Budiman
Hasil untuk "kesehatan"
Menampilkan 20 dari ~388810 hasil · dari CrossRef, DOAJ, Semantic Scholar
Devi Aprilia, Fahmi Ichwansyah, Basri Aramico
Background: Mental health is an important public health problem in Indonesia due to its high prevalence and the economic and social impacts it causes. The magnitude of suffering and burden in the form of disability and costs that must be borne by families and communities is truly astonishing. In recent years, the world has become increasingly aware of this enormous burden and potential for mental health, so that special attention is needed to address mental health problems. Purpose: To analyze factors related to mental health problems in health workers in hospitals. Method: This analytical descriptive study used a cross-sectional design to analyze factors related to mental health problems in health workers at the class IV IM 06.01 Lhokseumawe Regional General Hospital for the period 24-30 June 2024. The study sample was collected using a simple random sampling technique of 170 respondents, excluding officers who were pregnant and on a diet. The independent variables in this study include: Body Mass Index (BMI), age, gender, education, marital status, social support, and hypertension, while the dependent variable is mental health problems (depression, anxiety, and stress). Data collection was carried out directly through observation and interviews with respondents using a questionnaire instrument. Results: The variables of age, social support, BMI, hypertension, physical activity, diet, length of service, and job satisfaction have a correlation with the occurrence of mental health problems with a p value <0.05, while the variables of gender, marital status, and profession do not predominantly influence mental health problems (p value > 0.05). The majority of respondents have normal mental health as much as 70.6%, do not experience depression as much as 68.8%, do not experience anxiety as much as 68.82%, and are not stressed as much as 67.1%. Conclusion: The variables of age, social support, BMI, hypertension, physical activity, diet, length of service, and job satisfaction have a correlation with the occurrence of mental health problems. In contrast, the variables of gender, marital status, and profession do not predominantly influence mental health problems. Suggestion: Health services can organize training and education programs on the importance of a healthy lifestyle, including balanced nutrition and the benefits of physical activity. Keywords: Health Workers; Hospitals; Mental Health. Pendahuluan: Kesehatan mental merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia karena prevalensinya yang tinggi serta dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan. Besarnya penderitaan dan beban dalam hal kecacatan dan biaya yang harus ditanggung, baik keluarga maupun masyarakat sangat mengejutkan. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menjadi semakin sadar akan beban dan potensi yang sangat besar ini untuk kesehatan mental, sehingga perlu adanya perhatian khusus terhadap permasalahan kesehatan mental. Tujuan: Untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan masalah kesehatan mental pada petugas kesehatan di rumah sakit. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan desain cross sectional untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan masalah kesehatan mental pada petugas kesehatan di Rumah Sakit TK IV IM 06.01 Lhokseumawe pada tanggal 24-30 Juni 2024. Sampel penelitian dikumpulkan menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 170 responden, dikecualikan untuk petugas yang sedang hamil dan menjalani diet. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi: Indeks Massa Tubuh (IMT), usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, dukungan sosial, dan hipertensi, sedangkan variabel dependen yaitu masalah kesehatan mental (depresi, kecemasan, dan stress). Pengumpulan data dilakukan secara langsung melalui observasi dan wawancara kepada responden menggunakan instrumen kuesioner. Hasil: Variabel usia, dukungan sosial, IMT, hipertensi, aktivitas fisik, pola makan, lamanya bekerja, dan kepuasan kerja memiliki korelasi terhadap terjadinya masalah kesehatan mental dengan p-value <0.05, sedangkan variabel jenis kelamin, status pernikahan, dan profesi kerja tidak secara dominan memengaruhi masalah kesehatan mental (p-value >0.05). Mayoritas responden memiliki kesehatan mental yang normal sebanyak 70.6%, tidak mengalami depresi sebanyak 68.8%, tidak mengalami kecemasan sebanyak 68.82%, dan tidak stres sebesar 67.1%. Simpulan: Variabel usia, dukungan sosial, IMT, hipertensi, aktivitas fisik, pola makan, lamanya bekerja, dan kepuasan kerja memiliki korelasi terhadap terjadinya masalah kesehatan mental. Disisi lain, variabel jenis kelamin, status pernikahan, dan profesi kerja tidak secara dominan memengaruhi masalah kesehatan mental. Saran: Layanan kesehatan dapat menyelenggarakan program pelatihan dan edukasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat, termasuk nutrisi seimbang dan manfaat aktivitas fisik. Kata Kunci: Kesehatan Mental; Petugas Kesehatan; Rumah Sakit.
Pratia Mega, Aspitriani, Ika Kartika Edi Poedjo Purnamawati et al.
BRAF V600E mutation in thyroid cancer is of major concern because it is associated with increased tumor aggressiveness through the MAPK pathway activation that affects phenotypic characteristics such as morphology and tissue invasion patterns. The results of studies on the effects of this mutation often vary and are influenced by differences in study design and detection methods. This systematic review aims to clarify the relationship between BRAF V600E and phenotypic characteristics of PTC, as well as identify its clinical implications. This study method was a systematic literature review using the PRISMA method, and there were 8418 journals. After exclusion, 16 articles were found that met the research objectives. Based on the results, it was found that there was a relationship between BRAF V600E and thyroid cancer phenotypes such as female gender, older age at diagnosis, larger tumor size, histological subtypes, especially tall cell, higher nuclear score, capsule, extrathyroid, vascular, nerve invasion, lymph node metastasis, higher clinical stage, recurrence, and lower survival. However, there are other inconsistent studies regarding the association of BRAF V600E with these phenotype characteristics. BRAF V600E mutation significantly affects the phenotypic characteristics of thyroid cancer and is associated with several aggressive characteristics.
Isti Wulan Sari, Zuhrupal Hadi, Edy Ariyanto et al.
Pelayanan home care di UPTD Puskesmas Uren dilakukan oleh tim kesehatan dengan penanggungjawab seorang dokter. Adanya home care membantu masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Uren untuk memperoleh pelayanan kesehatan di rumah. Tujuan penelitian mengetahui hubungan kualitas pelayanan kesehatan terhadap kepuasan pasien home care di UPTD Puskesmas Uren Kabupaten Balangan Tahun 2025. Metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi semua pasien yang telah menerima pelayanan kesehatan home care sebanyak 206 pasien, sampel sebanyak 67 responden menggunakan simple random sampling, uji chi square. Hasil penelitian pasien puas sebanyak 36 orang (53,7%), bukti fisik proportionate stratified random sampling, uji chi square. Hasil penelitian pasien tidak puas sebanyak 35 orang (52,2%), bukti fisik baik sebanyak 41 orang (61,2%), kehandalan baik sebanyak 43 orang (64,2%), ketanggapan baik sebanyak 36 orang (53,7%), jaminan baik sebanyak 35 orang (52,2%), empati baik sebanyak 38 orang (56,7%). Ada hubungan bukti fisik (p=0,049), kehandalan (p=0,043), ketanggapan (p=0,000), jaminan (p=0,005), dan empati (p=0,008) < 0,05, dengan kepuasan pasien home care di wilayah kerja UPTD Puskesmas Uren. Disarankan pasien pasien dapat terbuka pada petugas akan keluhan dan kebutuhan agar petugas dapat merespon dengan tepat dan cepat.
Hafidh Taufiq Alhakim, Deddy Saputra, Hendriati Hendriati et al.
Latar Belakang: Angka kejadian cidera pada bagian kepala dan wajah terus meningkat tiap tahunnya. Fraktur tulang wajah terkait dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan karena regio tersebut memiliki fungsi vital seperti, otak, rongga mulut, hidung, dan saluran napas. Keadaan cidera wajah yang berat dapat berisiko menyebabkan kecacatan seperti gangguan fungsi dan estetika wajah. Objektif: mengetahui karakteristik pasien fraktur tulang wajah di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel penelitian diambil dengan Teknik simple random sampling. Sampel penelitian ini adalah data sekunder pasien fraktur tulang wajah di RSUP Dr. M. Djamil pada tahun 2020-2022. Sebanyak 99 sampel memenuhi kriteria. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan persentase. Hasil: Karakteristik pasien fraktur tulang wajah paling banyak berjenis kelamin laki-laki (76,7%), pada kelompok usia 17-25 tahun (33,3%), dan merupakan pelajar atau mahasiswa (41,4%). Etiologi fraktur tulang wajah paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (87,8%). Fraktur tulang wajah yang sering terjadi adalah fraktur tulang wajah multipel (38,3%). Sebagian besar pasien fraktur tulang wajah memiliki lama rawat inap kurang dari 10 hari (69,9%). Kesimpulan: pasien fraktur tulang wajah sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, paling banyak kelompok usia 17-25 tahun, dan merupakan pelajar atau mahasiswa. Etiologi fraktur tulang wajah sebagian besar disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Lokasi fraktur tulang wajah paling banyak terjadi adalah fraktur tulang wajah multipel. Lama rawat inap pasien fraktur tulang wajah paling banyak selama kurang dari 10 hari. Kata kunci: bedah, fraktur, tulang wajah
Putu Ayu Krisna Widiantari, Rima Kusuma Ningrum, Ni Wayan Diana Ekayani
Dua sistem penilaian dalam pendidikan yaitu penilaian sumatif dan penilaian formatif. Salah satu contoh penilaianformatif ialah progress test yang dilaksanakan satu kali dalam satu tahun di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Warmadewa. Progress test bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kompetensi yang sudah dikuasai oleh mahasiswa, menstimulasi retensi jangka panjang dan merangsang perilaku belajar mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai progress test dan indeks prestasi mahasiswa angkatan 2017 FKIK Universitas Warmadewa. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2017 FKIK Unwar sejumlah 95 orang namun yang memenuhi kriteria inklusi sejumlah 76 orang dan 2 orang dikeluarkan berdasarkan kriteria eksklusi sehingga populasi akhir adalah 74 orang. Penelitian menggunakan data sekunder mencakup nilai progress test, IPS semester ganjil dan IPK. Data sekunder akan diolah menggunakan aplikasi SPSS. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p<0.05) antara nilai progress test dan indeks prestasi dengan tingkat kekuatan lemah (r=0,20-0,39), sedang (r=0,40-0,59) hingga sangat kuat (r=0,80-1). Rerata nilai progress test angkatan 2017 adalah 31,2. Rerata indeks prestasi semester ganjil mahasiswa angkatan 2017 adalah 3,49. Rerata indeks prestasi kumulatif angkatan 2017 adalah 3,47. Saran yang dapat diberikan agar mahasiswa mengerjakan ujian dengan sungguh sungguh sehingga nilai progress test dapat menggambarkan kemampuan kognitifnya.
Yonatan Stiyawan, Asmaripa Ainy
Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Penggunaan layanan kesehatan juga merupakan tujuan dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi faktor sosio demografi peserta JKN dengan penggunaan layanan kesehatan. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel 110 orang dengan teknik sampling yaitu cluster random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi square, dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan status pekerjaan (p-value=0.002), status pendidikan SMA (p-value=0.001), status pendidikan Perguruan Tinggi (p-value=0,004), jenis kelamin (p-value=0.024), dan riwayat sakit (p-value=0.000) dengan penggunaan layanan kesehatan. Dalam pemodelan multivariat, variabel yang dominan berhubungan dengan penggunaan layanan kesehatan adalah variabel riwayat sakit dengan AOR=3.880. Studi ini menunjukkan bahwa determinan penggunaan layanan kesehatan pada peserta JKN adalah riwayat sakit setelah dikontrol oleh variabel status pekerjaan dan status pendidikan.
Elmina Tampubolon, Vierto Irennius Girsang
Pandemi Covid-19 di Indonesia menyebabkan tidak terlaksananya beberapa pelayanan kesehatan dasar khususnya Posyandu sehingga dapat menghambat tercapainya target nasional tahun 2024 yaitu menurunkan angka stunting menjadi 14%. Tujuan penelitian adalah menganalisis determinan kejadian stunting pada anak balita di era pandemi Covid-19 di daerah kerja Puskesmas Pirak Timu Kabupaten Aceh Utara. Jenis penelitian adalah kuantitatif analitik. Sampel penelitian ini adalah ibu balita stunting yang tinggal di area kerja Puskesmas Pirak Timu Kabupaten Aceh Utara sebanyak 65 orang. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai Januari 2022. Data disajikan berdasarkan hasil analisis univariat yaitu distribusi frekuensi setiap variabel), analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square, dan multivariat dengan menggunakan uji statistik regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan riwayat ASI Ekslusif, pola makan, pengetahuan, dan pendapatan berhubungan dengan stunting pada balita dan variabel yang paling berhubungan adalah pendapatan. Kesimpulan yang didapatkan adalah pendapatan, pengetahuan, pemberian ASI dan pola makan adalah faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita di era Covid 19.
Freddy Pattiselanno, Budi Santoso, Odiktur Marani
Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon masyarakat terhadap dampak peternakan babi yang dipelihara secara umbar di Kampung Gaya Baru. Penelitian ini di lakukan pada bulan Mei-Juni 2018. Respon masyarakat diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner berbasis skala Likert dan observasi langsung di lapangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung, wawancara dan studi kepustakaan dengan analisis data statistik deskriptif menggunakan skala likert serta perangkat lunak Microsoft Excel. Hasil perhitungan selanjutnya ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik, serta dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian terhadap persepsi masyarakat di Kampung Gaya Baru dan wilayah sekitar Pasar Wosi berada pada kategori terganggu dengan total nilai persepsi 1529. Responden dapat bertahan sampai dengan saat ini karena mereka cepat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada.
Yasintha Rahma Naura, Annisa Safira, Dewi Larasati
Abstrak_ Isu pemanasan global semakin menghangat disemua bidang kehidupan. Kondisi lingkungan semakin hari mengalami kerusakan parah yang disebabkan oleh pemanfaatan sumber daya alam terlalu berlebihan. Lahan tanah pun semakin berkurang akibat tingkat pertumbuhan populasi manusia yang semakin meningkat dan cenderung bersifat destruktif terhadap lingkungan sekitar tanpa melihat keberlanjutannya. Maka penting untuk diterapkannya bentuk arsitektur bangunan yang harus berempati, tanggap, dan menyajikan solusi dalam mengurangi dampak lingkungan. Salah satunya ialah mempersatukan bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui poin-poin penting dalam menerapkan bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan/eco-house dengan melihat dari gaya hidup dan kebiasaan responden/masyarakat, sehingga dapat menemukan kriteria dasar pada perancangan rumah eco-house yang sesuai dengan preferensi masyarakat. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode pengumpulan data primer melalui kuesioner daring yang memiliki sifat terbuka (open-ended) dan disebarkan secara bebas (non-random sampling). Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan analisis isi yang terdiri dari 3 tahapan yaitu open-coding, axial coding dan selective coding. Hasil analisis menunjukkan 4 (empat) isu penting terkait preferensi masyarakat dalam penerapan hunian ramah lingkungan yaitu efisiensi energi dan efisiensi biaya, kepedulian lingkungan, kenyamanan, dan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan harapan yang cukup besar terhadap implementasi yang lebih luas penerapan rumah ramah lingkungan karena preferensi masyarakat sebagian besar menunjukkan kepedulian dan hanya sedikit yang masih memiliki ketidakpedulian terhadap isu tersebut, maka dari itu masih perlu ketegasan untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan Go Green agar semua masyarakat dapat memahami dan mengaplikasikan, karena dampak dari pengaplikasiannya dapat berpengaruh untuk kehidupan kita di masa depan. Kata kunci: Eco-House; Gaya Hidup; Hemat Energi; Isu Prioritas; Preferensi; Ramah Lingkungan. Abstract_ The issue of global warming is getting hotter in all areas of life. Environmental conditions are increasingly experiencing severe damage caused by excessive use of natural resources. Land is also decreasing due to the increasing rate of human population growth and tends to be destructive to the surrounding environment regardless of its sustainability. So it is important to implement a building architectural form that must be empathetic, responsive, and present solutions in reducing environmental impacts. One of them is to unite buildings that are energy efficient and environmentally friendly. The purpose of this research is to find out the important points in implementing an energy-efficient and environmentally friendly building/eco-house by looking at the lifestyle and habits of the respondents/community, so as to find the essential criteria for designing an eco-house that is in accordance with community preferences. The research was conducted qualitatively with the primary data collection method through an online questionnaire which has an open-ended nature and is distributed freely (non-random sampling). The data obtained will be analyzed using content analysis which consists of 3 stages, namely open-coding, axial coding and selective coding. The results of the analysis show 4 (four) important issues related to community preferences in the application of environmentally friendly housing, namely energy efficiency and cost efficiency, environmental care, comfort, and health. The results of the study show that there is considerable hope for a wider implementation of the application of environmentally friendly homes because most of the community's preferences show concern and only a few still have ignorance of the issue, therefore it still needs firmness to socialize and campaign for Go Green so that all people can understand and apply, because the impact of its application can affect our lives in the future. Keywords: Eco-House; Lifestyle; Energy saving; Priority Issues; Preference; Environmentally friendly.
Rosita Silfiani
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana semua warga negara memiliki hak yang sama dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik secara langsung maupun perwakilan. Begitu halnya dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pengguna BPJS kesehatan mereka juga mempunyai hak dan kebebasan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang baik. Pelayanan kesehatan merupakan sebuah pelaksanaan pemeliharaan kesehatan dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang baik untuk individu maupun masyarakat dengan secara optimal. Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) adalah badan hukum public yang bertanggung jawab kepada presiden dan berfungsi menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia.
Arif Fachrian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiric gambaran Psychological Capital dan Work Engagement pada karyawan Yayasan Medan Plus Medan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan Purposive Sampling dan didapatkan sebanyak 48 orang. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu skala Psychological Capital dan skala Work Engagement. Teknik analisis data yang digunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan dari 48 orang. Hasil penelitian menunjukan dari 48 orang yang memiliki self efficacy dalam kategori tinggi sebanyak 31 orang, sedang 16 orang dan rendah 1 orang. Optimism dalam kategori tinggi sebanyak 30 orang, sedang 18 orang dan rendah 0 orang. Hope dalam kategori tinngi sebanyak 25 orang, sedang 20 orang dan rendah 3 orang. Resiliency dalam kategori tinggi sebanyak 35 orang, sedang 11 orang dan rendah 2 orang. Work Engagement dari 48 orang yang memiliki Vigor dalam kategori tinggi sebanyak 40 orang, sedang 8 orang dan rendah 0 orang. Absorption yang memiliki kategori tinggi sebanyak 38 orang, sedang7 orang dan rendah 3 orang. Dedication dalam kategori tinggi sebanyak 40 orang, sedang 5 orang dan rendah 3 orang.
Sumiyati Tarniyah, Laili Nur Hidayati
in spirituality rather than young people. This study aimed to identify the relationship between spiritual behavior and the stress levels of 152 high school students, using a descriptive correlation research design. The data collection techniques involved a spiritual dimension scale questionnaire and the Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42). The data were analyzed using Spearman's rho correlation test. The results show that the spiritual behavior distribution was mostly in the moderate category (53.3%), and stress level distribution was primarily in the normal category (63.8%). The finding also revealed that there was no correlation between spiritual behavior and stress levels in high school students. These results may differ from the previous studies. Although stress in this group showed a normal category, their mental health needs to be considered given the amount of stressors adolescents may face. Abstrak Perilaku Spiritual dan Stres pada Remaja: Studi Awal. Spirituaitas seringkali dikaitkan dengan kesehatan mental, termasuk stres. Kelompok usia tua cenderung banyak terlibat dalam kegiatan spiritual dibanding kelompok usia muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara perilaku spiritual dengan tingkat stres pada 152 siswa sekolah menengah atas, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi. Teknik pengumpulan data meng-gunakan kuesioner skala dimensi spiritual dan Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42). Analisis data meng-gunakan uji korelasi Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku spiritual mereka sebagian besar dalam kategori sedang (53,3%), dan distribusi tingkat stres terutama dalam kategori normal (63,8%). Penelitian ini mengungkapkan tidak ada hubungan antara perilaku spiritual dengan tingkat stres pada remaja. Hasil ini mungkin berbeda dengan banyak penelitian sebelumnya. Meskipun stres pada kelompok ini menunjukkan kategori normal, tetapi kesehatan mental mereka perlu diperhatikan mengingat banyaknya stresor yang mungkin dihadapi remaja. Kata Kunci: perilaku spiritual, remaja, stres
Cecep Dani Sucipto
Putri Alawiyah, Dian Safriantini
Health care usually is focused on first-level health services (Puskesmas) to reduce the cost of health care covered by the BPJS Kesehatan. The quarterly visiting data of Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) participants in the Inderalaya Puskesmas show a fluctuating trend. The objective of this study is to analyze the level of attribute towards the quality of health care service to the outpatient covered by JKN in the Inderalaya Puskesmas throughout 2018. This study employs a quantitative descriptive research method using Importance-Performance Analysis (IPA). The sample of this study were 122 JKN participants chosen by accidental sampling in the site. Data gathering was conducted with the questionnaires of expectation and reality consisting of eight quality dimensions and 30 attributes of statements. The overall conformity level in this study is 94.16%. The study found many respondents are dissatisfied with five care namely effectiveness (93.14%), physical/direct evidence (91.93%), reliability (93.86%), responsiveness (93.07%), and insurance (93.24%). Results of the cartesian-diagram analysis suggest that from 30 attributes, there were four attributes in the A quadrant, 12 attributes in the B quadrant, 11 attributes in the C quadrant, and three attributes in the D quadrant.
Ikhwan Yuda Kusuma, Kusnandar Anggadiredja
Pembangunan di bidang kesehatan dipengaruhi pertumbuhan penduduk. Provinsi Jawa Barat memiliki populasi penduduk terbanyak di Indonesia. Upaya pemerintah menekan laju pertumbuhan penduduk ialah melalui optimalisasi penggunaan kontrasepsi pada program Keluarga Berencana (KB). Metode kontrasepsi terbanyak di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung dengan KB oral dan KB suntik. Optimalisasi kinerja tenaga kesehatan diperlukan agar mampu memberikan informasi yang relevan kepada akseptor KB untuk meningkatkan kepatuhan. Interprofessional Education (IPE) merupakan satu upaya mewujudkan program pelayanan KB yang berkualitas, melalui peningkatan kompetensi pelayanan KB. Kolaborasi interprofesi diharapkan mampu memberikan peningkatan kompetensi, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerjasama secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan tenaga kesehatan (apoteker, asisten apoteker, dokter, perawat, bidan, dan Sarjana Kesehatan Masyarakat) di Puskesmas yang bertanggungjawab dan berkaitan langsung dalam pelayanan KB dan Petugas Lapangan KB (PLKB) penanggungjawab di tingkat kecamatan terkait obat kontrasepsi oral dan suntik serta mengevaluasi persepsi tenaga kesehatan terhadap IPE di kota Bandung. Metode penelitian ini adalah eksperimental tipe one group pre-post test design. Hasil analisis menunjukkan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan, sebanyak 5 orang mengalami penurunan, 152 orang mengalami peningkatan dan 4 orang tidak mengalami perubahan. Sedangkan hasil analisis mengenai persepsi tenaga kesehatan terhadap IPE, sebanyak 22 orang mengalami penurunan, 114 orang mengalami peningkatan, dan 25 orang tidak mengalami perubahan. Kesimpulan penelitian ini ialah IPE Focus Group Discussion secara signifikan mampu meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan tentang KB oral dan suntik serta secara signifikan meningkatkan persepsi untuk berkolaborasi antar profesi.
Risa Supriningrum, Achmat Kadri Ansyori, Dewi Rahmasuari
Empirically, kawao (Millettia sericea) leaves are used to treat fever and toothache. The development of medicinal plants into traditional medicines needs to be pursued. The first step that can be taken is characterization. Characterization is useful for knowing the quality of a simplicia, so that these results can be used as a reference for further research development. The research objective was to determine the specific and non-specific characteristics of kawao leaf simplicia. The research that was conducted was non-experimental research. The research stages included plant determination, manufacturing of simplicia, testing of specific and non-specific characteristics of simplicia. The results of the specific characterization of the macroscopic / organoleptic test showed that the leaves were elongated, dark green in color, had a distinctive smell (aromatic), bitter taste, pinnate leaf bone arrangement, tapered leaf tips, rounded leaf base, flat leaf edge, thick leaf flesh, leaf width 8 - 9.5 cm and 21 - 27 cm long. The simplicia powder is dark green, has a distinctive smell (aromatic) and has a bitter taste. Microscopic test showed that the identifier of simplicia consisted of vascular bundles, lower epidermis, anomocytic type stomata, hair covering and parenchyma. The average water soluble extract content was 35.5%, the ethanol soluble extract content was 10.5%, and the phytochemical screening results were positive for alkaloids, flavonoids, tannins, saponins and steroids. The non-specific characteristics of the water content averaged 6.75%, the total ash content was 4.28% on average, the acid insoluble ash content was 1.47% on average. Keywords: Millettia sericea leaves, specific characterization, non specific characterization
Dini Agustina, Siti Marissa Aisyah, Ika Rahmawati Sutejo et al.
Background: Escherichia coli (E. coli) is a rod-shaped gram-negative bacterium included in Multi Drug Resistant (MDR) bacteria. There are several strategies in place to prevent and treat E. coli bacterial infections to reduce some the incidences of MDR. One of them is the development of a protein-based vaccine. Pili is one of virulence factors in E. coli surface proteins that can mediate attachments of bacteria to host cells (adhesin or hemagglutinin) and can be used as protein-based vaccine candidates. Objective: This study aims to determine characterization of pili protein with molecular mass of 85 kDa Escherichia coli bacteria as an adhesin and a hemagglutinin. Methods: This study is a true experimental laboratories and a descriptive study to determine roles of pili protein with molecular mass of 85 kDa as an adhesin and a hemagglutinin. Samples used in this study were a stock of E. coli in the Microbiology Laboratory Faculty of Medicine, Universitas Negeri Jember (UNEJ). A hemagglutination test in this study used mouse erythrocytes while an adhesion test used mouse enterocytes. Isolation and purification of E. coli pili protein, isolation of mouse erythrocytes, isolation of mouse enterocytes, the hemagglutination test and the adhesion test were methods in this study. A data analysis with a correlation-regression was used to determine relationships between the adhesion index and titer pili 85 kDa with a limit of significance, 0.05 (p <0.05). Results: The hemagglutination test showed no ability of agglutination with the formation of red aggregate points starting from the first dilution. An analysis with Pearson correlation indicated a relationship between titer pili 85 kDa E. coli and adhesion index (p = 0.009; R = -0.921). Conclusion: Pili protein 85 kDa E. coli plays a role as an adhesin protein and do not have a role as a hemagglutinin protein.
Arinda Zahra Puspitasari, Erna Waty
Primary health cares facility called as FKTP as partners of social health insurance organization called BPJS Kesehatan to provided basic health services. It is important to paid attention for FKTP satisfaction toward BPJS Kesehatan to optimized health services that gave to public. One of the factors that influence satisfaction is perceived quality, which is perception of services. The main purposed of this research is to analyze the correlation between satisfaction and perceived quality included professionalism and skills, attitude and behavior, accessibility and flexibility, reliability and truthworthiness, recovery, reputation and credibility. This research is an observational research with cross sectional design. Sample was determined by using the total population method involving 35 FKTP in East Surabaya area consisting of puskesmas and primary health clinic. This research used the primary data obtained from the questionnaire. The results of research shows that most FKTP is satisfied. The result of the correlation between variable reliability and trustworthiness; reputation and credibility with satisfaction is strong, attitudes and behavior; recovery with satisfaction is quite strong, and professionalism and skill; accessibility and flexibility with satisfaction is low. Needs improvement for recovery aspects about the existence of a fast and responsive complaint handling system with assignation BPJS Kesehatan employee in every FKTP for direct complaints handling that related to JKN-KIS program.
Ria Maryanti, Netti Suharti, Arni Amir
Kran air dan tombol flush kloset merupakan kelengkapan toilet umum dan sering digunakan masyarakat. Penggunaan toilet umum terutama kran air dan tombol flush kloset yang bergantian oleh masyarakat dapat menjadi media tempat hidup bakteri dan penularan penyakit, tetapi menjadi terabaikan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bakteri pada kran air dan tombol flush kloset di toilet umum Fakultas Kedokteran Universitas Andalas tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan pada bulan Juli 2017-April 2018. Populasi penelitian adalah toilet umum di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak eksklusi. Analisis pada 48 sampel, didapatkan bakteri pada kran air adalah Bacillus sp. 18 isolat, E.coli 2 isolat, Klebsiella sp. 2 isolat, dan S. aureus 2 isolat. Bakteri pada tombol flush kloset adalah Bacillus sp. 14 isolat, E. coli 4 isolat, Klebsiella sp. 2 isolat, S. aureus 3 isolat, dan P. aeruginosa 1 isolat. Pada penelitian ini disimpulkan bakteri yang ditemukan adalah Bacillus sp. sebanyak 32 (66,67%), E. coli 6 (12,50%), S. aureus 5 (10,42%), Klebsiella sp.4 (8,33%), dan P. aeruginosas 1 (2,08%). Oleh karena itu, bagi pengguna toilet diharapkan mencuci tangan menggunakan air dan sabun, sedangkan bagi petugas kebersihan diharapkan membersihkan kran air dan tombol flush kloset.
Halaman 29 dari 19441