Soekidjo Notoatmodjo
Hasil untuk "kesehatan"
Menampilkan 20 dari ~388816 hasil · dari DOAJ, Semantic Scholar, CrossRef
Yeheskiel Holoaino Bunga, Amanda Gracia Manuputty, Elpira Asmin et al.
Background: Acne vulgaris is a chronic inflammatory disease of the pilosebaceous unit characterized by clinical features such as comedones, papules, pustules, and nodules that affect social and psychological functions. Foods containing carbohydrates with a high glycemic index can trigger acne vulgaris. Consumption of fatty foods, chocolate, milk, nuts, and cheese can stimulate the recurrence of acne vulgaris. Objective: This study aims to determine the relationship between dietary habits and body mass index (BMI) and the incidence of acne vulgaris among students of the Faculty of Medicine of Pattimura University. Methods: This research is an observational analytic study with a cross-sectional design. Samples were selected using a proportional stratified random sampling technique with a simple random sampling approach, totaling 89 respondents. Respondents were required to fill out the SQ-FFQ questionnaire and undergo height and weight measurements. Result: Out of 89 respondents, 81% frequently (≥2×/day) consumed carbohydrates 82% often (1×/day) consumed proteins and 71% often (1×/day) consumed reduced-fat. Regarding the quantity of intake, 55% of respondents consumed high carbohydrates per day, 69% consumed high proteins per day, and 24% consumed high fat intake per day. The prevalence of acne vulgaris was 66%p-value <0.05. Conclusion: There is a significant relationship between dietary habits based on carbohydrate, protein, and fat intake and the incidence of acne vulgaris. However, there is no significant relationship between BMI and the incidence of acne vulgaris among medical students at Pattimura University.
Yuli Zuhkrina, Martina Martina, Kiki Rezaki Amelia
Masa remaja menjadi masa yang paling storm and stress, pada masa ini terdapat berbagai macam persoalan dan tantangan yang muncul dari dalam individu itu sendiri (biopsychosocial factors) dan dari lingkungan (enviromental factor). Kurangnya paparan tentang kesehatan reproduksi menimbulkan permasalahan terhadap kesehatanreproduksi remaja yang berusia 12-18 tahun seperti seks bebas, aborsi, penyalahgunaan obat terlarang, kehamilan tidak diinginkan, mengkonsumsi alkohol dan merokok. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan keikutsertaan pada posyandu remaja terhadap peningkatan pengetahuan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi di desa Lubuk Sukon Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Desain penelitian menggunakan analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel menggunakan teknik total sampling yaitu seluruh Remaja di desa Lubuk Sukon terhitung dari bulan Juni s/d September 2023 berjumlah 140 sampel. Penelitian dilakukan di Desa Lubuk Sukon, tanggal 16 s.d 20 Oktober 2023 melalui penyebaran kuesioner. Pengujian validitas kuesioner dilakukan dengan teknik Korelasi Pearson Product Moment, dengan kriteria r hitung lebih besar r tabel dengan tingkat signifikan 0,05. Analisis dari data menggunakan uji Chi Square (CI) 95%, batas kemaknaan yaitu (α: 0,05) dengan menggunakan program computer SPSS dan dimasukkan kedalam tabel contingency untuk menganalisis nilai p-value dengan alpha. Hasil penelitian diperoleh dari 140 responden terdapat 87 yang tidak aktif mengikuti posyandu remaja, sehingga memiliki pengetahuan kurang dalam menjaga kesehatan reproduksi sebanyak 56 (64,4%) dengan nilai p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan terdapat pengaruh mengikuti posyandu remaja terhadap peningkatan pengetahuan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi. Saran diharapkan kader dapat menyesuaikan waktu pelaksanaan posyandu remaja dengan aktifitas remaja di desa Lubuk Sukon Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar.
Fransiscus Harri Dwi Kurniawan Man, Joko Sutopo
Kebugaran jasmani merupakan suatu bentuk kemampuan dengan menyesuaikan berat dari tubuh manusia yang harus dipenuhi seseorang agar dapat melakukan segala aktivitas atau kegiatan sehari-hari tanpa ada rasa lelah ataupun gangguan pada tubuh. Kebugaran jasmani juga dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan jantung dari berapa kali pengguna melakukan gerakan beserta BPM (Beat per Minutes). Dalam melatih kebugaran jasmani ini terdapat beberapa gerakan yang dapat dilakukan, dalam aplikasi monitoring ini menggunakan gerakan push-up, squat, jumping jacks. Terkadang orang lupa dalam menghitung berapa kali mereka telah melakukan gerakan-gerakan tersebut bahkan tidak tahu berapa detak jantung yang mereka dapatkan selama latihan kebugaran. Dengan hal inilah dibangun sistem monitoring untuk melacak pergerakan tubuh beserta kondisi kesehatan jantung dalam latihan kebugaran jasmani yang menggunakan basis IoT atau kepanjangan dari Internet of Things. Sistem ini menggunakan aplikasi android dengan dihubungkan pada perangkat IoT yang lalu dihubungkan melalui sebuah modul wifi yaitu ESP8266 untuk mengirimkan data ke aplikasi android. Dengan adanya aplikasi monitoring latihan kebugaran berbasis iot diharapkan dapat membantu, memudahkan, memotivasi dalam berolahraga
Ida Ayu Agung Laksmi, I Made Dwie Pradnya Susila, Made Ani Suprapta
Emerging infectious diseases (EID) is one of the leading causes of death worldwide since it initially attacks a population or has existed before but is increasing very rapidly in terms of the number of new cases in a population. Early detection of EID patients refers to early screening. Screening of patients with suspected EID such as Covid-19 or other airborne infectious diseases must be performed at the first contact with suspected patients. This study aims to evaluate the effectiveness of EID screening instrument applied at the Emergency Room (ER). This was a quantitative pre-experimental study with a one-group pretest-posttest design. The sample size consisted of 34 nurses at the ER of Mangusada Hospital, Bali, who were selected using a total sampling technique. The intervention administered in this study was the implementation of EID screening instrument before the patients entered triage for 1 month on June 2022 at the ER of Mangusada Hospital. After ensuring the distribution and homogeneity of the data, a paired t-test was employed for parametric statistical data analysis. The result of the study showed a p-value of (0.004) or p <α (0.05). So, it can be concluded that there was an effect of the screening instrument applied at the ER of Mangusada Hospital on the preparedness of nurses in dealing with EID. Thus, the screening for patients with EID should be implemented in each emergency unit. The study finding can help improve nurse preparedness regarding the prevention of EID. In addition, future study is recommended to assess the competence of nurses regarding the prevention of EID.
Jumrah Sudirman, Muhammad Syafar, Elizabet Catherine Jusuf et al.
Mental health problems during pregnancy are major public health issues that require immediate attention. Anxiety and stress can have an impact on pregnancy and childbirth. This study examines the impact of Sombere education on the stress levels of pregnant women. A quasi-experimental design with a pre-test and post-test design and a control group was employed in this study. This study's sample consisted of 80 primigravida pregnant women who met the sample criteria. Purposive sampling was utilized in this study. The chi-square test and the Wilcoxon rank test were implemented to analyze the data. The findings of this study revealed that there was a difference in stress in the intervention group after treatment (p=0.000<0.005), as well as a difference in stress in the control group during the post-test (p=0.001<0.005). Sombere education has an effect on stress levels in primigravida pregnant women (p=0.016<0.005). The requirement Midwives provide education on maternal mental health, particularly the stress of pregnancy. In addition, midwives must conduct stress assessments or collaborate with psychologists to ensure pregnant women's mental health.
Indrawan Makmun, Muhammad Isnaini
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepribadian merek Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui akun media sosial Instagram dengan menggunakan perspektif Semiotika Multimodal dan menghubungkannya dengan arketipe merek untuk menentukan level The Caregiver lembaga tersebut. Dalam penelitian ini, dilakukan pendekatan kualitatif dengan fokus pada analisis pola komunikasi Kemenkes RI terkait COVID-19 melalui media sosial Instagram. Teknik analisis data yang digunakan adalah semiotika multimodal dan pendekatan metafungsi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Kemenkes RI memiliki karakteristik The Caregiver level tiga: altruisme, yang menunjukkan kepedulian terhadap dunia yang lebih besar dan memprioritaskan kepentingan masyarakat Indonesia. Tema-tema seperti mengayomi dan melindungi muncul dalam analisis semiotika multimodal. Selain itu, Kemenkes RI juga menggunakan storytelling dengan pendekatan visual seperti komik untuk mengurangi ketakutan dan kebingungan pada masyarakat. Kata kunci: Arketipe Merek, Covid-19, Kemenkes, Keperibadian Merek, Pola Komunikasi, Semiotika Multimodal Abstract This research aims to analyze the brand personality of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (Kemenkes RI) through its Instagram social media account using the Multimodal Semiotics perspective and linking it to the brand archetype to determine the level of The Caregiver of the institution. This qualitative research focuses on analyzing Kemenkes RI's communication patterns related to COVID-19 through Instagram social media. The data analysis technique used is multimodal semiotics and the metafunction approach. The findings show that Kemenkes RI exhibits The Caregiver level three characteristics: altruism, indicating concern for the larger world and prioritizing the interests of the Indonesian community. Themes such as nurturing and protecting emerge in multimodal semiotic analysis. Additionally, Kemenkes RI uses visual storytelling, such as comics, to reduce fear and confusion among the public. Keywords: Brand Archetype, Brand Personality, Communication Patterns, Covid-19, Kemenkes, Multimodal Semiotics
Agus Dwi Sugiharto, Syamsu Hidayat, Rosyidah Rosyidah
Kesehatan merupakan kebutuhan setiap manusia. Oleh karena itu, asuransi kesehatan JKN sangat penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang diantaranya berada di salah satu apotik yang berada di Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terharap loyalitas pasien di Dokter Praktek Perorangan (DPP) sebagai salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner semua pasien rawat jalan yang berkunjung ke dokter praktik perorangan (DPP) Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Apotik Sita. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil analisis Partial Least Square (PLS) menunjukkan Kepuasan Pasien tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pasien pengguna Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2). Kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien pengguna Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 3). Kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pasien pengguna Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Henny Permatasari, Junaiti Sahar, Muchtarrudin Mansyur et al.
The factors associated with changes in work patterns and working hours due to rotating shifts have an effect on the increased risk of health problems in workers. Manufacturing industry workers, specifically those on rotating shift schedules, are at a high risk of various health problems, such as cardiovascular diseases, circadian rhythm problems, social life problems, and stress. These health problems may be worsened by poor lifestyle habits, such as smoking, unhealthy diet, and infrequent physical activity. This research aimed to explore the experience of 12 manufacturing workers on rotating shift schedules in Greater Jakarta, Indonesia. Through a phenomenological approach, this qualitative study employed 12 participants selected from manufacturing industry shift workers. The participants were selected through purposive sampling whom met the inclusion criteria, namely working in three rotating shift patterns (morning, afternoon, and night shift), aged 20–50 years old, having at least three years of experience in shift work, and able to communicate well. Selection was done with the assistance of the supervisors of the participants working in the manufacturing industry. Thematic analysis yielded three themes: the reasons for working shifts, the effects of shift work, and efforts made to maintain health during working shifts. The findings of this study imply the need for occupational health nursing services as the main intervention at the primary and secondary prevention levels. Occupational health nurses provide occupational health nurs-ing services in the workplace in accordance with the nursing intervention model of fatigue management. Abstrak Suara Pekerja Manufaktur Indonesia dalam Sistem Shift Berputar. Dalam sistem kerja shift, faktor-faktor seperti perubahan pola kerja dan jam kerja dapat berdampak pada masalah kesehatan para pekerjanya. Pekerja shift manufaktur berisiko memiliki berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit kardiovaskuler, gangguan irama sirkadian, gangguan pola kehidupan sosial, stres, didukung oleh perilaku pekerja seperti merokok, diet yang buruk serta aktivitas olah raga yang jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman para 12 pekerja di sector manufaktur di Indonesia, khususnya di daerah Jakarta dan sekitarnya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan berjumlah 12 didapatkan melalui teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi: menggunakan sistem kerja rotasi tiga shift (pagi, sore, dan malam), berusia 20–50 tahun, memiliki pengalaman bekerja sistem rotasi shift minimal tiga tahun, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Proses pemilihan partisipan dilakukan peneliti bersama key person, yaitu supervisor/leader dari beberapa pabrik manufaktur. Analisis tematik yang dilakukan menghasilkan tiga tema: alasan bekerja shift, dampak dari kerja shift, dan upaya para pekerja dalam menjaga status kesehatan. Temuan dari penelitian ini dapat menjadi implikasi bagi kesadaran terhadap perlunya tenaga kesehatan atau perawat di area kerja atau sektor industri sebagai upaya intervensi utama dan sekunder dalam pencegahan kecelakaan kerja untuk para pekerja dan keluarga pekerja melalui model keperawatan manajemen kelelahan kerja (MARI-KERJA). Kata Kunci: kerja shift, pekerja manufaktur, perawat kesehatan kerja, sistem berputar
Luklu Latifah, Ronny Tri Wirasto, Intansari Nurjannah
Background: Coping is an important mediator for teenagers in response to stressors, and video games are widely used by teenagers to reduce the perceived stressors. Senior high school students are the group that commonly play and have a high risk of being addicted to video games. Objective: To determine differences in the risk of video games addiction based on coping strategies in Muhammadiyah 1 Yogyakarta school teenagers. Methods: This research was a quantitative comparative descriptive study with a cross-sectional design conducted on 156 teenagers in Muhammadiyah 1 Yogyakarta school in February 2020. Data were collected using the COPE Inventory and IGDS9-SF. Data analyzed using univariate analysis and bivariate using Kruskal Wallis and a post Hoc test using Mann-Whitney. Results: Most respondents were male (51,3%), aged 16 years old (47,4%), who began playing video games at the age >8 years old (6,4%), have played video games for £4 hours in a day (87,8%), and frequency 1-3 days a week (61,5%). There were no respondents with a risk of video game addiction (0%). Most respondents were classified into uncategorized coping strategies (89,1%). The religious coping component was mostly preferred (mean = 13,55), while substance using ranked the least (mean = 4,49). The results showed a significant difference between the types of coping strategies with video games addiction risk scores (p <0,05). Conclusion: Video games addiction risk scores in SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta teenagers differed significantly based on their coping strategies. ABSTRAK Latar belakang: Koping merupakan mediator penting bagi remaja dalam menanggapi stresor dan video game banyak digunakan oleh remaja untuk mengurangi stresor yang dirasakan. Remaja SMA merupakan kelompok yang kerap bermain dan berisiko tinggi mengalami kecanduan video game. Tujuan: Mengetahui perbedaan risiko kecanduan video game berdasarkan jenis strategi koping pada remaja di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada 156 remaja di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada bulan Februari 2020. Data dikumpulkan menggunakan COPE Inventory dan IGDS9-SF. Analisis data berupa analisis univariat dan bivariat dengan Kruskal Wallis dan uji post hoc menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (51,3%), berusia 16 tahun (47,4%), pertama kali bermain video game pada usia >8 tahun (65,4%), bermain video game dengan durasi £4 jam dalam sehari (87,8%), dan frekuensi 1-3 hari dalam seminggu (61,5%). Tidak ada responden yang memiliki risiko kecanduan video game (0%). Koping tidak terkategori paling banyak digunakan (89,1%). Komponen koping ‘kembali kepada agama’ paling banyak digunakan (mean = 13,55), sementara ‘penggunaan zat’ paling sedikit digunakan (mean = 4,49). Hasil uji beda terdapat perbedaan signifikan antara jenis strategi koping dengan skor risiko kecanduan video game (p<0,05). Simpulan: Skor risiko kecanduan video game pada remaja SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta berbeda secara signifikan berdasarkan strategi koping yang dimiliki.
Nurniati Tianastia Rullyni, Vina Jayanti
WHO estimates that 10.7 million women die from childbirth. About 25-50% are related to labor and puerperal problems. One of the factors that influence labor is the mother's psychology, with the active role of the family during labor can reduce the incidence of complications and achieve safe labor, namely by paying attention to aspects of the mother's affection. Study purposes: Knowing the effect of labor companion on the progress of labor in maternal at PPM in Tanjungpinang city. The design in this study is a quasi-experiment with a post-test only control group design. The study was conducted at PPM throughout Tanjungpinang City, from September to November 2021. Respondents in this study were 68 mothers who indicated normal birth at PPM in Tanjungpinang City, 34 deliveries with a labor companion role and 34 deliveries without a labor companion role. The study tool used is an observation sheet. To find out whether there is an effect of the independent variable and the dependent variable, statistical analysis of the Independent Sample T-Test is used. The results showed that there is a companion effect on labor progress. it is recommended to apply the role of labor pendampimg to each birth process
Antonis Baju Nujartanto
One of the recommended solutions to reduce the spread of the Covid-19 outbreak is the implementation of health protocols, such as washing hands, wearing masks, maintaining social distance, staying away from crowds, and reducing mobility. However, the implementation of health protocols has raised philosophical questions on the meaning of personal freedom. Do health protocols limit or even hinder a person's freedom? This paper aims to look at the meaning of personal freedom in dealing with health protocols during the Covid-19 pandemic. Based on literature studies, the author tries to redefine individual freedom in the context of dealing with a pandemic. Personal freedom is placed in the context of the spirit and efforts to tackle the problems of this pandemic together.
Dina Anjayani
The Minister of Health Regulation (PMK) Number 16 of 2019 concerning Fraud Prevention in the National Health Insurance Program (JKN) as a substitute for Minister of Health Regulation Number 36 of 2015 is still being evaluated and studied in its implementation. According to the mandate of PMK Number 16 of 2019, there is still the possibility of fraud in the implementation of JKN that has not been demonstrated and followed up on by the Fraud Prevention Team (TPF). Analyze PMK policy Number 16 of 2019 and investigate for other policy options so that their implementation works properly. The Bardach Criteria are used in the study to weight the alternative policy options that will be recommended next. The analysis result indicated that PMK Number 16 of 2019 is still stagnant, and optimizing the JKN TPF function is more feasible at this time, particularly that the PMK revision will require more time and be more complicated.
Ryan Adhyatma Cakrawibawa, Kholis Roisah
This research purpose is to analyze the consumer legal protection efforts and reviewing obstacle factor of implementation of consumer protection related to the trademark circulation of the counterfeit health products in Central Java. This research carried out is a empirical research.. The collecting data used are library research and field studies. The results of this study indicate that There so many parties that involved to handle this case in regard with The Consumer legal protection related to the trademark circulation of health product including, Drug and Food Inspection Agency, Health Office, Industry and Trade Office, and Central Java Special Criminal Review of the Central Java Regional Police. The counterfeiting trademark and health products will be handled by the Commercial Court and Drug and Food Inspection Agency. The criminal legal protection by giving penalties to people who have committed crimes and trademark violations. The factors inhibiting the implementation of the consumer legal protection related to the trademark circulation of health product in Central Java: the lack of the public awareness toward the counterfeit trademark of health product and the lack of the public awareness to report the existence of counterfeit drugs to the authorities. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya perlindungan hukum konsumen serta mengkaji faktor penghambat pelaksanaan perlindungan hukum konsumen terkait peredaran merek produk kesehatan palsu di Jawa Tengah. Penelitian yang dilakukan adalah pendekatan normatif-empiris. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi kepustakaan dan studi lapangan. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa Banyak pihak yang terkait dalam menangani kasus tentang perlindungan hukum konsumen terkait peredaran merek dengan produk kesehatan palsu di antaranya, Badan Pemeriksa Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Reserse Kriminal Khusus Kepoisian Daerah. Penanganan merek dan produk kesehatan palsu oleh Pengadilan niaga, Badan Pemeriksa Obat dan Makanan, dan Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia. Perlindungan hukum secara pidana dengan pemberian hukuman kepada orang yang telah melakukan kejahatan dan pelanggaran merek. Faktor penghambat pelaksanaan perlindungan hukum konsumen terkait peredaran merek-merek produk kesehatan di Jawa Tengah: ketidaktahuan masyarakat terhadap merek produk kesehatan palsu dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pelaporan keberadaan obat palsu kepada pihak berwajib.
Asri Werdhasari
Ayuni Adinda, Ade Trisnawati, Novia Fahmi Ayu W et al.
Lipstik biasa dimanfaatkan untuk memberikan warna pada bibir, namun kosmetik ini ternyata menyimpan potensi buruk bagi kesehatan manusia. Beberapa lipstik diduga mengandung logam berat yang berbahaya bagi tubuh manusia seperti timbal (Pb), kromium (Cr), dan kadmium (Cd). Semakin gelap warna lipstik, maka kandungan timbalnya disinyalir semakin tinggi. Efek yang ditimbulkan tidak serta merta tampak pada pemakai lipstik karena kandungan logam beratnya, namun jika bahan-bahan tersebut terakumulasi dalam tubuh maka pada suatu saat akan menimbulkan efek yang besar karena bersifat toksik dan karsinogen. Pada umumnya kandungan logam berat yang nilainya kecil dalam suatu bahan sukar ditentukan keberadaannya dengan pereaksi-pereaksi kimia, tetapi dapat diketahui jumlah dan keberadaannya dengan spektrofotometri serapan atom. Logam berat yang akan dianalisis adalah logam timbal (Pb), kromium (Cr), dan kadmium (Cd). Data diperoleh dengan cara mencatat hasil uji menggunakan alat spektrofotometer serapan atom kemudian dianalisis dengan menggunakan uji-T.
Prima Widayani
Permukiman kumuh adalah perumahan yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai tempat hunian. Tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat, (UU No.1 Tahun 2011). Permukiman kumuh banyak ditemukan di kota-kota besar termasuk di sebagian Kota Yogyakarta, karena tidak layak dari sisi keaman, kesehatan dan tidak sesuai dengan tata ruang kota, maka perlu penanganan kawasan permukiman kumuh ini. Sebagai upaya penanganan kawasan kumuh, dibutuhkan pemantauan kawasan permukiman kumuh secara berkelanjutan, sehingga perlu suatu identifikasi cepat untuk membantu pemetaan kawasan kumuh. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi awal permukiman kumuh menggunakan pendekatan Object Base Image Analysis (OBIA) serta menguji kemampuan interpretasi OBIA dalam melakukan pengenalan permukiman kumuh berdasarkan ciri fisik permukiman. Data yang digunakan berupa Citra Satelit Worldview-2 tahun perekaman 2016, data kawasan kumuh Kota Yogyakarta dari program KOTAKU Yogyakarta, dan data survey lapangan. Alat yang digunakan berupa GPS, computer yang dilengkapi dengan software Ecognition, ENVI dan ArcGIS.10.2. Langkah pertama yang dilakukan sebelum menjalankan proses OBIA adalah mengenali karakteristik permukiman kumuh baik dari studi literatur, perundang-undangan maupun pengamatan lapangan. Berdasarkan studi sebelumnya dapat disusun aturan/kunci interpretasi untuk mendeteksi permukiman kumuh. Hasil identifikasi awal permukiman kumuh menggunakan OBIA dapat dilakukan berdasarkan analisis pola permukiman, kondisi jalan, tekstur, vegetasi dan jarak dengan sungai. Identifikasi permukiman kumuh di wilayah pinggiran sungai berdasarkan kondisi fisik permukiman menggunakan citra Wordview-2 mengasilkan ketelitian sebesar 82,14%. Ketelitian ini dapat dikatakan baik sehingga kedepannya diharapkan dapat membantu identifikasi awal dalam rangka pemetaan permukiman kumuh terutama di wilayah pinggiran sungai ABSTRACT Slums are housing that have decreased the quality of function as dwellings. Uninhabitable due to building irregularities, high levels of building density, and the quality of buildings and facilities and infrastructure that do not meet the requirements, (Act No.1 of 2011). Slum settlements are found in large cities including in parts of Yogyakarta City, because they are not feasible in terms of security, health and are not in accordance with the urban spatial structure, it is necessary to deal with these slums. As an effort to deal with slum areas, it is necessary to monitor slum areas in a sustainable manner, so that a quick identification is needed to assist in mapping the slums. This study aims to initial identification of slums using the Object Base Image Analysis (OBIA) approach and to test the ability of OBIA's interpretation of the introduction of slums based on physical characteristics of settlements. The data used are recording Worldview-2 years Satellite Image 2016, data from Yogyakarta City slum area from Yogyakarta KOTAKU program, and field survey data. The tools used in the form of GPS, computers equipped with Ecognition, ENVI and ArcGIS software.10.2. The first step taken before carrying out the OBIA process is to recognize the characteristics of slums both from literature studies, legislation and field observations. Based on previous studies, rules / key interpretations can be prepared to detect slums. The results of the initial identification of slums using OBIA can be done based on the analysis of settlement patterns, road conditions, texture, vegetation and distance to the river. Identification of slums in the riverside area based on the physical conditions of settlements using Wordview-2 imagery resulted in accuracy of 82.14%. This accuracy can be said to be good so that in the future it is expected to be able to help initial identification in the framework of mapping slum settlements, especially in the riverside areas
Ando Amadino, Rika Susanti, Rudi Afriant
Faktor genetik telah dibuktikan di dalam berbagai penelitian, merupakan penyebab penyakit hipertensi esensial dan diyakini dengan melihat dermatoglifinya dapat diperkirakan kemungkinan seseorang terkena penyakit ini. Beberapa penelitian telah mendapatkan hasil signifikan untuk pola loop dan whorl sebagai pola penanda kemungkinan hipertensi esensial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pola dermatoglifi pada penderita hipertensi esensial. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif terhadap 100 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan mengoleskan tinta berwarna gelap pada ujung jari tangan dan dicetakkan di atas kertas dengan cara digulingkan. Subjek penelitian ini telah didiagnosis hipertensi esensial oleh dokter. Hasil penelitian didapatkan bahwa penderita hipertensi esensial terbanyak pada kelompok umur 51-60 tahun. Frekuensi pola tertinggi adalah pola loop (50,2%). Frekuensi tertinggi total sulur rata-rata terdapat lebih dari 20 sulur (31%). Jumlah triradius normal dan berfungsi sebagai patokan dalam menghitung jumlah sulur. Penelitian ini memperlihatkan bahwa frekuensi tertinggi didapat adalah pola loop, tingginya jumlah sulur rata-rata dan jumlah triradius normal pada penderita hipertensi esensial.
Teddy Kurniawan, Asril Zahari, Aswiyanti Asri
Karsinoma kolorektal memiliki angka insiden yang cukup tinggi di Indonesia yang merupakan kanker tersering kedua pada pria dan kanker ketiga terbanyak pada wanita. Kanker ini lebih sering terjadi pada usia lanjut namun juga bisa terjadi pada usia muda. Jenis histopatologi dan kedalaman invasi merupakan beberapa faktor prognostik penting karsinoma kolorektal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan perbedaan usia dengan gambaran histopatologis dan kedalaman invasi dari penderita karsinoma kolorektal di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan desain cross sectional study. Data diambil dari hasil pemeriksaan histopatologis pasien karsinoma kolorektal selama periode 2008 sampai 2012. Kemudian dilakukan pencatatan mengenai usia, jenis histopatologis dan kedalaman invasi untuk diuji hubungannya secara statistik. Hasil studi mendapatkan jenis adenokarsinoma musinosa dan karsinoma signet ring cell memiliki persentase yang lebih tinggi pada usia dibawah 50 tahun kebawah dan secara statistik menunjukkan hubungan yang bermakna p<0,05 (p=0,001). Karsinoma yang sudah menginvasi lapisan serosa memiliki persentase yang lebih tinggi pada individu diatas 50 tahun, namun secara statistik tidak ditemukan hubungan yang bermakna (p=0,640).
Fathiyah Safithri
Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia pada posisi kelima di dunia dengan perkiraan jumlah penderita TB sebesar 429.000 orang atau 5,8% dari total jumlah pasien TB di dunia. Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran atas lainnya. TB sebagai penyakit infeksi menular juga membawa dampak ekonomi karena kelompok usia terbanyak yang tertular adalah usia 15-45 tahun. Prinsip diagnosis dan penatalaksanaan di berbagai belahan dunia adalah sama, yaitu mulai dari diagnosis yang akurat, pengobatan yang sesuai standart, monitoring, dan evaluasi pengobatan serta tanggung jawab kesehatan masyarakat. Ketepatan diagnosis sangat menentukan keberhasilan tahap pelaksanaan TB berikutnya. International Standarts of Tuberculosis Care (ISTC)( yang dikembangkan oleh organisasi profesi internasional, telah diadopsi oleh Program Penanggulangan Tuberculosis Nasional dan Ikatan Dokter Indonesia termasuk Perhimpunan Dokter Spesialis (PDSp). ISCT disepakati digunakan di Indonesia dalam penanggulangan pasien TB.
Halaman 31 dari 19441