Quality of Hadith Shalih in the Book of Sunan Abiy Dâwud Disputed by Nasr al-Dîn al-Albâniy and Shu'aib al-Arnauth
Abstrak
<div class="WordSection1"><p><em>This study intends to examine the quality of hadît</em><em>h</em><em> shalih in the book Sunan Abiy Dâwud which was disputed by Nâshir al-Dîn al-Albâniy and Syu'aib al-Arnauth, namely by using library research (library research), which is to collect accurate and relevant data. This is then processed with a descriptive qualitative analytical approach through inductive and comparative thinking methods. In addition, it also uses the hadît</em><em>h</em><em> research step to determine the quality of hadît</em><em>h</em><em> both from the side of the sanad and its eyes. Based on the analysis, it can be concluded that the hadiths termed shahih Abû Dâwud, which are also debated by al-Albaniy and al-Arnauth in assessing their quality, when tested with authentic criteria do not necessarily mean maqbûl or authentic quality. and hasan, but some have the status of dha'if. Thus hadît</em><em>h</em><em> s</em><em>h</em><em>alih can contain two possibilities, namely lil i'tibâr (to be studied) or li al-ihtijâj (used as evidence).</em></p><p><strong><em> </em></strong>Penelitian ini bermaksud mengkaji kualitas <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>adît</em><em>h</em><em> shalih</em> dalam kitab <em>Sunan Abiy Dâwud</em> yang diperselisihkan oleh Nâshir al-Dîn al-Albâniy dan Syu’aib al-Arnauth, yaitu dengan menggunakan <em>library research</em> (penelitian kepustakaan) yaitu mengumpulkan data-data yang akurat dan relevan dengan pembahasan ini kemudian diolah dengan metode pendekatan deskriptif analitis kualitatif melalui metode berfikir induktif dan komparatif. Di samping itu penulis juga menggunakan langkah penelitian hadis untuk mengetahui kualitas hadis baik dari sisi <em>sanad</em> maupun <em>matan</em>-nya. Berdasarkan analisa dapat disimpulkan bahwa hadis<em> </em> yang diistilahkan <em>shâlih</em> Abû Dâwud, yang juga diperdebatkan al-Albâniy dan al-Arnauth dalam menilai kualitasnya, ketika diuji dengan kriteria ke-<em>sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ih</em>-an tidak serta merta berarti <em>maqbûl </em>atau berkualitas <em>shahih</em> dan <em>hasan, </em> akan tetapi ada yang berstatus <em>dha’if</em>. Dengan demikian <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>adît</em><em>h</em> <em>shalih </em>dapat mengandung dua kemungkinan yaitu <em>lil i’tibâr </em> (untuk dikaji) atau <span style="text-decoration: underline;"> </span><em>li al-ihtijâj</em> (dijadikan <em>hujjah</em>).</p></div>
Penulis (1)
Afdilla Nisa
Akses Cepat
- Tahun Terbit
- 2021
- Bahasa
- en
- Sumber Database
- CrossRef
- DOI
- 10.30983/it.v5i1.4457
- Akses
- Open Access ✓