Desentralisasi kesehatan di Indonesia yang diimplementasikan lebih dari dua dekade telah mentransformasi tata kelola sistem kesehatan dari sentralistik menjadi terdesentralisasi melalui pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan desentralisasi terhadap tata kelola dan kinerja sistem kesehatan daerah, mengidentifikasi faktor determinan yang mempengaruhi variasi keberhasilan implementasi, serta merumuskan rekomendasi strategis untuk optimalisasi kebijakan desentralisasi kesehatan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka melalui penelusuran literatur terkait desentralisasi kesehatan Indonesia yang diterbitkan dalam rentang waktu 2020-2025, dianalisis menggunakan pendekatan tematik dengan kerangka konseptual yang mencakup dimensi ruang keputusan, kapasitas daerah, dan akuntabilitas. Hasil penelitian menunjukkan variasi signifikan dalam alokasi anggaran kesehatan antar daerah (5%-18% dari APBD), disparitas distribusi tenaga kesehatan (rasio dokter per 100.000 penduduk di Jawa-Bali 30-45, Indonesia Timur 8-18), serta kesenjangan capaian indikator kesehatan yang dipengaruhi interaksi kompleks antara faktor kontekstual, sistem, dan tata kelola. Tantangan koordinasi pusat-daerah mencakup perbedaan persepsi prioritas masalah, keterbatasan ruang fiskal, ketidaksesuaian timeline perencanaan, dan rigiditas standar nasional. Dapat disimpulkan bahwa desentralisasi kesehatan perlu dipandang sebagai proses dinamis yang membutuhkan penyesuaian berkelanjutan dengan memperkuat kapasitas pemerintah daerah, mengembangkan mekanisme transfer fiskal berbasis kinerja, serta membangun forum koordinasi multi-level untuk mencapai keseimbangan antara standardisasi kualitas dan fleksibilitas adaptasi lokal dalam mewujudkan sistem kesehatan yang adil, berkualitas, dan responsif.
Ida Erni Sipahutar, Ni Nyoman Hartati, Ni Nengah Runiari
et al.
The aim of the study was to measure the level of knowledge of fostering family welfare mothers before and after being given sexual health education education on efforts to prevent sexual violence in children, to prove the effectiveness of developing a sexual health education model for efforts to prevent sexual violence in children. The research method uses Quasi-Experimental with the research design used is nonequivalent Control Group Design. The results of the study found that the most knowledge level of respondents in the pre-test treatment group had a low knowledge level of 33 respondents (55%) and had a high level of knowledge of 27 respondents (45%). The level of knowledge of respondents in the post-test treatment group with the highest level of knowledge was 44 respondents (73.3%) and 16 respondents (26.7%) had a low level of knowledge, the P-Value was .001. The attitude of the respondents in the pre-test treatment group had the most with less than 60 respondents (100%) and 0 respondents (0%) had a good attitude. The attitude of the respondents in the post-test treatment group was the most lacking, 31 respondents (51.7%) and 29 respondents (48.3%) had a good attitude, the P-Value was .073. Most of the respondents in the pre-test control group had a low knowledge level of 32 respondents (53.3%) and had a high level of knowledge of 28 respondents (46.7%). The highest level of knowledge of respondents in the post-test control group had a high level of knowledge of 31 respondents (52.1%) and had a low level of knowledge of 29 respondents (48.8%), the P-Value was .000. The attitude of the most respondents in the pre-test control group had a less attitude of 34 respondents (56.7%) and had a good attitude of 26 respondents (43.3%). The attitude of most of the respondents in the post-test control group had a good attitude of 33 respondents (55%) and had a less attitude of 27 respondents (45%), the P-Value was .000.
Sudden death can occur due to previously known or undiagnosed thyroid diseases. This case reports the death of a 21-year-old woman with symptoms suggestive of thyroid crisis. The victim’s family suspected foul play based on physical findings on the body. However, police investigation and autopsy results revealed a history of pre-existing thyroid disease. The autopsy findings showed enlargement of the thyroid gland and lung edema. Forensic histology also revealed chronic inflammation in the thyroid gland and bleeding in the lung tissue. In conclusion, the victim’s death was attributed to poorly controlled hyperthyroidism which leads to thyroid crisis. This case highlights the importance of proper management and treatment of thyroid diseases, as well as knowledge of physical signs related to postmortem changes. In this context, the case does not fulfill criminal elements but is more related to the pre-existing health condition of the victim. Therefore, a comprehensive analysis is conducted, considering the available information, including the victim’s medical history, witness testimonies, autopsy findings, and other relevant evidence. The investigation of this case holds broad significance, not only in the medical and forensic aspects but also in terms of legal and justice implications.
Kurang maksimalnya pemanfaatan media sosial oleh profesional kesehatan sebagai media promosi kesehatan dikarenakan terbatasnya kemampuan dalam mengelola informasi kesehatan berbasis media sosial, serta minimnya literasi kesehatan pada usia subur terkait gaya hidup sehingga pencegahan diabetes melitus menjadi belum optimal. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan di media sosial dan literasi kesehatan terhadap pencegahan diabetes melitus tipe II pada usia produktif di Kota Depok. Jenis penelitian yang dilakukan adalah kuantitatif dengan desain analitik deskriptif menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat usia produktif di Kota Depok. Sampel pada penelitian ini berjumlah 400 responden, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan multistage sampling. Hasil penelitian diketahui nilai F-hitung sebesar 767,643 dan nilai p sebesar 0,000 (< 0,05). Hal ini menunjukkan variabel promosi kesehatan di media sosial, dan literasi kesehatan secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan diabetes melitus pada usia produktif. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan informasi bagi masyarakat pada usia produktif tentang manfaat dari literasi kesehatan dan promosi kesehatan di media sosial dalam meningkatkan pengetahuan, memudahkan untuk mengakses informasi dasar dan cara pencegahan penyakit diabetes tipe II.
YENI NURUL RATMAWATI RATMAWATI, dr. Bima Suryantara, SpOG(K), Dr. Heni Puji Wahyuningsih,S.SiT,M.Keb
Latar Belakang : Belum optimalnya pengambilan keputusan dalam pelayanan Kesehatan ibu dan anak yang meliputi pemanfaatan buku KIA, kunjungan Antenatal Care, kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi TTD, Belum lengkapnya pengisian P4K dan self afficacy menghadapi kehamilan dan persalinan dapat menjadi salah satu kontribusi penyebab tidak langsung kematian ibu. Salah satu program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan peningkatan Kesehatan pada ibu hamil adalah dengan mengadakan kelas ibu hamil.Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan kelas ibu hamil terhadap pengambilan keputusan dalam pelayanan KIA. Metode Penelitian : Desain penelitian yang digunakan true experimental design dengan posttest-only control design. Sampel penelitian adalah ibu hamil di wilayah Kabupaten Klaten sejumlah 130 ibu hamil. Hasil : Kelas ibu hamil efektif dalam meningkatkan pemanfaatan/penggunaan buku KIA ,kepatuhan kunjungan ANC , kelengkapan P4K dan kepatuhan minum TTD dengan p value 0,000, pelaksanaan kelas ibu hamil tidak efektif meningkatkan self aficacy menghadapi persalinan dengan p value 0,597. Hasil uji regresi logistik menunjukkan ibu hamil yang mengikuti kelas ibu hamil dapat meningkatkan pemanfaatan buku KIA sebesar 5,94 kali setelah dikontrol variabel paritas, dapat meningkatkan kepatuhan kunjungan ANC 10,97 kali setelah dikontrol variabel umur, Pendidikan ibu dan jaminan Kesehatan, dapat meningkatkan kelengkapan pengisian P4K sebesar 16,58 kali setelah dikontrol variabel paritas,dapat meningkatkan kepatuhan minum TTD sebesar 13,82 kali setelah dikontrol variabel paritas dan dapat meningkatkan self afficacy menghadapi kehamilan dan persalinan sebesar 2,56 kali setelah dikontrol variabel umur, Pendidikan dan paritas Simpulan : Pelaksanaan kelas ibu hamil efektif terhadap peningkatan pengambilan keputusan dalam pelayanan Kesehatan ibu dan anak.
Background: Smoking behavior is a fundamental problem in many countries, including Indonesia. This is exacerbated by the absence of strict regulations regarding the sale of cigarettes, so it is easy for a teenager to get cigarettes because they are sold freely. For this reason, it is necessary to take preventive steps to overcome this problem.Objective: This study aims to see the role of health promotion media through videos and leaflets on increasing students' knowledge about the dangers of smoking.Methods: This study used a simple experimental method involving 30 samples of students who were divided into a control group and an intervention group. Hypothesis testing using Paired Sample T-Test to see the difference before and after being given the intervention and using Independent Sample T-Test to see the difference between the control group and the intervention group.Results: The results of this study indicate an increase in student knowledge about the dangers of smoking from before being given literacy and after being given literacy through video media and leaflets. The changes were not significant in the control group who were not given literacy about the dangers of smoking.Conclusion: These results can be used as a reference for health facilities and the government in taking preventive steps to prevent the use of cigarettes in adolescents.
Masa remaja merupakan usia yang belum mencapai kematangan mental dan fisik. Salah satu dari perubahan fisiknya yaitu kemampuan untuk melakukan proses reproduksi, sedangkan banyak fenomena yang memperlihatkan bahwa sebagian remaja belum mengetahui dan memahami tentang masalah kesehatan reproduksi. Ada beberapa kenakalan remaja yang pernah terjadi di SMA diantaranya merokok, pacaran dan hamil diluar nikah. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media video animasi tentang kesehatan reproduksi terhadap tingkat pengetahuan pada siswa kelas X di SMAN 4 Cimahi. Penelitian ini merupakan pre eksperimen dengan rancangan one grouppretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini adalah 83 orang dengan menggunakan teknik purpossive sampling. Hasil penelitian didapatkan remaja sebelum diberikan pendidikan kesehatan sebanyak 41 orang (49%) mempunnyai pengetahuan cukup, pengetahuan setelah diberikan pendidikan kesehatan 42 orang (51%) cukup dan 41 orang (49%) baik. Data yang diperoleh nilai di peroleh nilai p(0.000)<(0.05). Dari hasil dapat disimpulkan penelitian ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan media video animasi terhadap tingkat pengetahuan pada siswa kelas X. Video animasi diharapkan menjadi salah satu media penyampaian informasi pada masyarakat ketika kegiatan ekstrakulikuler di SMAN 4 Cimahi sebagai solusi untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi diluar. Kata Kunci : Pendidikan kesehatan, Video animasi, Tingkat pengetahuan, Remaja
Abstrak
Dalam upaya meningkatkan pelayanan, kesejahteraan dan keadilan dalam masyarakat, organisasi pemerintah merupakan salah satu bentuk kegiatan non profit berupa peningkatan keamanan, peningkatan mutu pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisis ekonomi, efisiensi, dan efektivitas terhadap realisasi anggaran pada Puskesmas Penumping Kota Surakarta. Pengukuran ini menggunakan Value For Money. Sampel Penelitian ini adalah Laporan Keuangan Puskesmas Penumping Tahun 2015-2021. Analisis data yang dilaksanakan yaitu analisis kuantitatif deskriptif yang dipergunakan untuk mengetahui tingkat indikator kinerja keuangan pada organisasi sektor publik. Metode penelitian ini menggunakan Teknik pengukuran value for money. Hasil penelitian menunjukkan Kinerja BLUD Puskesmas Penumping Kota Surakarta masuk dalam kategori ekonomis. Pada tingkat efisiensi, Kinerja BLUD Puskesmas Penumping masuk dalam kategori kurang efisien. Pada tingkat efektivitas, kinerja BLUD Puskesmas Penumping masuk dalam kategori kurang efektif.
Kata Kunci: Value For Money, BLUD Puskesmas, Kinerja
Abstract
In an effort to improve services, welfare and justice in society, government organizations are one form of non-profit activity in the form of increasing security, increasing the quality of education, health services and others. This study aims to examine and analyze the economy, efficiency, and effectiveness of the budget realization at the Penumping Public Health Center in Surakarta. This measurement uses Value For Money. The sample of this research is the Financial Report of the Penumping Health Center 2015-2021. The data analysis carried out is descriptive quantitative analysis which is used to determine the level of financial performance indicators in public sector organizations. This research method uses value for money measurement techniques. The results showed that the performance of the BLUD of the Public Health Center of Penumping, Surakarta, was included in the economic category. At the efficiency level, the performance of the BLUD of the Penumping Health Center is in the less efficient category. At the level of effectiveness, the performance of the BLUD of the Penumping Health Center is in the less effective category.
Keywords: Value For Money, BLUD Puskesmas, Performance
Latar belakang. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Status gizi bayi balita merupakan salah satu indikator kualitas kesehatan masyarakat. Satus gizi bayi balita diukur menggunakan beberapa indeks antopometri. Masalah gizi timbul karena beberapa faktor di antaranya, faktor lingkungan: ketersediaan, distribusi dan pengolahan bahan makanan maupun karakteristik orang tua seperti pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan pengetahuan orang tua.
Tujuan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan karakteristik orang tua terhadap status gizi bayi balita di desa Sungai Kitano Kabupaten Banjar.
Metode. Metode penelitian adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian: bayi dan balita 0-59 bulan, sampel 14 bayi dan 30 balita, responden penelitian: ibu dari bayi/ balita.
Hasil. Secara statistik terdapat hubungan antara pendidikan ibu terhadap status gizi bayi dan balita (p=0,012045), tetapi tidak terdapat hubungan antara penghasilan orang tua (p=0,540089) dan pekerjaan ibu (p=0,840606).
Kesimpulan. Pendidikan ibu berhubungan dengan status gizi bayi balita desa Sungai Kitano Kabupaten Banjar.
Introduction : The quality of service at health facilities needs to be improved, one of the main keys is the service provided by health workers. Objective : The aim of this systematic review was to analyze the effectiveness of knowledge management in healthcare. Methods : The systematic review was carried out in March-April 2020 with a range of article search times from 2016-2020 using 5 electronic databases (Scopus, PubMed, Science Direct, CINAHL and ProQuest). The Center for Review and Dissemination and the Joanna Briggs Institute Guideline were used to assess the quality and PRISMA's checklist for this review guide. The literature search described four keyword groups based on Medical Subject Heading (MeSH) and the search description was (knowledge management*' OR 'SECI knowledge management') AND ('health care' OR hospital). Result : The article searched was found 13 articles suitable with the eligibility criteria, the results of the systematic review found that knowledge management had the effectiveness to provide information and knowledge processes, improve decision-making abilities, improve performance and quality of health services and increase organizational effectiveness. Discussion : As health service providers, hospitals and other health care institutions must continue to improve the quality of services. By improving the quality of services, it is expected to be able to answer the demands of the community to always provide optimal health services. With the application of good knowledge management, ideas and creativity from the workforce will be created in creating health service innovations.
ABSTRAK
Pendahuluan : Kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan perlu ditingkatkan, salah satu kunci utamanya adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Tujuan : Tujuan dari tinjauan sistematis ini adalah untuk menganalisis efektivitas manajemen pengetahuan dalam perawatan kesehatan. Tinjauan sistematis dilakukan pada bulan Maret-April 2020 dengan rentan waktu pencarian artikel adalah 2016-2020 menggunakan 5 database elektronik (Scopus, PubMed, Science Direct, CINAHL dan ProQuest). Center for Review and Dissemination dan Joanna Briggs Institute Guideline digunakan untuk menilai kualitas dan daftar periksa PRISMA untuk panduan ulasan ini. Pencarian literatur menggambarkan empat kelompok kata kunci berdasarkan Medical Subject Heading (MeSH) dan deskripsi pencarian adalah (manajemen pengetahuan*' ATAU 'manajemen pengetahuan SECI') AND (efek ATAU dampak ATAU) DAN ('perawatan kesehatan' ATAU rumah sakit). Hasil : Artikel yang dicari ditemukan 13 artikel yang sesuai dengan kriteria kelayakan, hasil tinjauan sistematis menemukan bahwa manajemen pengetahuan memiliki efektivitas untuk memberikan informasi dan proses pengetahuan, meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan, meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan kesehatan dan meningkatkan organisasi efektivitas. Diskusi : Sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan, rumah sakit dan institusi pelayanan kesehatan lainnya harus terus meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan peningkatan mutu pelayanan diharapkan mampu menjawab tuntutan masyarakat untuk selalu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Dengan penerapan manajemen pengetahuan yang baik akan tercipta ide dan kreativitas dari tenaga kerja dalam menciptakan inovasi pelayanan kesehatan.
Ni Nyoman Kasihani, Rini Widyastuti, Indrayati Fadjeri
et al.
Latar belakang: Mahasiswa adalah salah satu pelanggan dalam dunia pendidikan. Kepuasan terhadap kualitas layanan penting dilakukan evaluasi secara berkala untuk perbaikan kinerja, agar sesuai dengan yang diharapkan mahasiswa. Tujuan: untuk menganalisis hubungan kualitas layanan praktek klinik terhadap kepuasan mahasiswa di Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Jakarta I. Metode: Jenis penelitian analitik dengan rancangan cross sectional, dilakukan pada bulan Juni-Oktober 2018. Penelitian dilakukan pada seluruh mahasiswa tingkat 2 dan 3. Penelitian dilakukan dengan total sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner dengan hasil uji validitas Korelasi Product Moment antara 0,222 – 0,668 dan uji reliabilitas Koefisien Alpha Cronbach 0,710. Analisis data dengan uji univariate, Chi-Square dan Regresi Logistik Multivariabel. Hasil: Sebagian besar mahasiswa merasa puas terhadap layanan praktek klinik dengan persentase 60,5%. Variabel dimensi kualitas layanan klinik yaitu bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan empati memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan mahasiswa dengan nilai p value < 0,05. Dimensi jaminan memiliki hubungan yang paling besar dengan kepuasan mahasiswa dengan nilai OR 482,497. Kesimpulan: Sebagian besar mahasiswa merasa puas terhadap layanan klinik. Dimensi kualitas layanan klinik memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan mahasiswa. Variabel Jaminan memiliki hubungan terbesar dengan kepuasan mahasiswa.
Kata kunci: Kualitas praktek klinik, kepuasan, mahasiswa
Sistem manajemen dan informasi kesehatan merupakan komponen yang berfokus pada terwujudnya sistem kesehatan yang berdaya guna dan berhasil guna secara efektif dan efisien. Pentingnya tujuan tersebut menjadi dasar aturan bahwa setiap fasilitas pelayanan kesehatan berkewajiban dalam menyelenggarakan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) demi membantu tercapainya sasaran pembangunan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kinerja pelaksana manajemen sistem informasi kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso. Merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan sistem menggunakan metode cross sectional. Kuesioner online dengan google form disebarkan melalui whatsapp group terhadap sampel penelitian yaitu seluruh (111 responden) pelaksana manajemen sistem informasi kesehatan di 25 puskesmas. Hasil menunjukkan responden berkinerja baik 55,0%. Menggunakan uji Chi-Square faktor input yang berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap output berupa kinerja adalah usia, pendidikan terakhir, keterampilan, pengetahuan, dan sarana prasarana.
Laili Rahayuwati, Iqbal Abdul Rizal, Tuti Pahria
et al.
Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal yang mana sel tersebut bisa tumbuh dan menyebar ke bagian tubuh lainnya bahkan menyebabkan kematian. Salah satu jenis kanker yang paling ditakuti perempuan dunia adalah kanker payudara. Kanker Payudara adalah tumor ganas yang terbentuk dari sel-sel payudara yang tumbuh dan berkembang tanpa terkendali sehingga dapat menyebar diantara jaringan atau organ di dekat payudara atau ke bagian tubuh lainnya.Penderita kanker payudara dapat lebih cepat mengetahui serangan kanker pada payudara dengan memeriksa sendiri secara teratur setiap bulan yang dikenal dengan praktik SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) sayangnya hanya sedikit yang melakukannya. Keterlambatan tersebut paling banyak disebabkan ketidakmengertian tentang penyakit dan upaya deteksi dini dengan SADARI. Untuk menyikapi masalah tersebut perlu ditingkatkan program edukasi tentang SADARI, yang merupakan solusi terbaik untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap kanker payudara kepada masyarakat melalui pendidikan kesehatan.Tugas ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan perempuan di Desa Jatimukti dalam upaya deteksi dini kanker payudara. Rancangan yang digunakan adalah perlakuan pada satu kelompok sampel sejumlah 31 orang. Analisis deskriptif komparatif menunjukkan bahwa hasil pengetahuan saat post test lebih baik dibanding pengetahuan saat pretest. Simpulan bahwa adanya peningkatan pengetahuan setelah pendidikan, selanjutnya masyarakat after membutuhkan pendidikan kesehatan yang regular.Kata kunci : Kanker payudara, pengetahuan, SADARI.
Marioriawa is one of the sub-districts located in Soppeng Regency with an area of 320 Km2 cover by 5 villages (Bulue, Laringgi, Patampanua, Panincong, Tellulimpoe and 5 villages (AttangSalo, Batu-Batu, Limpomajang, Manorang Salo, Attang Salo) with average population of 27,512 with a density of 86 people/km2. In Marioriawa there are 2 high schools (SMAN 01 Soppeng and SMK 02 Soppeng).The students in SMAN 01 Soppeng classified to adolescents in Soppeng Regency precisely in Laringgi village a total of 487 people have not been fully checked out regularly and the discovery of several cases of pregnancy outside marriage, early marriage, HIV/AIDS in rural areas and adolescent health problems (anemia, stunting, KEK and obesity). This is a problem because, lack of adolescent knowledge about health reproduction, identification of new health problems found at the time the teenager will become ca lon mother / father, due to lack of early detection in their teens. It's just that physical growth in adolescents is not always accompanied by the maturity of thinking and emotional abilities. In addition, in adolescence there is also a process of self-introduction, and failure in the process of self-introduction can cause various problems.The method used is the lecture method with health education and adolescent health checks through the establishment of adolescent health posts (PKR) in collaboration with the School Health Unit (UKS) at SMAN 01 Soppeng. The results of the activity are an increase in knowledge after giving material about adolescent health, checking vital signs, HbSAg examination, physical examination of adolescents, HIV testing, and hemoglobin examination. From the results of the examination found that 86 adolescents were found to suffer from mild anemia with hemoglobin levels below 10 gr / dl, as many as 1 person infected with HBsAg, 2 people found a lump in the breast and no HIV patients were found in adolescents. Conclusions are able to detect symptoms / signs early if certain diseases occur in him that are related to the reproductive system, adolescents in rural areas free from sexually transmitted diseases (STDs) and the importance of education to check themselves routinely before they become prospective parents. Suggestion of support from parents to carry out routine health check-up of their children not only to do health check at the time the child / teen complains of pain in certain body part.
T. Yuniarti, Isnani Nurhayati, Anggie Pradana Putri
et al.
Pengaruh Pengetahuan Kesehatan Lingkungan Terhadap Pembuangan Sampah Sembarangan. Permasalahan sampah di suatu kawasan meliputi tingginya laju timbulan sampah, kepedulian masyarakat yang masih rendah sehingga suka berperilaku membuang sampah sembarangan, keengganan untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Perilaku yang buruk ini seringkali menyebabkan bencana di musim hujan karena drainase tersumbat sampah sehingga terjadi banjir. Tujuan : Mengetahui pengaruh pengetahuan kesehatan lingkungan terhadap pembuangan sampah sembarangan di desa Cabean Kunti Cepogo Boyolali. Metode penelitian : Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pengamatan secara langsung dalam membuang sampah. Pengambilan sampel di lakukan dengan teknik purposive sample. Hasil penelitian : Tingkat pengetahuan warga tentang kesehatan lingkungan berada pada tingkatan cukup sebanyak 68%. 90,2% warga membuang sampah sembarangan. Perilaku membuang sampah ke sungai masih dilakukan masyarakat dengan alasan bahwa sampah yang dibuang ke sungai akan terbawa oleh air yang mengalir sehingga tidak berdampak banjir. Pengetahuan Kesehatan Lingkungan dengan Pembuangan sampah adalah sebesar 0,228 atau sangat kuat pada koefisien 0,01. diketahui juga nilai signifikansi atau Sig. sebesar 0,001 dengan N sebesar 228. Terdapat angka koefisien korelasi bernilai positif 0,228, artinya semakin tinggi pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan lingkungan, maka masyarakat akan sadar membuang sampah pada tempatnya. Simpulan : jika pengetahuan semakin ditingkatkan, maka keadaan lingkungan akan semakin lebih baik.
Background: The Covid-19 pandemic could have an adverse impact on both physical and psychosocial conditions. Physical distancing encourages a person to be unable to perform activities normally to reduce the likelihood of transmission. Physical distancing must be done by everyone, including students and their families. This condition can lead to feelings of loneliness, boredom, and anxiety. Another impact that society feels is the onset of unrest due to financial condition, employment, and future life plans. Anxiety and anxiety caused by the Covid-19 pandemic resulted in the emergence of mental health problems and emotional mental disorders.
Purpose: This study aimed to find out the picture of mental health and emotional mental disorders in students and families during the Covid 19 Pandemic.
Methods: The research design used is a descriptive crossectional. The population in this study was students of Nursing Diploma 3 Study Program STIKES Karya Husada Kediri and his family. Fifty-six students were selected as sample members, through random sampling techniques. The variables in this study were mental health and emotional mental disorders. Data retrieval is carried out from 6 to 20 June 2020, with the instrument Self Reporting Questionnaire (SRQ-29). Descriptive analysis of data is performed with the help of frequency distribution tables.
Results: The results of the study found that there were 2 respondents (3.6%) psychological disorders (anxiety and depression), none (0%) psychoactive disorders/drug use. Research data also shows that there are 5 respondents (8.9%) psychotic disorders, as well as 16 respondents (28.6%) PTSD disorder. Mental health disorders experienced by respondents are emotional mental disorders with symptoms of fear, worry, anxiety, tension and even excessive headaches. Mental health disorders result in impaired daily life activities.
Conclusion: To prevent an increase in the number of people with emotional mental disorders in students and their families, there needs to be educational efforts that contain how to avoid and overcome emotional mental disorders that occur and the need for psychosocial mental health support in students and their families
Perilaku manusia yang berhubungan dengan keselamatan merupakan sebuah pendekatan untuk menganalisis apa yang dibutuhkan untuk membuat perilaku K3 lebih dimungkinkan dan mengurangi perilaku yang beresiko. PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon salah satu perusahaan yang memproduksi jaring dan tambang. Berdasarkan data kecelakaan kerja akibat tindakan yang tidak berperilaku K3 di PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon sebanyak 90% di tahun 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku K3 di PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon Tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini berjumlah 2002 orang. Pengambilan data dilakukan secara propotional random sampling dengan jumlah sampel 92 responden. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square pada tingkat kemaknaan 5% (0.05). Hasil penelitian, diketahui 56.5% pekerja berperilaku K3 dan 43.5% pekerja yang tidak berperilaku K3. Faktor – faktor yang tidak berhubungan dengan perilaku K3 adalah pelatihan, penghargaan dan hukuman. Sedangkan faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku K3 adalah pengetahuan, sikap, motivasi, komunikasi,ketersediaan fasilitas dan pengawasan.Kata kunci : Faktor Predisposing, enabling, reinforcing,Perilaku K3 ABSTRACTHuman behavior associated with safety is an approach to analyze what is needed to make the behavior more likely K3 and diminish risk behaviors. PT Arteria Daya Mulia Cirebon (ARIDA) one of the companies that manufacture net and mine. Based on data from workplace accidents due to actions that do not behave K3 PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon as much as 90% in 2014. The aim of this research is to know factors - factors related to the behavior of K3 PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon 2015. This research is a quantitative with cross sectional design. The population in this study amounted to 2002 people. Data collection was performed by proportional random sampling with a sample of 92 respondents. Bivariate analysis performed by the chi square test at 5% significance level (0.05). Results of the study, 56.5% of workers are known to behave K3 and 43.5% of workers who do not behave K3. Factors - factors that are not related to the behavior of K3 is training, reward and punishment. While factors - factors related to the behavior of K3 are the knowledge, attitudes, motivation, communication, availability of facilities and supervision.Kata kunci : Predisposing, enabling, reinforcing, K3 behavior
Abstract This community service aims to direct the community to a healthy lifestyle related to reproductive health. The subjects of service are high school adolescents who are vulnerable to the negative influence of social and environmental media. Reproductive health is very important for both men and women. Reproductive health is defined as a whole physical, mental and social well-being not free from disease or disability in all matters relating to the reproductive system, its functions and processes. This service at the high school level is very necessary to be carried out by using location search methods, approaches to the school and providing workshops to students. With this service can provide students with knowledge and insight into reproductive health and sexual deviations that they must avoid. Adolescent reproductive health is an inseparable part of mental health, mental health and social health. Teenagers must understand and know their sexual reproductive health so as not to produce sexual deviations that will harm themselves and their families. Abstrak Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengarahkan masyarakat pada pola hidup sehat terkait dengan kesehatan reproduksi. Subjek pengabdian yaitu remaja tingkat SMA yang rentan terhadap pengaruh negatif media sosial dan lingkungan. Kesehatan reproduksi hal yang sangat penting untuk pria maupun wanita. Kesehatan reproduksi didefenisikan sebagai suatu kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara utuh tidak bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya. Pengabdian di tingkat sekolah menengah atas ini sangat perlu untuk dilak dengan menggunakan metode pencarian lokasi, pendekatan kepada pihak sekolah dan pemberian workshop kepada peserta didik.. Dengan adanya pengabdian ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan siswa dalam kesehatan reproduksi dan penyimpangan seksual yang harus mereka hindari. Kesehatan reproduksi remaja merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan yakni kesehatan psikis, mental dan kesehatan social. Remaja harus memahami dan mengetahui kesehatan reproduksi seksual mereka agar tidak menghasilkan penyimpangan-penyimpangan seksual yang akan merugikan diri sendiri dan keluarga.
Promosi kesehatan dan prevensi penyakit adalah sejumlah kegiatan yang bertujuan dan dirancang untuk menigkatkan kesehatan personal dan masyarakat melalui kombinasi strategi, termasuk implementasi perubahan perilaku, pendidikan kesehatan, deteksi resiko kesehatan serta peningkatan dan pemeliharaan kesehatan. Sedangkan kuratif dan rehabilitatif pada umumnya dilakukan tehadap sasaran secara individual. Alat Bantu atau alat peraga dalam penyuluhan kesehatan sebaiknya disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap melalui panca indra. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Alat peraga ini dimaksudkan untuk menggerakkan indra sebanyak mungkin kepada suatu obyek, sehingga mempermudah persepsi seseorang. Jenis penelitian ini adalah eksperimental semu dengan rancangan pre test – post test group design . Observasi untuk mengetahui perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Dalam penelitian ini, subyek penelitian dibatasi pada siswa/i kelas V SD Negeri Bertingkat Naikoten 1 dan SD Negeri Kuanino yang berkedudukan di Kota Kupang. Dipilih 2 SD ini dengan maksud untuk membatasi variasi dalam mutu pendidikan, proses belajar mengajar dan faktor lingkungan sekolah. Instrumren yang digunakan dalam penelitian ini adalah leaflet yang berisikan materi tentang proses terjadinnya karang gigi dan lubang gigi. Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap siswa tentang kesehatan gigi. Alat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan media leaflet dapat meningkatkan secara bermakana pengetahuan dan sikap siswa SD sedangkan skor plak tidak dapat meningkatkan secara bermakna.