Oral and dental health problems in early childhood remain a major public health concern worldwide, including in Indonesia. Early Childhood Caries (ECC) is one of the most common oral health problems among preschool children and may negatively affect quality of life and child development. Preventive efforts to address oral health problems in early childhood cannot be separated from the role of parents, as children are highly dependent on parental guidance in forming daily health behaviors. Parental oral health care behaviors, such as supervising toothbrushing, regulating the consumption of cariogenic foods, and utilizing dental health services, represent an essential component of family-based health promotion strategies. This review aims to analyze parental oral health care behaviors as part of health promotion efforts for early childhood based on studies published between 2020 and 2025. A narrative literature review approach was applied by searching scientific articles through Google Scholar, PubMed, and DOAJ databases. Included articles focused on parental roles, knowledge, and behaviors related to early childhood oral health care and their contribution to the prevention of oral health problems. The findings indicate that parental oral health care behaviors are significantly associated with early childhood oral health status. Parents with higher levels of knowledge and health literacy tend to implement more consistent and preventive oral health practices for their children. In addition, health promotion interventions involving parents have been shown to be effective in improving children’s oral health behaviors and reducing the risk of oral health problems. This review concludes that parental oral health care behavior is a key component of early childhood health promotion and should be strengthened through sustainable family-based education and empowerment strategies
Padang Timur District has the second-highest number of cases of child violence in Padang City, with 50% occurring in elementary school students and below. This program aims to improve students' knowledge about bullying prevention at SDIT Cendikia Andalas, one of the elementary schools in Padang Timur District. This activity uses a pre-experimental method with a One-Group Pretest–Posttest Design. The target of this activity is 23 fifth-grade students. The use of engaging media, such as the Snakes and Ladders game, to educate elementary school-aged children about bullying is one effective way to improve their knowledge. Evaluation of student knowledge is conducted using pretest and posttest questionnaires, which are then analyzed using a paired t-test. The results of the activity show that students' knowledge increased after playing the Snakes and Ladders game, as indicated by an increase in the average score from 17.00 (pretest) to 19.52 (posttest) with a p-value of 0.000. These findings suggest that the game is effective in enhancing students' understanding of various forms of bullying and strategies for prevention. Using the Snakes and Ladders game as a teaching tool is a good way to teach elementary school children how to prevent bullying. As an applied recommendation, this media can be used by teachers and schools as an engaging learning tool to strengthen bullying prevention efforts in the classroom.
ABSTRACT Background: Dengue fever has become a serious global public health challenge. According to the WHO, dengue fever cases have increased over the past five years. With the rising number of cases, prevention efforts are necessary to avoid contracting this disease. Although a vaccine for dengue fever is available, not everyone can access it. An equally effective preventive measure is health promotion, and one medium for health promotion is animated videos. Methods: This study is a quantitative research using a Pre-experimental design (One Group Pretest-Posttest). The statistical test used is the Paired Sample T Test. The sample consists of 92 students. Results: The findings show a significant increase in knowledge. Before watching the animated video, 56.5% of students had poor knowledge, while after watching the video, 60.9% had good knowledge, with a p-value of 0.000 (p<0.05). Conclusion: The results of this study suggest that animated video media can be an effective health promotion tool to improve knowledge of dengue fever among students at SMP Negeri 28 Batam. Keywords: Health Promotion, Animated Video, Knowledge
Hukum kesehatan memainkan peran penting dalam sistem kesehatan, berfungsi untuk melindungi hak pasien dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Di Indonesia, meskipun perkembangan hukum kesehatan telah menunjukkan kemajuan, masih terdapat berbagai tantangan yang menghambat implementasinya secara efektif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis hukum kesehatan dalam konteks penyampaian layanan kesehatan dan perlindungan hak pasien, serta mengidentifikasi tantangan yang ada dan solusi potensial.Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data dari berbagai sumber, termasuk literatur hukum, kebijakan kesehatan, dan wawancara dengan praktisi kesehatan. Temuan menunjukkan bahwa meskipun terdapat regulasi yang mendukung perlindungan hak pasien, banyak individu dan profesional kesehatan yang kurang memahami hukum kesehatan. Selain itu, kompleksitas birokrasi dan kurangnya koordinasi antar lembaga menjadi hambatan signifikan dalam implementasi hukum kesehatan.Untuk mengatasi tantangan ini, artikel ini merekomendasikan peningkatan pendidikan dan sosialisasi mengenai hukum kesehatan bagi masyarakat dan profesional kesehatan. Selain itu, perbaikan regulasi dan kebijakan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat juga diperlukan. Kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, dan masyarakat sipil sangat penting untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih baik.Dengan demikian, hukum kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai alat regulasi tetapi juga sebagai instrumen untuk memastikan perlindungan hak pasien dan peningkatan kualitas layanan kesehatan. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan hukum kesehatan di Indonesia dan mendorong penelitian lebih lanjut di bidang ini. Kata Kunci : Hukum Kesehatan, Perlindungan Hak Pasien, Kualitas Layanan Kesehatan, Indonesia, Kebijakan Kesehatan
latar belakang: Penyuluhan Kesehatan merupakan kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara memberi pesan sihingga menjadi tahu dan mengerti untuk melakukan suatu anjuran yang berhubungan dengan kesehatan. Kegawatdaruratan menjadi kasus yang memerlukan penanganan segera dari petugas medis, bystander yang sudah terlatih atau masyarakat umum. Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah upaya untuk mengidentifikasi dan memeberikan intervensi primer pada kasus henti jantung melalui kompresi dada dan ventilasi, melakukan BHD di menit-menit awal dapat meningkatkan angka bertahan hidup. Kejadian kegawatandarurat diluar rumah sakit akan mengakibatkan pemburukan pada kondisi korban, untuk menimalisir pemburukan pada korban maka di perlukan pertolongan pertama di fase luar rumah sakit (pre hospital). Tujuan: Penyuluhan BHD dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam penanganan kegawatdaruratan di luar rumah sakit. Metode: Pengabdian pada Masyarakat dilakukan di Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah, kegiatan ini berupa pemberian penyuluhan tentang BHD pada 136 mahasiswa dengan metode ceramah dan domonstrasi. Hasil dan Pembahasan: penyuluhan ini didapat hasil pengetahuan sebelum dilakukankan penyuluhan dengan nilai pre test rata-rata 58,18 dan setelah dilakukan penyuluhan didapatkan nilai dengan post test rata-rata 81,16 sehingga terjadi perubahan yang signifikan antara pretest dan post test. Penyuluhan Kesehatan Tentang Bantuan Hidup Dasar Pada Mahasiswa Kesehatan Institut Kesehatan Dan teknologi Al Insyirah menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan tentang bantuan hidup dasar mahasiswa. sehingga memberikan penyuluhan ini secara rutin dapat dianggap sebagai langkah penting untuk memastikan masyarakat siap menghadapi keadaan darurat dengan lebih baik kususnya mahasiswa S1 Keperawatan. Simpulan Kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilakukan di Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah dapatkan hasil peningkatan pengetahuan mahasiswa tentang bantuan hidup dasar
Prevalensi penyakit kronis terus meningkat di Indonesia. Penyakit kronis sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan berdampak pada peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar. BPJS Kesehatan telah membangun sistem pelayanan kesehatan bagi Peserta Program JKN-KIS penyadang penyakit kronis melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Selain itu, BPJS Kesehatan telah mengembangkan pelayanan kontak tidak langsung dengan tujuan Peserta Prolanis dapat terpantau kondisi kesehatan dan tetap menerima pengobatan guna mengindari komplikasi sambil tetap mematuhi rekomendasi penjagaan jarak fisik selama pandemi covid-19. Melalui penelitian ini, peneliti bertujuan mengetahui gambaran frekuensi Peserta Prolanis memeriksakan kesehatan di FKTP dan hasil pemeriksaan tekanan darah Peserta Prolanis berdasarkan frekuensi pelayanan kontak tidak langsung yang diterima. Penelitian ini merupakan studi deskriptif terhadap data sekunder hasil pemeriksaan Peserta Prolanis oleh FKTP wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Madiun. Data yang dianalisis merupakan hasil pemeriksaan peserta prolanis yang dilakukan dalam periode Januari 2021 samapi dengan Juni 2022. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi Peserta Prolanis rutin berkunjung memeriksakan diri di FKTP lebih besar pada Peserta Prolanis yang memperoleh pelayanan kontak tidak langsung (29,35 %) dari pada Peserta prolanis tidak memperoleh pelayanan kontak tidak langsung (17,04 %). Persentase Peserta Prolanis memperoleh pelayanan kontak tidak langsung dengan pemeriksaan tekanan darah terkendali yaitu 12,73 %. Sedangkan persentase Peserta Prolanis tidak memperoleh pelayanan kontak tidak langsung dengan pemeriksaan tekanan darah terkendali sebesar 14,30 %.
Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian. Ibu hamil yang menderita anemia berpeluang mengalami pendarahan saat melahirkan yang dapat mengakibatkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gamping 1 Kabupaten Sleman. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilaksanakan pada bulan September – November 2022. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Gamping I Kabupaten Sleman. Jumlah sampel sebanyak 30 responden dengan cara accidental sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Teknik analisis data dengan analisis univariat dan bivariat. Variabel bebas dalam penelitian adalah paritas, umur ibu, status KEK dan pengetahuan, sedangkan variabel terikat adalah kejadian anemia pada ibu hamil. Hasil uji chi-square diperoleh untuk faktor status KEK p value = 0,024, pengetahuan p value = 0,000, sedangkan faktor usia dan paritas tidak berhubungan secara statistik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil adalah status KEK dan pengetahuan ibu hamil.
Berdasarkan ketentuan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), remaja didefinisikan sebagai individu berusia antara 10 hingga 24 tahun yang belum menikah. Pada tahun 2017, jumlah remaja di Indonesia dalam rentang usia tersebut tercatat sebanyak 67,36 juta jiwa, atau sekitar 25% dari total populasi. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), angka perilaku seksual pranikah tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, yakni sebesar 31,12%. Selain itu, perilaku seksual pranikah turut menyumbang angka pernikahan dini di NTB sebesar 58,1% dari total pernikahan di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan remaja mengenai risiko dan bahaya perilaku seksual pranikah. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design, dengan populasi remaja di Kabupaten Lombok Barat. Sampel penelitian berjumlah 113 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam tingkat pengetahuan remaja sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan. Nilai p yang diperoleh adalah 0,000, lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 (? = 0,05), yang mengindikasikan bahwa pendidikan kesehatan memiliki pengaruh nyata terhadap peningkatan pengetahuan remaja mengenai bahaya perilaku seksual pranikah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian pendidikan kesehatan berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan pemahaman remaja tentang risiko seks pranikah. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang relevan di Kabupaten Lombok Barat.
Kesehatan merupakan salah satu pilar pembangunan negara Indonesia. Pentingnya aspek kesehatan dalam kehidupan bernegara seringkali menghadapi banyak sekali tantangan dan hambatan, krisis kesehatan menjadi salah satu isu vital yang harus segera ditemukan solusi penyelesaiannya. Pada masa genting seperti pandemi Covid-19 yang saat ini melanda dunia tidak terkecuali Indonesia, permasalahan terhadap kebutuhan tenaga kesehatan menjadi sangat vital selain permasalahan pembiayaan, informasi dan komunikasi, sarana prasarana, transportasi, stok alat dan bahan medis yang juga terbatas. Beragam solusi yang ditawarkan kiranya menjadi alternatif pemecahan masalah distribusi tenaga kesehatan ini, namun perlu diingat solusi sederhana, tetapi akurat dan dapat dengan cepat diaplikasikan yang harus dipilih menjadi pilihan utama. Tujuan : Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan menelaaah kebijakan terkait krisis kesehatan yang sedang dialami Indonesia yang berfokus pada analisa kebutuhan tenaga kesehatan selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain non eksperimental (Cross Sectional). Menggunakan analisa pustaka atau library research yang berasal dari beberapa sumber yaitu laporan BPS RI, Databoks, Lokadata, Pusara digital tenaga kesehatan dan sumber data dari artikel terkait. Hasil: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah tenaga kesehatan di Indonesia sebanyak 2.287.142 orang pada 2021. Dari jumlah tersebut daerah Jawa memiliki jumlah tenaga jauh lebih banyak dibandingakan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia, hal ini dikaitkan dengan jumlah penduduk yang terpusat di pulau Jawa, gap tenaga kesehatan sangat jauh antara provinsi satu dengan lainnya di Indonesia. Saat ini ketersediaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Indonesia berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Indonesia hanya memiliki rasio 4 per 1.000 penduduk untuk jumlah dokter, perawat dan bidan, sementara standar WHO adalah 4,4 per 1.000 penduduk. Sejumlah 2.087 tenaga kesehatan Indonesia telah gugur selama pandemi Covid-19 melanda tanah air. Setidaknya 751 dokter meninggal, 670 perawat, 298 bidan gugur dalam melaksanakan tugasnya diikuti dengan tenaga kesehatan lainnya. Rekomendasi kebijakan yang dapat diberikan antara lain, alokasi segera tenaga kesehatan dan non kesehatan diwilayah yang terbatas SDM, kesempatan bekerja lebih mudah pada tenaga vital seperti dokter spesialis, laboratorium, radiologi dst, kerjasama lintas sektor terkait seperti kemendikbud, kemenpupr, dst. Kesimpulan: Krisis kesehatan yang dialami Indonesia salah satunya yaitu aspek distribusi tenaga kesehatan, hal ini dikaitkan dengan populasi terpusat, kondisi geografis dan besarnya honor nakes yang menjadi beberapa faktor penyebab maldistribusi tersebut. Tugas, pokok dan fungsi pemerintah pusat dan daerah diuji dalam penyelesaian permasalahan ini. Solusi aplikatif dan solutif dari koordinasi berbagai pihak diharapkan segera menjadi alternatif dan menekan jurang maldistribusi nakes yang ada di Indonesia.
Seks pra nikah adalah aktivitas fisik, yang menggunakan tubuh untuk mengekspresikan perasaan erotis atau perasaan afeksi kepada lawan jenisnya diluar ikatan pernikahan. Sikap remaja terhadap Seks pra nikah perlu ditingkatkan melalui pendidikan kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap sikap seks pra nikah pada remaja di SMA Darul Fatwa Jatinangor Kabupaten Sumedang Tahun 2022. Jenis penelitian ini menggunakan quasy eksperimen (eksperimen semu) dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Populasinya seluruh siswa SMA Darul Fatwa Jatinangor Kabupaten Sumedang tahun pelajaran 2021/2022 sebanyak 250 orang dan sampelnya 35 orang dengan teknik proportional to size. Instrumen yang digunakan kuesioner dengan cara angket. Analisis data univariat menggunakan distribusi tendensi sentral, uji normalitas dan analisis bivariat menggunakan Wilcoxon test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata sikap remaja mengenai seks pra nikah sebelum pendidikan kesehatan reproduksi (pretest) sebesar 68,17% dan sesudah pendidikan kesehatan reproduksi (posttest) sebesar 78,48%. Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap sikap seks pra nikah pada remaja di SMA Darul Fatwa Jatinangor Kabupaten Sumedang tahun 2022 dengan nilai p = 0,000. Disarankan pihak sekolah untuk mengadakan kegiatan pendidikan kesehatan secara internal atau melibatkan pihak eksternal. Bagi remaja perlu aktif mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan reproduksi khususnya tentang seks pra nikah agar mempunyai sikap dan terhindar dari perilaku yang berisiko.Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi; Remaja; Sikap; Seks Pra Nikah AbstractPremarital sex is a physical activity which uses the body to express erotic feelings or feelings of affection to the opposite sex outside of marriage. Adolescent attitudes towards premarital sex need to be improved through reproductive health education. This study aims to determine the effect of reproductive health education on attitude towards premarital sex among adolescents at Darul Fatwa DHS, Jatinangor, Sumedang Regency in 2022. This was a quasi-experimental study with a one group pretest-posttest approach. The population were all students of Darul Fatwa DHS, Jatinangor, Sumedang Regency for the academic year of 2021/2022 as many as 250 students. The samples involved were 35 students who were selected using the proportional to size technique. Data collection instrument used here was by means of a questionnaire. Univariate data analysis used the distribution of central tendency. Furthermore, normality test and bivariate analysis used the Wilcoxon test. The results of the study showed that the mean attitude of adolescents regarding premarital sex before reproductive health education (pretest) was 68.17% and after reproductive health education (posttest) it was 78.48%. There was an effect of reproductive health education on attitude towards premarital sex among adolescents at Darul Fatwa SHS, Jatinangor, Sumedang Regency in 2022 with a p value of 0.000. It is recommended that the school organize health education activities internally or involve external parties. For adolescents, it is necessary to actively participate in reproductive health education activities, especially regarding premarital sex so that they have an attitude and avoid risky behavior.Keywords: Reproductive Health; Adolescents; Attitude; Premarital Sex
Sumber daya manusia kesehatan berperan penting sebagai upaya kesehatan dalam mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) adalah tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya dalam upaya dan manajemen kesehatan. Indonesia menghadapi tantangan terkait transisi epidemiologi selama tiga dekade terakhir. Dilihat dari beban penyakit (burden of diseases) yang diukur dengan Disability Adjusted Life Years (DALYs). Hal tersebut saat berpengaruh terhadap SDMK karena sumber daya manusia kesehatan merupakan suatu hal yang penting dalam pembangunan kesehatan dan pengelolaan system kesehatan nasional. Kondisi sumber daya manusia kesehatan di puskesmas saat ini diketahui belum mampu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia, terutama pada daerah 3T yaitu daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan isu strategis sumber daya manusia kesehatan pada puskesmas. Penelitian dilakukan dengan metode kajian literatur dari berbagai buku, artikel jurnal, dan regulasi melalui Google dan Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan dan isu strategis sumber daya manusia kesehatan pada puskesmas meliputi ketersediaan dan distribusi SDM kesehatan, kualitas SDM kesehatan; serta task shifting dan multitasking. Oleh karena itu perlu adanya kebijakan terkait pemenuhan SDM kesehatan seperti insentif, mengatur masa bakti, dan pengembangan karir SDM kesehatan agar permasalahan terkait SDM kesehatan di Indonesia tidak ada lagi.
Background: Malassezia folliculitis (MF) is the most common fungal folliculitis, and it is caused by yeast of the genus Malassezia. MF may be difficult to be distinguished clinically from acne and other types of folliculitis, causing misdiagnosis and improper treatment. Dermoscopy has been very useful to support the diagnosis of several types of folliculitis, including MF. Purpose: To know the role of dermoscopic examination in MF. Review: The diagnosis of MF can be identified by usual clinical presentation with direct microscopy and culture of the specimen, Wood's light examination, histopathological examination, and rapid efficacy of oral antifungal treatments. Several studies reported that dermoscopy provides a deeper level of the image that links the clinical morphology and the underlying histopathology. Some dermoscopic patterns are observed consistently with certain diseases, including MF, so these could be used for establishing their diagnosis. The dermoscopic features of MF seem to correlate with the current understanding of its etiopathogenesis. Conclusion: Dermoscopic examination in MF will reveal dermoscopic patterns including folliculocentric papule and pustules with surrounding erythema, dirty white perilesional scales, coiled/looped hairs with perifollicular erythema and scaling, hypopigmentation of involved hair follicles, and dotted vessels.
Latar Belakang: Masih tingginya prevalensi stunting yang merupakan kegagalan pertumbuhan linier pada anak usia sekolah, membawa dampak pada hambatan perkembangan motorik kasar.
Tujuan: Mengetahui korelasi perkembangan motorik kasar pada anak sekolah dasar dengan keparahan status stunting.
Metode: Studi cross sectional pada 91 anak dengan status gizi stunting yang dipilih secara konsekutif dilakukan Sekolah Dasar di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran antropometri dan perkembangan motorik kasar (lokomotor dan kontrol objek). Hubungan antara dua variabel kategorik dilakukan uji Rank Spearman.
Hasil: Status gizi stunting pada 84 anak (92.3%) moderate stunting dan 7 anak (7.7%) severe stunting. Perkembangan motorik kasar anak di bawah rata-rata sebanyak 46.2%, dengan rerata skor tingkat kecerdasan motorik kasar sebesar 91.92. Pada analisis bivariat stunting tidak beruhubungan secara bermakna dengan tingkat Gross Motor Quotient (p=0.241; p>0.05).
Kesimpulan: Status gizi stunting berkaitan dengan rendahnya skor perkembangan motorik kasar anak sehingga perlunya perbaikan gizi dan pemberian stimulus untuk melatih kemampuan motorik kasar oleh orang tua ataupun sekolah
Kata kunci: stunting, motorik kasar, lokomotor, kontrol objek, anak sekolah dasar
Buku ini berisi tentang Perjanjian Kerjasama antara PT.ASKES (Persero) Cabang Padang dengan RSUP DR.M.Djamil Padang tentang Pelayanan Kesehatan bagi Peserta Askes Wajib di mana Askes Wajib merupakan pelayanan yang ditujukan kepada peserta Askes Wajib yaitu Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun Sipil dan TNI- Polri, Veteran dan Perintis Kemerdekaan beserta anggota keluarga yang ditanggung. Salah satu jenis pelayanan yang diberikan oleh PT.ASKES bagi peserta Askes Wajib beserta anggota keluarga yang ditanggung seperti; rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap, pelayanan obat, pelayanan darah, persalinan dan gangguan kehamilan, palayanan bayi kurang dari 3 (tiga) bulan, pelayanan transfusi darah, dan pelayanan jantung.
Mochammad Fitri Atho’illah, Yunita Diyah Safitri, Farida Dewi Nur’aini
et al.
Background: The high−fat, high−fructose diet (HFFD) provokes overnutrition and inflammation directly, mainly through Toll−like receptors (TLRs). Soybean (Glycine max L.) contains isoflavone that can be transformed into glyceollin by microbial and physical stimuli. Glyceollin possesses many beneficial effects on health. Objective: This study evaluates the beneficial effect of soybean extract elicited by Saccharomyces cerevisiae and light (ESE) on dendritic cells (DCs) profile and naïve T cells in HFFD mice. Materials and methods: Female Balb/C mice were fed with HFFD for 24 weeks then orally administered with simvastatin 2.8 mg/kg BW or ESE 78, 104, and 130 mg/kg BW at the last four weeks. The expression of splenic CD11c+TLR3+, CD11c+TLR4+, NFκB+, CD11c+IL-17+, CD11c+TNF−α+, CD4+CD62L+, and CD8+CD62L+ subsets was measured by flow cytometry. The molecular docking has been measured using Pyrx 0.8, displayed in PyMol and Biovia Discovery Studio. Result: HFFD significantly increased CD11c+TLR3+, CD11c+TLR4+, NFκB+, CD11c+IL-17+, CD11c+TNF−α+ expression and decreased CD4+CD62L+ and CD8+CD62L+ (p < 0.05) compared to normal diet (ND) groups. ESE reduced CD11c+TLR3+, CD11c+TLR4+, thereby decreasing NFκB+, as well as decreased the CD11c+IL−17+, CD11c+TNF−α+, and restores CD4+CD62L+ and CD8+CD62L+ subsets in HFFD mice. Glyceollin II exhibited the best binding affinity with an average energy of −7.3 kcal/mol to TLR3 and −7.9 kcal/mol to TLR4. Conclusion: The bioactive compound in ESE act synergistically to modulate TLR3/TLR4 activation, reduced NFκB, IL−17, and TNF−α, and restores naïve T cells expression in HFFD mice. ESE was a favorable candidate to mitigate chronic inflammation.
Dilip H Liyanage, Pamila Sadeeka Adikari, KGRV Pathirathna
et al.
Wearing a universal face mask is recommended by most health authorities during the COVID-19 pandemic. This commentary elaborates directives given in relation to the use of face masks and identify the underlying principles for public health recommendations by the government authorities of Australia, Canada, China, Hong Kong, Singapore, the United Kingdom and the United States of America. Key data were considered from official government websites by a team of healthcare management experts. It was argued that the directives recommended by the governments were based on the principles addressing the different facets of COVID-19 pandemic, population dynamics, resource availability and scarcity, and the fact that how the proposed standard of practices would be translated into compulsory obligations in the community. The principles involved regulations versus voluntary compliance of the population, transmission scenario, protection from sick or asymptomatic people, special needs and vulnerable groups, synergistic versus substitute/alternative, occupational health risk, adverse effects on usage, types of masks which depend on the risk or context, change in use practices depending on demand, scarcity and quality assurance. Recommendations of the use of face masks were found to be heterogeneous and apparently inconstant. Within the dynamic situation of the COVID-19 pandemic, the directives on community use of face masks were issued based on certain dominant principles and interplayed between principles that should be deeply explored by the healthcare decision makers.
Keywords: COVID-19, face masks, pandemic, public health measures
Computer applications to medicine. Medical informatics, Public aspects of medicine
Adherence to anti-tuberculosis treatment and quality of outpatient health servicesBackground: The were 23 lung tuberculosis patients registered at Sragi Health Center. Actually, the Case Detection Rate of Tuberculosis in Lampung Selatan Regency was 60%, below the 70% national target. How ever, specifically in some health centers in the regency, there were some health centers which Case Detection Rate (CDR) is higher than national achievement like Bakauheni Health Center (116%) while the lowest CDR found at Bumidaya Health Center. In this study, Sragi Health Center obtained 41% placing the fourth lowest achievement. On the following year, 2017, Sragi Health Center’s lung tuberculosis patients increased into 38 resulting the second lowest CDR achieve in Lampung Selatan regency.Purpose: To identify the correlation between empathy of health practitioner and the adherence to anti-tuberculosis treatment.Methods: A quantitative study with cross sectional research approach, by total sampling and population was 49 patients with lung tuberculosis. Study was done on 23 March to 25 July 2019 at Sragi Health Center (Puskesmas). The variables are quality of outpatient health services in domain an empathy and the adherence to anti-tuberculosis treatment.Result: Finding that there were of 29 patients (59,2%) acknowledging the health practitioners having good empathy while the other twenty (40,8%) stating the health practitioners exhibiting poor empathy. There was a correlation between empathy of health practitioners and the adherence of taking medicine on lung tuberculosis patients (p value = 0,009 and OR 6,545).Conclusion: There was a correlation between empathy of health practitioners and the adherence to anti-tuberculosis treatment. The health practitioners especially the nurses should show their empathy to the patients in order to build trust to healthcare.Keywords: Adherence; Anti-Tuberculosis Treatment; Quality; Outpatient Health Services; Empathy Pendahuluan: Puskesmas Sragi sebanyak 23 penderita. CDR (Case Detection Rate) Kabupaten Lampung Selatan tahun 2016 sebesar 60% masih dibawah target nasional sebesar 70%, tetapi bila ditilik terdapat beberapa Puskesmas yang mempunyai capaian nilai CDR diatas nasional seperti Puskesmas RI Bakauheni (116%), sedangkan Puskesmas dengan CDR terendah adalah RI Bumidaya (30%) dan Puskesmas Sragi sebesar 41% merupakan urutan yang ke empat terendah. Tahun 2017 Puskesmas Sragi kembali mengalami peningkatan penderita TB paru menjadi sebanyak 38 orang dengan CDR urutan kedua terendah di Kabupaten Lampung Selatan. Tujuan: Diketahui empati petugas kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberculosis paru. Metode: Penelitian kuantitatif, jenis penelitian crossectional. Populasi penelitian seluruh penderita TB paru, jumlah sampel 49 orang, pengambilan sampel secara total sampling dilakukan di UPT Puskesmas Rawat Inap Sragi Kabupaten Lampung Selatan, tanggal 23 Maret – 25 Juli 2019. Variabel penelitian empatidan kepatuhan minum obat penderita tuberculosis paru. Analisis data secara univariat dan bivariat (chi square).Hasil: Diketahui sebanyak 29 (59,2%) memiliki empati baik dan sebanyak 20 (40,8%) memiliki rasa empati yang buruk. Ada hubungan antara empati petugas kesehatan terhadap kepatuhan minum obat tuberculosis paru(p-value=0,009 dan OR 6,545).Simpulan: Ada hubungan antara empati petugas kesehatan terhadap kepatuhan minum obat tuberculosis paru. Saran: Perawat dan petugas kesehatan supaya bersikap empati agar pasien lebih nyaman dan merasa dilindungi dan dibantu sehingga dapat menciptakan kondisi yang terapeutik. Pasien akan selalu kontrol dan patuh dalam minum obat tuberculosis paru hingga dosisnya sesuai anjuran yang ditetapkan.
Putri Cita Sari Dewi, Zahroh Shaluhiyah, C. Suryawati
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) merupakan salah satu program pelayanan kesehatan primer di Puskesmas dalam menangani problematika kesehatan remaja. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis implementasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di Puskesmas. Teknik studi literatur digunakan dengan mencari jurnal-jurnal yang relevan dengan tema utama yaitu Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja melalui Google Schoolar, PLOS, dan Springer dengan rentang tahun 2015 hingga 2020. Jurnal yang didapat tersebut direduksi kembali sesuai dengan kriteria tertentu dan diperoleh 6 artikel penelitian yang layak dikaji lebih lanjut. Hasil menunjukkan bahwa pemanfaatan PKPR oleh remaja yang masih minimal, belum terbentuk konselor sebaya, belum terbentuknya tim PKPR, belum adanya pelatihan bagi tim PKPR, kurangnya sarana prasarana, kurangnya kemitraan dalam PKPR. Implementasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di Puskesmas masih menemui kendala pada aspek-aspek penyelenggaraan PKPR baik dari remaja sebagai sasaran program pelayanan, SDM, fasilitas kesehatan, jejaring PKPR, maupun manajemen kesehatannya. Peningkatan pada aspek penyelenggaraan PKPR menjadi hal yang penting seperti pelaksanaan pelatihan bagi petugas kesehatan, peningkatan sarana prasarana, pembentukan dan pelatihan bagi konselor sebaya dan pendidik sebaya, serta penguatan kemitraan PKPR dengan penentu kebijakan maupun instansi yang berpengaruh dalam mencapai keberhasilan program PKPR.
Ajaran Islam meyakini bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan anugerah kedua terbesar dari Allah setelah keimanan. Dalam upaya menjaga kesehatan, dibutuhkan keseimbangan antara berbagai determinan kesehatan yang merupakan perpaduan faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan baik individu maupun masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan determinan kesehatan dalam perspektif Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif etnografis yang dilakukan di Kota Bandung. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni-Juli 2019. Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam kepada 6 orang ulama yang memiliki pendidikan minimal strata dua dalam bidang agama Islam. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi. Transkripsi, koding dan tema. Validitas data dilakukan dengan cara triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan kesehatan dalam perspektif Islam terdiri dari: (i)iman dan ibadah (ii)perilaku, (iii)lingkungan, (iv)sosial, (v)genetik, dan (vi)pelayanan kesehatan. Simpulan dari penelitian adalah bahwa determinan kesehatan dalam Islam yang paling utama adalah keimanan dan ibadah, ditunjang pula oleh determinan lainnya yaitu perilaku, lingkungan, sosial, genetika dan pelayanan kesehatan. Keseimbangan seluruh determinan kesehatan akan menciptakan kesehatan spiritual yang akan memengaruhi pencapaian kesehatan jiwa, fisik dan sosial.