Bullying merupakan tindakan atau sebuah perilaku agresif seseorang atau sekelompok orang. Perundungan fisik merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa dengan sengaja terhadap orang lain, yang memiliki tujuan untuk menyakiti dan dilakukan dengan secara terus menerus. Perundungan fisik atau Bullying juga sering disamakan dengan konflik atau sebuah perselisihan biasa antara dua orang. Padahal antara konflik dengan bullying adalah sesuatu hal yang sangat berbeda dan tidak bisa disamakan. Bullying merupakan suatu bentuk kekerasan di mana seseorang mengintimidasi seseorang atau sekelompok orang secara psikologis atau fisik, dan orang atau sekelompok orang itu lebih lemah dan dia pikir dia atau mereka memiliki kemampuan untuk melakukan apa pun terhadap korban. Korban juga menganggap dirinya lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancam. Kini, bullying adalah istilah yang sangat tidak asing lagi bagi warga Indonesia. Bullying merupakan tindakan menggunakan kekuasaan untuk menyakiti seorang atau sekelompok orang secara verbal, fisik, dan psikologis, membuat korbannya merasa frustrasi, kaget, dan tidak berdaya. Pengganggu sering juga disebut sebagai pengganggu 2 menggunakan terminologi. Penindas tidak mengenal jenis kelamin atau usia. Bahkan, bullying sering terjadi di sekolah dan dilakukan oleh remaja. Banyak dari remaja yang menjadi korban perundungan fisik lebih beresiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental di sekitar lingkungan sekolah, atau bahkan penurunan semangat untuk belajar dan prestasi akademis
Nino Adib Chifdillah, Adinda Gusti Nurhaliza, Yona Palin
et al.
Oral health is a global health issue among children. The study aimed to analyze the effect of health education using crossword puzzles on knowledge about oral health among students at SDN 006 Loa Janan Ilir. The study was a pre-experimental study using an one-group pretest-posttest design. The intervention involved health education using crossword puzzles as a medium. The sample consisted of 79 fifth-grade students selected through total sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed statistically using the Wilcoxon test. The validity of the questionnaire was tested by comparing the calculated r-value with the table r-value. The questionnaire validity test used Cronbach's Alpha value. The research results showed that most respondents were 11 years old (63 students, 79.7%), female (45 students, 57%), had parents with a secondary education level (40 students, 50.6%), and had never received information about KGM (64 students, 81%). The number of students with good knowledge increased by 56 (80.9%). Meanwhile, the number of students with adequate knowledge decreased by 44, and the number of students with insufficient knowledge decreased by 12. Statistical analysis results indicated that there was an effect of the intervention on respondents' knowledge (ρ-value=0.000). Crossword puzzles was effective as a health education media about oral health for elementary school students.
Premenstrual Syndrome (PMS) is a collection of physical and emotional symptoms occurring prior to menstruation that can disrupt daily activities. Dietary patterns and nutritional status are known to influence PMS symptoms. This study aims to analyze the relationship between dietary intake (energy, carbohydrates, protein, fat, magnesium, and vitamin B6) and nutritional status (based on Body Mass Index/BMI) with the incidence of PMS among female students from both health and non-health study programs at Universitas Airlangga. This research employed an analytical observational study with a cross-sectional design. A total of 103 female students from the 4th semester of the Nutrition and Islamic Economics study programs were selected through proportional random sampling. Data were collected using questionnaires on respondent characteristics, a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), anthropometric measurements, and the Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF). Data analysis was performed descriptively and inferentially using Spearman's rank correlation test. The results showed a significant relationship between energy intake (p = 0.002) and fat intake (p = 0.001) with PMS. No significant relationship was found for carbohydrate, protein, magnesium, and vitamin B6 intake (p > 0.05). Additionally, nutritional status based on BMI was significantly associated with PMS (p = 0.001), indicating that both underweight and overweight students were more likely to experience PMS. These findings highlight that imbalanced energy and fat intake, as well as abnormal nutritional status, may be contributing factors to PMS. Therefore, increasing awareness of proper nutrition and reproductive health is essential to reduce PMS symptoms among female students.
Hypertension is a chronic condition that requires long-term adherence to pharmacological treatment and lifestyle modifications. The inadequate integration of drug education and nutrition counseling in clinical settings hinders treatment adherence, particularly after the COVID-19 pandemic. This study aimed to analyze the influence of the quality of drug education and nutrition counseling services on treatment adherence among patients with hypertension. A quantitative analytical study with a cross-sectional design was conducted at the Primaya Inco Sorowako Hospital, South Sulawesi, Indonesia, from May to June 2025. Eighty outpatients with hypertension were selected using purposive sampling based on the predefined inclusion criteria. The data were collected using validated questionnaires. Spearman’s correlation and multiple linear regression were used for analysis. The quality of drug education showed a significant positive correlation with treatment adherence (r = 0,61; p < 0,001), as did nutritional counseling (r = 0,53; p < 0,001). Both variables jointly influenced adherence (R² = 0,46), with drug education being the dominant predictor (β = 0,48; p < 0,001). These findings suggest that enhanced interdisciplinary collaboration between pharmacists and nutritionists is essential for improving adherence in patients with hypertension.
Nutrition. Foods and food supply, Food processing and manufacture
Latar belakang: Kesehatan mental merupakan salah satu aspek kesehatan penting dari kehidupan manusia dan bermasyarakat. Kesehatan mental yang buruk memengaruhi kesejahteraan, kemampuan bekerja, serta hubungan antara teman, keluarga, dan masyarakat. Prevalensi masalah kesehatan mental juga meningkat setiap tahunnya, baik secara global maupun di Indonesia. Oleh karena itu, tindakan pencegahan dini dengan melakukan upaya pencarian bantuan kesehatan penting untuk mencegah terjadinya gangguan mental yang kronis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencarian bantuan ditinjauh dari status kesehatan mental pada mahasiswa kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Kesehatan yang terdaftar pada program studi Keperawatan, Kebidanan dan Farmasi pada Jenjang D3, D4 dan Profesi pada Poltekkes Kemenkes Palembang, Poltekkes Kemenkes Bandung dan Poltekkes Kemenkes Jayapura. Jumlah sampel sebanyak 388 responden yang diambil menggunakan metode convenience sampling dengan menyebarkan kuesioner secara online (google form) selama 3 bulan. Instrumen yang digunakan menggunakan alat ukur SRQ-20 (Self reported quetionare-20) dan General Help Seeking Quetionare. Hasil: Pencarian bantuan kesehatan secara umum menghubungi sumber informal orang tua (57%), teman (21.13%) dan dan pasangan (25.77%) sedangkan sumber formal, seperti profesional kesehatan mental psikolog, psikiater, konselor (12.63%) dan dokter umum (10.57%). Responden lebih tinggi pada kelompok gangguan mental emosional (68%) dibandingkan dengan kelompok yang tidak memiliki gangguan mental emosional (32%). Hasil uji mann-whitney menemukan bahwa terdapat perbedaan pencarian bantuan ditinjau dari status kesehatan mental pada mahasiswa kesehatan (p-value=0.001<0.005). Pencarian bantuan pada kelompok yang memiliki gangguan mental emosional lebih tinggi menghubungi sumber bantuan formal seperti profesional kesehatan mental (8.25%) dibandingkan dengan kelompok yang tidak memiliki gangguan mental emosional (4.38%) ketika mengalami masalah emosinal, (11.60%) dan (7.22%) ketika mengalami pikiran untuk bunuh diri. Kesimpulan: Kesimpulan dalam penelitian menunjukan bahwa pencarian bantuan kesehatan secara umum lebih tinggi dengan menghubungi sumber informal. Responden lebih tinggi pada kelompok gangguan mental emosional. Terdapat perbedaan pencarian bantuan ditinjau dari status kesehatan mental pada mahasiswa kesehatan. Pencarian bantuan pada kelompok yang memiliki gangguan mental emosional lebih tinggi menghubungi sumber formal. Rekomendasi dari penelitian ini adalah melakukan tindakan promotif dengan mengintergrasikan kurikulum kesehatan mental pada proses pembelajaran dan mengedukasi para staf dan mahasiswa mengenai jalur pencarian bantuan kesehatan.
BPJS Kesehatan aims to improve the health of participants suffering from Type 2 DM through the Chronic Disease Management Program “Prolanis” (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) strategy implemented at Primary Health Care (PHC). Program success is measured by the outcomes of controlled Fasting Blood Sugar status and the cost-effectiveness of Prolanis. This research was conducted to determine the cost-effectiveness of Prolanis in treating Type 2 DM. Analytical cross-sectional research using secondary data from BPJS Kesehatan in the Sibolga Branch Office work area in 2020-2022 on Type 2 DM participants who took Prolanis and Non-Prolanis. The analysis used univariate, bivariate, multiple logistic regression, and ICER cost analysis. Characteristics of Prolanis participants, age, number of visits, and Body Mass Index showed a significant relationship with the achievement of controlled fasting blood sugar. The average fasting blood sugar of Prolanis and Non-Prolanis participants in 2021-2022 did not significantly differ. Still, the proportion of controlled fasting blood sugar of Prolanis participants was greater than that of Non-Prolanis participants. The total cost of Prolanis in a row for 2020-2022 is IDR 1,437,411,273, IDR 2,706,895,281, and IDR 2,751,510,452. The total cost of Non Prolanis for 2020-2022 is IDR 5,861,773,361; IDR 7,807,455,547,-; IDR 10,291,812,544,-. The ICER for each controlled fasting blood sugar proportion varies from 2020-2022 IDR 462,489; IDR 201,473; IDR 362,856. Prolanis expenditure at the Sibolga Branch Office is higher, but the clinical effectiveness of the proportion of controlled fasting blood sugar participants is better than that of non-Prolanis participants
Latar belakang. Mortalitas anak dengan penyakit ginjal kronik paling sering disebabkan oleh komplikasi kardiovaskular yang dapat terjadi sejak stadium awal penyakit. Pada anak yang menjalani hemodialisis, banyak faktor untuk terjadinya disfungsi kardiovaskular, seperti kadar hemoglobin, laju ultrafiltrasi yang tinggi dan derajat kelebihan cairan. Teknik ekokardiografi dua dimensi dengan speckle tracking echocardiography merupakan metode yang sensitif untuk menilai penurunan fungsi jantung pada stadium awal. Di Indonesia, saat ini penelitian metode tersebut belum banyak dilakukan pada anak dengan penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.
Tujuan. Untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas speckle-tracking echocardiography dalam mendeteksi disfungsi jantung subklinis pada anak dengan penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.
Metode. Penelitian potong lintang dilakukan terhadap 33 pasien hemodialisis anak di Unit Dialisis Pediatrik Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Data demografis dan klinis diperoleh dari rekam medik elektronik. Penilaian dan interpretasi ekokradiografi dilakukan oleh dokter kardiologi anak.
Hasil. Hampir sebagian besar subyek memiliki disfungsi jantung subklinis dengan pemeriksaan global longitudinal strain speckle-tracking echocardiography. Sensitivitas dan spesifisitas sebesar 90% dan 70%.
Kesimpulan. Pemeriksaan global longitudinal strain speckle-tracking echocardiography memiliki sensitivitas yang baik dalam mendeteksi disfungsi jantung subklinis pada anak yang menjalani hemodialisis.
Pandemi COVID-19 telah melanda Indonesia, mempengaruhi berbagai bidang kehidupan termasuk pendidikan. Sekolah online menjadi alternatif untuk mencegah penyebaran COVID-19, walaupun memiliki keterbatasan dalam proses belajar mengajar. Seiring menurunnya kasus COVID-19, mulai dilakukan sekolah tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan penerapan protokol kesehatan di SD Negeri dan Swasta. Metode penelitian mix methode dengan explanatory sequential research design. Populasi adalah siswa dari satu Sekolah Dasar Negeri dan satu Sekolah dasar Swasta di Kota Bandung, dengan sampel 86 orang dipilih secara purposif. Pengumpulan data kuantitatif menggunakan angket yang disebar ke siwa untuk diisi. Pengumpulan data kualitatif dilakukan ke informan masing-masing seorang guru dari SD Negeri dan Swasta, dengan metode wawancara mendalam serta observasi. Analisis data kuantitatif menggunakan distribusi frekuensi dan uji beda U Mann Whitney. Analisis data kualitatif melalui proses deskripsi, reduksi, koneksi, kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan dua per-tiga siswa memiliki pengetahuan baik tentang COVID-19, sebanyak tiga dari lima siswa menyatakan sarana protokol kesehatan di sekolah masih kurang, separuh siswa menyatakan guru dan staf memberi teladan baik, sebanyak tiga dari lima menyatakan sosialisasi sudah dilakukan baik dan hanya satu dari tiga siswa yang melakukan praktik baik protokol kesehatan. Tidak terdapat perbedaan signifikan pengetahuan COVID-19, keteladanan guru, dan praktek protokol kesehatan antara Sekolah Dasar Negeri dan Swasta. Secara keseluruhan implementasi protokol kesehatan di Sekolah Dasar Negeri dan Swasta sama. Semua sekolah diharapkan mengimplementasikan protokol kesehatan secara berkesinambungan.Kata kunci: protokol; kesehatan; sekolah; tatap mukaAbstractThe COVID-19 pandemic hit Indonesia, affecting various fields of life including education. Online schools are an alternative to prevent the spread of COVID-19, even though they have limitations in the teaching and learning process. As COVID-19 cases has decreased, face-to-face schools begun with the implementation of health protocols. The study purpose determined the differences in the implementation of health protocols in public and private elementary schools. The research method is mix method with explanatory sequential research design. The population of students from one public and one private elementary school in Bandung City, with a sample of 86 people selected purposively. Quantitative data collection uses questionnaires distributed to students to fill out. Qualitative data collection was carried out to each informant, a teacher from a public and private elementary school, using in-depth interviews and observation methods. Quantitative data analysis used the frequency distribution and U Mann Whitney differenence test. Qualitative data analysis through the process of description, reduction, connection, conclusion. The results showed that two-thirds of the students had good knowledge of COVID-19, as three fifths stated that the health protocol facilities were lacking, half of the students stated that the teachers set good examples, as three fifths stated that the socialization carried out well and only one-thirds students practiced good health protocols. There are significant differences in socialization and provision of health protocols facilities between public and private schools. There isn’t significant difference in knowledge, the example of the teacher, and practice of health protocols. Overall the implementation of the health protocol in public and private elementary schools is the same. All schools are expected to implement health protocols on an ongoing basis. Keywords: protocol; health; school; face to face
Banyak jenis kecurangan (fraud) yang bisa terjadi di pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan. Menurut laporan Staf Utilisasi Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Anti Fraud BPJS Kesehatan KC Depok, diketehui bahwa kejadian Upcoding pelayanan kesehatan merupakan salah satu permasalahan yang sering ditemukan dalam kecurangan (fraud) di BPJS Kesehatan KC Depok. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor kejadian upcoding pelayanan kesehatan di wilayah kerja BPJS Kesehatan Kantor Cabang Depok. Sebuah desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam artikel ini. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 1 Juli sampai 30 Juli 2021 di Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan (PMR) BPJS Kesehatan Kantor Cabang Depok. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Faktor kejadian upcoding yaitu sumber daya manusia yang kurang berkompeten, adanya kesalahan persepsi diagnosis oleh koder, jumlah berkas yang menumpuk, dan kecendrungan penambahan biaya klaim. Kejadian Upcoding menimbulkan dampak bagi BPJS Kesehatan Kantor Cabang Depok yaitu meningkatkan biaya klaim, meningkatkan beban biaya pelayanan kesehatan yang di tanggung BPJS Kesehatan dan ketidaksesuaian data statistik dengan gambaran kasus di lapangan. Disarankan bagi BPJS Kesehatan Kantor Cabang Depok melakukan pertemuan rutin antara kedua belah pihak dalam rangka motivasi kader agar tidak melakukan kesalahan dalam proses pengkodingan klaim. Bagi Pihak Rumah Sakit terus melakukan pengendalian internal.
Pendahuluan : Keberhasilan pengobatan TBC sangat ditentukan oleh kepatuhan penderita minum obat secara teratur akan tetapi sebagian besar penderita berpresepsi bahwa penyakit TBC bukanlah penyakit yang berbahaya. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara persepsi ancaman terhadap Kesehatan dengan tingkat kepatuhan minum obat pada penderita TBC di wilayah kerja UPT Puskesmas Babirik. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain Cross Sectional sebanyak 30 orang responden penderita TBC menggunakan metode total sampling. Instrumen menggunakan kuesioner ancaman yang telah dimodifikasi berjumlah 10 pernyataan dan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS) 8 pernyataan. Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa ancaman kategori baik, yaitu sebanyak 21 orang (70.0%), kepatuhan paling banyak berada dalam kategori rendah yaitu sebanyak 17 orang (56.6%). Uji korelasi Spearman Rho didapatkan hasil p = 0,486 yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi ancaman terhadap kesehatan dengan tingkat kepatuhan minum obat pada penderita TBC di wilayah kerja UPT Puskesmas Babirik. Saran : Dapat dilakukan penelitian lain untuk mencari faktor yang berhubungan dengan kurangnya tingkat kepatuhan minum obat pada penderita TBC.
Pestisida adalah salah satu hasil teknologi modern dan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebagian besar cara penggunaan pestisida oleh petani adalah dengan cara penyemprotan. Saat penyemprotan merupakan keadaan dimana petani sangat mungkin terpapar bahan kimia yang terdapat dalam pestisida yang digunakan. Bahaya yang dapat terjadi saat penyemprotan tersebut dapat mengakibatkan gangguan yang menyebabkan penyakit. Salah satu parameter untuk mengetahui terjadinya keracunan pestisida adalah menurunnya aktivitas enzim Cholinesterase. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara lama masa kerja dan lama paparan pestisida terhadap kadar cholinesterase darah petugas penyemprotan di PT. X Jambi. Jenis penelitian ini observasional analitik, untuk pengambilan sampel dilakukan di perkebunan kelapa sawit PT. X Jambi. Pemeriksaan kadar cholinesterase darah diperiksa di pusat rujukan nasional Prodia Jakarta dengan metode Tes fotometri kinetic. Hasil pengukuran kadar cholinesterase dalam darah dari 43 responden didapatkan hasil dalam batas normal. Uji koreksi pearson product moment menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lama masa kerja dan lama paparan pestisida terhadap kadar cholinesterase darah petugas penyemprot PT. X Jambi.
Background: Women are more prone to stress during pregnancy than during the postpartum period. Stress during pregnancy is correlated with pregnancy and birth outcomes. Early detection using the e-health system is an alternative to health services during the pandemic.
Aims: The research objective was to produce innovation in early stress detection using an information system based on the e-Health system.
Methods: This study was conducted in the Ngaliyan Primary Healthcare Centre with 34 pregnant women. This study utilized both qualitative and quantitative research. Qualitative research used the System Development Life Cycle (SDLC), while quantitative research used an experimental design with a one-shot case study approach.
Results: The e-Health system could automatically identify stress during pregnancy, with the TAM questionnaire yielding a very effective result of 85.4%. The average time needed to detect pregnant women’s stress was 230.94 seconds. This system can analyze 374 pregnant women within one day (24 hours), provide services, and report pregnant women’s stress detection results.
Conclusions: The e-Health system effectively conserves time and can be used to record and report early stress in pregnant women.
Keywords: early detection, information system, pregnancy, smartphone, stress
Computer applications to medicine. Medical informatics, Public aspects of medicine
Sibro Malisi, Novan Fachrudin, Natasha Anindhia Harsas
et al.
Latar Belakang: Diseksi aorta, pada keadaan atipikal yang jarang, gejala dan pemeriksaan fisik yang atipikal dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan dapat membawa risiko kematian yang lebih tinggi.
Tujuan: Kami melaporkan kasus diseksi aorta tipe A dengan gejala tidak spesifik dan pemeriksaan fisik normal.
Presentasi Kasus: Seorang wanita 48 tahun datang ke UGD dengan mual dan muntah, dengan riwayat hipertensi. Jantung, paru-paru, dan perut dalam kondisi fisik yang normal. Pemeriksaan fisik normal meskipun terdapat hipertensi. EKG, ekokardiografi, dan rontgen dada menunjukkan hasil yang abnormal. Terapi simtomatik dan obat hipertensi diberikan sebagai tindak lanjut. Pemeriksaan multislice computed tomography (MSCT) torakoabdominal dilakukan diikuti oleh pemeriksaan computed tomography (CT) koroner, yang mengungkapkan diseksi aorta.
Kesimpulan: Presentasi diseksi aorta dapat menyerupai gejala gastrointestinal dengan temuan hipertensi urgensi. Dokter memerlukan pemeriksaan lebih lanjut jika ada faktor risiko dan hasil pemeriksaan abnormal yang diduga berhubungan dengan diseksi aorta.
Latar belakang. Pemberian MPASI dimulai pada usia 6 bulan dan berperan penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi agar tumbuh kembang dapat optimal. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi pemberian MPASI yang baik adalah tingkat pengetahuan ibu.
Tujuan. Mengetahui korelasi antara tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian MPASI dengan tingkat pendidikan ibu dan status nutrisi bayi usia 6-24 bulan.
Metode. Penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang dilakukan di Puskesmas Tanjung Marulak, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dari bulan September – November 2020. Subjek penelitian adalah ibu dan bayinya usia 6-24 bulan yang membawa buku KIA dengan data berat badan dan tinggi badan bayi yang lengkap. Subjek memenuhi kriteria inklusi dan dipilih secara consecutive sampling. Analisis data digunakan uji korelasi Spearman.
Hasil. Seratus delapan ibu mengikuti penelitian ini. Jumalah ibu berpengetahuan sedang 50 (46,3%), berpendidikan SMA 38 (35,2%), dan status nutrisi bayi baik 80 (74,1%). Terdapat korelasi positif kuat antara tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian MPASI dengan tingkat pendidikan ibu dan status nutrisi bayi usia 6-24 bulan (r=0,533 dan r=0,563, p<0,05).
Kesimpulan. Hasil studi ini menunjukkan tingkat pengetahuan ibu terhadap MPASI berkorelasi positif pada status nutrisi bayi.
The existence of the Covid-19 pandemic has become one of the causes of changes in the health service order system, including one of the activities for pregnant women classes at health service facilities at the Puskesmas. The use of the internet has become a necessity in the last decade. Several studies also prove that the use of internet technology in social networking is effective in increasing knowledge, attitudes, perceptions, awareness and compliance in health. Therefore, the researchers tried to make the GEMBIL (Pregnant Mother Game) application. This study aims to produce a product in the form of the GEMBIL application (pregnant mother game) as an educational medium in the class of pregnant women, and to analyze the effect of using GEMBIL in increasing the knowledge of pregnant women about pregnancy, childbirth, postpartum and newborns. This is an analytical study with a quasi-experimental approach, using one group pre and post design. The research location is in the working area of the Majasem Public Health Center, Cirebon City. The sample uses purposive sampling. Bivariate analysis using Wilcoxon. the feasibility test of material experts showed a value of 84.7% and media experts showed a value of 83.3%. The relationship between the use of the GEMBIL application and knowledge, shows a significance value of 0.005 (p<0.05). The GEMBIL application is very feasible to be used as an appropriate technology medium in the implementation of online classes for pregnant women. There is a significant difference in knowledge between before and after attending an online class for pregnant women using the GEMBIL application.
The rapid and uncontrolled transmission of COVID-19, causes the high morbidity and mortality rates of COVID-19 throughout the world, including West Sumatra (CFR 2.27%). This study aims to analyze the mortality of COVID-19 in West Sumatra and the risk factors that influence it. The research design retrospective cohort using secondary data on COVID-19 cases in West Sumatra from March 26, 2020 to June 7, 2021. The sampling technique is total sampling provided that the sample criteria are met. Data analysis used logistic regression method. 44,693 confirmed cases of COVID-19, 968 (2.17%) died and 43,725 (97.83%) did not die. Factors associated with COVID-19 mortality were age (RR 9.79; 95% CI 8.65-11.09), gender (RR 1.51; 95% CI 1.33-1.71), diabetes (RR 10.21; 95% CI 8.91-11.69), hypertension (RR 6.49; 95% CI 5.59-7.54), cardiovascular diseases (RR 9.57; 95% CI 8.17-11.21), COPD (RR 10.51; 95% CI 7.57-14.57), asthma (RR 2.03; 95% CI 1.23-3.34), and kidney diseases (RR 19.87; 95% CI 16.54-23.86). Kidney diseases are the most dominant factor associated with COVID-19 mortality (RR 16.07; 95% CI 11.34-22.78). COVID-19 patients with kidney disease have the highest risk of death. Treatment of patients with comorbidities must be prioritized and improve health promotion in at-risk groups.
The combination of African leaf nanoparticle hydrogel (Vernonia amygdalina) and Papuan honey in modern dressing to heal wound in grade II diabetic patients can reduce the care day length and amputation risk for upper or lower extremity areas that are often affected and wounded in the event of hyperglycemia. Wound care is performed every 3 days for 20 days based on the physiological process in the proliferative phase of wound healing. The diabetic wound was assessed using the Bates Jensen Wound Assessment Tool (BWAT). The research was experimental with pre- and post-test control group design. The results showed that the 20-day wound care with this combination could reduce the BWAT score by 5.2, a sign of its effectiveness as compared to the control group reduction by 4.33. Conclusively, performing a modern dressing using this combination for 30-45 minutes every 3 days for 20 days was effective in accelerating the healing process of grade II diabetic wounds.
Pemberdayaan anak yatim adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat anak yatim, melepaskan diri dari ketidakberdayaan, memiliki kemampuan dan kemandirian untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, dan hidup secara wajar dalam masyarakat. Dana zakat merupakan dana amanah yang dibatasi oleh sumber zakat itu. Dana zakat harus dikumpulkan dan didistribusikan sesuai sasaran yang telah diketahui.yayasan yatim mandiri cabang kota kediri mempunyai program pada banyak aspek mulai dari pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan, pendidikan. Dan program kemanusiaan Yayasan Yatim Mandiri sebagai lembaga amil zakat yang fokus pada anak yatim. penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang rinci dan menyeluruh tentang realitas empiris yang sesuai dengan fenomena tersebut. Tidak hanya untuk mengungkapkan gejala secara keseluruhan dan dalam konteks. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujud pemberdayaan anak yatim oleh yayasan yatim mandiri cabang kota kediri dilakukan dengan cara memberikan pendidikan kesehatan dan pengembangan usaha demi kesejahteraan anak yatim serta melalui pogram-program yang telah dimiliki oleh lembaga yatim mandiri dengan melalui proses pengumpulan zakat dan penayaluran dana zakat.
Background:
 The role of health students in providing information about reproductive health is very important, especially regarding reproductive health rights for women with disabilities. This is crucial to do because women with disabilities are very vulnerable to violence and discrimination, especially in terms of reproductive health. 
 Objectives:
 This study aimed to analyze the influence of knowledge and intention toward behavior of female health students in accessing information on reproductive health rights for women with disabilities. 
 Research Methods:
 This was a quantitative study with a cross-sectional design. This study was conducted at the Midwifery Study Program at Tribhuwana Tunggadewi University Malang in October 2020. The sample size was 50 subjects, selected by simple random sampling technique. The dependent variable is the behavior of health female students in accessing information. The independent variables were knowledge and intention in access to information. Data collection using an online questionnaire. The data analysis technique used multiple linear regression. 
 Results:
 The behavior of health female students in access to information was influenced by knowledge (b= 0.36, CI 95% = 0.12 to 0.60, p= 0.005), and intention in access to information (b= 0.45, CI 95% = 0.10 to 0.80, p= 0.014). 
 Conclusion:
 Participants with good knowledge and high intention in access to information affect behavior in accessing information.
 
 Keywords: health students; reproductive health rights; women with disabilities
Perubahan tupoksi di Balkesmas sebagai penyelenggara UKM strata dua membawa implikasi luas terhadap kinerja organisasi. Transisi perubahan perlu dilakukan efektif dan efisien. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perubahan organisasional di Balkesmas. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan 150 orang pegawai Balkesmas yang diperoleh secara stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan path analysis. Hasil penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perubahan Balkesmas pada level individual adalah konten perubahan, proses perubahan, konsteks perubahan dan atribut individual. Atribut individual merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling besar (beta = 0,945), sedangkan konteks perubahan merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling kecil (beta = 0,313). Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perubahan pada level organisasi adalah konten perubahan, proses perubahan, konteks perubahan, atribut individual, dan kesiapan perubahan individual. Konten perubahan merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling besar (beta = 1,035), sedangkan atribut individual merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling kecil (beta = 0,231). Kesiapan perubahan individual memediasi pengaruh konten perubahan, proses perubahan, konsteks perubahan dan atribut individual terhadap kesiapan perubahan organisasional di Balkesmas. Semakin baik konten perubahan, proses perubahan, konsteks perubahan dan atribut individual maka semakin tinggi kesiapan perubahan individual yang pada akhirnya meningkatkan kesiapan perubahan organisasional.