Análise de uma amostra de nomes próprios portugueses em Timor-Leste: Antroponímia, Património Linguístico e variação linguística
Helena Rebelo
Em Timor-Leste, no século XXI, os antropónimos – bens linguísticos patrimoniais que passam de geração em geração – revelam a presença da língua portuguesa, usada no território ao longo de séculos, e a sua previsível permanência nas gerações vindouras. É um Património Linguístico do Português no Sudeste asiático, no Oceano Pacífico. Visando a descrição linguística, analisa-se qualitativa e quantitativamente uma amostra deste Património Linguístico português, através de uma listagem de 40 nomes – compostos por justaposição com uma centena de elementos – de estudantes de uma turma de um Curso de Português em SDK Canossiana Balide, no início da Independência. Como se apresentam os nomes dos jovens timorenses? Que variação linguística se regista nos antropónimos portugueses e, simultaneamente, timorenses herdados ao longo de séculos? Pelos dados analisados e descritos, acredita-se que os nomes das pessoas, contrariamente aos topónimos timorenses, são uma marca resistente da influência da língua e da cultura portuguesas que persistirá. Perdurará, se, nas famílias, as crianças continuarem a receber nomes de influência portuguesa, valorizando a comunidade timorense, em especial nos centros urbanos, o seu passado linguístico-cultural e a sua história.
Literature (General), Manners and customs (General)
Expediente
Editor Veredas AIL
Literature (General), Manners and customs (General)
Sophia Beal – The Art of Brasília: 2000-2019. Londres: Editora Palgrave, 2020
Ligia Bezerra
Literature (General), Manners and customs (General)
Magra de ruim: gênero, sexualidade e a ficcionalização de si
Mariana Souza Paim
O objetivo do presente trabalho é analisar as representações de gênero e sexualidade presentes na publicação Magra de ruim de autoria de Sirlanney Nogueira, editada em formato impresso em 2014. O volume reúne boa parte de sua obra enquanto roteirista/ilustradora que fora publicada inicialmente em meio virtual e em diferentes zines entre os anos de 2012 e 2014. Magra de ruim foge a classificações mais sistemáticas a partir das quais se convencionou agrupar as narrativas gráficas, e lança mão através de diferentes técnicas e procedimentos, de uma narrativa que perpassa em múltiplas questões, como aquelas em torno do corpo, desejo, prazer, solidão, família, autonomia feminina e dos relacionamentos afetivos/sexuais. Nessas narrativas podemos ainda destacar o empreendimento de um discurso que pode ser localizado no bojo do feminismo e que, além de fissurar muitos dos constructos sociais pelos quais se tenta apreender as vivências femininas, aponta para as constantes reelaborações de si, a partir de uma in-scrita de traços e relatos biográficos.
Literature (General), Manners and customs (General)
Wayang Golek Sunda Sebagai Warisan Budaya
Arief Dwinanto
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
Representações de violência contra a mulher nos contos "Os negros olhos de Vivalma", de Mia Couto, e "A cabeleireira", de Inês Pedrosa
Aline Teixeira da Silva Lima
O objetivo deste artigo é problematizar a representação da violência contra a mulher na literatura contemporânea, por meio da análise dos contos "Os negros olhos de Vivalma", do escritor moçambicano Mia Couto, e "A cabeleireira", da escritora portuguesa Inês Pedrosa. Pretende-se comparar, sob o viés dos estudos de gênero, tanto na autoria feminina quanto masculina, a representação da "mulher agredida" e o posicionamento das mesmas diante das situações de violência doméstica nas narrativas em questão.
Literature (General), Manners and customs (General)
“REVOLUSI DALAM REVOLUSI”: TENTARA, LASKAR, DAN JAGO DI WILAYAH KARAWANG 1945-1947
IIm Imadudin
Penelitian ini bertujuan mengungkap konflik tentara dengan laskar dan jago di wilayah Karawang. Penelitian ini mempergunakan metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sama seperti halnya di daerah lain, revolusi kemerdekaan di wilayah Karawang berlangsung dengan sengit. Dinamika perjuangan kemerdekaan di Karawang terasa lebih keras lagi setelah proklamasi kemerdekaan. Pada masa perjuangan Karawang merupakan “rumah” bagi tentara dan laskar perjuangan. Banyaknya kelompok laskar dan kelompok jago yang sering menghadirkan kerusuhan menimbulkan permasalahan tersendiri sebagaimana digambarkan pada artikel ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik antara tentara, laskar, dan jago terjadi disebabkan adanya keyakinan yang besar terhadap janji-janji revolusi, perbedaan ideologis mengenai bagaimana perjuangan harus dimenangkan, faktor ketidakpercayaan yang mengakibatkan hubungan-hubungan yang tidak harmonis antarfaksi perjuangan di Karawang.
This study aims to reveal the conflict of soldiers with paramilitary troops and warior in the area of Karawang. This study uses historical methods consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Just as in other areas, the revolution of independence in the Karawang was fierce. The dynamics of the struggle for independence in Karawang was even harder after the proclamation of independence. Karawang is a "home" for the army and the paramilitary-troops struggle. The large number of paramilitary troops groups and groups of warior often caused riots that raise their own problems as illustrated in this article. The results show that the conflict between the army, the paramilitary troops and the warior occurred due to the great conviction of the promises of the revolution, the ideological differences about how the struggle should be won. The unbelieving factor resulted an unharmonious relationships between-fraction struggle in Karawang.
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
Historia de una impropiedad: el "Dicionário de bolso", de Oswald de Andrade
Laura Cabezas
El Diccionario de bolsillo, conjunto de entradas escritas por Oswald de Andrade entre los años treinta y cuarenta, despliega una relectura epifánica de la historia que subvierte las jerarquías y los ordenamientos vigentes, desde la opción por una creencia vital y militante que hace posible el acercamiento entre comunismo y cristianismo.
Literature (General), Manners and customs (General)
MENGGALI NILAI-NILAI LUHUR MASYARAKAT MASA LALU DARI TINGGALAN BUDAYA MATERI Studi Kasus Media Pengagungan Arwah Leluhur
Lutfi Yondri, Nina Herlina Lubis, dan Mundardjito
Abstrak
Berdasarkan hasil penelitian tentang tinggalan budaya materi dan tradisi budaya yang terkait dengan pengagungan arwah leluhur atau yang sering disebut dengan istilah pengagung arwah leluhur yang telah dilakukan oleh para prasejarawan selama ini, merupakan refleksi dari nilai-nilai masyarakat yang pernah berkembang pada masa lalu. Temuan tersebut dijadikan sebagai sumber data. Data tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif menggunakan pendekatan semiotika. Tulisan ini bertujuan mengelaborasi berbagai nilai lama yang tercermin dari tinggalan budaya materi dan tradisi yang disimpulkan pernah berkembang di tengah masyarakat pengagung arwah leluhur. Nilai-nilai tersebut antara lain semangat persatuan, kepemimpinan, gotong royong, dan sikap toleransi dalam kepercayaan. Bila hal ini disosialisasikan kembali di tengah masyarakat sekarang tentunya akan dapat memberikan sumbangan yang sangat positif bagi masyarakat.
Abstract
This study is based on the results of research on the remains of cultural material and traditions associated with the glorification of ancestors or often referred to as the adoration of ancestors that have been done by the pre-historian over the years. It is as a reflection of the values of the community once developed in the past. The findings are used as the data source. The data is then qualitatively analyzed using a semiotic approach. This paper aims to elaborate the various old value that is reflected from the remains of cultural material and tradition that ever developed in the adorer ancestral spirits society. The values include the spirit of unity, leadership, mutual cooperation, and tolerance in the trust. If these values are re-socialized in society now, it will certainly be able to provide a very positive contribution to society.
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
KAJIAN KRITIS DAMPAK PERKEMBANGAN PARIWISATA TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA SUNDA DI KOTA BANDUNG
Bambang Sapto Utomo, Sukarno Wibowo, dan Harry Soeparman
Abstrak
Dewasa ini pariwisata di Kota Bandung terus berkembang dan menunjukkan kontribusinya dalam menyejahterakan masyarakat. Kecenderungan perkembangan pariwisata sekarang ini tidak merujuk pada pelestarian nilai-nilai budaya Sunda, melainkan hanya terkonsentrasi pada industri ekonomi kreatif. Permasalahan ini tentunya dapat mengancam keberadaan pariwisata budaya di mana identitas budaya Sunda pada sektor pariwisata di Kota Bandung mulai ditinggalkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana dampak perkembangan pariwisata terhadap budaya Sunda di Kota Bandung. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Penulis berusaha mengembangkan konsep dan menghimpun fakta dengan cermat mengenai permasalahan eksistensi budaya Sunda. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari observasi, kajian dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menjelaskan bahwa perkembangan pariwisata di Kota Bandung berdampak pada melunturnya pariwisata bernuansa nilai budaya Sunda. Eksistensi budaya Sunda sebagai nilai-nilai yang harus dilestarikan kian kurang dihormati pada sisi esensi sejarah. Hal ini ditandai ketika beberapa pagelaran Sunda tidak lagi menyentuh pemahaman pada nilai-niai yang terkandung pada budaya Sunda. Pagelaran hanya bersifat formalitas, seremonial, dan bermotif ekonomi.
Abstract
Tourism in Bandung continues to grow today and show the contribution to the development of social welfare. However, the development of tourism in Bandung focused on the creative industries, while the Sundanese cultural values tend to be ignored. The main purpose of this research is to determine the impact of tourism development to Sundanese culture in Bandung. This research used descriptive qualitative method, that author are tried to develop concepts and gather facts about Sundanese culture in tourism. Data collection techniques in this research consisted of observation, documentation review, and interviews. The results of this research explains that the development of tourism in Bandung impacted to faded Sudanese cultural values in tourism. On the essence of history, the existence of Sundanese culture as values that should be preserved to be less respected. Indicators of declining respect to the Sundanese culture is the lack of understanding on cultural values which contained in a Sundanese arts performances. Sundanese arts performances just a formality, ceremonial and economically motivated.
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
STUDI TENTANG MODEL PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN MODEREN DINNIYAH PUTERI ”PERGURUAN DINNIYAH PUTERI” PADANG PANJANG, SUMATERA BARAT
Siti Dloyana Kusumah
Abstrak
Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menitikberatkan pada nilai-nilai keIslaman, sejak lama dikenal menjadi pusat pembinaan moral dan penjaga tradisi. Namun kini pesantren dihadapkan pada persoalan yang lebih kompleks seperti masuknya nilai-nilai asing sejalan dengan dinamika kebudayaan. Gagasan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui model pembelajaran di Pesantren Dinniyah Puteri Padang Panjang dalam menyikapi persoalan multikultur dan perubahan nilai. Penelitian menggunakan teori eksplorasi, yakni menggali secara dalam berbagai cara dan model pembelajaran yang berlangsung di lingkungan pesantren dimaksud. Data dan informasi yang diperoleh melalui wawancara, observasi maupun studi pustaka menunjukkan bahwa kini pesantren tersebut tidak semata-mata menanamkan pendidikan moral dan etika keagamaan semata-mata, akan tetapi melakukan pembudayaan atau pengenalan pranata-pranata kebudayaan kepada santri sebagai upaya untuk membuka wawasan dan kesadaran akan pentingnya menguasai nilai-nilai budaya yang didukung oleh suku-suku bangsa sebagai landasan bagi pembangunan karakter. Keberhasilan Pesantren Dinniyah Puteri dalam mengembangkan pendidikan yang berbasis keagamaan (Islam), maupun pengenalan pranata kebudayaan, adalah cita-cita pendirinya Rahmah El Yunnusiyah yang ingin membuktikan bahwa perempuan itu punya peranan penting sebagai ibu pendidik, yang cakap dan adil, dan aktif serta bertanggungjawab dalam membangun ketahanan budaya masyarakatnya.
Abstract
As an educational institution that focuses on Islamic values, pesantren (Islamic boarding school)has long been known to be the center of moral guidance and keeper of tradition. But now pesantren faces more complex issues such as the in flux of foreign values in line with the dynamics of culture. The study intends to acquire knowledge about learning model applied in Pesantren Dinniyah Puteri Padang Panjang in facing multicultural issues and changing values. The study uses the exploration theory, by digging up various ways and models of learning applied in the Pesantren. Data and information obtained through interviews, observation and bibliographic study indicated that today the Pesantren does not merely teach moral and religiousethics, but also introduce its pupils to cultural institutions as an effort to give an insight and to make them aware of the importance of mastering cultural values as a foundation fo rcharacter building. The success of Pesantren Dinniyah Puteri in developing Islam-based education and in introducing cultural institutions, are the ideals of its founder, Rahmah El Yunusiyah, who wants to prove that women have important role as competent, fair, active and responsible educator mothers inbuilding cultural resilience of their community.
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
PERKOTAAN KOLONIAL PADA ABAD XIX - XX, DI KOTA SERANG, BANTEN; KAJIAN ARKEOLOGI-HISTORIS
Lia Nuralia
Abstrak
Tulisan ini bertujuan memberi gambaran tentang perkotaan kolonial di Kota Serang pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda (Abad XIX-XX), dilihat dari perspektif arkeologis dan historis. Dengan menggunakan metode penelitian arkeologi (survei permukaan) dilengkapi dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara (sejarah lisan), dapat diketahui bahwa pada masa kolonial Belanda telah terjadi perubahan wilayah permukiman di Kota Serang yang cukup pesat dan siginifikan, sehingga penting diungkapkan ke permukaan. Perubahan terjadi terutama dalam pembagian wilayah perkotaan dan fungsi bangunan. Secara umum wilayah permukiman di Kota Serang ketika itu terbagi ke dalam 3 bagian wilayah, yaitu: pemukiman, perkantoran, dan perdagangan. Pembagian ini sebagai hasil kajian melalui bangunan lama periode kolonial dan tinggalan budaya materi lainnya yang masih ada sekarang. Seiring dengan pembagian wilayah tersebut, juga telah terjadi perubahan bentuk dan gaya arsitektur bangunan menjadi bergaya Indis atau pencampuran antara gaya Eropa dan gaya lokal. Hal ini tampak pada bentuk bangunan tinggi, dinding tebal, bentuk atap joglo, memiliki teras atau koridor di sepanjang bangunan atau pada sebagian luar bangunan. Selain perbahan secara fisik, perubahan non fisik juga terjadi ditandai dengan adanya perubahan pola sikap atau perilaku. Masyarakat Kota Serang menjadi lebih terbuka terhadap masuknya unsur budaya asing. Juga lebih toleran terhadap perbedaan kebiasaan antar etnis yang beragam dalam masyarakat heterogen.
Abstract
The aim of this research is to describe the colonial urban in Serang, Banten during the Dutch colonial era (19th – 20th century), based on historical remains and material culture as well. By conducting archaeological method (surface survey) and interview (oral history) it is found that there was a rapid and significant change in residence areas then, especially in zoning the urban areas and function of buildings. Generally, Serang was divided into three zones: residential, office, and commercial. Along with that zoning, there were also changes in the architecture of buildings, combining both local and European styles, called Indische style. It is seen in the form of high-rise buildings, thicker walls with joglo style for the roof, terraces or corridors along the building or outside the building. Beside physical changes, there were also non-physical changes in term of behavioural patterns. The inhabitants of the city became more open to foreign culture and more tolerant in building relationship with other heterogeneous ethnic groups.
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
PERJUANGAN RAKYAT SUKABUMI MELAWAN SEKUTU PADA MASA REVOLUSI 1945 – 1946
Sulasman Sulasman
Abstrak
Tulisan ini menggambarkan perjuangan rakyat Sukabumi dalam melawan Sekutu pada masa revolusi. Untuk merekontruksi itu digunakan Metode Sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Revolusi Sukabumi sangat erat kaitannya dengan peran para kiai, ulama, dan pemimpin pesantren. Mereka mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membangkitkan semangat dan emosimassa. Keberhasilan tersebut didapatkan melalui komunikasi keagamaan. Mereka menggunakan konsep jihad fisabilillah. Mobilisasimassayang dilakukan oleh para pemimpin pesantren dipadukan dengan taktik dan strategi militer dari tentara Resimen TKR Sukabumi melahirkan kekuatan revolusi yang luar biasa sehingga dapat memporakporandakan kekuatan Sekutu. Puncak dari revolusi di Sukabumi adalah perang melawan Sekutu sepanjang jalan Cigombong-Ciranjang yang kemudian diikuti oleh peristiwa pertempuran Bojongkokosan yang menyebabkan dibombardirnya Cibadak oleh Angkatan Udara Sekutu, Perang Gekbrong dan Serangan Umum yang melibatkan tentara, ulama, organisasi massa dan santri. Peristiwa Pertempuran di Sukabumi memberikan gambaran mengenai strategi perjuangan kaum republik dalam menghadapi Sekutu yaitu diplomasi dan bertempur dalam revolusi diIndonesia.
Abstract
Sukabumi Revolution was closely associated with the role of the kyai (Islamic scholars), ulama (Islamic clerics), and leaders of pesantren (Islamic boarding schools). They had a great influence in awakening the spirit and emotions of the masses. Success was obtained through religious communications. They practised the concept of jihad fisabilillah (being at war, in a very broad sense, in the name of Allah). Mass mobilization by pesantren leaders combined with tactics and military strategy of the army regiment of TKR Sukabumi spawned tremendous revolutionary power that has devastated Allied forces. The highlight of the revolution in Sukabumi was the battle against the Allies all the way Cigombong-Ciranjang followed by the battle of Bojongkokosan which led to bombardment of Cibadak by Allied Air Forces, the battle of Gekbrong and Serangan Umum (massive attack) involving soldiers, scholars, organizations and santri (Islamic school students). The battle in Sukabumi described an overview of the republican’s strategy in facing the Allied forces: diplomacy and fought in the revolution.
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
PERKEMBANGAN PERGURUAN ISLAM Al-KHAIRIYAH CILEGON BANTEN (1916-1950)
Herry Wiryono
Abstrak
Perjuangan masyarakat Cilegon Banten dalam menghadapi kaum penjajah dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang dianggap paling efektif untuk menghadapinya adalah melalui pendidikan. K.H Syam’un sebagai salah seorang ulama di Cilegon mempunyai harapan dan idealisme yang tinggi untuk mengembangkan potensi masyarakat Cilegon dan sekitarnya melalui pendidikan. Ia mendirikan sebuah pesantren dengan nama Pesantren Al-Khairiyah dengan mengambil tempat di daerah asalnya, yaitu Citangkil. Kiai Syam’un berkeinginan agar keberadaan Pesantren Al-Khairiyah menjadi suatu lembaga yang bermanfaat bagi perkembangan dan kesejahteraan umat manusia khususnya daerah Cilegon dan Banten. Keinginan dan harapan Kiai Syam’un menjadi kenyataan. Pesantren Al-Khairiyah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sejak tahun 1916 sampai tahun 1930 Pesantren Al-Khairiyah Citangkil berhasil memasuki masa keemasan. Pesantren Al-Khairiyah dapat mengimbangi sekolah Pemerintah Belanda di Wilayah Cilegon. Pada masa perang kemerdekaan, ulama Banten di samping sebagai tokoh agama, juga mampu memegang jabatan di pemerintahan. Jabatan yang dipegang adalah jabatan residen, bupati, wedana, sampai birokrasi di bawahnya. Ulama Banten yang memegang jabatan di pemerintahan, antara lain; KH. Ali Jaya di Delingseng (Pulomerak-Cilegon); dan KH. Abdul Haq di Padarincang (Ciomas-Serang).
Abstract
Education is considered to be affecting in fighting colonialism in Cilegon, Banten. K.H. Syam’un built a pesantren called Pesantren Al-Khairiyah in Citangkil to fulfill the need, with the hope that it could be beneficial to the development and prosperity of humankind especially in Cilegon and Banten. The pesantren reached its golden age between 1916-1930. It could compete with school administered by the Dutch.
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PUISI SISINDIRAN BAHASA SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG
Aam Masduki
Abstrak
Sindiran adalah salah satu bentuk puisi Sunda lama yang terdiri atas sampiran dan isi. Namun demikian kepuisiannya terbatas pada rima dan irama, bukan pada diksi dan imajinasi seperti halnya puisi modern (sajak). Bahasanya mudah dipahami seperti bahasa sehari-hari. Dalam sastra Indonesia bisa disebut pantun. Sisindiran “pantun” merupakan puisi rakyat yang sangat digemari masyarakat. Sisindiran dapat mengungkapkan atau mencerminkan perasaan, keadaan lingkungan, dan situasi masyarakat desa, petani, dan lain sebagainya. Biasanya dituturkan dalam suasana santai, berkelakar, berbincang-bincang, dan suasana formal, misalnya dalam upacara adat perkawinan, melamar, dan sebagainya. Dalam perkembangannya, sangat luwes, mudah memasuki berbagai gendre sastra lainnya, seperti cerita pantun, wawacan, novel, cerpen, novelet bahkan kadang-kadang muncul juga pada puisi modern. Dilihat dari pembentukannya, kata sisindiran berasal dari bentuk dasar sindir ‘sindir’. Dengan demikian sisindiran merupakan bentuk kata jadian yang diperoleh dengan cara dwipurwa (pengulangan awal) disertai akhiran-an. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yaitu seluruh data yang diperoleh dari lapangan dikumpulkan, kemudian dianalisis dengan cara dikaji dan diklasifikasikan menurut struktur, isi, dan fungsi yang dikandungnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Adanya sisndiran dalam bentuk tertulis merupakan dokumentasi pengawetan karya sastra agar tidak mengalami kepunahan, (2) Menunjang kemudahan untuk menyusun sejarah sastra, serta pengembangan teori sastra, khususnya sastra lisan Sunda,.(3) Hasil pendokumentasian ini akan sangat bermanfaat untuk perbendaharaan bahasa, sastra, dan budaya daerah. Hasil akhir dari penelitian ini ungkapan-ungkapan dalam sisindiran diharapkan menjadi bahan bacaan yang dapat menuntun generasi berikut ke jalan kebaikan melalui ungkapan yang disampaikan secara langsung atau tidak langsung (menyindir).
Abstract
Sisindiran is a type of old Sundanese poem. It consists of sampiran and content. Sampiran is the first two rows that have nothing to do with the content but functions as rhyme to the sentence of the content. Unlike modern poems, sisindiran is practically limited to rhyme and rhythm, excluding diction and imagination. The language used in sisindiran is everyday and easy-to-understand one. Indonesian literature call it pantun. As a pantun, sisindiran is very popular amongst Sundanese people as it reflects feelings, village environment (the peasants and the village itself). Sisindiran is usually used either in formal and informal settings because it is very flexible, in terms of it is easily fitted to other genres such as carita pantun, wawacan, novels, short stories, even modern poems. Etymologically, sisindiran derives from the word sindir that has been duplicated and suffixed. This research has conducted a descriptive-analytical method. Data were collected then analysed by studying and classifying the structure, content and function they contain. The purpose of the research are: 1) to preserve literature arts by providing their written documents, 2) to make it easier to arrange literature history and developing theory of literature, especially for Sundanese oral literature, and 3) to enrich the treasures of regional languages, literatures, and cultures. Hopefully, the expressions used in sisindirann can be a guidance for young generations in order to make them take the good path in their future lives, either directly or indirectly (through allusions).
Ethnology. Social and cultural anthropology, Manners and customs (General)
Cânone, cânones em reflexões dialogadas
Onésimo Teotónio Almeida, Leonor Simas-Almeida
Literature (General), Manners and customs (General)
Impressões sobre (e a partir de) Eduardo Lourenço
Carlos Veloso
Literature (General), Manners and customs (General)
Os escritos portugueses de um jesuíta holandês no oriente: Gaspar Barzeu (1515-1553)
Eduardo Javier Alonso Romo
Literature (General), Manners and customs (General)
Astrolatria e astrologia em Portugal nos séculos XVII e XVIII
Maria Helena D. T. C. Ureña Prieto
Literature (General), Manners and customs (General)