendidikan, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dampak terhadap kesehatan reproduksi, anak yang dilahirkan dan kesehatan psikologi anak, serta tinjauan hukum terkait dengan pernikahan anak.
Stunting di Indonesia menjadi masalah kesehatan masyarakat secara nasional dalam kategori tinggi, mencapai 30,8% ditahun 2018. Salah satu penyebab stunting dikaitkan dengan faktor air dan sanitasi. Review artikel ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor air, sanitasi dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Metode penelitian menggunakan systematic review , dengan pencarian literatur menggunakan beberapa electronic database. Kriteria inklusi artikel: menjelaskan faktor air, sanitasi dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia, desain studi observasional, tahun publikasi 2015-2020. Hasil studi 21 artikel menunjukkan bahwa faktor air (sumber air minum tidak layak, pengolahan air minum), faktor sanitasi (penggunaan fasilitas toilet, perilaku open defecation, pembuangan tinja balita tidak pada jamban) berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Kesimpulan studi ini mengungkapkan bahwa air dan sanitasi merupakan faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita di Indonesia. Upaya promosi kesehatan dan kerja sama lintas sektoral dalam intervensi gizi sensitif perlu ditingkatkan untuk mencegah stunting di Indonesia.