AgustiQori Al-Mubarak, Ismi Rahmawati, Oetari Oetari
Optimal drug management and drug inventory control can minimize costs and the number of orders in the next planning period. The purpose of this study was to evaluate drug management in the Pharmacy Installation of Harapan Insan Sendawar Hospital with SWOT analysis improvement strategies. The research design was descriptive based on retrospective and concurrent data. All quantitative data were compared with the indicators of The Department of Health (2008), WHO (1993), Minister of Health Regulation (2013), and Pudjaningsih in Satibi (2022). Furthermore, qualitative analysis was carried out with a SWOT approach as an alternative improvement strategy in the Pharmacy Installation based on quantitative data output and internal capital and external influences. The results of the study that meet the standards are: the level of drug availability (15,6 months) and the average prescription service time (non-compounded prescription 23,37 minutes & prescription 39,8 minutes). Results that did not meet the standard were: percentage of stock card matches with drugs (94,73%), inventory turnover ratio (2,22 times), percentage of expired drugs (4,7%), percentage of dead stock (8,97%), number of drug items per prescription sheet (3,57 items), percentage of generic drug prescriptions (76,25%). SWOT analysis of the pharmacy installation falls within the first quadrant, namely focusing on development, improving services and establishing cooperation. The conclusion drawn is that pharmacy installations can adopt aggressive strategies by enhancing the development of management information systems to optimize inventory control.
Husnul Mawaddah, Asnawi Abdullah, M. Marthoenis
et al.
Problem gangguan mental di kalangan tentara memang jarang dibicarakan dibandingkan problem serupa di kalangan sipil. Salah satu bentuk gangguan mental yang acap ditemukan di kalangan prajurit ialah post traumatic stress disorder atau PTSD. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko gangguan mental emosional pada prajurit TNI AD Kodam Iskandar Muda. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional . Populasi dan sampel adalah semua prajurit TNI AD yang terdata dalam Rikkeswa Kodam Iskandar Muda yang diperiksa kesehatannya pada tahun 2021 dan 2022 berjumlah 1047 orang. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji logistic regresi dan regresi linear. Hasil penelitian didapatkan faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan mental emosional pada prajurit TNI AD Kodam Iskandar Muda adalah kadar enzim SGOT (p= 0.018), nilai indek massa tubu (IMT) (p= 0.002). dan tekanan darah diastolik (p= 0.029). Analisis multivariat nilai IMT (p = 0.014) adalah faktor yang paling berhubungan dengan gannguan mental emosional. Variabel yang paling berhubungan dengan gannguan mental emosional adalah nilai IMT (p = 0.014). Perlu dilakukan rencana aksi strategis mengurangi ganggguan mental emosional berkaitan dengan tekanan darah, enzim SGOT dan IMT. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk mendeteksi ganggguan mental emosional pada TNI.
Kesehatan reproduksi pada merupakan kondisi kesehatan yang menyangkut masalah kesehatan organ reproduksi, yang kesiapannya dimulai sejak usia remaja ditandai oleh haid pertama kali pada remaja perempuan atau mimpi basah bagi remaja laki-laki. Informasi mengenai kesehatan reproduksi juga dapat diperoleh dengan mudah dari berbagai sumber. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan tepat sasaran bagi remaja untuk membantu mereka memahami perubahan tubuh, peran reproduksi, serta risiko dan cara pencegahannya. Kegiatan penyuluhan dilakukan pada hari Jumat, 4 Oktober 2024. Peserta yang mengikuti kegiatan penyuluhan ini adalah seluruh siswa kelas 5 dan 6 SDK Untung Suropati 2 Sidoarjo. Dalam proses penyuluhan sasaran terlihat antusias menerima materi yang diberikan. Materi disajikan dalam bentuk PPT yang didesain semenarik mungkin, sehingga sasaran tampak lebih mudah memahami isi materi yang diberikan. Hasil evaluasi ini dapat dilihat dari penyuluhan yang telah dijalankan didapatkan sebanyak 97 % dapat memahami dengan baik perubahan fisik saat pubertas, risiko penyakit menular seksual (PMS), cara menjaga kebersihan organ reproduksi dan risiko infeksi, beberapa informasi yang tidak benar tentang seksualitas, perubahan hormon dan perkembangan emosional selama pubertas dan pentingnya kebersihan organ reproduksi.
Sofia Sofia, Endang Dwiyanti, Nisrina Oksigendaru Dicha
et al.
The most common physical risk at work is noise, which may cause several health issues.
These include diseases of the auditory system and non-auditory impacts including poor
communication, tension, anxiety, high blood pressure, and decreased productivity. At
the production unit of PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. Plant Margomulyo, this
research aimed to examine the association between respondent characteristics and noise
intensity in the workplace and changes in workers' blood pressure before and after work.
51 respondents participated in the cross-sectional study using an analytical and
observational methodology. The results showed that elevated blood pressure was
significantly correlated with age (p = 0.000), duration of service (p = 0.007), usage of
personal protective equipment (PPE) (p = 0.011), and noise intensity (p = 0.000).
Nonetheless, no statistically significant correlation was seen between elevated blood
pressure and dietary state (p = 0.467), smoking behaviors (p = 0.763), or history of
hypertension (p = 0.170). These findings suggest that while lifestyle factors like
smoking and nutritional status have less impact in this context, occupational factors—
particularly noise exposure—as well as certain personal characteristics like age and
length of service are linked to elevated blood pressure in workers.
Lagiono Lagiono, Nuryanto Nuryanto, Hari Rudijanto
et al.
Akselerasi penurunan stunting dilaksanakan melalui intervensi spesifik, salah satunya melalui upaya perbaikan kualitas kesehatan lingkungan. Sarana penyediaan air bersih, jamban dan sanitasi bangunan berkontribusi secara tidak langsung terhadap kejadian stunting. Tujaun penelitian adalah untuk mengevaluasi program kesehatan lingkungan sebagai intervensi spesifik untuk mendukung akselerasi penurunan stunting di Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan survei. Data digunakan dari 9 Puskesmas dengan teknik pengambilan sampling secara purposive sampling melalui wawancara dan penelusuran dokumen. Layanan kesehatan lingkungan sebagai intervensi spesifik untuk mendukung akselerasi penurunan stunting di 9 Puskesmas sudah berjalan cukupn baik. Meskipun demikian terdapat hambatan dalam pelaksanaannya antara lain sebagian besar pengelola belum mengikuti pelatihan stunting, belum ada anggaran khusus serta capaian layanan penyediaan air bersih masih dibawah rata-rata capaian Kabupaten Banyumas. Perlunya peningkatan capaian penyediaan air bersih melalui pemberdayaan masyarakat sebagai upaya penurunan stunting.
Berdasarkan pengalaman, anak-anak usia sekolah umumnya lebih responsif untuk diajarkan pendidikan kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, perlu diberikan pendidikan dasar pemisahan sampah sejak dini kepada anak-anak kalangan kurang mampu di Youth Sikolata’, karena jika kita memulai dari anak-anak diharapkan nantinya menjadi kebisaaan yang baik. Sehingga solusi yang diharapkan dari pengabdian ini adalah untuk memberikan informasi bahwa dampak yang didapatkan jika sampah tidak dibuang pada tempatnya akan mengakibatkan penyakit dan akan mencemari udara disekitarnya, maka dari itu kita dapat mendidik anak-anak tersebut untuk selalu membuang sampah pada tempatnya dan dapat menekan angka penyakit yang muncul di lingkungan mereka. Selain memberikan informasi, mereka juga dapat diajarkan untuk memilah lalu mengelola sampah anorganik yang terdiri dari limbah plastik, limbah logam, limbah gelas atau kaca, dan limbah kertas menjadi barang yang berguna setelah didaur ulang agar dapat dimanfaatkan kembali. Adapun metode yang digunakan adalah ceramah dan demonstrasi. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 2 hari yang terbagi menjadi dua sesi yaitu sesi edukasi dimana sesi ini dilakukan dengan pemaparan materi mengenai penyuluhan pengolahan sampah. Sesi kedua merupakan pelatihan pengolahan sampah anorganik menjadi barang-barang bernilai ekonomis. Sehingga secara keseluruhan kegiatan pengabdian ini berjalan lancar. Hasil yang dicapai pada kegiatan pengabdian masyarakat ini, anak-anak pada kalangan kurang mampu di Youth Sikolata’ sudah mulai memiliki kesadaran untuk melakukan pengolahan sampah anorganik di lingkungan mereka. Hal tersebut dibuktikan dengan produk yang telah mereka hasilkan sehingga dapat juga digunakan sebagai media pembelajaran untuk mereka.
Sejarah pendidikan profesi kedokteran melalui proses yang panjang dan berliku, membutuhkan upaya berkelanjutan yang lebih baik. Tujuan pendidikan profesi adalah untuk mendidik para profesional mengupayakan penyebaran pengetahuan, mempunyai pola pikir kritis dan perilaku etis, kompeten dalam sistem pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat.Pada era pandemi COVID-19, diperlukan pendekatan sistem reformasi pendidikan professional yang terintegrasi dan kepemimpinan yang lebih baik.
Pandemi COVID-19 memberikan dampak menyeluruh termasuk pada pendidikan kedokteran. Sebagian besar rotasi mahasiswa kedokteran terhenti terkait pelayanan rumah sakit berfokus pada penanganan COVID-19 dan pembelajaran tatap muka dikelas serta praktik laboratorium ditunda, mahasiswa belajar secara jarak jauh. Pandemi COVID-19 telah merubah pelayanan publik dan potensi perubahan tatalaksana pendidikan kedokteran. Rotasi penugasan yang tinggi antar bagian dan ke berbagai RS jejaring akan meningkatkan risiko peserta didik sebagai faktor penyebab penyebaran. Meskipun demikian+ peserta didik PPDS juga memegang peranan terbesar pada pelayanan medis di RS pendidikan. Terdapat kekhawatiran yang tinggi peserta didik akan dampak COVID-19 pada proses pendidikan mereka.
Abstract
This study aims to obtain the best dose of clove extract anesthetic in the transportation of carp (Cyprinus carpio) from suppliers to consumers in the supply chain of carp. Alive, healthy, and not defective carp from the Fish Seed Center with 3-5 cm size were used as objects in this study. Carp fish bag and 50 x 35 x 30 cm Styrofoam boxes were used as containers which were placed randomly during the delivery of carp. The study was conducted with four treatments of different clove extract levels, treatment A as a control (0 ppm), B (3.3 ppm), C (6.7 ppm), and D (10 ppm), with three replications each. The examination of the anesthetic condition of carp was carried out four times during transportation, at 0, 6, 12, and 24 hours. Analysis of Variance (ANOVA) was conducted to see the impact of the treatments, and then the Tukey test was carried out to see the differences between treatments. The analysis was carried out using SPSS version 21. The results showed that increasing the anesthetic dose of clove extract impacted the health condition and survival rate of the carp seedlings during transportation. The highest survival rate (85%) was achieved at a concentration of 6.7 ppm.
Keywords: anesthesia dosage, clove extract, carp, the survival rate
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis anestesi ekstrak cengkeh terbaik dalam pengangkutan ikan karper (Cyprinus carpio) dari pemasok ke konsumen dalam rantai pasok ikan karper. Ikan karper yang digunakan sebagai objek dalam penelitian ini adalah ikan karper dari Balai Benih Ikan dengan ukuran 3-5 cm, dalam keadaan hidup, sehat, dan tidak cacat. Kantong ikan karper dan Styrofoam berukuran 50 x 35 x 30 cm digunakan sebagai wadah selama pengiriman ikan karper dan penempatannya dilakukan secara acak. Penelitian dilakukan dengan 4 perlakuan kadar ekstrak cengkeh yang berbeda, yaitu A sebagai kontrol (0 ppm), B (3,3 ppm), C (6,7 ppm), dan D (10 ppm) dengan masing-masing 3 ulangan. Pemeriksaan kondisi anestesi pada ikan karper dilakukan 4 kali selama pengangkutan, yaitu 0, 6, 12, dan 24 jam. Analysis of Variance (ANOVA) dilakukan untuk melihat dampak dari perlakuan kemudian uji Tukey dilakukan untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Analisis dilakukan dengan SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan dosis anestesi ekstrak cengkeh berdampak pada keadaan kesehatan dan sintasan ikan karper saat transportasi. Sintasan tertinggi (85%) dicapai pada konsentrasi 6,7 ppm.
Kata kunci: dosis anestesi, ekstrak cengkeh, ikan karper, sintasan
Inggita Kusumastuty, Dian Handayani, Harjoedi Adji Tjahjono
et al.
Background: Previous research state the correlation between vitamin D deficiency and Type 1 diabetes. The deficiency of Vitamin D is caused by vitamin D intake, sunlight exposure, or nutritional status. Indonesia, as a tropical country, is close to the equator and receives sunlight all year long. Little research has been done on vitamin D levels in children and adolescents with Type 1 Diabetes in Indonesia.
Objective: The study aims to determine the relationship among sunlight exposure, nutritional status, food intake, and vitamin D levels in children and adolescents with Type 1 Diabetes.
Methods: The study design was cross-sectional with a sample size of 31 children and adolescents aged 5-19 years. Sunlight exposure data were collected using the Sun Exposure Questionnaire form, nutritional status o BMI/age data were using the WHO Anthro, food intake data were using the Semi-Quantitative Food Frequency Questioner, and vitamin D level data were using the ELISA method. Statistical analysis was conducted by using SPSS Version 21 with Pearson and Spearman correlation test.
Results: All respondents showed vitamin D deficiency. Most respondents had low sunlight exposure and nutritional status in the normoweight category. The majority of respondents had good energy and protein intake, excess fat, low carbohydrates, and low vitamin D and calcium.
Conclusion:There is a positive relationship between sunlight exposure and vitamin D level (p = 0.001, r = 0.627). However, there is no relationship among nutritional status, protein intake, fat, carbohydrates, vitamin D and calcium on the level of vitamin D (p = 0.409; p = 0.240; p = 0.311; p = 0.822; p = 0.231; 0.382).
Masa remaja akan diwarnai dengan perubahan fisik salah satunya adalah payudara membesar. Payudara ini memiliki kemungkinan akan timbulnya penyakit salah satunya adalah kanker payudara. Namun kurangnya minat remaja dalam mencari informasi mengenai deteksi dini kanker payudara, menjadikan remaja tidak paham akan penyakit kanker payudara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan melalui peer group terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang SADARI. Jenis penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pre and post test without control group. Dengan jumlah populasi 1028 remaja putri, sehingga jumlah sampel didapatkan sebanyak 91 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling. Data diperoleh dengan cara wawancara, alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis secara statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil pengujian hipotesis menggunakan uji Wilcoxon signed ranktest diperoleh nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,000 (p< 0,05) sehingga kesimpulan uji adalah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui peer group terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang SADARI.Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Peer Group, Remaja ABSTRACT Adolescence will be colored by physical changes, one of which is enlarged breasts. This breast has the possibility of disease, one of which is breast cancer. But the lack of interest in adolescents in seeking information about early detection of breast cancer, makes teenagers do not understand breast cancer.The purpose of this study was to determine the effect of health education through peer groups on the knowledge and attitudes of young women about their awareness. This type of research uses a quasi experiment design with a pre and post test without control group approach. With a population of 1028 young women, so the number of samples was 91 respondents. The sampling technique used in this study used simple random sampling. Data obtained by interview, data collection tools using questionnaires and statistically analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results of hypothesis testing using the Wilcoxon signed ranktest test obtained a probability value (p-value) of 0,000 (p <0.05) so that the conclusion of the test was that there was an effect of health education through peer groups on the knowledge and attitudes of young women.Keywords : Knowledge, Attitude,Peer Group, Adoloscence
Tri Ellyda Sari, Fakhsiannor Fakhsiannor, Nurul Indah Qariati
Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang dapat mengakibatkan kesakitan bahkan kematian. Beberapa Desa di Kecamatan Paringin Selatan merupakan desa sasaran program PAMSIMAS. Salah satu permasalahan kesehatan yang ada di Kecamatan tersebut adalah masih ditemukannya peningkatan kasus Diare, sedangkan cakupan jamban keluarga juga meningkat sebagai hasil dari program tersebut. Hal ini disebabkan pula oleh kurangnya pengetahuan, pendidikan rendah, sikap KK yang negatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan cakupan jamban keluarga dengan angka kejadian diare di Desa Galumbang (Program PAMSIMAS) pada wilayah kerja Puskesmas Paringin Selatan Kecamatan Paringin Selatan Kabupaten Balangan Tahun 2018. Metode penelitian secara analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh KK yang ada di Desa Galumbang, sedangkan sampel adalah sebagian KK yaitu sebanyak 61 KK. Pengumpulan data dengan metode angket dengan menggunakan kuesioner dan pengamatan langsung. Hasil penelitian angka kejadian diare keluarga sebanyak 35 (57,38%) dan yang tidak diare 26 (42,62%), pengetahuan KK dengan kategori baik 11 (18,03%), sikap KK yang positif 25 (40,98%), cakupan jamban keluarga yang memenuhi syarat 15 (24,59%). Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan angka kejadian diare keluarga, Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan angka kejadian diare keluarga. Ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan angka kejadian diare keluarga. Ada hubungan yang bermakna antara cakupan jamban keluarga dengan angka kejadian diare keluarga. Disarankan adanya penyuluhan yang lebih fokus pada perilaku yang biasa dilakukan masyarakat secara kontinyu tentang diare untuk meningkatkan pengetahuan orang Tua khususnya KK sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap kejadian diare.
BPJS Kesehatan adalah Jaminan Kesehatan Nasional dengan salah satu fokus utamanya adalah meningkat kepuasan pesertanya yaitu penduduk Indonesia dengan target kepuasan pada tahun 2019 adalah 85%. Kepuasan pasien ditentukan oleh banyak faktor antara lain seperti kualitas produk/jasa, kualitas pelayanan, dan faktor emosional (persepsi pasien). Kualitas pelayanan yang diterima pasien meliputi aspek realiability, assurance, responsivenes, tangibles, dan empathy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien di Klinik Haji Medan Mabar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian survei analitik dan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian sebesar 1743 orang dan Sampel peneliti sebanyak 95 orang yang merupakan pasien peserta BPJS Kesehatan di Klinik Haji Medan Mabar. Penelitian ini menggunakan uji statistik korelasi bivariat. Hasil analisis data menunjukan adanya hubungan kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien BPJS Kesehatan di Klinik Haji Medan Mabar dengan nilai r = 0,419 dan nilai signifikan atau p = 0,000, taraf signifikan yang digunakan 5% (0,05). Aspek yang paling mempengaruhi adalah assurance yang meliputi tentang ketersedian dokter yang ahli dibidangnya, keandalan, keramahan dan kesopanan perawat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan yang diterima pasien akan mempengaruhi kepuasan pasien itu sendiri. Saran untuk Klinik Haji Medan Mabar adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi seluruh pasien terutama pada aspek yang masih dalam kategori sedang yaitu responsiveness, reliability dan tangible.
This research focuses on the role of health workers in carrying out health services for WBP in Detention Centers. The research method used is a qualitative approach. Data collection techniques used are field research by conducting interviews and observations as well as literature studies. Based on the results of research conducted it is known that the role of health workers in detention centers is in accordance with their main duties and functions. Detention centers have a Polyclinic as a place for the implementation of health services in detention centers. In addition in the implementation of health services, there is an MoU between the detention center and the Government. In this case the provision of free health services with a National Identity Card (KTP) at a government-owned health agency. In addition, the detention center supports the implementation of the National Health Insurance for Penitentiary Guides in the Detention Center. But in the implementation of health services, the role of health workers does not run optimally because health workers in detention centers are only nurses' medical backgrounds, besides the lack of supporting infrastructure. After analyzing various facts, several alternative solutions were found to be done by: increasing the number of human resources for medical doctors in detention centers. Each disease experienced by WBP can be directly dealt with in detention centers and the addition of infrastructure facilities so that the role of health workers in the implementation of health services in Detention center can run optimally.
Undang-Undang No.40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) mengamanatkan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional, pengumpulan data dengan membagikan kuisioner dan dengan sampel Total Sampling. Penelitian dilakukan bulan April-Juli 2015 dengan 108 responden , analisis data menggunakan analisis Chi- Square. Hasil penelitian menunjukkan responden ikut serta pada BPJS sebanyak 78 orang atau (72 %) dan kepuasan mendapatkan pelayanan kesehatan yaitu puas sebanyak 99 responden (92%). Dari uji Chi-Square dengan batas kemaknaan (α) = 0,05, maka ada hubungan antara keikutsertaan pada BPJS dengan kepuasan mendapatkan pelayanan kesehatan. Diharapkan masyarakat yang belum mengurus pengalihan jaminan kesehatan untuk segera mengurus peralihannya pada (BPJS). Bagi peneliti selanjutnya dapat menambahkan jumlah responden dan mengambil tempat penelitian baru dan fokus pada penilaian yang berbeda.
Perilaku manusia yang berhubungan dengan keselamatan merupakan sebuah pendekatan untuk menganalisis apa yang dibutuhkan untuk membuat perilaku K3 lebih dimungkinkan dan mengurangi perilaku yang beresiko. PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon salah satu perusahaan yang memproduksi jaring dan tambang. Berdasarkan data kecelakaan kerja akibat tindakan yang tidak berperilaku K3 di PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon sebanyak 90% di tahun 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku K3 di PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon Tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini berjumlah 2002 orang. Pengambilan data dilakukan secara propotional random sampling dengan jumlah sampel 92 responden. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square pada tingkat kemaknaan 5% (0.05). Hasil penelitian, diketahui 56.5% pekerja berperilaku K3 dan 43.5% pekerja yang tidak berperilaku K3. Faktor – faktor yang tidak berhubungan dengan perilaku K3 adalah pelatihan, penghargaan dan hukuman. Sedangkan faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku K3 adalah pengetahuan, sikap, motivasi, komunikasi,ketersediaan fasilitas dan pengawasan.Kata kunci : Faktor Predisposing, enabling, reinforcing,Perilaku K3 ABSTRACTHuman behavior associated with safety is an approach to analyze what is needed to make the behavior more likely K3 and diminish risk behaviors. PT Arteria Daya Mulia Cirebon (ARIDA) one of the companies that manufacture net and mine. Based on data from workplace accidents due to actions that do not behave K3 PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon as much as 90% in 2014. The aim of this research is to know factors - factors related to the behavior of K3 PT Arteria Daya Mulia (ARIDA) Cirebon 2015. This research is a quantitative with cross sectional design. The population in this study amounted to 2002 people. Data collection was performed by proportional random sampling with a sample of 92 respondents. Bivariate analysis performed by the chi square test at 5% significance level (0.05). Results of the study, 56.5% of workers are known to behave K3 and 43.5% of workers who do not behave K3. Factors - factors that are not related to the behavior of K3 is training, reward and punishment. While factors - factors related to the behavior of K3 are the knowledge, attitudes, motivation, communication, availability of facilities and supervision.Kata kunci : Predisposing, enabling, reinforcing, K3 behavior
Yanuartono Yanuartono, Soedarmanto Indarjulianto, Alfarisa Nururrozi
et al.
Cacing nematoda gastrointestinal merupakan parasit yang memiliki peran penting pada ruminansia di negara tropis maupun subtropis. Nematoda tersebut memicu berbagai masalah kesehatan dan dapat mengakibatkan penurunan produksi karena menghambat pertumbuan, rendahnya kenaikan bobot badan, kematian pada hewan muda, biaya pengobatan tinggi dan kerugian ekonomi yang besar dalam usaha peternakan. Penggunaan golongan macrocyclic lactones yang memiliki spektrum luas telah digunakan dalam mengendalikan infeksi cacing nematoda gastrointestinal dalam industri peternakan selama empat dekade yang pada akhirnya menyebabkan resistensi antelmintik. Seiring berkembangnya resistensi terhadap anthelmintik membuat para ahli berusaha mencari metode standar untuk digunakan sebagai deteksi resistensi yang dapat diandalkan. Meskipun demikian, sebagian besar metode yang digunakan memiliki kekurangan seperti biaya tinggi, aplikasi dan interpretasi yang tidak mudah. Saat ini pedoman standar untuk deteksi resistensi anthelmintik telah dikeluarkan oleh World Association for Advancement of Veterinary Parasitology (WAAVP). resistensi antelmintik dapat diatasi atau ditunda dengan berbagai upaya seperti manajemen pencegahan dan pengobatan cacing pada ternak secara terpadu.
BPJS Kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada para peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menerapkan kebijakan rujukan berjenjang. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga menerapkan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 59 tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan. Kabupaten Bantul menduduki peringkat pertama untuk kasus rujukan tertinggi di Provinsi DIY yaitu yaitu 136.668 kasus. Penerapan kebijakan rujukan berjenjang tersebut masih memberikan permasalahan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan kebijakan rujukan berjenjang bagi peserta BPJS Kesehatan Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Bantul Yogyakarta Tahun 2018. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Rancangan penelitian adalah studi kasus (case study). Penelitian ini akan dilaksanakan di Fasilitas Kesehatan Tingkat pertama (FKTP) Kabupaten Bantul Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan kebijakan rujukan berjenjang di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertamaa (FKTP) di Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sudah berjalan dengan baik dan mengacu pada Peraturan Gubernur DIY No 59 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan khususnya pada pasal 9, 10, 11 dan 12. Kebijakan yang terbaru adalah Keputusan Kadinkes Provinsi DIY No 445/00905/III-2 tahun 2017 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan yang salah satunya menyebutkan bahwa pelayanan rujukan dilaksanakan dengan berbasis wilayah dan kompetensi. Selain itu juga Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan No 4 tahun 2018 tentang penyelenggaraan sistem rujukan berjenjang berbasis kompetensi melalui integrasi sistem informasi. BPJS Kesehatan melakukan sosialisasi terkait dengan penerapan kebijakan-kebijakan yang baru terkait rujukan berjenjang.
Hemodialysis is one of renal replacement therapy in patients with CRF, one of the problems that led to the failure of hemodialysis is the issue of compliance. Therefore it takes the role of health workers in providing understanding of discharge planning for continuity of care in achieving the quality of life of patients. The study aims to determine the relationship of understanding of discharge planning with the level of compliance in the CRF patients undergoing hemodialysis therapy in RSI Jemursari Surabaya. Analytical research method with cross sectional design. The population is all patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis for 70 people and a large sample of 59 respondents. Systematic sampling with sampling techniques. The instrument has it under the sheet questionnaires, and then analyzed by Spearman correlation test using SPSS 16.0 can for Windows. The results showed that a large majority of the 59 respondents 35 (59.3%) a good understanding of discharge planning, compliance levels in CRF patients undergoing hemodialysis therapy most of the 30 (50.8%). With the relationship of discharge planning with the level of compliance in the CRF patients undergoing hemodialysis therapy, it is expected that health workers can provide clear information to patients, in the form of discharge planning which is in good order and improve the quality of interaction to the family and the patient.
Kegiatan ini memiliki tujuan untuk memberikan wacana pentingnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi, pencegahan napza dan merokok dan pemahaman tentang undang – undang kesehatan, dengan harapan dapat meningkatkan pemahaman siswa – siswa tentang masalah kesehatan. Masyarakat dalam pengabdian ini adalah siswa – siswi sekolah dari SMA Negeri 1 Polokarto yang belum memahami dan umumnya menilai sangat rendah arti dari kesehatan, sehingga permasalahan tentang sistem reproduksi, Napza dan merokok akan sangat mudah terpapar. Dampak dari kurang pahamnya informasi tentang kesehatan adalah terjadi hubungan seks bebas remaja, mudahnya seseorang terpapar dengan bahan dan zat adiktif seperti narkoba, mudahnya memperoleh rokok tanpa filter dari pemerintah serta tingginya kasus – kasus yang berkaitan dengan tema tersebut. Kegiatan pengabdian dosen ini ditujukan kepada pelajar di SMA Negeri 1 Polokarto yang memiliki segudang prestasi sesuai bidangnya, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kegiatan Pengabdian ini memberikan tambahan informasi dan keilmuan bidang kesehatan bagi para siswa-siswi di sekolah tersebut, dengan harapan akan membuka wawasan mereka terhadap kejadian dan peristiwa yang terjadi sekitar mereka. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini dengan memberikan pendidikan kesehatan/penyulihan terhadap para siswa – siswi. Penyuluhan/pendidikan kesehatan dengan materi kesehatan reproduksi, pencegahan napza dan merokok dan pemahaman tentang undang – undang kesehatan diharapkan dapat membuka wawasan tentang kesehatan karena siswa – siswa baru tersentuh/terpapar sebagian kecil ilmu kesehatan. Adapun pendidikan kesehatan yang diberikan menghasilkan manfaat keilmuan bidang kesehatan bagi kesehatan siswa–siswa dalam perawatan dan pencegahan (sistem reproduksi, NAPZA dan Rokok). Pendidikan kesehatan / penyuluhan diberikan selama 1 hari di SMA Negeri I Polokarto.
Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada anak. Diagnosis dini sepsis sangat penting untuk menghindari keterlambatan atau overtreatment pemberian antibiotik. Kultur darah memerlukan waktu yang lama sehingga dibutuhkan suatu marker yang bisa menentukan diagnosis sepsis secara dini.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan CD64 netrofil sebagai salah satu marker untuk deteksi dini sepsis.
Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di IGD RS Dr. M. Djamil Padang. Dilakukan pemeriksaan index CD64 netrofil dan kultur bakteri darah sebagai baku emas pada anak dengan systemic inflammatory response syndrome (SIRS). Analisis stastistik dilakukan untuk menetapkan cut off point index CD64 netrofil untuk diagnosis sepsis.
Hasil. Rerata index CD64 netrofil lebih tinggi pada kultur bakteri darah yang positif. CD64 netrofil memiliki sensitivitas 95,8%, spesifisitas 81,6%, nilai prediksi positif 76,7%, dan nilai prediksi negatif 96,9% dengan penetapan cut-off point 1,5. Pada penelitian ini didapatkan nilai cut off point 1,49.
Kesimpulan. Indeks CD64 netrofil dapat digunakan sebagai parameter diagnostik pada sepsis. Nilai cut-off point index CD64 netrofil yang direkomendasikan sebagai batasan sepsis pada anak dengan SIRS adalah 1,49 atau 1,5.